
Setelah meninggalkan jejak di sana. Anna segera mendorong lepas dari pelukan tangan besar yang menahan pinggang kecilnya. Dia segera pergi dan berlari masuk ke dalam rumah.
Dup! Jantung Anna berdebar kencang. Dia masuk menyelinap ke dalam kamarnya. Dia menatap sosok yang terpantul dalam cermin, dan membola tidak percaya apa yang telah di lakukan oleh bibirnya akhir-akhir ini.
"Apakah ini masih diriku?" Anna mencubit pipi miliknya sendiri, dan menjerit kemudian, "Awww!"
"Ini memang diriku. Namun, mengapa aku memiliki kelancangan seperti ini? Terlalu agresif pada Ethan! Apakah dia akan menyebutku genit?"
Konyol. Anna mengigit bibirnya sendiri.
Beep! Ponsel Anna berdering. Liontin antena menyala berkedip-kedip indah.
"Sangat bagus," komentar Anna meraih sebentar liontin antena tersebut. Setelah cukup puas mengamati lampu yang berkedap-kedip. Kemudian, Anna membuka pesan. Wo ai Ethan, nama sang pengirim pesan.
Bersikap genit setiap saat seperti tadi. Sangat menyenangkan.
Anna membola. Mendadak hatinya menjadi malu. Pipinya merah panas seperti orang demam.
Jemari Anna lincah segera membalas pesan.
Hal itu tidak akan terjadi lagi. Kau sangat menyebalkan.
Anna menekan tombol samping pada ponselnya. Layar ponselnya menjadi gelap dan Hitam kemudian. Dia pun melemparkan ponselnya, dan segera memutuskan tidur.
Dup! Tetap saja hati Anna gelisah. Sepasang mata membola pergi terbenam. Namun, pikirannya tidak membawanya tidur. Rasa yang membekas pada bibirnya, membuat dia terngiang kembali akan detik-detik bibir yang saling menempel.
"Ah, itu kan bukan ciuman pertama kami!" Anna bergulung dalam selimut.
Baiklah itu memang bukan pertama. Bukan debaran pertama pula. Hanya saja makin sering dilakukan, kenapa membuat hal itu terasa .... — Anna mengecap bibirnya sendiri— Terasa sangat menyenangkan.
Anna membenamkan wajahnya dengan selimut. Bergulung ke kiri dan ke kanan hingga bulan terlihat bergulir bersembunyi. Langit hitampun terlihat memudar. Di saat itulah sepasang mata Anna mulai lelah terjaga,dia terkantuk, sepasang matanya terpejam, dan terlelap kemudian.
Lelap. Anna terlelap begitu lama. Tidak menyadari Nana datang masuk ke dalam kamarnya, mengepak seluruh pakaian dan barang miliknya masuk ke dalam koper kembali.
Nana menghela napas panjang. Kala, dia telah mengepak semua pakaian milik Anna. Dia pun segera membangunkan Anna, dan gadis itu berguling, duduk bangun dengan lingkaran hitam di bawah matanya.
"Anna, bangun."
__ADS_1
"Aku sudah bangun."
"Mandi."
"Baik!" Tidak sulit untuk Anna bangun dan melompat dari tempat tidur, masuk ke kamar mandi.
"Kita akan pergi hari ini. Kita akan meninggalkan desa."
Anna yang baru saja membuka keran shower. Terpaku dengan air yang menghujani ubin kamar mandi. Dia termanggu kosong akan pemberitahuan ibunya.
Kita akan pergi hari ini. Kita akan meninggalkan desa. Perkataan Nana terngiang melintas lagi.
"Kita akan pergi kemana?" tanya Anna segera membuka pintu kamar mandi, memberi celah untuk kepalanya mengekor keluar, mencari sosok Nana. Namun, sosok ibunya telah hilang. Anna menahan napasnya. Tiba-tiba ada sesuatu yang menjadi batu besar membuat dirinya hanya menyimpan sedikit oksigen dalam paru-parunya.
"Aku harus memberitahu,Ethan."
Anna segera menyelesaikan mandinya. Keluar dari kamar mandi. Dia melihat satu set pakaian yang telah di siapkan ibunya. Baju yang cantik. Anna segera mengenakan pakaian tersebut.
Setelah mengenakan seluruh pakaiannya. Baru saja, Anna akan mengetik huruf pada papan ketik pesan, suara langkah seseorang menghentikan jemari Anna pada papan ketik.
"Taxi sudah menjemput kita. Ayo berangkat!"
Anna ambigu. Namun, tangan Nana telah menyeretnya pergi bersamanya. Sedangkan tangan Nana yang lain menyeret koper.
