
Sepulang sekolah, Anna memutuskan menjenguk Joe. Joe selama tiga hari, belum kembali sekolah, Yuna ataupun Yeri, tidak terlihat kembali ke rumah.
'Apa Joe di hajar sangat parah?' pikir Anna takut.
Mengambil ponsel dalam tasnya, dan mengirim pesan untuk Nana.
'Ibu, aku pergi menjenguk Joe.'
Beep-beep-beep! Balasan Nana langsung masuk.
'Jangan terlalu banyak bicara, dan jangan memihak siapapun. Kita makan sumber dari tangan Ruan.'
Anna menutup pesan. Tidak membalas lagi. Memandangi ponsel. Tepatnya ponsel hadiah Ethan. Hal ini masih membuat Anna malu jika mengingat, bagaimana cara Ethan memberikan untuknya.
Tepat, dua hari yang lalu, dia mendapatkan ponsel ini dari Nana, dan hal ini membuat Anna ingin menjerit pada Ethan setiap saat, yang selalu memberi pesan pagi saat dia membuka mata, dan malam, pada saat menjelang menutu mata.
Malam itu.
Sepulang kerja, Nana yang pulang larut malam, langsung membangunkan Anna. Mata Nana terlihat cerah.
"Anna, bangun!"
Anna membuka matanya, dia masih sangat mengantuk, dan mendapatkan kotak ponsel di tangan Nana.
"Untukmu..." sodor Nana, seakan memberi kejutan besar untuk Anna.
"Tetapi... ini sangat mahal, mengapa ibu membelinya?" protes Anna.
"Aku tidak membelinya. Tuan muda Ruan terlihat senang hari ini, malahan semua pelayan keluarga Ruan mendapatkan berkatnya hari ini, kami semua mendapatkan ponsel baru, anak muda itu terlihat sangat royal..."
"Hah?" Anna tercekat sebentar, Ethan Ruan tidak pernah kehabisan uang, dan Anna tetap ingin menolak, "kalau begitu, ibu saja yang menggunakannya... aku bisa menggunakan punya ibu yang lama."
"Tidak! Ibu tidak pantas menggunakan ponsel anak muda seperti ini, semua teman ibu juga memberikan ponsel pada anaknya."
Anna tidak menentang, menerimanya. Membuka kotak, saat ibunya memasuki kamar mandi. Membongkar dan mulai menggunakannya.
Beep-beep-beep...
Satu pesan langsung masuk.
__ADS_1
'Apa kau menyukainya? Ponsel ini ponsel termurah, oleh itu aku membelinya sekaligus banyak. Yang penting aku bisa mengirimi pesan setiap saat. Ethan'
Wajah Anna membeku. Tidak berani membalas pesan Ethan. Menatap pintu kamar mandi, takut akan ketahuan ibunya. Anna langsung menghapus pesan, mematikan ponselnya kembali.
Untung saja, bukan ibunya yang pertama kali mengaktifkan ponsel ini.
'Ethan akalmu banyak sekali...'komentar Anna di dalam benaknya, menatap ponselnya.
Mengingat hal itu, sampai saat ini Anna memerah jika menatap ponsel dalam genggamanya.
Tidak ingin larut malam tiba di rumah sakit, Anna bersiap berangkat dengan dua tangan menenteng dua plastik kotak makanan, buatan tangannya sendiri, yang terasa masih hangat.
Memanggil Taxi, dan dalam tiga puluh menit, Anna mencapai rumah sakit, tempat Joe di rawat inap.
Setelah menanyakan di meja resepsionist, dia mendapatkan bangsal Joe Han. Berjalan sepanjang koridor terasa dingin dan sunyi, menuju bangsal yang terlihat di fasilitasi sangat baik, lebih mirip hunian nyaman, dan rumah sakit ini, merupakan rumah sakit terbaik di kota ini. Tentu saja keluarga Ruan, sangat mampu memberi hal ini untuk Joe.
"Pergi!" teriak Yuna. Anna segera maju, mendapatkan Tuan muda Lu dan seorang pria paruh baya dengan tampilan setelan single breasted abu-abu, di dorong keluar dari bangsal, dua tangannya terlihat membawa dua kotak makanan lezat, dan tentu saja sangat berkelas dari sampulnya.
"Bibi Yuna..." Anna segera membukuk dalam pada bibi Yuna, dan pura-pura tidak mengenal Tuan muda Lu, jika hal ini dilihat bibi Yuna, maka perkenalan dirinya dengan Tuan muda Ruan, akan terbongkar cepat, sampai pada Nana Su, ibunya. Hal ini, akan sangat rumit.
