Kekasih Tuan Muda Ruan

Kekasih Tuan Muda Ruan
Jadilah Kekasihku


__ADS_3

Tepat jam delapan pagi, Ethan mengantar Anna pulang ke rumah, Anna hanya meminta Ethan mengantar di depan gang, karena gang rumah Anna, sangat sempit, jikapun lebar, dia tetap tidak akan mengijinkan Ethan berhenti di depan rumahnya. Mobil Etha, keluarab edisi terbaru yang terlihat sangat mencolok. Berbeda dengan Ethan, yang selalu berseberangan dengan pikiran Anna, dia malah bersiap turun dari mobil, berpikir mengantar Anna harus mencapai pintu rumahnya, dia akan mengantarnya sambil berjalan kaki, walau cukup jauh, tidak apa-apalah.


Ethan melepas sabuk pengamannya, lalu melepas sabuk milik Anna,  melihat hal itu, Anna segera berkata, "kau ingin ke mana?"


"Mengantarmu," sahut Ethan.


"Tidak perlu, semua orang akan melihat aku kembali dengan seorang pria, ah,  itu—" Anna tidak menyelesaikan kalimatnya, tetapi Ethan mengerti, dan pria itu   menurunkan kelopak matanya, terlihat mengetik pesan dengan cepat, baru, kemudian  menjawab Anna, "kalau begitu, aku meminta Joe, menjemputmu di sini, sangat rawan bepergian sendirian."


"Ethan!"—wajah Anna memerah, dan mendesis rendah—"ini masih jam 8 pagi, tidak ada yang perlu di khawatirkan."


Anna akan turun dari mobil. Katup mobil kembali terkunci, Anna melirik dengan ujung mata yang mengecil di sudut matanya, dia hanya terpaksa duduk manis, sampai menunggu Joe muncul di depan gang.


Ethan hanya tersenyum di sudut bibirnya, seakan dia berbangga di sebut protektif, dan beginilah caranya menjaga Anna, gadis sekolah menengah, yang dia sukai.


Hening sebentar. Anna hanya menghabiskan matanya menangkap gambar gang, dan mengeluh dalam hati.


Mengapa Joe lama sekali?


Ethan mengetok-ngetok jarinya pada dasboard mobil, seakan-akan mempersiapkan isi mulut. Padahal dia sudah menghafalnya sebaik mungkin, tetapi tetap saja, bilik-bilik hatinya terasa sangat gugup, dan berdebar-debar.


Dup-dup-dup.


Ethan membuang napas yang terendam, begini rasanya menyukai seseorang, berkata dalam satu tembakkan lebih sulit daripada tindakkan, misalnya mencium, hal itu lebih mudah dan rasanya menyenangkan. Ethan, lebih menyukai tembakan seperti itu, daripada rangkaian kata-kata yang harus dia ungkapkan, ah... terdengar sangat sulit dan gugup.


Terpikir akan sederet dialog yang telah dia hafal dari tadi malam, Ethan menahan napasnya dalam-dalam, dan perlahan bibirnya pelan terbuka, dan berkata lantang, "aku sangat menyukaimu, Anna, jadilah kekasihku..." — Ethan menatap Anna yang terpaku— "mungkin kau sulit percaya, tetapi aku bersumpah hanya meletakkan dirimu dari pertama kali kita bertemu hingga nanti aku yakin hanya dirimu, yang bisa mencuri hatiku!"


Kalimat itu lolos, setelah satu malam dia  berpikir dan berlatih dialog, mencari kalimat yang tepat, yang sesuai menggambarkan perasaaan. Lega, bisa lolos dalam satu kali tembakan, tetapi  jejaknya masih bersisa, telapak tangan Ethan, masih berkeringat —dia mengepalkan tangan, agar tangannya berhenti bergetar, dan tenggorokan kering saat kalimat itu terlontar keluar.

__ADS_1


Anna masih tercekat. Menelan ludahnya.


Tatapan Ethan terlihat memanah dengan serius, yang mendapatkan tatapan, beringsut ciut menundukkan kepala, dengan tangan yang meremas ujung bajunya, tapi suara jantungnya terdengar keras menabrak kulit.


Dup-dup-dup!


Jantung Anna berdebar, ini adalah pertama kalinya, mendengar ungkapan langsung dengan kalimat yang sangat jelas, tidak ada cincin, tidak ada bunga, tetapi isi mulut yang terlontar itu, berhasil menarik perhatian dan mencuri hati Anna.


Ethan menarik napasnya dalam-dalam, tidak menyangka, jika dia telah meloloskan begitu saja, setelah semalaman dia berpikir, bagaimana cara menangkap hati Anna, berpikir semalaman apakah harus tembakan yang terlihat megah dan mewah, atau makan malam romantis, atau seperti sekarang, ungkapan yang sangat sederhana, hanya modal nyali.


