
'Karena Joe sudah sangat lama tidak pernah memberi upeti bagi kami, aku dengar kehidupannya sudah mendekati kematian.'
Anna mematung sesaat akan kalimat terakhir Hans.
"Apakah Joe selalu memberi uangnya untuk Hans. Ah, bodoh sekali. Mengeluarkan uang untuk pemeras kehidupan."
Namun, detik selanjutnya Anna merasa sangat bersalah akan Joe Han. Dia mengambil kotak uang miliknya dalam lemari, mulai menghitung berapa banyak yang harus dia bayar pada Joe.
"Ah, pasti banyak uang yang dia berikan pada kelompok pemeras kehidupan itu. Aku tidak bisa menggantinya dengan sedikit uang, aku harus lebih banyak menabung. Ah, maafkan aku Joe. Aku merugikan banyak hal untukmu."
Anna menutup kotak uangnya. Mengembalikan pada posisi semula. Namun, tetap saja Anna tidak bisa berhenti berpikir, mengapa Joe mengorbankan uangnya di belakang dirinya, tanpa menagihnya satu senpun. Terlalu baik. Terpikir hal itu, Anna menjadi terus memikirkan pria malang yang terbaring dalam Ruangan I.C.U.
"Kau membuatku merasa bersalah. Karena banyak uang yang kau buang. Untuk membuatku merasa aman dari tiga pria ... huh!"
Anna mengipas wajahnya sendiri. Serasa hawa panas merangkak naik ke permukaan wajahnya, dan membuat rona kulitnya terlihat sangat merah.
"Mengapa kau melakukan sesuatu yang baik di belakangku, kau terlalu tulus untuk menjadi seorang teman ...."
Anna mundur masuk dalam selimutnya. Namun, wajah Joe terlihat mengisi seluruh pikirannya. Lagi dan lagi. Tetap terjaga dengan tanpa ada rasa kantuk datang padahal malam telah larut, dia pun menciptakan pertanyaan dan komentar untuk dirinya sendiri. Terus dan terus.
"Mengapa kau berbuat seperti itu di belakangku?"
"Kau terlalu tulus. Kau memberi dengan tangan kananmu, tanpa memperlihatkan tangan kirimu. Bagaimana bisa membalas atas perlindunganmu."
Anna termenung akan komentar dirinya sesaat. Lalu, tanpa dia sadar, bayangan Ethan masuk ke dalam pikirannya. Berganti dan menghapus segala hal tentang Joe.
"Ethan!" Anna menjadi malu menyebut nama pria itu. Dia menoleh ke sisi kirinya. Untung Nana sudah tertidur sangat pulas. Raut Anna berubah lebih serius, dan diapun mengeluh dalam napasnya, teringat apa yang telah dia perbuat. Dia telah memukul seseorang, dan dia hampir kehilangan nyawanya. Demi Ethan. Pria terkutuk yang memiliki kehidupan meledak setiap saat.
"Ethan dan Joe ...." Anna menutup wajahnya dengan selimut, lalu menurunkannya lagi. Dua sosok itu terlihat tumpang tindih dalam otaknya.
"Jika kalian merupakan orang yang sama, aku akan berpikir setengah diri kalian adalah iblis, dan setengah diri yang lainnya, itu adalah malaikat. Lucu sekali, namun terlihat sangat sempurna, dan sangat menarik."
Anna menggelengkan kepalanya. Menghapus angan-angganya. Tidak mungkin akan ada satu orang yang terlihat membawa dua karakter memikat dari dalam diri Ethan, dan juga dalam diri Joe. Itu terlalu sempurna, dan sangat memikat.
"Aku tidak berani membandingkan kalian berdua. Ethan memberikan perlindungan nyata untuk menakuti mereka semua, dan Joe memberikan perlindungan di belakangku, mengorbankan apa yang dia miliki, tanpa menciptakan pertengkaran. Sangat manis."
__ADS_1
Anna menhembuskan napasnya, karena tanpa sengaja dia telah merasa membandingkan dua perasaan yang terasa berbeda dari dua pria itu. Namun, wajah Joe yang dia kenal belasan tahun dalam hidupnya, menggelitiknya sesaat, seakan hati nurani membidiknya dengan perasaan tersembunyi pria itu.
'Joe Han sangat menyukaimu.'
Anna menggelengkan kepalanya. Menepis pikiran tersebut dari isi kepalanya. Tidak mungkin hal itu terjadi.
