Kekasih Tuan Muda Ruan

Kekasih Tuan Muda Ruan
Jantung Pewaris Ruan


__ADS_3

Tiba-tiba, Anna merasakan kehadiran Ethan sudah begitu dekat dengan dirinya, tangannya mengalungi pundak Anna, dari belakang, dagu Ethan jatuh di pundak lainnya. Anna menghela napas, akan menepis kedekatan magnetik ini, tetapi satu tangan Tuan muda Ruan  mengacungkan ponsel ke udara, dengan layar ponsel yang menangkap dam membingkai  gambar mereka dalam satu bidikan yang terlihat dekat.


"Senyum manis, Anna."


Anna kikuk dengan sistuasinya sebentar, tetapi suara 'cekrek—cekrek—cekrek' terdengar beberapa kali  kemudian. Lalu, Ethan berbisik sebetar, "ini pertama kalinya aku berfoto dengan seorang gadis, dan meyimpannya di ponsel."


Anna membulat. Tidak percaya, mendorong pria itu dan mencibir, "kau pandai merayu, Tuan muda Ruan. Aku tidak percaya."


Ethan tidak peduli, hanya membuka kunci layar ponsel kembali, dan membuka album galery, dan dengan percaya diri berkata, "selamat datang di galery Tuan muda Ruan,"— Ethan tersenyum merayu pada Anna— "lihat hanya ada photo kita berdua, apa kau masih tidak percaya?"


Anna tertegun sebentar, sepasang matanya tersipu malu, dan bersiap akan percaya, namun seakan sadar sesuatu, bahwa ponsel Ethan berganti dari sebelumnya, diapun mengomentari akal Tuan muda Ruan ini, "tentu saja, itu kan ponsel baru lagi. Tentu saja galery pertamamu adalah gambar kita."


Ethan terkekeh dalam hatinya, ternyata Anna tidak mudah makan perkataan orang lain, 'kau gadis kecil Tuan muda Ruan yang pintar sekali.'


Ethan memasang wajah poker.


"Tidak. Ponsel lamapun, hanya ada Michael Liu dan Stephan Lu. Kau orang pertama, ayolah percaya padaku..." rengek Ethan terlihat mengemis kepercayaan Anna, Anna merasa tergelitik, mengapa Ethan terlihat seperti anak kecil yang sangat manis merengek-rengek padanya.


"Baiklah, aku percaya."


Anna mengubur wajahnya, dan menyeruput milk shake  yang berada di bawah matanya, rasa milk shake terasa manis, Anna linglung sebentar, yang dia ingat, 'rasanya sangat tawar.'


Matanya bergeming, bola matanya bergerak ke kiri dan ke kanan, dan diapun menyadari, jika dia telah menggunakan sedotan yang sama dengan Ethan.


Mendorong gelas, dan tertunduk malu. Rona merah Anna menjalar naik ke seluruh permukaan wajahnya, warna merahnya sangat jelas seperti cangkang kepiting merah.


Anna mengingat rasanya. Dulu dia merasa mual, saat ini dia malah  merasa bekas Ethan sangat manis. Dia konyol, mengutuk dirinya sendiri.


Ethan memandang Anna, berpura-pura tidak mengetahui warna wajah Anna yang berubah, telah tertangkap matanya dengan sangat jelas. Diam-diam dia  mengepal tinju sukses tersembunyi, lakon manis seperti anak kecil, ternyata bisa dia gunakan untuk berjalan lebih dekat dengan Anna, maju selangkah demi selangkah lagi.

__ADS_1


Ethan sengaja tidak ingin menggangu pikiran Anna. Dia dengan sengaja menciptakan moment yang terasa hening, agar setiap saat mereka bisa saling mendengarkan detak jantung masing-masing, dup—dup—dup.


Pola pernapasan dan detak jantung Anna dan Ethan terdengar sama, walau mereka tidak saling berpegangan tangan, tidak duduk di sisi yang saling menempel. Hanya  diam seperti ini, jantung mereka langsung berdetak-detak dengan ritma yang sama.


Beep— beep—beep.


Suara pesan masuk terdengar memecah keheningan ruangan, Ethan mengambil ponselnya dari nakas meja, dan membaca pesan dari Michael Liu.


'Athan, Joe Han masuk masa kritis.'


Di saat Ethan terlihat memikirkan satu hal, pukulannya memang tidak keras, dia tidak menghajar titik vital Joe Han, fase kritis Joe Han, karena penyakit jantung bawaan yang  terlambat di sadari, atau lebih tepatnya, mengetahui ciri-cirinya, namun dia enggan mengobati dirinya sendiri.