Yuna menatap ringan pada Anna sebentar, dan berkata lembut, "masuklah Anna..."
Anna tercekat sebentar, baru mengerti maksud kedatangan Stephan, apakah dia mewakili Ethan untuk meminta maaf? Hal ini, menyentuh hati Anna. Ternyata, masih ada Pangeran yang memiliki kelembutan dan hangat seperti ini.
Anna tersenyum. Stephan berdiri canggung, dan menitipkan bingkisan pada Anna.
"Tidak di terima!" sergah Bibi Yuna, memotong tangan Anna menerimanya.
Anna mengehela napas, memegang tangan bibi Yuna, "bibi, jangan seperti itu, Tuan muda ini terlihat tulus-"
Yuna menghela napasnya. Baiklah, karakter Tuan muda Lu, sangat jauh dari Tuan muda Ruan. Apalagi, dia telah menampar wajah emas pria muda ini, untung saja pria ini tidak mengambil perhitungan dengan dirinya. Merasa bersalah, Yuna tertekuk sebentar menimang-nimang hal.
Yuna mengambil bingkisan, dan mempersilakan masuk Anna dan Stephan, tetapi tidak mengijinkan pria paruh baya itu, "kau tidak di ijinkan masuk!"
"Aku pengacara Ethan Ruan, kau akan menyesal, jika tidak menerima bantuannya!" Pengacara itu terdengar angkuh dan sombong, namun memilih berdiri di luar bangsal, dan mengomel setiap saat.
Stephan tersenyum atas bantuan Anna berbicara untuknya, dan hanya berkata pada pengacara- Johan Ming, "lebih baik kau membujuk Ethan kemari."
Johan menarik napasnya, dan bersuara rendah, "hal itu mastahil, aku akan membujuknya lagi."
__ADS_1
"Terima kasih..." bisik Stephan pada Anna sebelum dia melewati garis pintu masuk bangsal.
Anna menahan dirinya sebentar, karena Tuan muda Lu, bisa mengucapkan terima kasih untuk hal sekecil ini. Rasanya, Tuan muda Lu berbeda dengan Tuan muda Ruan, yang terlahir sangat kekanakan dalam segala hal, dan angkuh. Ingat perbedaan ini, Anna ingin mengelus dadanya sendiri.
Anna melangkahkan kakinya, masuk dalam bangsal. Fokus matanya langsung tertuju pada ranjang. Kosong.
'Mana Joe Han? ' pikir Anna dengan mengedarkan matanya mencari Joe, dan terakhir matanya singgah pada pintu kamar mandi, 'apa Joe di kamar mandi?'
Yuna menyadari pandangan Anna yang masih berdiri di ambang pintu, segera mengatakan, "Joe baru saja di bawa ke ruang ICCU, Anna!"
Setelah mengatakan hal itu, Yuna kembali terisak. Anna terhenyak sebentar, seakan merasa bersalah untuk hal ini, karena Ethan memukul Joe karena cemburu.
"Bibi Yuna, Joe tidak sadarkan diri karena dia memiliki penyakit jantung, bukan karena--"
Blam!
Yuna membanting pintu, dan berteriak, dan memoting kalimat, "anakku sehat! Tidak ada jantung, orang kaya selalu mengarang cerita, aku akan tetap menuntut!"
"Jika kau menuntut, aku tidak yakin kau bisa membayar rumah sakit, dan penanganan untuk Joe. Apa kau sanggup?" Johan kesal.
Yuna mengepalkan tangan, kuku tangannya seakan menembus dagingnya, dan menusuk-nusuk harga dirinya, dan matanya tanpa sadar menatap pada Stephan yang duduk di kursi yang sama dengan Anna.
Mendapatkan pandangan itu, Stephan hanya meluruskan punggung dan terlihat menawarkan kembali, "bukan hanya soal biaya rumah sakit, Joe harus segera di rawat, dan dia membutuhkan jantung baru, dan hanya kompesasi keluarga Ruan, yang bisa menyelamat--"
"Kyaaa!" teriak Yuna menutup telinganya, "dia yang menyakiti anakku, mengapa aku harus mengemis padanya..."
Hua...hua...hua!
"Tidak adil sekali!" Yuna menelan isaknya.
Anna ikut mengepalkan tangannya, andai Ethan sedikit tulus, maka semuanya terlihat tidak mengemis kembali.
...
Ns.
**coment donk: suka nggak couple Anna Ethan? sstt bocorannya, Ethan sudah lama mengenal Anna. pertemuan di sekolah itu pertemuaan yang sudah di atur Ethan spy bisa dekat Anna.
Rahasia Ethan 😘**
__ADS_1