
Anna tertegun. Setelah berbalik mendapat punggung lebar Stephan, dia pun bertanya dengan raga bergetar, "Apakah ada lingkungan seperti itu?"
Stephan menghela napas. Dia pun berbalik. Membiarkan setiap iris matanya merekam gadis di depan matanya, dan dia pun berkata, "Iya ada. Itu aku dan keluargaku. Datanglah padaku, Anna."
Anna menghela napasnya. "Bagaimana bisa aku datang padamu?"
Stephan merentangkan tangannya, dia berjalan mendekati Anna. Namun, setiap langkah Stephan mendekat, maka Anna akan melakukan setiap langkah mundur ke belakang, dan membuat dirinya dengan Stephan tetap berjarak.
Stephan menghentikan langkahnya. Dia berdiri mematung pada satu ubin lantai. Begitupula Anna. Jarak di antara mereka terbentang lima ubin lantai.
"Kau hanya perlu berhenti di satu titik, dan menungguku datang padamu."
Anna menggeleng kepala, dia mengulas senyum, seakan dia mengetahui jelas perasaan Stephan untuknya, "Terima kasih atas perasaan mu. Tetapi, sebesar apapun yang kau lakukan. Sebanyak upayapun yang kau lakukan. Hal itu hanya sia-sia. Aku tidak bisa memberikan harapan palsu pada setiap orang yang menyukaiku. Hatiku hanya terpaut pada satu orang. Sebanyak apapun langkahmu, maka aku akan memutuskan untuk berlari sejauh mungkin darimu."
Stephan mengulas senyum yang terlihat miris, dia menelan ludah pahit hatinya, "Siapakah pria beruntung itu?" Stephan menghela napas, dan meluapkan rasa irinya, "Apakah Ethan lagi?"
Anna tersenyum dingin. Enggan menjawab, dan hanya berbalik pulang.
Dunia ini terkadang tidak adil. Ada yang memberi dunianya. Namun, hati tidak terpikat padanya. Aku menyukai Ethan. Namun, dunianya menolakku. Hanya bisa mencintai dalam diam.
Stephan menghela napas dan mengurut dadanya sendiri akan punggung yang menghindar dan menjauhinya, "Cinta itu sangat konyol. Kapan kau bisa melihatku? Jika aku selalu berdiam diri. Aku hanya bisa menunjukkan bagaimana lingkunganku menerimaku. Suatu saat kau akan lelah, dan mengulurkan tanganmu kepadaku, agar kau mampu berdiri kembali. Aku hanya besabar menunggu dirimu lelah dan lelah."
...****************...
Pukul 8 malam, Anna telah tiba di rumahnya. Tampak ibunya menunggu di balik meja dengan banyak hidangan di atas meja makannya.
"Banyak sekali menu?" Anna menunjukan rasa herannya, seraya meletakan sepatunya pada rak. Dia pun segera akan bersiap berganti pakaian.
"Lebih baik mandi dulu. Kau sudah seharian di rumah sakit," tegur Nana. Anna menganggukkan kepalanya, segera masuk kamar mandi, dan mandi dengan sesingkat mungkin.
Setelah berganti pakaian dengan piyama, dua duduk berhadapan dengan ibunya, dan menangkap sumpit.
__ADS_1
"Makanlah dengan lahap," ujar Nana dengan satu tangan lainnya memberikan cubitan daging di atas nasi Anna.
Anna menganggukan kepala. Emosi dan rasa lelah, membuat dirinya berkali-kali meminta mangkok nasi dan mencubit daging asap beserta sayur segar.
"Kenyang." Anna meletakkan sumpit di atas mangkok yang telah kosong.
Nana mengulas senyum. Sepasang matanya terlihat cerah. "Sekarang ceritakan padaku, apa yang kau sembunyikan dariku?"
Anna membola, dan menunduk bingung. Bingung harus memulai dari mana. Bagaimana dia bercerita?
"Katakan padaku? Siapa yang menindasku semalam," desak Nana dan berpindah duduk ke sisi Anna.
Anna menarik napas. Dia mengunci mulutnya segera berkata, "Tidak ada yang menyakiti diriku. Waktu itu aku hanyalah sedang terlalu cengeng!"
Nana mengangkat kelopak matanya lebih tinggi, bola matanya terlihat lebih besar. Bibirnya terlihat seperti meratapkan setiap kalimat tidak percaya.
"Kau berbohong padaku. Katakan!"