"Ibu, kita akan kemana?" tanya Anna setelah masuk dalam Taxi. Namun, Nana tidak menjawab. Nana terlihat sibuk dengan pikiran dan rencananya.
Taxi pun berjalan perlahan. Kiri kanan terlihat pemandangan kebun yang indah. Kala Taxi melewati jalan yang melingkar dan melintasi halaman belakang rumah bibi Tina.
Dup! Jantung Anna berdegup dan berdebar kencang. Kenangan manis itu di situ. Jejak kaki di sana telah terhapus. Namun, jejak kenangnya, membekas dengan indah. Ciuman bibir itu, tidak bisa di lupakan dengan cepat. Untuk kedua kalinya, sentuhan bibir itu terasa manis dan dingin beradu dan bercampur aduk menyenangkan dalam tiap detik menuju menit yang sangat panjang.
Anna mendesah. Dia tersenyum bodoh kemudian.
Ethan, walau kita berjauhan. Aku tidak akan pernah melupakan apa yang telah kau sediakan untukku. Antenaku akan selalu terpancar untukmu, harap Anna dengan sepasang mata bak bulan sabit tersenyum akan jejak kenangan yang berada jauh di belakang kemudian.
Anna berpaling dari kenangan yang mengikutinya. Dia menatap ibunya yang masih terlihat berkerut dengan pikirannya.
"Ibu kita akan pergi kemana?" tanya Anna seraya menyentuh pergelangan tangan Nana.
__ADS_1
"Sejauh mungkin. Aku tidak ingin ayahmu menemukanmu."
Anna menelan sesaknya, dan mengutuk dalam hatinya.
"Walaupun dia menemukanku. Aku tidak akan pergi bersamanya. Untuk apa dia datang, di saat aku tidak membutuhkan tangannya lagi," keluh Anna.
"Betul. Kecuali aku mati. Baru aku mengiijinkanmu bertemu dengan ayahmu lagi. Aku dan dia mungkin mampu berpisah. Namun, darah pastilah tetap akan bertemu. Aku hanya menunda-nunda waktu pertemuan itu saja, sampai ajalku itu datang. Baru, ku ijinkan dia memeluk dirimu, Anna."
"Ibu jangan berbicara kematian."
Nana berpaling untuk tersenyum. Senyumnya membisikan ironi yang memecahkan empedu dan pahit dalam setiap kecapan lidah, "Aku hanya berandai saja. Namun, aku percaya kau dan aku tidak akan terpisah. Kecuali, hanya malaikat maut itu datang."
Anna segera memeluk Nana, ibunya. Erat. "Aku mencintaimu, Bu."
"Aku juga sangat mencintaimu."
Isak itu terdengar dan hujan itu membasahi bahu Anna. Anna segera mundur perlahan, dan tangannya merangkak naik pada wajah Nana, dan menyeka hujan milik Nana.
"Jangan menangis. Sekali-kalipun aku tidak akan pernah meninggalkanmu."
Nana mengangguk mengambil tangan Anna, dan membawa punggung tangan puterinya di bawah bibirnya. Dia mencium punggung tangan Anna, dan membasuhnya dengan air mata.
"Apakah kau tahu, cinta seorang ibu itu mengalahkan cinta pria manapun yang akan mempersuntingmu kelak. Sekali-kali pria akan bosan dan meninggalkanmu. Namun, seorang ibu tidak akan pernah meninggalkan puterinya barang sedetikpun, Anna."
Anna mengelap bibirnya. Ada rasa haru di sana.
"Setiap kesalahan puterinya, seorang ibu akan menanggung dan membelanya. Bagiku, puteriku tidak akan pernah terlihat salah. Walau dunia menghujatnya, kau akan selalu terlihat benar di mataku, Anna!"
Anna jatuh terisak, dia segera merangkul ibunya kembali, "Aku berbahagia karena kau mencintaiku begitu dalam. Aku tidak ingin kau meninggalkanku. Kau lah pembelaku yang ada di dunia ini. Aku takut kau pergi meninggalkanku. Bagaimana aku menghadap duniaku, tanpamu!"
"...."
"Oleh itu berhentilah berbicara kematian di hadapanku."
"...."
Nana tersenyum getir. Air asin masuk terkecap ke dalam bibirnya. Dia menikmati sebentar rasa asin itu,dan dia berbisik, "Andaikan seorang ibu itu tidak ada membela puterinya. Bukankah, Tuhan akan menjadi ibumu di dunia. Dia mampu mengetuk setiap hati seseorang untuk mencintaimu, Anna."
__ADS_1
...꧁❤•༆Anna & Ethan༆•❤꧂...