Kekasih Tuan Muda Ruan

Kekasih Tuan Muda Ruan
Aku Tidak Suka


__ADS_3

Tangan Ethan mencubit pipi Anna dan bibir pria itu mulai menggoda terdengar mengejek di telinga Anna, "kau menyukai aku kan?"


"Eng..!"  Anna ingin segera mengelak.


Cup...


Bibir Ethan lebih dulu menempel sekilas di pipinya, membuat dia membeku sebentar, membuat dia menelan ludah dalam satu detik, dan marah di hitungan selanjutnya, "Kamu sangat tidak sopan—"


Telunjuk Anna menunjuk hidung pria itu di udara, dan selanjutnya tangan Ethan menggenggam sebentar tangan itu, dan menurunkannya perlahan, dan membiarkan sepasang mata Anna menerima sepasang matanya yang terlihat menulis makna-makna cinta dalam retinanya.


Tidak tahan. Anna menunduk, melepas pandangannya, dan mengutuk dirinya dalam hati, Jangan melihat dirinya terlalu lama, kelak akan jatuh hati.


"...."


Ethan terlihat acuh dan tidak acuh, dia membuka kemasan box nasi, ada dua porsi di dalamnya.


Bau nasi dan bumbu ikan masuk ke hidung Anna, memotong satu kalimat yang akan Anna muntahkan lagi, awalnya dia ingin mendorong pangeran kehidupan emas ini keluar dari rumahnya. Tetapi, satu sumpit nasi mengambang di udara, terlihat sangat enak dan... 'nyam—nyam...'


Tanpa sadar Anna langsung menerima satu suapan nasi Ethan, menerima satu suapan kembali dan kembali, hingga dia sudah lupa hal tadi. Mendadak blank.  Isi mulutnya kini hanya pergi mengunyah-ngunyah makanan yang terasa lezat untuk pertama kalinya. Perutnya mengkhianati dan mengubur amarahnya.


Habis. Tetapi, Anna belum terlihat kenyang. Padahal Anna telah menghabiskan dua porsi makan malam. Ethan bahkan belum makan, tetapi dia sudah sangat kenyang menikmati ekspresi anak  babi dengan pipi merah kurus yang begitu cepat makan.


"Egh...." Anna malu pada dirinya sendiri.


Anna bangun seakan baru sadar sesuatu ketika box nasi telah habis. Apa yang dia lakukan? Menerima makanan milik orang lain, menghabiskan tanpa sisa, dia menunduk malu seperti telah ketahuan mencuri sesuatu, "maaf...."


Ethan hanya membalas dengan senyum, tepatnya dia terlihat senang, karena Anna tidak berlakon diet seperti banyak gadis yang dia temui, dia mendongakkan dagu kurus Anna, karena masih ada sisa saus di atas bibirnya, "kau makan berlepotan sekali," keluhnya, tiba-tiba dia ingin segera menyapu saus dengan mencodongkan wajahnya lebih dekat.


Anna mengerjapkan matanya.


"Egh...."


Anna merasakan sesuatu yang nakal dan nakal lagi, dia segera menghindar dengan cepat, ketika menangkap sinyal nakal pria itu sangat jelas. Memajukan bibir dengan wajah tidak tahu malu.


Kepala Anna segera mundur  ke belakang, Ethan menjadi kaku sebentar, dia ditolak lagi dan akhirnya segera mengangkat jempol tangan, untuk membersihkan jejak saus, "Ada saus."


Dup—dup—dup.


Wajah Anna menunduk malu ke bawah. Memerah segera, dan rasa aneh ketika jantungnya tiba mengirim sesuatu yang membuat dirinya sangat berdebar. Ethan tidak kalah merah, mengapa dirinya selalu tidak bisa menahan diri? dia tidak lebih seperti singa melihat kelinci, ingin selalu menerkamnya.


"Oh, iya ibumu bekerja tempatku." Ethan mulai bercerita, dan melanjutkan kalimatnya, "tenang saja, aku tidak akan kejam pada ibu mertua."


Anna menggigit bibir, dan mengeluh dalam hatinya, Mengapa ibu malah bekerja di sana?


Ethan menggantung cerita, tepat ketika Anna terlihat terkejut sekaligus meringis, "Tadi dia berkata pada Joe, akan  terlambat pulang ke rumah, jadi dia  menitip pesan untuk Joe agar kau tidur lebih awal. Aku mendengarnya, oleh itu aku mengikuti kemari."


Anna masih diam, pertanyaan besar tercekat di tenggorokannya, Apa ibu sudah tahu hal ini? aku dan Tuan muda Ruan saling mengenal?

__ADS_1


Anna bingung cara mengutarakannya. Tetapi, Ethan bisa menebak yang di pikirkan Anna, "Ibumu sepertinya belum tau tentang kita, apa aku perlu memberitahunya?"


Deg!


Lima detik kemudian, Anna menggeleng cepat, "Jangan, ibuku pasti tidak menyukaimu—"


"Tidak apa ibumu, yang penting—"


"Aku juga tidak suka padamu!" potong Anna cepat dalam satu kalimat penolakan yang sangat jelas. Hal ini membuat Ethan terperangah, Apa kau terlahir buta, menolak pria seperti diriku?


Ethan terlihat memeriksa mata Anna, dan sepasang mata Anna sangat baik, tidak tahan penasaran dia bertanya, "Mengapa kau menolakku?"


Anna menggelengkan kepala, tidak ingin menjawab. Ibunya akan marah besar, jika tau Ethan mengejarnya. Jaga jarak lebih baik lebih cepat dia segera meletakan kembali ponsel Ethan di tangannya, "Pulang, nanti tetangga akan menegur, jika anak laki-laki terlalu berlama-lama dirumah anak perempuaan, yang sendirian di rumah."


