
Ethan terdiam sesaat, lalu berkata dengan sepasang mata yang terlihat tulus, "Itu karena kau menolongku, Anna."
"Apakah kau tau, tanganku bergetar ketika aku hadir untuk menolongmu ...," lirih Anna tiba-tiba terisak, dan setiap napasnya terdengar letih.
"Maafkan aku," mohon Ethan.
"Tidak perlu ada yang di maafkan, karena kau juga berbuat hal itu karena diriku. Kau mengkhawatirkan aku, dan aku mengkhawatirkan mu .... Jadi tidak ada yang perlu di maafkan. Hanya lepaskan mereka!"
"...."
Ethan mengatupkan rahangnya. Wajahnya terlihat makin gelap, ekor matanya melihat pria yang telah mencekik Anna.
"Aku tidak akan melepaskannya, walau kau memohon padaku."
"Kau keras kepala!" Tinju Anna mengenai bahu kiri Ethan, setelah itu dia berlari pulang ke rumahnya.
Baru saja dia mencapai rumah. Memasukan kunci pada lubang kunci pintu. Seakan merasa ada yang mengawasinya, Anna menoleh ke rumah tetangga sebelah rumahnya. Terlihat lampu rumah bibi Dina tiba-tiba menyala, dan gorden rumah bibi Dina terlihat bergeser sedikit.
Deg!
Perasaan sedang di intip, membuat jantung Anna berdetak lebih kencang. Dia segera menoleh ke belakang, dan mendapati Ethan berdiri tepat di belakangnya.
Anna segera berbalik, berhadapan dengan Ethan. Wajahnya terlihat cemas beraduk dengan rasa tidak nyaman, karena di awasi seseorang di balik gorden.
"Pulang, Ethan! Tidak nyaman, di lihat tetangga,"pinta Anna dengan suara rendah.
Ethan menganggukan kepalanya, dan berpesan, "Seperti janjiku, mereka tidak akan pernah mengganggumu lagi. Aku bersumpah akan hal itu."
"Cukup!"
"Anna ...."
"Aku tidak akan keluar rumah larut malam lagi. Jadi, tidak akan ada kesempatan bertemu mereka lagi. Jadi mereka tidak akan pernah mengangguku lagi. Karena, aku akan menjauhi mereka. Jadi simpan saja kebaikanmu untuk dirimu sendiri. Pulanglah dan berhati-hati."
"Anna ...." Ethan memegang tangan Anna. Namun, segera menepis tangan pria itu. Ekor mata Anna melirik ke balik gorden yang terlihat lebih terbuka lebar. Ketika Ethan akan menyentuh tangannya lagi, Anna segera memukul mundur tangan pria itu.
"Sudahlah, cara pikir kita berbeda. Aku tidak bisa mengikutimu, dan begitu juga kau sebaliknya. Kau tidak pernah bisa mengikutiku."
__ADS_1
"Aku akan mengikuti apa yang kau inginkan, tolong katakan saja padaku." Ethan terlihat memelas dengan nada yang melunak. Sekali lagi, hatinya merasa terabaikan karena penolakan kali ini.
"Sifat seseorang itu tidak akan berubah. Kecuali ... kau lupa siapa dirimu!"
"Tetapi, aku sangat menyukaimu ... Merubah diripun, aku sanggup!"
"Tidak, Ethan!" Anna menutup telinga, menghela napas untuk sesaat. Menggelengkan kepalanya, dan barulah membuka bibirnya kembali.
"Aku menyukaimu juga, walau kita bertolak belakang, aku tetap menyukaimu. Aku tidak tahu mengapa? Yang pastinya, jika kau berubah menjadi seorang pembunuh pun, rasa sukaku tidak akan mudah luntur begitu saja," ujar Anna segera berbalik menghadap pintu. Menyentuh ganggang pintu.
Klek! Pintu terbuka.
Brakk! Pintu terhempas.
Ethan menatap daun pintu yang menyatu dengan kusen pintu. Dia mendekat perlahan ke depan pintu.
Tok--tok--tok!
Ketok Ethan perlahan.
"Anna ... apakah kau tidak bosan? Setiap kita bertemu, kau selalu mengajakku bertengkar."
'Maaf, Ethan! Bukan maksudku untuk terus bertengkar. Tetapi apa yang kau lakukan, bukan yang aku inginkan,' jawab Anna dalam hatinya.
"Aku kira, hubungan kita semakin baik. Aku pikir hati kita telah saling menyatu. Ternyata aku salah! Kau menjauh, setiap aku mendekatimu," keluh Ethan, dengan dahi yang bersandar pada daun pintu.
