Kekasih Tuan Muda Ruan

Kekasih Tuan Muda Ruan
Selamat jalan ibu-ku


__ADS_3

...Aku-lah yang bersalah besar untukmu. Ibu, aku adalah kotoran besar di dalam matamu. Bisakah, kau bangun kembali dan mengambil kotoran itu di dalam mataku?...


...-Anna-...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Anna menggengam tangan yang terlihat mulai kehilangan kehangatannya, dan sepasang matanya tak berkedip, kala dia menatap selang yang menjadi satu-satu alat bantu udara, yang melekat pada hidung Nana.


Napas Nana terlihat pendek dan tersisa satu demi satu yang di hembuskan panjang dan hilang kemudian. Anna panik. Duduk bergetar pada kursinya. Sementara mobil ambulance terus berjalan melaju menuju rumah sakit.


Kau tidak boleh pergi dengan cara seperti ini, pekik Anna dalam hatinya, dengan sepasang tangan yang membungkus tangan Nana.


Kepala wanita paruh baya itu menoleh ke arah Anna, jemari telunjuknya mulai bergerak, mengejutkan atensi Anna. Anna segera duduk mendekatkan wajahnya pada ibunya, dan berbisik, "Maafkan, aku."


Nana menggeleng pelan. Lidahnya berkelit seakan sangat sulit berkata sesuatu. Dengan isyarat matanya, dia melirik untuk melepaskan alat bantu pernapasannya. Anna menolak, "Oksigen akan membantumu, untuk tetap hidup."


"Ti-dak a-kan sem-pat lagi," lirih Nana susah payah. Seakan tau ajal adalah petaka tiba-tiba yang telah datang untuknya.


Anna menggelengkan kepala, sepasang matanya berair dan berkaca-kaca, "Itu tidak akan terjadi. Kau akan tetap hidup, untukku."


Anna tersedu menangis. Seorang petugas tampak bersiaga, kala saturasi oksigen pada telunjuk Nana, terlihat mulai jauh berkurang. Petugas segera memutar tabung penyaluran oksigen.


"Jangan membuat ibu-mu lebih panik dengan tangisan," tegur petugas menyembunyikan kepanikan.


Anna menggeleng frustasi. Dia menatap Nana. Nana hanya tersenyum dengan matanya, dan dengan banyak kekuatan dia mengangguk kepala, agar Anna mendekat padanya. Seakan sepasang matanya berkata, datanglah lebih dekat, Anna.


Anna mendekat, memiringkan wajahnya, hingga telinganya mendekati telinganya pada bibir ibunya.


Seakan banyak kesesakan yang mendorong dalam rongga dada Nana. Banyak kepingan gambar dalam kenangan menampar kehidupan dan wajahnya.Seakan, waktu yang tak banyak untuk dia miliki lagi, dia berbisik pada Anna, "Ja-ngan men-yalah-kan a-pa yang te-lah ter-jadi."


Selesai satu kalimat. Hembusan panjang terdengar kemudian. Anna duduk kaku, dan limbung ke kursinya. Hembusan itu terdengar panjang, dan seakan seluruh angin napas itu merasuki telinganya, dan menusuk-nusuk gendang telinganya. Sungguh, kata-kata terakhir itu sangat menyakitkan.

__ADS_1


Jangan menyalakan apa yang telah terjadi?


Anna menggelengkan kepala akan kebodohannya berlari saat itu. Kini, dia tau dia adalah satu kesalahan. Melayangkan nyawa ibunya dalam satu adegan.


Sang petugas menghela napas akan duka di depan mata. Dia berusaha menekan-nekan dada, memanggil jantung wanita itu untuk kembali berdetak. Namun, hanya hawa dingin yang merasuk keluar dari raga yang mulai kaku. Dingin, dan membeku kaku.


Sang petugas menggunakan tangannya, dan menutup tirai mata Nana untuk turun, dan mengatup tidur untuk selamanya.


"Tabahkan hatimu. Ibumu telah pergi untuk selamanya," ujar petugas dengan banyak peluh membanjiri wajahnya. Dia melepas selang oksigen. Memeriksa napas di bawah hidung. Tidak ada napas berangsur hilir mudik, dan memeriksa nadi, tidak ada denyut, dan alat saturasi oksigen menunjukkan angka nol.


Anna menatap nelangsa. Sepasang matanya berkaca, dan dia mulai mengutuk dirinya.


Apa yang telah aku lakukan saat itu?


