Kekasih Tuan Muda Ruan

Kekasih Tuan Muda Ruan
Aku Akan Menghindar Ethan


__ADS_3

Bibi Fann bersikap diam, ketika air mata Anna memang jatuh bagai air hujan.


"Lebih baik kau menangis, sebelum melangkah. Daripada kau menangis ketika kau melangkah lebih jauh. Berjalanlah dengan yang sejajar, bukan yang tidak sejajar."


Anna menganggukan kepalanya. Baginya, setiap kata Bibi Fann, bukan hanya kritikan. Namun juga, satu  nasehat yang terdengar sangat mengena ulu hatinya. Hatinya sakit mendegar hal itu.


Berjalanlah dengan yang sejajar, bukan yang tidak sejajar.


"Karena kau akan menyesali, ketika kau mencoba sama tinggi dengan seorang Tuan. Bagaikan cerita Romeo dan Juliet. Berakhir dengan  perpisahan. Kematianpun, tidak membawa mereka bersama. Karena kehidupan setelah kematian itu, tidak ada."


Anna menganggukan kepalanya. Sepasang kelopak matanya masih bergetar, bibirnya masih terlihat seperti mie yang mengerut masam, menelan air matanya sendiri.


"Jika kau tau cara berbahagia. Maka belajarlah melupakan. Karena, waktu bisa menghapus segalanya, asal kau menghindar."


Anna menggigit bibirnya, sekali lagi menganggukan kepalanya.


Aku akan menghindar Ethan.


"Terkadang, kita harus belajar melepas seseorang yang kita sukai, agar dia mendapatkan seseorang yang lebih tepat, daripada diri kita sendiri. Kita boleh miskin. Tetapi, kita mampu memberikan seluruh hati. Berikanlah yang terbaik. Bukankah hal itu di sebut kekayaan yang tidak tertandingi." Bibi Fann membalikkan tubuhnya. Menyembunyikan raut wajahnya, yang terlihat bersedih. Hatinya ikut terguncang dan sakit, akan setiap kata yang dia lontarkan.


"Pulanglah," pinta Bibi Fann dengan suara rendah, hampir tidak terdengar.


"Terima kasih, bibi. Aku sudah mendengar, dan aku akan melakukan." Anna berbalik dengan tangan yang diam-diam memukul dadanya sendiri. Baiklah, dadanya masih sangat sakit dan dia ingin segera merenggut jantungnya, membuangnya, dan menginjaknya. Lebih baik, tidak memiliki jantung. Jika jantung hanya membuat dirinya sakit seperti hari ini.


"Anna," panggil Bibi Fann tanpa berbalik. Dia terlihat mendongakkan kepalanya, menampung air matanya di bawah kelopak matanya.


"Aku berkata padamu hal ini. Karena, tanganku lah yang membesarkan Tuan muda Ruan, dan aku mengasihinya. Jika, kau peduli padanya. Maka, kau harus mematahkan hatinya."


" ...." Anna berpaling ke belakang, mendapatkan punggung Bibi Fann yang terlihat lebar.


Mematahkan hati Ethan. Sedangkan, hatiku sendiri telah patah lebih dulu.


Anna menghapus air matanya dengan ujung tangan jaketnya. Ujung tangan jaketnya, tampak sangat basah.


"Mematahkan hati Tuan muda Ruan, bukan seperti menginjak ranting. Namun, kau berhadapan dengan batang pohon kayu yang besar. Kau harus membawa gergaji besar, dan memotongnya. Gergaji, itu adalah nyalimu," saran bibi Fann lagi.

__ADS_1


Anna menggelengkan kepalanya. Nyali? Anna tidak tahu, apakah dia bisa memiliki hal itu. Tidak terasa, pikiran kosong dengan langkah lunglai, dia telah mencapai pintu lift.


Menekan panel lift menuju lobby. Ting! Pintu lift terbuka. 


Anna segera masuk. Pintu lift segera tertutup. Dia bersandar di dinding, duduk merosot jatuh ke lantai. Membenamkan kepalanya di atas lututnya. Rambut panjangnya tergerai jatuh, menutup seluruh wajahnya. Dia meredam seluruh tangisnya. Berusaha menciptakan suara senyap dalam lift. Namun, tetap saja gemuruh isaknya terdengar.


Ting! Suara pintu lift terdengar. Terbuka. Namun, Anna masih berdiam diri. Seakan dia telah kehilangan kepekaannya untuk mendengar. Saat ini, dia hanya mendengar suara hidung  dan tenggorokan yang terus menarik-narik Isak tangisnya.


Tuk.Tuk.Tuk.