"Tidak mungkin ... Joe menyukaiku. Dia baik dengan semua orang. Bahkan dengan kucing dan anjing kecil di jalanan pun, dia tetap akan memberi makan. Dia memang anak yang sangat baik. Sedikit pengakuan rasa suka, dia tidak pernah menunjukkan hal itu. Tetapi mengapa dia berbuat seperti itu belakangku?" Anna menutup wajahnya dengan selimut. Dia tersipu malu. Berusaha menciptakan suasana yang nyaman untuk dirinya sendiri, dan dari balik selimut dia menjawab pertanyaan sendiri.
"Karena Joe lebih tulus daripada Ethan. Seakan apa yang di perbuat, tidak memiliki keuntungan untuk dirinya sendiri. Rugi, iya. Kasihan ...."
Anna menurunkan selimutnya. Memukul kepalanya sendiri, dan mengutuk dirinya sendiri.
"Aku tidak boleh mengutuk Ethan. Ethan tulus. Sama tulusnya dengan Joe. Walau rasanya, Ethan berbuat ... karena dia memiliki tujuan sendiri. Tujuannya karena dia ingin aku melihat apa yang telah dia lakukan. Bukankah sesuatu yang bersembunyi, tidak jelas makna dan tujuannya, sama seperti menyapa udara. Dengan siapa di tujukan, jika dia bersikap seperti udara setiap hari."
Anna menganggukan kepalanya berkali-kali. Setuju dengan apa yang dia pikirkan saat ini.
"Untung saja Joe memberikan O2
Bagaimana jika dia menjadi jahat, dan diam-diam memberikan CO2. Dia meracun dari belakang, dan membuatku sesak napas, dan mati perlahan. Aku ... bergindik ngeri membayangkan hal itu," keluh Anna seraya tangannya memegang batang lehernya sendiri. Rasa sesak dan kematian, terasa menjadi jejak ingatan mengerikan untuknya.
Tik.Tik.Tik.
***
Pukul 05.00 Pagi
Anna terbangun seketika. Secara naluri, dia telah tebiasa bangun pagi. Selarut-larutnya dia terlelap, dia akan tetap bangun pagi tepat pukul lima pagi esok harinya.
Anna merentangkan tangannya, mendapatkan sisi tempat tidur Nana, kosong. Dia segera membuka matanya, bangun dan mengedarkan matanya ke seluruh ruangan.
"Ibu ...," seru Anna menjulurkan kepalanya ke sana kemari, dan berhenti kala mendapatkan sosok wanita setengah paruh baya itu telah berdiri di meja dapur.
Tak-tak-tak!
Suara pisau terdengar cekatan memotong sayur dan daging.
__ADS_1
Anna segera bangkit berdiri. Menuju dapur. Berdiri tepat di sisi ibunya," Biarkan ... aku yang melakukannya, ibu beristirahat."
Nana melirik dengan ekor matanya.
"Bersiaplah ke sekolah. Jangan menganggu pekerjaanku."
Anna merasa segan menghentikan tangan ibunya bekerja, namun wajah bengkak ibunya membuat dia merasa sangat prihatin kemudian.
"Aku tidak akan pergi ke sekolah hari ini?"
"Mengapa?"
"Tentu saja, aku harus merawat ibu."
"Tidak perlu. Sakit yang ku dapat hanya luka luar, tidak akan membunuhku hanya karena kau pergi ke sekolah."
"Tetapi ...."
Nana meletakkan pisaunya. Mengambil potongan daging dan mencuci, dan memasukkannya dalam panci yang berisi air mendidih.
"Sepulang sekolah, mampirlah ke kediaman Ruan. Katakan aku tidak bisa masuk kerja, katakan saja aku mengalami tabrak lari. Jangan kau mengatakan, bahwa aku di aniaya," ujar Nana seraya mengaduk-ngaduk rebusan dagingnya bersama bumbu rempah-rempah.
Anna menganggukkan kepalanya, dan segera berlari dari kamar mandi.
Dua Puluh Menit Kemudian
Anna telah bersiap dengan pakaian seragam sekolahnya. Anna melihat ibunya sedang terlihat masih sangat sibuk di depan panci-pancinya. Dengan gerakan yang terburu, Anna segera mengoles salep anti memar ke lehernya. Lalu, dia segera mengenakan jaket berbulu yang menutup tulang lehernya.
......................
Bersambung ....
Jangan lupa like,coment, dan vote bagi yang berkenan. Terima kasih banyak telah setia membaca. Semoga bagian ini menghibur kalian semua.
Jangan lupa rate 🌟5 bagi yang baru mampir yah :)
__ADS_1
www.LotionBencidanCinta.com
(Jangan lupa kunjungi website kita, dah ganti nama)