Anna turun dari kursi. Dia meraih tangan dingin dan keras itu. Begitu cepat kehilangan kehangatannya. Anna menggosok tangan Nana, seakan mengusir rasa dingin itu. Hingga tangannya, menyapu bekas gigitannya sendiri.


"Aku telah menggigit-mu sampai mati," jerit Anna bodoh. Dia menertawakan dirinya tanpa suara. Lalu, memukul dada Nana, "Bangun untukku!" pintanya. Namun, wanita itu tak kunjung bangun.


Isak berderai bagai siul panjang memanggil ibunya pulang, mencoba menarik arwah wanita itu kembali masuk menghuni raga. Namun, kehidupan wanita itu telah berakhir. Berhenti pada titik menyedihkan untuk Anna.


Anna merutuk bodoh dalam kelilungan panjang. Hingga dia tak sadar bahwa dia telah turut jatuh di sisi ibunya, seakan ikut masuk dalam selimut kegelapan yang sama, selama perjalanan mengantarnya ke rumah sakit dan kembali bangun kala ban mobil ambulance berhenti berputar, dan bunyi sirene tidak terdengar lagi.


Mobil itu telah tiba di sebuah rumah sakit terdekat. Anna terbangun dari kegelapan seluruh pikirannya. Dia menyeka air matanya. Salah satu tangannya terlihat masih menggengam erat tangan Nana. Berharap banyak keajaiban di dalam sana, ibunya mampu bangkit dan hidup lagi.


"Turunlah. Kita telah tiba di rumah sakit."


Anna menggeleng. Dia hanya ingin tetap tinggal. Tinggal bersama. Di mana ibunya pergi. dia akan mengikuti.


Sang petugas menghela napas. Pintu mobil ambulance terbuka. Seorang dari luar menarik tandu keluar dari mobil.


Anna terkesiap bangun, sepasang matanya beredar dan berkedip beberapa kali, hingga dia bangun dan berteriak, "Kalian akan membawa ibuku pergi kemana?"

__ADS_1


Salah satu petugas wanita masuk ke dalam mobil. Dia duduk dan memegang tangan Anna, "Saatnya, ibu Nana di hantar dengan baik. Ke tempat yang tenang dengan tubuh yang telah di bersihkan?"


Anna terkekeh. Dia melolong menangis. Sepasang matanya berkaca, dan bertanya, "Apakah ibu-ku mandi membersihkan diri harus di bantu? Apakah dia tidak bisa bangun lagi? Dia tidak mati sungguh-sungguh."


Sang petugas wanita tersenyum. Tandu bergerak keluar. Sepasang mata Anna melompat, seakan dia tidak ingin di pisahkan begitu saja, "Jangan membawa ibuku pergi!"


"Kau bisa melihatnya, setelah dia bersih, dan berada di kamar mayat."


Anna menoleh pada sosok wanita di sisinya, dia menelan ludah bercampur Isak, "Kau sebut kamarnya apa?"


"Kamar mayat," tekan sang petugas. Seakan wanita itu tidak mengijinkan Anna untuk diam dalam kemalangan akan situasi menyakitkan miliknya.


"Mengapa harus di letakkan di kamar mayat? jika ibuku belum mati. Dia hanya tidur."


"Dia tidur untuk selamanya."


Sang wanita petugas menggengam tangan Anna, dan meletakkan ponsel dalam tangan Anna, "Apakah ini ponsel ibumu dan milikmu?"


Anna membeku. Bibirnya bergetar. Menatap ponsel miliknya. Dia menangis tersedak, dan merampas ponsel dari tangan wanita yang duduk berjongkok di sisinya. Dia melompat turun dari mobil ambulance. Membanting ponsel ke tanah. Menginjaknya berkali-kali.


"Apa yang kau lakukan?"


"Karena, ponsel ini, ibuku mati. Aku-lah yang bersalah."


Sang petugas wanita hanya diam. Dia hanya melihat Anna kembali duduk berjongkok, memungut setiap bagian ponsel yang telah dia hancurkan. Dia bergerak menapungnya dalam tangan, dan dia menoleh ke arah sang petugas wanita tersebut, dan bertanya, "Setelah ponsel ini rusak? Apakah tidak akan ada yang bisa menghubungi-ku lagi?"


Sang petugas hanya diam dalam keheningan.


"Jika begitu. Ethan tidak akan mampu menghubungi Anna lagi. Bukankah, aku sudah memenuhi permintaan ibuku."


Anna berkaca, "Apakah aku masih terlihat salah?"

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Mau aku tamatin secepatnya? malam nanti semoga dapat ide yah ... uhuk


__ADS_2