Suara sepatu lancip menabrak lantai terdengar sengaja. Satu tangan dengan jemari-jemari panjang dengan  cat kuku bewarna merah hati, terlihat  memegang kusen pintu lift.


"Hei! Dia siapa?" tegur wanita paruh baya itu. Sepasang matanya memincing tidak senang akan sosok yang berjongkok di dalam lift. Apalagi, sosok gadis kecil itu menangis, tanpa menghiraukan siapa yang datang.


"Kau siapa?" tanyanya lebih keras.


Apa dia teman Ethan? Ethan membawa seorang gadis ke rumah?


Wanita paruh baya itu terlihat menilai lagi. Baju seragamnya terlihat berbeda. Lalu, sepasang matanya jatuh menatap sepasang sepatu usang yang di kenakan Anna. Wanita paruh baya itu segera menelan rasa jijiknya.


Anna terkesiap bangun. Baru saja dia mendongakkan kepalanya menatap sang empunya suara. Sepasang tangan besar telah menyeret keluar dari lift.


Wanita paruh baya itu terlihat meruncingkan ujung matanya, ketika dia merekam jejak-jejak air mata gadis yang baru saja terlihat bangun.


Apakah Ethan menyakitinya? Mengapa dia menangis?, pikir wanita paruh baya itu dalam hatinya, seraya menjatuhkan matanya untuk menilai. Namun, tersenyum remeh kemudian.


"Hanya sampah," dengus wanita itu di saat Anna melangkah keluar, dan wanita itu melangkahkan kakinya masuk ke dalam lift.


Anna menjulurkan kepalanya ke belakang. Namun, pintu lift sedang bergeser menutup perlahan. Hanya dari sedikit celah sebelum pintu lift terkatup merapat, Anna dapat melihat wajah wanita paruh baya itu terlihat agung dalam satu penampilan, dan merendahkan dalam satu pandangan mata yang menyoroti dirinya.


Apakah itu ibu Ethan, terlihat jijik padaku?


Anna membeku sesaat, dan pikirannya menjadi kosong. Dia bahkan tidak menyadari bahwa setiap langkahnya terseret keluar dari Kediaman Ruan.


"Kau siapa? dan mengapa kau berada di kediaman Ruan?" tanya pelayan. Pelayan ini terlihat kejam dalam satu penampilan. Sangat berbeda dengan pelayan yang pertama, yang menyambut kehadiran Anna dengan ramah.

__ADS_1


"Aku ...." Anna gagap berkata.


"Apa kau mencuri sesuatu?"


Anna menggelengkan kepalanya.


"Coba aku melihatnya! Kau harus di geledah lebih dulu, sebelum pergi. Kau pasti pencuri."


" ...." Anna terlihat kaku dan berhenti bernapas. Dia tidak mencuri. Mengapa harus di geledah?


"Aku bukan pencuri."


"Siapa yang mau mempercayaimu?" Pelayan itu menarik tas Anna. Baru saja dia akan menggeledah isi dalam tasnya.


"Aku mempercayainya. Dia bukan pencuri."


Deg! Anna di kejutkan dengan datangnya kalimat pembelaan itu. Suara yang tidak asing. Namun, dia tidak berani mengangkat matanya untuk melihat sang pembelanya. Tetapi, sosok bayang hitam itu makin mendekat padanya, dan tangan besarnya memegang dagu lancipnya.


Suaranya terdengar serak, dan bertanya dengan suara yang rendah, "Mengapa kau menangis? Apakah dia menindasmu?"


Deg! Anna membisu. Pelayan melotot takut, segera mengembalikan tas kepada sang empunya.


"Tu-tuan muda Ruan. A-aku ha-hanya sedang memeriksa--" Pelayan itu terlihat ragu melanjutkan kalimatnya, karena sinar mata Tuan muda Ruan telah kehilangan cahayanya, seakan ikut redup bersama dengan sepasang mata gadis kecil yang terlihat berkaca-kaca.


"Mengapa kau diam?"


Anna menggelengkan kepalanya, dan lirih menjawab, "Tidak ada yang menindas."


"Lalu, mengapa harus menangis?"


Anna menatap kaku. Air matanya jatuh lagi. Telunjuk Ethan berburu menghapus air mata Anna, dan berkata lembut, "Aku lebih menyukai kau tersenyum. Daripada menangis. Bisakah kau berhenti menangis? Katakan padaku. Mengapa kau menangis?"


Anna kaku. Tak menjawab. Sedangkan, pelayan itu segera jatuh membenturkan lututnya Ke tanah. Ketika, dia mendapati telah berani menggertak seorang yang terlihat beharga di mata Tuan muda Ruan.


......................

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2