Konyol. Gadis yang di tatapnya tidak menjawab, dan memilih, menyembunyikan wajah, dan menghindar dirinya. Ethan memakan bibirnya sendiri, dan mencoba menghibur dirinya sendiri, dengan mengira Anna hanya belum siap.


"Tidak perlu menjawab sekarang, aku akan menunggu." Ethan membenarkan posisi duduknya, matanya telah beralih ke jalan lurus di depannya.


Dalam diam, Anna hanya melirik dengan ujung matanya, tetapi tidak berani melihat ke belakang, apakah Ethan kecewa? Tetapi, jarak di antara mereka terlalu jauh, Ethan di langit, dan dirinya berpijak di atas tanah, dan sebelum dia benar pergi, Anna dengan berat berkata, "awan tidak pernah jatuh dari langit—"


Katup pintu mobil terbuka, menghentikan kalimat Anna, dengan satu kata Ethan yang terdengar dingin, "pergilah!"


Anna memejamkan matanya sebentar, bilik hatinya juga merasakan hal yang sama, diapun melolong kecewa, atas kalimat yang bukan hanya untuk Ethan, tetapi kalimat itu kembali untuk dirinya sendiri, menyadarkannya perbedaan status mereka.


Anna mendorong pintu mobil keluar, kebetulan, Joe baru datang, wajahnya peluh keringat, mengayuh sepeda ke depan gang.


Rahang Ethan mengeras, dan hanya melirik Anna dari kaca spion, yang tengah naik di boncengan sepeda belakang Joe, dan bibir Ethan bergetar marah, gemerutuk giginya terdengar keras menabrak, lalu berkata pada dirinya sendiri, "Anna, mungkin kau mengijinkan awan lebih sering menurunkan hujan atau awan perlu menghilang, biar kau tau betapa banyaknya awan di langit telah memperhatikanmu!"


Ethan menginjak gas, dan pergi melaju dalam satu kecepatan yang menggambarkan, dia harus menghilang dan jangan melihat Anna lagi, ditolak lagi, bukankah hal ini disebut-sebut telah kehilangan wajah, Anna sangat sulit untuk mempercauai dirinya, gadis itu cukup keras kepala, mengakui perasaannya, Ethan ingin menyerah.


Brum!

__ADS_1


Suara derum mobil yang menghilang cepat, membuat mata Anna menjadi awas, turun dari boncengan Joe, berlari kecil mengintip perginya deru mobil, dan dia hanya mendapatkan jalan telah kosong, dan sunyi. Mobil Ethan sudah menghilang.


Resah bercampur sedih.


"Dasar bodoh!" umpat Anna mengepalkan tangan, tepatnya untuk dirinya sendiri, bukan Ethan. Mengapa dirinya harus menolak lagi, jika Ethan telah mencuri hatinya, sekarang Ethan, terlihat sangat marah, dan apakah dia berhenti mengejar? Rasa sesal merasuki Anna, terisak sebentar, tetapi ini jalan terbaik untuk dirinya dan Ethan. Anna tidak mungkin melompat setinggi mungkin ke Ethan, dan Ethan tidak mungkin jatuh berguling ke bawah. Mereka berdua, adalah orang yang berbeda.


"Anna!" seru Joe dari sepedanya, turun dan mengikuti arah mata Anna, "ada apa? apa yang terjadi denganmu semalam? apakah hal itu—"


Anna menggelengkan kepala. "Tidak ada yang terjadi, a—ku hanya telah menolaknya lagi."


Selesai satu kalimat itu, Anna pergi berjalan kembali ke rumah, Joe tersenyum cerah, apapun yang keluar dati mulut Anna, adalah kejujuran. Menolak Ethan, adalah hal yang paling diharapkan Joe. Hatinya, sangat bisa bernapas dengan baik.


Joe buru-buru mengejar dengan sepedanya dan terus berseru-seru mengajak Anna, untuk naik ke sepeda, "terlalu jauh Anna, ayo naik!"


"Ayo, Anna, naiklah!"


Anna mengabaikan, terus berjalan cepat, "tidak apa-apa, aku hanya ingin berjalan-jalan sendiri."


Joe berhenti, turun dari sepedanya, ikut berjalan sambil mendorong sepedanya. Dia hanya bisa melihat punggung Anna yang berada tiga langkah di depannya. Semenjak Anna, telah sangat disukai Tuan muda Ruan, Joe mengubur hatinya sendiri, dan dia cukup takut untuk di bandingkan. Ethan, adalah sosok tinggi yang terlihat seperti langit, sedangkan dirinya hanyalah debu tanah di sepatu Tuan muda Ruan.


Tetapi, kali ini, Anna telah menolak Tuan muda Ruan, Joe menatap punggung Anna, dan bertanya pada punggung gadis itu dalam hatinya.


Anna, jika aku menyukaimu, apa kau akan menolak juga?


...


Catatan Author

__ADS_1


Hai terimakasih sudah mrngikuti cerita Anna& Ethan, kuharap kalian jatuh cinta dengan tema 'teen', dan memberikan support Vote &coment, dan share.


__ADS_2