
Ethan meludah marah, tangannya terkepal erat, dan pukulan datang begitu cepat. Yang dilihat Michael, hanya Joe telah tersungkur kembali ke tanah, dengan bodohnya menerima setiap pukulan datang yang bertubi-tubi.
"Kau ingin menjadi batu cadas yang melukaiku, tunjukan padaku?". Ethan marah karena batu cadas yang dilemparkan Joe bukan melukai fisiknya, namun tepat mengenai jantungnya, membuat ritma seluruhnya terasa kacau, dup-dup-dup!
Joe tidak mampu menjawab. Isi mulutnya hanya mengunyah darah sendiri. Wajah Joe tidak berbentuk, memar di mana-mana, belum lagi di sudut-sudut vital lainnya. Ethan telah meledak dalam tembakan-tembakan beruntun miliknya.
'Pukul saja sepuasmu.' Joe meringis menekuk tubuhnya seperti bola. pandangannya sudah terlihat berbayang-bayang, dan telinganya hanya berdengung-dengung. Sedikiypun Joe, tanpa ada niat membalasnya, bagaimana bisa muncul keberanian membalas Tuan muda Ruan, jikapun berani, hal tersesal Joe adalah melibatkan ibu dan adik perempuanya. Joe ingin menanggungnya sendiri. Setidaknya, Anna tau bagaimana perasaan Joe sedari dulu. Joe sudah menyukai Anna, jauh sebelum Tuan muda Ruan. Joe lebih dulu mengenal Anna, dan mengapa dia harus bersembunyi lebih lama.
"Jangan memukul lagi, dia tidak akan bisa mengerjakan PR-mu lagi..." tahan Michael, raut wajahnya jatuh memohon, menangkap sepasang kaki baja Ethan, berharap berhenti menendang, namun malah lemparan dingin yang dia dapatkan.
Buk!
Michael mengabaikan rasa sakitnya, dia segera meraba-raba lantai mencari kacamatanya yang jatuh bersamaan dengan ponselnya. Mendapatkan kacamatanya, dia segera sadar mengambil ponsel dan menghubungi Stephan. Hal ini, diluar kendalinya.
Bibir Michael bergetar meluhat Ethan telah kehilangan kekang terhadap emosinya, dia berharap panggilan segera tersambung ke Stephan Lu.
"Kenapa?" tanya Stephan yang baru saja memarkirkan mobilnya di halaman rumah Ethan, dia baru tiba dari kota S******.
"Stephan cepat naik ke lantai 3, Joe akan ma—" Michael menjatuhkan ponsel ke lantai, ketika wajah Joe terlihat kehilangan napas karena Ethan menabrak dan akan mencekiknya di dinding, dia segera berlari menangkap tangan Ethan, "Ethan, dia bisa mati!"
"Tolong! Jangan Ethan!"
Ethan kehilangan kekangnya,siapapun tidak akan dia dengar. Di saat yang tepat Stephan berlari ke lantai tiga, langsung menujubkamar Ethan. Peluh keringat membanjir dan bola matanya tercekat, dia dan Michael segera menarik mundur Ethan, tetapi Ethan telah menjelma menjadi setan.
Terpaksa Stephan memukul leher Ethan, dan membuat pria itu lumpuh seketika dengan pandangan gelap.
Huh...huh!
__ADS_1
Michael tidak sempat mengatur napasnya yang tersenggal-senggal, dia segera berlari ke tubuh Joe yang telah jatuh dingin ke lantai, meraba napas di bawah hidung, "dia masih bernapas. Aku akan mengantarnya ke rumah sakit sekarang!"
Stephan membantu meletakan tubuh Joe di belakang Michael, "lebih baik panggil dokter untuk Ethan, dia perlu ketenangan."
Stephan menatap linglung Ethan, Ethan tidak akan semarah ini, jika hal ini tidak terlalu sensitif, sebelum Michael benar pergi menggendong Joe di belakang punggungnya, Stephan bertanya, "mengapa Ethan memukul Joe?"
"Dia bodoh, mengaku drinya menyukai Anna, dan dia akan menjadi batu cadas melukai kaki Ethan—"
Stephan tercekat, akan kalimat terakhir —'batu cadas melukai kaki Ethan.'
Stephan melirik malas pada Joe, seorang lahir rendahan pun berniat menjadi batu cadas, lalu bagaimana dengan dirinya, yang bersiap menjadi gunting dalam hubungan Anna dan Ethan.
