Kekasih Tuan Muda Ruan

Kekasih Tuan Muda Ruan
Memberikan Jantungku


__ADS_3

Ethan  berbicara membujuk dengan tangan yang terus mengemudi mobilnya,  namun sepasang matanya terus  berlari mengintip ke gadis yang duduk di posisi co-driver, seluruh mimik Ethan terlihat tidak setenang suaranya yang berkata pada Anna untuk kesekian kalinya, "apa kita perlu sarapan dulu?  barulah kita pulang ke rumahmu?"


Anna hanya menatap keluar jendela,  dengan telinga terlihat berpura-pura  tuli akan ajakan Ethan yang berkali-kali mengulang kalimat yang sama.


"Apa kau masih sangat marah, karena aku memiliki tunangan?" tanya Ethan menelan ludahnya,  tiba-tiba Ethan  teringat akan sosok Emily,  yang telah dijodohkan dengan dirinya,  gadis itu terlihat memiliki banyak kemiripan dengan Anna,  hanya saja Anna  terlihat seperti bunga yang mekar indah  dan memikat mata sekaligus jantung Ethan Ruan,  sedangkan Emily,  adalah bunga vas cantik di atas meja  yang juga pernah memikat matanya, namun tidak pernah memikat jantung pewaris Ruan.


"Aku dan Emily,  hanya tunangan di atas kertas perjanjian.... " Ethan menghentikan perkataannya,  ketika dering ponsel terdengar samar dari dalam tas Anna,  dan menarik seluruh indera gadis itu.


Beep—beep—beep.


Ujung telinga Anna berdiri dan mengira Nana,  ibunya telah mengirim pesan untuknya. Jemari tangannya merogoh ke dalam tas, diikuti suara Ethan yang mengeluh dalam sindiran,  "kau sengaja mengabaikanku,  Anna. Ponsel itu lebih menarik telingamu daripada perkataanku. Aku cemburu pada ponselmu."


'Apa kau cemburu dengan ponsel? Kau konyol.' Anna ingin meledak tertawa dalam satu kalimat akan mengejek, namun kali ini dia menahan isi perutnya, dan bersikap bak gunung es yang sulit di cairkan,   karena dia juga  merasakan rasa cemburu karena kehadiran Emily,  lebih tepatnya Anna merasa kehidupan kecilnya,  bukanlah sesuatu yang pantas disandingkan dengar kehidupan sempurna calon pendamping Tuan Muda Ruan.


'Emily,  gadis itu pastilah sangat sempurna.'


Anna terlihat kembali memasang wajah dingin akan  kalimat mengeluh pria yang mendadak diam kemudian.  Sepasang matanya kembali ke ponselnya, dan hanya fokus membaca sederet huruf yang menjadi kabar yang terdengar buruk baginya.


'Joe masuk masa kritis,  kata dokter, operasi belum tentu bisa menyelamatkan hidupnya. Joe akan operasi tepat jam 12 siang, apakah dia bisa hidup Anna? Apakah dia bisa membuka matanya kembali? Katakan padaku, Anna. Joe selalu mempercayai semua perkataanmu, apa boleh bibi mempercayai satu kata darimu? Katakan padaku, bahwa Joe akan tetap hidup.... Aku mempercayai perkataanmu , seperti Joe yang selalu mempercayaimu....Tolong katakan padaku.— Bibi Yuna.'


Usai membacanya, pertanyaan bibi Yuna membuat sepasang mata Anna nanar terangkat menatap wajah Ethan, dia menahan napasnya sebentar dan bersiap akan menangis ketika sepasang mata Ethan berbalik heran menatap dirinya, dan Anna hanya bisa menjerit dalam hatinya, 'apa aku harus mempertanyakan hal ini untukmu,  Ethan.  Apa Joe bisa hidup?'


"Ada apa denganmu? kau terlihat sangat sedih." Ethan  memasang wajah lunak dan menatap ponsel yang di genggam Anna dengan sangat gemetar,  Ethan menjadi gelisah dalam hatinya.


"Apa ada yang terjadi sesuatu yang buruk?" kejar Ethan,  namun kepala Anna tertunduk dan air matanya jatuh ke pipinya. Ethan jatuh duduk dalam kegelisahan.


"Apakah ibumu?"


