Kekasih Tuan Muda Ruan

Kekasih Tuan Muda Ruan
Mengukur Hati Seseorang


__ADS_3

Nana melongos pergi, masuk ke dalam rumah dengan langkah terburu-buru. Dia terlihat gelisah. Kemudian, matanya cerah saat menemukan koper tersembunyi di belakang lemari.


Anna mengikuti dengan mengamati apa yang di lakukan ibunya? Mengambil koper. Meletakan semua pakaian miliknya dan milik Anna, ke dalam wadah yang sama.


"Ada apa ini?"


"Kita pergi meninggalkan kota!"


Anna menggelengkan kepalanya. Dia segera duduk berjongkok, mengambil pakaian bagian miliknya.


"Aku tidak mau ikut denganmu!"


Nana bergetar.  Dia teringat akan tatapan Yohana padanya.


"Jika kau ingin pergi. Pergi saja sendiri!"


Bagaimana jika Lu telah mengetahui Anna,dan mengambil Anna dariku. Tidak! Mereka tidak boleh mengambil harta berhargaku satu-satunya. Ku harus mengajak Anna pergi.


Nana merampas kembali setiap potongan pakaian Anna. Dia meletakkan  kembali setiap potongan itu ke dalam koper.


"Ibu! Tidak!" Anna menahan potongan pakaian terakhir miliknya dalam sepasang tangan yang mencengkram kuat.


Sretttt! Suara pakaian itu robek begitu saja.


Anna terpaku sesaat. Dia menatap ibunya dengan sepasang mata yang terlihat sangat nanar.


"Ibu, ada apa denganmu?"


"Berhentilah! Dan ikuti aku. Kemanapun aku pergi."


Nana menitikkan air matanya. Terlihat jelas di balik netra itu, menyimpan sejuta rahasia yang tidak bisa di utarakan.


"Aku belum selesai mengikuti ujian. Aku tidak akan ikut denganmu."


"Kau bisa mengikuti secara online. Jadi, ikutlah bersamaku sekarang. Kita pergi."


"Sebutkan alasannya?"


"Apakah pergi bersama ibunya? Seorang puterinya harus mempertanyakan apa dan mengapa? Apakah mulutmu masih bisa mencari nasimu sendiri saat ini."


Anna terpaku sesaat. Dia terlihat bingung. retsleting koper di depan matanya telah menyatu, dan terkunci dalam kode angka.


"Jika kau tidak mengikutiku. Maka, kau tidak akan pernah melihatku selamanya lagi."


Deg! Anna berkedip di saat jantungnya mulai berdetak ketakutan.


"Kau mengancamku?"


"Ha .... ha .... ha ...." Nana terbahak keras. Dia menggelengkan kepala seraya berjalan keluar pintu, "Aku tidak mengancam. Hanya saja jika terus berdiam di sini. Maka, kau dan aku akan berpisah?"


Anna lari ke garis pintu. Tangannya terulur, menahan tangan ibunya.


"Katakan padaku, ada apa dengan semua ini? Dan bukankah kau ingin menikahkanku dengan Joe Han? Lalu, mengapa mengajakku pergi meninggalkan kota ini. Ada apa?"


Nana melepaskan tangannya dari pegangan koper. Dia menangkap wajah puterinya. Membelainya dengan hangat, dan sepasang mata yang mencerminkan sejuta ketulusan yang nyata.

__ADS_1


"Aku tidak akan pernah mendesakmu untuk menikah dengan siapapun, walau banyak aib membuatmu malu. Aku hanya tetap akan membiarkan dirimu memilih."


"Bukankah kau menyebutkan di restoran, bahwa aku dan Joe Han ...."


Nana menggelengkan kepalanya.


"Tidak semua yang kukatakan adalah nyata. Aku hanya sedang mengukur dan melempar batu pada setiap pria yang menyukaimu, dan kau seorang gadis kecil. Tidak seharusnya bodoh untuk mencintai seseorang berlebihan, karena kau harus pandai menilai pula."


Anna mengerut bingung. Dia ikut berkaca pula. Dia menyentuh tangan ibunya.


"Kau sangat peduli padaku?"


Jika aku memilih Ethan, apakah ibu akan menyetujui? tanya Anna dalam hatinya.


"Tentu saja. Jika kau memilih Ethan, aku akan mendukungmu. Tetapi, aku tidak akan mengijinkanmu berharap banyak. Oleh itu, aku membawamu pergi. Biarkan waktu yang menentukan."


Anna mengerjapkan matanya. Meneteskan setiap embun yang berkumpul dalam mata jernihnya.


"Aku tidak bisa meninggalkan Ethan. Bagaimana jika dia mencariku? Dan dia menjadi gila karena kutinggalkan?"


Nana tersenyum.


"Kau tidak akan bisa mengukur hati seorang pria, jika tidak pernah melempar dirinya batu untuk memilih. Bagaimana kau tahu dia akan mencarimu ? Jika kau tidak pernah meninggalkannya. Bagaimana kau tau dia akan gila? Jika kau tidak pernah melompat pergi melihat apa yang akan dia lakukan jika kau tidak pernah meninggalkannya."