Cerita hari ini,hampir persis dengan kisah kematian Eron Chen. Pria itu mati karena jantungnya telah diberi narkoba yang memacu jantung pria itu, tapi semua orang melihat pria itu mati karena pukulan tangan Ethan, bukan karena penyakit dibuat oleh seseorang. Ingat itu, seluruh darah Ethan dan segenap keluarga Ruan mendidih. Oleh itu Ethan pindah dari kota kelahirannya, sekaligus kota yang membesarkannya. Stepahan Lu dan Michael Liu, pindah ke kota yang sama karena rasa solidaritas untuk  mengikuti Ethan, kemanapun pria itu pergi, layaknya kepala naga yang selalu membawa pengikut setia di belakangnya.


Beep— beep—beep.


'Anna, apa kau di rumah sakit, aku dengar Joe Han masuk fase kritis. Kami di sini, mandapat kabar itu.'


Deg!


Anna memejamkan matanya, Ethan melakukan hal yang sama, karena dia sudah bisa menebak Anna pasti telah mengetahui situasi Joe Han, saat ini.


"Anna," sebut Ethan lirih membangunkan lebih dulu.


Anna diam. Terlihat mengunci mulut.


"Apa yang akan kau lakukan?" tanya Anna menghindari tatapan Ethan, rahangnya mengeras akan marah, tinjunya mengepal menahan diri, dia masih sabar menunggu Tuan muda kaya raya ini menyelesaikan masalahnya.


"A—aku..."—Ethan meraih tangan kiri Anna dalam genggaman tangannya— "percayalah padaku, aku tidak akan membiarkan Joe Han mati  cepat."

__ADS_1


Anna menarik tangannya mundur, berurusan dengan keluarga Ruan, hanya mendapatkan kesombongan, seakan dia adalah Tuhan bagi kehidupan orang miskin, "Ethan!"


Ethan menghela napas, jika Anna hanya memanggil namanya saja, sangat jelas Anna akan segera meludahkan api yang membakar. Tidak pernah ada yang di takuti Ethan dalam hidupnya, kecuali Anna yang pergi meninggalkannya, buru-buru Ethan menangkap tubuh Anna, berpaling untuk melihat dirinya, wajah Ethan terlihat serius, "bisakah, kau sedikit percaya padaku?"


Anna ragu, bercampur miris, suara seraknya seakan memperingati Ethan, "Ethan, uang tidak bisa menghidupkan orang mati."


Benar. Ethan sudah tau hal itu, kelopak matanya terangkat ke atas, menunjukan sorot mata serius dalam setiap katanya, "aku bisa memberikan jantungku, untuk menghidupkannya kembali."


Brak!


Pintu terbuka lebar, suara bariton pria dewasa terdengar miris dan ingin mengutuk, ketika tanpa sengaja dia hadir dan mendapatkan kalimat yang meluncur lantang dari seorang pewaris Ruan, dia mendengus marah, "sejak kapan jantung Tuan muda Ruan bisa di lempar dan di buang begitu saja ke sembarang orang."


Ethan bergindik. Suara pria dewasa ini sangat familier, dia berpaling menatap pria yang berdiri tepat garis pintu bersama beberapa pengawal pilihannya, "Paman Erald."


"Kau masih mengenalku?" Erald Ruan mengabaikan Ethan, sepasang matanya menyapu menatap Anna yang duduk di sisi Ethan, dia memindai sosok gadis kecil itu, yang berhasil membuat keponakannya ingin merobek kulit, dan mengeluarkan jantung, diapun mencibir gadis itu, "nona kecil, aku katakan padamu, Ethan Ruan pewaris Ruan, jantungnya bukanlah miliknya, sejak dia lahir jantungnya diperuntukkan untuk hidup Ruan."


"Paman Erald, itu urusanku." Ethan berdiri, menghalangi pandangan pria itu untuk tidak mencela Anna lagi.


Erald memberikan senyum sinis, dan menyindir hubungan Anna dan Ethan, "Ethan Ruan, aku memperingati dirimu, sebagai penerus Ruan, kau boleh mendapatkan  jantung siapapun, tetapi kau tidak boleh mendetakkan jantungmu pada seorang gadis."


Anna memejamkan matanya, ujung gigi runcingnya tanpa sengaja menggigit bibirnya, dia menunjukkan dirinya, agar tidak pengecut di hadapan siapapun, diapun membalas Erald dengan kalimat sinis, "Tuan Erald, jangan salahkan jantung Ethan yang ingin bekorban, salahkan kelahiran Ethan, dia ada untuk melawan kalian, dan—"


"Melepas Ruan," lanjut Ethan mengejutkan.


Plak!


Erald seperti mendapatkan tamparan wajahnya. Nyali anak muda mudi ini, membuat dia bergindik sebentar. Dia tidak mengenal Anna, namun sorot mata tajam gadis itu tersirat keberanian yang hidup dari seorang yang  tidak akan mudah di tinjak, dan dia sangat mengenal Ethan, setiap kata Ethan, berasal dari keberanian yang telah dipupuk sebagai pewaris Tuan muda Ruan yang tidak akan takut dengan kematian dan siksaan hidup.


...

__ADS_1


__ADS_2