"Aku bisa meletakkan segalanya demi dirimu, namun kau tidak pernah percaya satu halpun dariku. Kau selalu mengutamakan isi otakmu daripada isi hatimu. Isi otakmu melubangi hatiku. Saat ini, aku tidak bisa berkata satu hal lagi. Ketika segala sesuatu yang aku perbuat terlihat salah di hadapanmu," bisik Ethan dengan suara yang terdengar serak dan dalam, seakan setiap kata yang dia ucapkan, sudah melubang hatinya sendiri. Sakit dan perih bersamaan setiap kata yang terlontar.
'Bukan terlihat salah, Ethan! Aku hanya tidak bisa menerima bahwa kau lebih menyukaiku daripada dirimu sendiri. Kau terlalu baik hanya untuk berlaku demikian. Mengorbankan dirimu sendiri, bukanlah hal yang aku inginkan,' jawab Anna dalam hatinya, dengan hati yang tidak kalah terlubang oleh peluru yang dia tanam sendiri.
"Apakah kau menyukaiku, Anna? Kau tidak pernah menyukaiku, sedikitpun tidak ada?" tanya Ethan, terdengar lebih basah dalam tenggorokannya. Sakit dan perih dia lontar bersama dalam pertanyaan itu.
'Tentu saja, aku menyukaimu ...,' jawab Anna dalam hatinya lagi. Dia membekap mulutnya sendiri, tidak membiarkan satu katapun akan lolos begitu saja dari tenggorokannya. Air matanya jatuh ketika perlahan suara langkah pria itu terdengar menjauh dari pintu.
'Ethan!' seru Anna dalam hatinya memanggil bagai suara ombak yang bergulung-gulung di malam hari yang sangat dingin, dan hawa dingin itu menerobos masuk ke dalam lapisan daging, dan menusuk setiap tulangnya. Seluruh raga ikut remuk seketika.
Berdiam lebih lama lagi di belakang pintu. Dalam kesunyian ruangan, yang sedikitpun membuat sepasang matanya selalu terjaga, kini sepasang matanya terlihat merah.
__ADS_1
Tap--tap--tap!
Terdengar suara langkah, sekali lagi mengejutkan Anna. Dia segera bangkit berdiri, baru saja dia akan berucap mengusir Ethan pulang.
Tok--tok--tok!
"Anna, bangunlah ..., ini ibu datang!" Seru suara wanita yang tidak asing di telinga Anna, meminta membukakan pintu.
"Ibu," ucap Anna dengan suara rendah, dia segera menghapus air matanya dengan ujung lengan mantelnya.
"Anna, buka pintu! Ibu kehilangan kunci," tutur ibunya terlihat lelah dan berderai keringat di malam hari.
Krek! Pintu terbuka lebar.
Anna mengedipkan matanya, ketika sosok yang dia tunggu terlihat berwajah pucat seperti kertas, dengan banyak jejak bewarna biru dan ungu di wajah wanita setengah paruh baya itu, dan senyum segaris yang terlihat lelah, di berikannya pada Anna. Setelah itu, dia pun jatuh tersungkur ke depan.
"Ibu ...," histeris Anna segera menangkap tubuh Nana yang seakan telah kehilangan seluruh tenaganya.
"Ibu ... ibu ...," panggil Anna pada tubuh yang terlihat lunglai dalam dekapannya.
Tidak mendapatkan jawaban.
Anna segera membawa ibunya masuk ke dalam rumah. Membaringkannya di atas tempat tidur. Lalu, barulah semua terlihat jelas di bawah penerangan cahaya lampu yang menunjukan banyak luka pukulan yang telah di terima Nana, ibunya.
Anna menutup mulutnya, ketika sepasang matanya melihat jejak-jejak kekerasan yang terjadi. Dalam hitungan detik selanjutnya, air mata Anna jatuh seketika, kala telapak tangannya mulai menyeka jejak darah kering di wajah Nana, dan menyetuh setiap sudut mata, dan sudut bibir Nana yang terlihat ungu dan bengkak.
"A--apa yang ter--jadi dengan--mu?"
......................
Bersambung ....
Jangan lupa like,coment, dan vote bagi yang berkenan. Terima kasih banyak telah setia membaca. Semoga bagian ini menghibur kalian semua.
Jangan lupa rate 🌟5 bagi yang baru mampir yah :)
www.lotioncitraberkilausepanjanghari.com
__ADS_1
(Jangan lupa kunjungi website kita)