
Erald dengan ujung bibirnya terangkat sedikit ke atas, dia berkata remeh, "Ethan Ruan, jangan melupakan, Ruan adalah darah dagingmu, dan gadis kecil ini—"
"Jantungku!" jawab Ethan lantang, dengan satu tangan yang mengulur di belakang punggungnya, menunggu tangan Anna menggenggamnya, agar dia bisa menyalurkan kekuatannya untuk Anna, agar jangan gentar, karena dia selalu akan melindungi Anna.
Anna menahan napasnya, sedikit keraguan menggapai tangan itu. Memejamkan matanya sebentar, seakan mencari bukti yang menguatkan dirinya untuk menggenggam bersama Ethan, hanya bunyi jantung yang berdebar menjadi desakan Anna menerima tangan Ethan, dupp—dup—dup!
'Genggam tangan Tuan muda Ruan,' bisik hatinya.
Jantung Anna melompat-lompat, dan berdesir seperti telah menghadapi adegan berdarah-darah, tegang dan takut, namun tangan Ethan seakan menuntunnya dalam rasa aman dan ketenangan di bawah lindungan pria muda, pewaris keluarga Ruan.
Anna mengikuti hatinya, perlahan tangan kecil rampingnya, dia jatuhkan ke telapak tangan Ethan yang besar, lalu tangan mereka saling terjalin, wajah Anna tertunduk merah malu.
Adegan itu di tangkap sepasang mata Erald, yang menatap prihatin akan hubungan berbeda kasta ini.
"Paman, berhenti melihat wanitaku." Ethan terdengar mengejek dan sombong, sekaligus berbangga mendapatkan tangan Anna, hanya dengan mencengkram tangan mungil itu dalam genggamannya, rasanya membuat dirinya terlahir kembali, menjadi seseorang yang bersedia melahap banyak serigala di depannya.
Tangan Anna dan Ethan saling bertautan dalam genggaman yang tidak ingin saling melepas.
Sepasang mata Erald, terlihat sendu bercampur prihatin di awal, namun berubah menjadi lototan yang tajam, dan dia berdehem seakan sedikit melunak memberitahukan fakta, "Ethan, kau pun harus tau, bahwa kau tidak memiliki takdir untuk memilih seseorang."
"Aku hanya meminta Anna."
"Kau Ethan Ruan, bukan Ethan tanpa Ruan. Kau bukan hanya darah daging, namun kau pewaris Ruan, dan kau tidak mempunyai hak memilih."
Glek.
Anna menelan ludah, dia serba salah, Ethan dan Ruan, adalah satu kesatuan, bagaimana bisa memecahkan darah dan daging Ethan dari Ruan. Anna menyerah, sadar diri, dan malu akan kehidupannya, yang tidak akan bisa menandingi tahta langit Tuan muda Ruan— Anna berusaha menarik tangannya. Tetapi, Ethan tidak mengijinkan, dia mencengkram makin kuat, dan satu kalimat lolos dari tenggorokannya, "aku bersedia menjati batu kerikil, daripada menjadi batu mulia, paman."
"Ethan!" seru Erald, sepasang mata Erald terlihat merah, seakan dia ikut kecewa dengan keberanian Ethan yang sangat bodoh, batu mulia tidak akan pernah bisa jatuh ke tanah, dan di injak-injak. Hal itu sangat mustahil.
__ADS_1
Glek!
Ethan menelan isaknya, sedikit serak mengingat masa lalu, "bisakah Ruan membebaskan satu hal saja untukku, hanya Anna. Aku hanya menginginkan Anna. Sisanya, kalian boleh membuat dan mengatur hidupku,"— Ethan memejamkan matanya— "aku hanya meminta satu pengecualian."
Anna tertunduk. Pengakuan Ethan, membuat dirinya malu akan dirinya sendiri, yang selalu meragukan Ethan. Tuan muda Ruan terlihat bersungguh-sungguh, dan permohonan itu nyata dan tulus dari hatinya. Anna ingin menangis, dan segera menutup mulutnya, agar isaknya hanya tertahan dalam tenggorokannya.
Erald mencibir dan meludah ke lantai marmer, mengetok-ngetok tongkatnya, serasa ingin menghancurkan lantai marmer itu dan diapun mengejek, "kau tidak bisa lari dari Ruan."
