
Nana seakan menelan harga dirinya. Dia berbalik dengan sepasang mata yang berkaca. Dia melepaskan genggaman tangannya dari puterinya, dan dia meraih tangan pria tehormat itu, "Karena aku tidak memiliki apapun untuk membela puteriku. Bisakah kau membelanya untukku."
"Tentu. Bahkan aku dengan senang hati memberi minyak dan membakar pemuda itu."
Anna menghela napas, dan beekata lirih, "Mengapa kalian terus salah paham?"
"Tidak ada yang bisa mempercayaimu lagi," ketus Nana menggigit hati Anna yang benar jatuh remuk dalam jurang kesalahpahaman Nana.
Aldrick kembali ke mejanya. Mengangkat ganggang telepon, dan berkata, "Tutup klinik, dan bubarkan semua orang. Aku ada keperluan mendesak." Klek! Aldrich meletakkan ganggang teleponnya, mengakhiri perbincangannya dengan perawat yang berada di balik meja pelayanan.
"Berbaringlah. Aku akan memeriksa," ujar Aldrich segera mengenakan sarung tangan sterilnya.
"Aku tidak hamil," elak Anna.
Nana mendelik kesal, menunjukkan ketidakpercayaannya, "Biarkan Aldrich memeriksa. Aku perlu bukti. Bukan omong kosong."
Aldrich tersenyum. Anna pasrah akan dirinya yang telah kehilangan kepercayaan ibunya. Dia pun berbaring di bankars pasien. Aldrich mengangkat kaos Anna hingga di atas perutnya. Mengoleskan gel, yang membuat perutnya merasakan dinginnya Gel menyentuh kulitnya. Tak lama kemudian, Aldrich mulai menggunakan alat pemindai USG, dan bergerak melingkar seraya terus mengawasi monitor yang bergantung di langit-langit ruangan.
"Tidak ada tampak Katong janin. Dia tidak hamil."
Anna menarik napas lega. Namun, raut wajah Nana terlihat masih tegang dan cemas, "Periksa dia. Apakah dia masih memiliki keperawanannya?"
"Ibu! Bisakah rasa curigamu tidak membawa sesuatu yang bisa membuatku buruk di hadapan orang lain," protes Anna dengan nada kesal.
"Apa kau tidak nyaman karena aku seorang pria. Aku akan memanggil rekan kerjaku untuk memeriksanya."
"Itu ide bagus."
Aldrich kembali ke meja kerjanya, dan menghubungi seorang wanita yang terlihat sibuk dengan penanya menulis pada kartu pasien.
__ADS_1
"Aku menunggumu di ruanganku. Periksa keponakanku."
"Baik, pak." Wanita muda itu mengentikan gerakan tangannya, segera mengalungkan jas putihnya dan keluar dari ruangannya, dan berjalan dua puluh langkah untuk mencapai ruangan sang pemilik klinik.
Tok! Tok! Setelah mengetok pintu dia kali, dia pun mendorong daun pintu, dan masuk perlahan melewati garis pintu. Dia menganggukan kepalanya memberi hormat kepada setiap orang yang dia jumpai. Apalagi sang pemilik klinik ternama, menyebutkan gadis muda itu adalah keponakannya. Walau penampilannya, sungguh tidak menyakinkan sebagai gadis yang terlahir dengan darah biru.
"Mendekatlah, Deen."
Wanita yang bernama Deen segera berjalan dengan setiap ketukan langkahnya yang terlihat elegan menghampiri sang pemilik klinik, "Ya, pak. Apa yang bisa saya bantu?"
Aldrich menatap dengan bola mata yang terlihat sedikit merunduk malu, menyebutkan hal sensitif tersebut, "Aku meminta kau memeriksa selaput daranya. Apakah masih utuh?"
"Baik, pak."
Anna menggigit bibirnya dan tatapannya terasa telah di bakar malu. Dia tidak berani memandangi wanita yang kini berdiri di sisinya dan menarik gorden, menghalau pandangan orang lain. Kini, hanya wanita cantik berusia sekitar tiga puluh lima tahun yang tersenyum dengan alat senter di bibirnya, dan sedang mengenakan sarung tangan.
"Aku akan memeriksa, apakah selaput dara itu masih utuh?"
Deg! Anna memejamkan matanya erat. Kala, sang dokter mulai melakukan pemeriksaan dalam. Anna mennagis untuk sesaat. Kala, dirinya merasa telah dilecehkan hanya untuk mengetahui apakah dia telah menjual dirinya pada seorang pemuda?