"Ehm...," gumam Ethan segera berdiri namun dia  mengamati sekali lagi ke seluruh isi ruangan , rumah Anna begitu sepi, "Apa kau tidak takut sendiri? aku bisa menemanimu."


Anna mencibir, "Aku bukan penakut. Pergilah sebelum ibu ku datang!"


Ethan menyipitkan matanya, anaknya tidak suka, mengapa ibunya juga tidak turut suka? Mengejar Anna, juga harus bekerja keras mengambil hati ibunya.


Anna mengejar ke pintu, membawa ponsel Ethan kembali ke tangannya, "Bawa ini kembali."


Ethan mengehela napasnya, "Apa kau tak suka? kita bisa membeli lagi."


Anna menggeleng, "Itu bukan hasil keringatku, kau tidak perlu memberi apapun."


Ethan menggeleng cepat, meraih tangan Anna, dan menatap  senang dengan wajah anak kecil yang tengah di imingi sesuatu, "Kau harus ingat janjimu."


Anna menggigit bibirnya sendiri, bingung dalam keheningan sebentar. Apa yang akan dia masak untuk Tuan muda Ruan yang memiliki lidah rasa bintang lima, 'Aku akan memasak telor dadar. Dia pasti mengejek.'


Melewati garis pintu, Ethan menahan pintu agar jangan tertutup lebih cepat.


"Ada apa?"


Ethan tidak menjawab.


Cekrek..!


Ethan menjepret dengan sangat cepat, "Kamu imut sekali, aku makin suka."


Ethan tersenyum dengan sedikit ujung bibirnya tergigit, sepertinya dia terlihat mengingini sesuatu, "Apa aku boleh menciummu?"


"Tidak!" potong Anna sangat galak.


"Lain kali, aku tidak akan izin lagi." Ethan terlihat kesal.


Anna mendengar hal itu, tanpa sadar memerah. Setan nakal terlahir kaya ini pandai menggoda, pandai membuat dia hilang akal sebentar, namun juga sangat emosional.

__ADS_1


Blam!


Anna membanting pintu. Perasaan menjadi sangat kacau. Senyum pangeran emas ini, mengapa sangat membekas di benak Anna.


'Mengapa dia sangat tampan?'


Anna mencubit dirinya sendiri, "Kembali normal, siswa nakal itu hanya mengejek, dia hanya bermain-main."


Mendapat pintu tertutup. Ethan segera berjalan pulang kembali ke mobilnya dengan wajah tertekuk, duduk di posisi co-driver, dan memerintah, "Pulang cepat kerumah."


Stephan Lu dan Michael Liu, yang sudah lama menunggu di mobil, saling bertukar pandang sebentar.  Wajah Ethan terlihat sangat suram dan gelap. Stephan lebih dulu meledak dengan isi mulutnya, "Michael, kau kalah taruhan! Ethan tidak mendapatkan apapun. Wajahnya terlihat sangat kasihan."


Tidak mendapatkan apapun. Wajahnya terlihat sangat kasihan.


Mendengar dua kalimat itu. Ethan menyipit tidak senang, memindai bergantian pada dua teman terbaiknya di sekolah, "Aku akan menurunkan kalian, jika kalian mengejek."


Michael membenarkan kacamatanya, "Lain kali kau bubuhkan saja bubuk cinta pada makanannya, aku jamin dia akan bertindak di luar dugaanmu."


Ethan menaikan garis bibirnya lebih miring, "Kau terlihat paling sopan, padahal otakmu isi gambar-gambar biru."


"Setuju!" tambah Stephan, yang kemudian menginjak gas mobil dan melajukan kembali ke rumah Ethan.


***


Anna masuk ke dalam selimut, berusaha tidur namun dia terus terjaga. Kembali ,pada jam dinding, lima menit lagi menuju jam sepuluh malam.


Krett..!


Suara pintu terbuka.


Anna bangun, dan mendapati ibunya telah datang. Wajahnya terlihat berseri-seri, karena mendapatkan pekerjaan baru pastinya.


"Anna, kau belum tidur. Apakah Joe sudah menyampaikan pesan, agar kau tidur lebih awal?" tanyanya sambil menggantung mantel dan melepas sepatunya.


"Sudah, Joe sudah pergi menyampaikan—" jawab Anna , tepatnya Ethan yang menyampaikan hal ini. Joe kabur begitu saja.


"Aku tadi menitip uang, agar Joe membelikan makanan untukmu, apa kau tidak kelaparan tadi?" Nana merasa bersalah karena lupa isi kulkas telah habis, dan mata Nana tiba-tiba tertuju pada box kemasan makanan yang masih berada di atas meja. Dari kemasannya saja terlihat makanan mahal, padahal uang yang di titipkan sangatlah kecil, dia curiga dalam hati, Bagaimana bisa Joe sebaik ini, membeli diluar dugaan?


Anna menggaruk kepalanya yang tidak gatal, seakan mengerti kecurigaan ibunya kali ini, "Ah..., Joe membelinya karena sedang diskon besar."


Nana tidak mengejar lagi. Anna segera mengalihkan pembicaraan, "Aku dengar ibu mendapatkan pekerjaan baru?"


"Iya, dan aku hanya pergi mengurus Tuan Muda Ruan, ah... aku tadi mengobati bekas gigitan di tangannya, dia bercerita jika dia telah di gigit binatang buas."


Anna tercekat. Binatang buas. Ethan pandai mengarang cerita, Kau yang buas, bukan aku!


***

__ADS_1


__ADS_2