Ethan menjadi waspada.
Ethan mengedarkan matanya, menghitung jumlah pengawal pribadi pamannya, ada lima orang, dan sepasang mata Elang yang awas, akhirnya terpaku pada pamannya— Erald Ruan, hanyalah seorang pria pincang dengan wajah yang di bingkai rahang keras, tetapi pria paruh baya ini adalah pria paling berhati lunak di dalam keluarga Ruan, dan cukup mengherankan tiba-tiba pamannya datang lebih awal.
"Pisahkan mereka!" Erald memerintah, tiga pengawal langsung maju, dan dua pengawal lainnya tetap berjaga di garis pintu.
"Berlindung di belakangku!" seru Ethan melepas tangan Anna, Anna awalnya segera menarik diri, dan hanya menonton adegan Ethan yang menghadapi tiga pria besar di depannya
Buk—bukk—buk!
Erald tersenyum akan kemampuan beladiri Ethan. Rupanya, keponakannya memiliki jurus yang sangat bagus dalam membanting lawan.
Buk!
Lawan pertama, di balik ke atas punggungnya dan di lemparkan ke lantai. Mendapati satu teman mereka telah di jatuhkan dengan sangat cepat, dua lawan langsung menyerang bersamaan, di tambah dengan instruksi dua pengawal lainnya, maju bereaksi segera.
Buk!
Satu tinju masuk menabrak sudut bibir Ethan, merobek ujung bibirnya. Anna terkejut, menutup matanya, dan bergindik takut sebentar.
Anna bangun dari rasa takutnya, membuka kelopak matanya dengan cepat, dan yang dia lihat Ethan tengan di cekal oleh dua orang, satu menahan lengan Ethan, satunya berusaha menahan kaki Ethan— kaki Ethan bergerak dan bergeliat menabrak udara, tentu saja dia tidak ingin di tangkap dengan mudah dalam tangkapan empat pengawal Erald, yang terlihat berkerumun ingin menangkapnya.
__ADS_1
Melihat Ethan mengalami kesulitan, dan tangan Ethan terkunci oleh pria bertubuh besar. Anna gagap, berpikir sebentar. Akhirnya, mengambil kursi dan mengayunkan di udara.
Brak!
Kursi itu luput menabrak lawannya, pertolongan Anna terlihat sangat sia-sia, dan Anna ingin menangis sekarang.
Ethan tercekal dan membisu dalam amarah, rahangnya keras, namun matanya tersirat sedih dan perih ke sosok Anna, tubuhnya kini terjerat dalam pegangan yang mencengkram pergelangan tangan dan kaki dirinya.
"Ethan, ikutlah dengan baik. Aku tidak akan melukainya." Erald berdiri menahan rasa gejolak kasihan pada Ethan, dan perhentian matanya menatap Anna, dan suara remehnya terdengar, "kau lepaskan Ethan, maka kau akan mendapatkan angka yang kau inginkan."
Ethan berteriak, "lepaskan aku." — Ethan bergeliat— "dia bukan gadis penyuka uang."
"Tutup mulutmu!" Erald menghardik Ethan, namun sepasang matanya tetap fokus pada Anna, dan bertanya kembali pada Anna, "berapa angka yang kau inginkan?"
Anna tercekat, bingung akan mencari jawaban yang tepat. Selagi, dia berpikir keras, Erald membujuk kembali dengan kalimatnya, "jika kau menyukai Et—"
"Pamanmu, kau gila!" maki Ethan marah, dia baru saja merajut benang, namun adik kandung ayahnya, telah mengambil gunting, dan memotong jalinan kasih Anna dan Ethan.
Erald melangkah mendekat, dan perlahan membuat Anna terjebak ke dinding, dan barulah, Erald membujuk lagi, "kalau kau menyukai Ethan, kau tidak akan membuat dia jatuh dari langit."
Deg!
Kalimat paman Ethan, sangat mengena dengan tepat jantung Anna, dia tidak ingin Ethan di sakiti.
Anna merasa kacau saat ini, dan ingin menjerit akan dua hal. Dia menyadari, dia menyukai Ethan, namun dia tidak boleh menyakiti Ethan.
...
Catatan Author:
__ADS_1
mohon bantuan Vote, like, dan coment.