"Aku hanya ada masalah dengan anak sekolah. Itu saja. Aku cengeng."
Anna mengangkat kepalanya, menatap ibunya. Namun, kembali tertunduk dalam kala sepasang mata Nana bak memindai laser pembunuh karena mengetahui kebohongan yang dia ciptakan.
"Katakan padaku!" Nana mencengkram pergelangan tangan Anna. Lalu, tangan lainnya menangkap ujung dagu Anna, mencubitnya keras, "Katakan padaku. Atau aku yang akan ke keluarga Ruan, dan menampar setiap orang di sana."
Anna menelan ludahnya, dan terkekeh sejenak, sepasang matanya kembali berkaca, "Apakah kemiskinan yang kita miliki bisa memiliki kemampuan yang menampar wajah?"
Nana mencubit dagu Anna mendongakkan ke atas agar bisa melihat sepasang matanya yang membola api, "Kemiskinan tidak akan bisa menghancurkan tembok kesombongan seseorang. Tetapi, tekad bisa menghancurkan tembok dan membunuh siapapun. Tekadku berasal dari tidak memiliki apapun di saat ini. Sehingga, jika aku meninggalkan dunia, aku tidak takut meninggalkannya. Untuk menghancurkan seseorang, aku akan membayar dengan nyawaku. Jalan kematianpun aku tempuh."
Deg! Anna kelu, hanya mengedipkan mata satu kali, membiarkan air matanya jatuh.
"Katakan padaku!" desak Nana.
__ADS_1
"Berjanjilah untuk tidak membalasnya," mohon Anna kemudian.
Nana menganggukan kepala dengan cepat, dia merendahkan suaranya dan membujuk, "Aku berjanji padamu. Aku hanya ingin mengetahuinya."
Anna menghela napas. Dia mampu melihat kebohongan di mata Nana. Nana bukan hanya sekedar ingin mengetahuinya. Ada kekejaman di sana.
"Pukullah aku sampai mati! Aku tidak akan berkata apapun padamu."
"Kau!" Nana mencengkram pergelangan tersebut. "Kau ingin aku memukulmu sampai mati."
Nana melepaskan cengkramanya mengambil satu tongkat sapu, "Ayo berkata atau aku akan menghajarmu babak belur seperti diriku. aku bisa membuatmu patah tulang, dan tidak bisa bangkit berdiri lagi."
"Lakukanlah!" tantang Anna dan duduk bersimpuh dengan wajah menunduk menyembunyikan sepasang mata kristal yang tampak berkaca-kaca.
"Mengapa ? Apa yang kau takutkan dengan rahasia yang kau sembunyikan dari ku? Apakah itu akan membunuhku dan dirimu .... Maka biarlah aku membakar rumah Ruan untukmu. Semuanya aku pastikan terbakar dalam api yang aku nyalakan!"
Anna menelan ludahnya, "Ibu! Mengapa kau begitu keras kepala. Jika hal itu usai, untuk apa di ungkit lagi. Mengapa kau suka menambahkan api, kala aku memutuskan untuk mengakhirinya dengan baik. Bukankah diam adalah keputusan terbaikku."
Nana menggenggam tongkat sapu erat, dan bukk ... pukulan pertamanya mendarat pada punggung Anna, "Karena diam milikmu itu adalah suatu petaka untukku. Aku tidak akan pernah membiarkan satu sosok pun untuk melukaimu. Jika dia semut, maka aku akan menginjaknya. Jika dia monster, maka aku akan mencukil matanya. Jika dia gunung Es, maka aku akan menghancurkannya, walau tanganku harus berdarah-darah dan membawa kesia-sian di akhirnya."
Bukk! Anna tersungkur karena pukulan kedua yang serasa meremukkan tulangnya.
"Apa aku akan kasihan? Tidak. Hatiku tidak akan pernah kasihan untuk menyiksa seseorang yang berani mengunci mulutnya. Menutup kejahatan orang lain."
Anna kembali merangkak bangun perlahan ke posisi duduk bersimpuh. Sepasang matanya nyalang denhan embun yang tertahan, "Berhenti! Tidak ada yang jahat padaku! Aku diam ... ka-re-na ...."
"Karena apa?" Nana mencubit dagu Anna. Dia menyorot keji akan mulut yang terkunci, dan dia mengendus seseorang yang di lindungi Anna, "Kau melindungi seseorang? Katakan padaku ... Apakah itu Tuan muda Ruan?"
......................
Bersambung ....
__ADS_1