Terkadang ... tidak semua orang akan percaya dengan apa yang akan ku katakan. Banyak orang menuntut bukti bukan sekedar omong kosong. Ini wajar, jangan menangis Anna. Walaupun semua bukti itu harus melewati fase yang namanya melecehkanmu dan menduga-duga betapa buruknya dirimu. Jangan bersedih, ini akan kulewati dengan mudah ..., jerit Anna dalam hati meringis dan bertahan untuk harga dirinya.
Tidak lama kemudian. Sang Dokter wanita menarik tangannya dari pemeriksaan dalam dan melepaskan sarung tangan dan melepaskan masker wajahnya. Anna bisa melihat senyum wanita itu mengembang. Namun, tetap saja teka-teki di wajah wanita cantik itu menjadi misteri yang membuat jantung Anna naik turun menerka-nerka, Apakah hasilnya aku masih perawan?
Anna duduk dengan lebih dulu memperbaiki posisi pakaian bawahnya. Dia menatap sang Dokter wanita. Namun, wanita itu hanya melewati satu mimik pertanyaan penuh penasaran Anna. Wanita itu menarik gorden, dan tampak menulis sesuatu di secarik kertas diagnosa. Lalu, dia menyerahkan pada Tuan kehormatan. Setelah itu, wanita berjas putih itu mengangguk pamit dan melenggang pergi meninggalkan ruangan begitu saja.
Dup-dup-dup! Anna gelisah kala tangan Aldrick membuka lembar surat diagnosa. Lalu, surat diagnosa itu berpindah tangan pada Nana. Deg! Anna meremas jantungnya sendiri, ketika sepasang mata Nana terlihat membulat, dan mulutnya membentuk huruf O besar.
"Kau masih utuh!" komentar Nana terdengar melegakan sekaligus menoreh luka karena ketidakpercayaan wanita itu padanya.
__ADS_1
"Apakah kalian bisa mempercayaiku setelah kalian mencari bukti dan menyelidiki sendiri? Apakah kalian puas mencari sesuatu dengan melecehkan lebih dulu?" urai Anna dengan air mata berlinang. Setiap katanya terdengar melengking tinggi dan gunung kemarahannya meledak di akhir kalimat.
"Tidak begitu Anna. Aku hanya takut. Bukan ingin melecehkanmu," bujuk Nana mendekat dan meraih tangan Anna. Namun, Anna segera menarik tangannya sendiri.
"Hal yang paling menyakitkan adalah ketika orang yang kita kasihi, telah melunturkan kepercayaannya karena egonya. Karena rasa takutnya." Anna berdiri meninggalkan bankars, dan hanya memberi pandangan menyipitkan kekecewaan pada Nana.
"Aku kecewa padamu!" teking Anna menepis tubuh Nana menjauh darinya.
"Jangan mengejar dirinya. Biarkan dirinya tenang," cegah Aldrich pada Nana yang akan mengejar tubuh Anna yang terus berjalan melewati garis pintu.
"Tetapi, dia?"
"Aku akan meminta seseorang mengikutinya. Biarkan dia sendiri. Karena, dua juga perlu waktu untuk mengobati kekecewaannya sendiri."
"...."
"Yang bisa mengobati luka hati itu hanyalah dirinya sendiri. Beri dia waktu untuk sembuh dan melupakannya."
"...." Nana menyeka air matanya. Hatinya merasa berlubang akan rasa takut dan ketidakpercayaannya pada Puterinya sendiri.
"Sekarang ceritakan padaku ... Apa yang membuatmu gelisah dan kehilangan akalmu? Kau seperti wanita gila datang kemari. Lihatlah penampilanmu?"
Nana hanya mengepal tangan sesaat. Dia rapuh sesaat karena telah kehilangan akalnya, "Aku pikir dia telah menjual dirinya kepada seorang pemuda hanya untuk semangkok nasi."
"Hmm ... Siapa pemuda itu?" selidik Aldrich antusias.
Nana menyeka air matanya lagi. Bagaimana aku harus menerobos tembok harga diri Anna lagi? Jika aku harus mengejar masalah ini.
"Aku sudah lega. Jadi, aku tidak akan mengejar lagi. Aku akan melupakan, dan akan memperbaiki hubungan kami."
__ADS_1
......................
Bersambung ...