Anna dingin. Dia mematung dan terpaku akan sepasang mata Nana yang terlihat mendung.


"Kau membawaku pergi untuk menguji Ethan?"


Nana menggelengkan kepalanya, "Bukan hanya itu. Aku hanya takut. Kau dan aku berpisah?"


"Berpisah?" Anna menggelengkan kepala, "Aku tidak akan berpisah denganmu, ibu."


Anna terbius sesaat. Ayah.


Deg! Sejuta perasaan aneh menyelimutinya. Sakit. Kecewa. Rindu. Penasaran. Marah.


"Mengapa dia datang setelah aku tidak membutuhkannya?"


"Dia tidak pernah mengetahui adanya dirimu, Anna. Jika dia mengetahui. Aku takut kau hanya akan di ambil dariku. Hanya kau yang tersisa padaku."


Anna menarik napas panjang. Jempol tangannya merayap ke wajah ibunya, menyeka air matanya di sana.


"Apakah kau takut?"


Nana menggangguk seperti anak kecil.


"Baiklah. Kita pergi, Bu. Aku akan mengikutimu."


Nana merasa lega.


Blam! Pintu merapat pada  kusennya.


"Kau tidak ingin berpamit dengan Ethan?"


Anna menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Aku telah meninggalkan ponsel di dalam rumah. Aku akan membiarkan dia memutuskan, apakah hatinya menetap padaku atau tidak?"


Nana menggandeng tangan Anna.


"Jika dia menetap padamu. Dia akan mencarimu, menemukanmu, dan tidak akan melepaskanmu lagi."


Anna menarik napas. Suara isak terdengar bersama dalam setiap tarikan napasnya.


"Belasan tahun aku menunggu cinta ayahmu. Namun, dia tidak pernah menetap. Dia tidak pernah mencariku. Dia hanya mencari sebentar. Lalu menyerah."


"Ibu. Sudahlah! Aku tidak ingin mendengar lagi. Lagipula,kau benar. Aku masih sangat muda, aku harus menguji hatiku sendiri. Jika tidak berpisah, bagaimana aku mengetahui rasa rindu dan kehilangan. Jika aku hanya merindu sendiri, bukankah itu tampak bodoh?"


Nana tersenyum getir. Dia pun membawa Anna untuk mengikutinya pergi.


Dengan sebuah Taxi yang berhenti di depan jalan gang kecil rumah mereka. Nana, memberikan petunjuk pada supir Taxi untuk ke sebuah alamat.


"Ke rumah bibi?"


"Iya. Kau harus menyelesaikan ujianmu lebih dulu. Baru kita meninggalkan kota ini. Jika perlu kita pergi meninggalkan benua ini."


Anna mengerutkan kening.


Jika meninggalkan benua. Bukankah itu akan membuat diriku merindu pada Ethan tanpa bisa melihatnya lagi. Andai begini, aku membawa ponselku bersamaku, sesal Anna dalam hatinya.


Dua Jam Kemudian ...


Setelah menempuh perjalanan yang panjang dan melelahkan. Nana beserta Anna telah berdiri di sebuah teras rumah sederhana yang berada di balik bukit. Rumah ini berada di sebuah pedesaaan yang terlihat masih hijau, dan ramai penduduk.


Baru saja Anna dan Nana tiba. Mereka telah disambut dengan banyak senyum ramah dan tatapan ramah penduduk desa yang merupakan tetangga Bibi Tina Su.


"Kalian datang?"


Anna dan Nana menoleh ke asal suara. Tampak Bibi Tina datang dengan gendongan keranjang rotan di punggungnya. Nana segera berlari dan membantu menurunkan keranjang rotan dari punggung kakak sepupunya tersebut.


"Bibi," sapa Anna dan tersenyum pada Bibi Tina.


"Kau tampak cantik, Anna."


Anna tersipu malu.


Kret! Pintu rumah bibi Tina terbuka. Klek! Lampu kemudian menyala benderang.


"Beristirahatlah dan tinggal di kamar sebelah."


Setelah berkata demikian, Bibi Tina melangkah masuk kembali ke kamarnya.


Anna menarik napas akan kesendirian bibi Tina, dan dia menoleh pada Nana, dan tidak mampu menahan rasa penasarannya.


"Mengapa bibi Tina betah dengan kesendiriannya? Mengapa dia menghukum dirinya sendiri dengan hidup kesepian di desa?"


Nana menahan napas, "Terkadang orang yang sulit jatuh cinta. Sulit pula melupakan. Mereka lebih menyukai kesendirian, jika cinta di dalam hatinya tidak kunjung hilang."


"Bukankah paman sudah tiada?"


"Ada dan tiada sosok orang itu. Bukankah rasa yang tinggal di dalam sini."—Nana meletakkan tangannya pada dada kirinya— "Yang menentukan untuk melupakan ataupun terus mengenang."

__ADS_1


...꧁❤•༆Anna & Ethan༆•❤꧂...


...Ada ataupun tiada sosok itu. Sebuah Rasa itu akan membekas,dan membuat dirimu mengenang selamanya, dan hanya merindu tidak berujung....


__ADS_2