Menghela napasnya kemudian, Stephan hanya melabaikan tangan agar segera Joe di antar ke rumah sakit dan di selamatkan.
Sekian lama Stephan berdiri bimbang, sepulang dari kota S******, baru saja dia bertekad akan mengakui secara terbuka dengan Ethan, perihal menyukai Anna. Hal ini telah mendapat restu ibunya, yang terlihat tidak peduli dengan status Anna.
Stephan melepas udaranya yang pengap dari rongga dadanya, hal ini sangat sulit. Andai saja, Ethan dan dirinya tidak menyukai orang yang sama.
Deg!
Telapak tangan Stephan naik memegang dadanya sendiri, apa dia harus menunggu Ethan bosan? menunggu dengan sabar, atau menunggu dirinya berhenti menyukai Anna.
Apalagi, melihat perangai buruk Ethan yang membabi buta, membuat Stephan ikut terluka.
Stephan perlahan menjongkok ke lantai, membopong tubuh Ethan yang berat naik ke kasur, dan satu ponselnya segera memanggil dokter keluarga Ruan, "hmm... Tuan muda Ruan sedang tidak enak badan."
Tutup Stephan, setelah melaporkan hal itu. Stepahan duduk di sisi ranjang menatap wajah jatuh Ethan terlihat pulas, dalam seumur hidupnya dari masa kanak-kanak bersama Ethan. Baru dua kali, Stephan melihat Ethan semarah ini, layaknya hidup terlahir makan untuk membunuh, yaitu di saat dia menghajar Joe Han, dan menghajar Eron Cheng.
__ADS_1
Stephan akan melakukan panggilan Michael, tiba-tiba Yuna masuk dengan air mata yang deras, dia datang dengan tubuh gemetar. Mencapai garis pintu dengan kaki yang terlihat tidak bisa menginjak lantai dengan benar, dia mengadu-ngadu serak, "apa salah Joe Han? Mengapa dia dipukuli seperti itu?"
Kelopak mata Stephan terlihat naik turun, apa yang harus dia jawab. Bersikap netral, Stephan membuka bibir, "karena Joe sudah menyinggung Ethan!"
Yuna terlihat tidak bergeming sesaat, ketika lututnya jatuh ke lantai, dia terlihat memikirkan sesuatu ketika menatap Tuan muda Ruan, yang melukai anaknya, malah terlihat pulas di atas ranjang besar, tidak ada satu cacatpun mengenai pria itu. Jadi, sudah di pastikan, bukan Joe yang memulai.
"Tuan muda Lu, Joe anak baik!" pekik bibi Yuna. Mata awas Stephan segeta waspada melihat semua gerak-gerik Yuna.
Tiba-tiba saja Yuna berteriak, mengambil vas besar di sisi ranjang Ethan, dan akan menjatuhkan di kepala Ethan. Stephan menangkis Vas lebih dulu, sehingga vas hanya jatuh ke lantai, dan prankkk!
"Kyaaaa! dia melukai anakku, kami miskin, tetapi nyawa kami hanya satu... bagaimana dia bisa menggantinya..." histeris Yuna, akan mengambil hal lain, namun Stephan lebih cepat menagkap tangan bibi Yuna, dan mendesis, "bibi, saya tau kaunmarah, tetapi marahlah di saat kau bisa melawan keluarga Ruan. Jika kau belum mampu, bisakah kalian berdiam?"
Yuna terkekeh, bulir-bulir air matanya makin jatuh tanpa kendali, suara hidung terdengar bernapas sulit, "sampai kapan kalian berhenti menganggap kami lelucon?"
"Pergilah ke rumah sakit dulu, segala hal akan di urus Ruan, dan segala hal akan di bayar dengan pantas!"
Plak!
Stephan memintal lidahnya di dalam mulut. Tamparan Yuna terasa sangat pedas.
"Jika Tuan muda Ruan bangun katakan padanya, jika terjadi sesuatu pada puteraku, maka aku akan memastikan jeruji dingin pantas aku dapatkan, ketika aku harus menggantung lehernya!"
Stephan dingin.
Selesai satu kalimat. Yuna lunglai melewati Stephan, hatinya sedikit getir mengingat untuk pertama kalinya Yuna pergi menampar wajah orang yang tehormat, biasanya kepalanya harus tunduk hormat, dan tangannya hanya melipat di depan dada setiap dirinya harus belajar membungkuk. Tetapi, dengan mudahnya mereka mengatakan, bahwa segala sesuatu akan mudah di selesaikan oleh Tuan Muda Ruan.
(...)
__ADS_1