Anna menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


Anna melipat bibir bawahnya masuk ke dalam mulutnya,  dia menggigit sedikit ujung bibirnya,  dengan tangan yang terus menggenggam erat ponsel,  seakan emosinya ikut ingin merendam kemarahannya bercampur aduk dengan kesedihannya di sana,  dan bibir bergetar lolos berkata,  "antar aku ke rumah sakit."


Joe Han. 


Satu nama itu terlintas di benak Ethan kemudian.


Ethan hanya mengedipkan sepasang matanya sebentar, giginya terjatuh saling membentur, karena emosi Anna sangat jelas terlihat dari sorot matanya,  tepatnya sorot mata Anna terlihat membencinya.


"Apa ini hubungan dengan Joe kembali?" — Ethan perlahan meminggirkan mobilnya dan  menghentikanya— "apa itu terdengar buruk,  wajahmu terlihat sangat sedih?"


Anna menghapus air matanya dengan punggung tangannya, dan tersedak sebentar dalam ludah isaknya yang masuk ke tenggorokannya,  dan berkata, "Ethan,  Joe kritis,  dan—"


Ethan mengalihkan ujung matanya, kesombongan mengalir dari bibir tipisnya, "jangan mengkhawatirkan hal itu, dia tidak akan ku ijinkan mati,  jika kau tidak ingin dia mati. "


"Ethan!" seru Anna akan melontarkan makian atas kesombongan pria ini,  namun dia kembali memejamkan matanya sebentar,  menenangkan hatinya,  dan ketika dia kembali membuka matanya, barulah bibir Anna terbuka perlahan dan berkata,  "Tuan muda Ruan,  memang bertangan emas,  namun tetaplah kau bukan tangan Tuhan."


"Anna! aku berjanji,  hal itu tidak akan terja—"


"Lalu bagaimana,  jika hal itu terjadi  apa kau bisa membuat dia hidup kembali?" teking Anna memotong dan emosinya meledak bersama tangisnya.


Ethan memegang dagu Anna sebentar dan sorot matanya penuh tekad dalam kalimatnya, "aku bisa memberikan segalanya untukmu, termasuk memberikan jantungku untuk menghidupkan Joe Han."


Anna tercengang, dia kehilangan kata-katanya sebentar, bagaimana dia bisa mendorong Ethan dalam pintu kematian.


'Tidak, Ethan! kau bernapas, maka aku akan ikut bernapas. Jika kau berhenti bernapas, maka akupun ingin berhenti bernapas.' Anna menagis dalam pikirannya, namun bayang-bayang wajah Joe Han terbersit bergantian dengan banyak ekspresi di kepala Anna.


Joe Han tertawa.


Joe Han membujuk dirinya.

__ADS_1


Joe Han cemberut


Joe Han tersenyum.


Joe Han memohon padanya.


Joe Han yang selalu membelanya.


dan terakhir Joe Han mengatakan hal yang mengguncang Anna sekali lagi.


'Apapun yang di ucapkan oleh Anna, aku mengibaratkan telah membaca kitab suci. Bagiku, Anna selalu benar karena selalu berkata hal yang baik, dan jika dia marah, petaka Tuhan akan datang pada orang itu.'


Anna memundurkan punggungnya dan bersandar di kursi, dan dia segera  menghapus air matanya, dan berkata serak lagi seakan ada harapan sekaligus rasa kecewa bercampur aduk dengan rasa bersalah yang mengalir dari hatinya, "Joe tetap harus hidup. Jika perlu kau harus mati untuk menggantikannya."


"Aku mengerti!" seru Ethan pedih mengabaikan sepasang mata yang basah, namun cengkraman tangan Ethan sangat ketat mengepal amarah bercampur sakit dan lirih berkomentar, "aku cemburu pada Joe Han, aku cemburu padanya."


Anna tertegun sebentar akan perkataan Ethan, dan segera kembali membuang wajahnya menatap luar jendela, dan mendapati Taxi sedang terlihat berjalan tidak jauh dari mobil mereka,  'lebih baik aku pergi dan menjaga jarak dengan Tuan muda Ruan, aku bisa gila bersamanya.'


Sebelum membuka pintu mobil, Anna  mendesis megometari, "hal semendesak ini, kau masih meluangkan waktu untuk cemburu."


Klek....


Anna membuka pintu mobil, dan melesat pergi.


(...)


Author note :


Bombay mengiris bawang menulis part ini 😭

__ADS_1


__ADS_2