Kekasih Tuan Muda Ruan

Kekasih Tuan Muda Ruan
Apa Yang Kau Lakukan Padanya?


__ADS_3

Anna berjalan dengan tanpa rasa terganggu akan teriakan Emily yang terus mengumpatnya di belakang. Dia berjalan bagai orang yang telah tuli, dia kembali menunggui Joe Han yang terbaring di atas meja operasi.


Yuna menatap kehadiran Anna, dia telah mengusir berkali-kali sosok anak tetangganya tersebut. Namun, gadis itu bersikeras untuk menunggu bersamanya.


"Pulanglah," ujar Bibi Yuna dengan nada memerintah yang terdengar ketus.


Anna menatap sesaat akan mata yang paruh baya berkaca tersebut, sedari tadi dia menahan diri untuk tidak membalas setiap pengusiran Yuna. Namun, kehadiran Emily membuat kontrol emosinya terganggu, diapun tanpa sadar melampiaskan amarahnya, "Tidak peduli, kau memukul isi kepalaku, dan mengeluarkan setiap isinya ke lantai dan bersimbah darah. Jika aku memutuskan di sini, maka aku akan terus di sini. Walau napasku, tidak ada. Kau tidak akan pernah menggerakkan ragaku"


Begitu pula. Jika aku memilih bersama Ethan, maka biar dunia menentang kami. Aku akan melawannya, lanjut Anna dalam hatinya dengan menyembunyikan telapak tangannya yang mengepal erat.


"Kau sangat keras kepala, seperti ibumu! Kau lahir dari batu. Maka, aku tidak heran jika kau menjelma menjadi batu untuk melempar setiap hati orang. Walau Joe Han menyukaimu. Namun, kehidupan hari ini dan esok aku tidak akan menyukaimu. Bukan hanya aku, semua orang yang berjumpa denganmu, akan menjauh karena perisai keras kepala yang kau buat sendiri. Seorang dari kalangan yang masih membungkukkan badan, tidak seharusnya memiliki sikap keras kepala. Kau harus lemah lembut untuk di sukai semua orang."


Anna menelan ludahnya, dia telah mendengar setiap perkataan Bibi Yuna. Namun, yang teresap dalam hatinya. Setiap perkataan itu seakan keluar dari mulut Emily, diapun membalas dengan mendengus segera, "Aku ada bukan untuk di sukai setiap orang. Aku bahkan akan tetap bersyukur, jika ada satu orang yang meletakkan cintanya. Walau dia hanya sendiri yang bodoh. Karena setiap aku jatuh, aku hanya butuh satu orang memelukku, dan mengangkatku berdiri. Tidak perlu banyak orang merangkul sesaat. Karena setiap luka datang itu, yang pantas menguburnya adalah diri sendiri, bukan orang lain. Karena aku tidak suka bergantung pada setiap kebaikan dan mulut manis setiap orang."


Bibi Yuna mengaduk ludahnya dalam mulutnnya, dan tatapannya menjadi sangat kesal, dan merutuki nasib Joe Han dalam hatinya, Bagaimana kau bisa menyukai seorang gadis yang bahkan tidak memperdulikan cara merawat hatinya sendiri. Kau hanya akan terluka jika terus menyukainya. Karena diapun tidak tahu cara menunjukkan kasih sayangnya. Dia lahir bodoh, karena didikan tanpa seorang ayah.


Yuna dan Anna bersama-sama duduk dalam kebisuan, dengan sepasang mata terus tertuju pada lampu merah yang masih menyala di atas kusen pintu ruang oprasi..


...****************...

__ADS_1


Emily duduk dalam posisi co-driver. Untunglah Ethan tidak meninggalkannya begitu saja. Namun, selama perjalanan Ethan hanya membisu, bahkan sekedar bertanya mengapa dia lama berada dalam rumah sakit? tidak ada.


Ethan Ruan memang sulit di cari perhatiannya, apa aku harus memulai berbicara? batin Emily terusik akan keheningan yang terus memuncak dalam hubungan mereka. Jelas sekali, hubungan yang berjalan di antara mereka, yang terasa sangat dingin.


"Ethan," Emily menatap pria itu. Menunggu perhatian pria itu menoleh untuk beberapa detik. Tetapi, hanya rahang yang terlihat keras tanpa satu lirikan menanggapinya.


"Aku tadi menemui gadis yang kau lihat di pintu kamar operasi. Gadis itu menghajarku!" adu Emily dengan suara datar, dan sepasang mata yang terus mencuri pandang menyelidiki dan menunggu perubahan mimik Ethan.


Drittt ... Ethan memotong lalu linta mobil lain. Dalam hitungan detik, dia telah meminggirkan mobilnya. Dia tidak peduli banyak klakson yang mengumpatnya. Seluruh pandangannya berhenti pada Emily.


Emily berpegang pada sabuk pengamannya, ketika kejutan mobil berhenti begitu saja. Menoleh ke posisi driver. Terlihat iris mata tajam Ethan, menatap nyalang ke arahnya. Menakutkan, seakan melihat harimau yang keluar dari semak belukar, dan bersiap memburu mangsanya.


"Apa yang kau lakukan padanya?" hardik Ethan.


Apa yang aku lakukan? Aku tidak melakukan apapun.


Emily mengangkat pergelangan tangan mulusnya, dan menunjukkan dengan sengaja setiap jejak merah bekas cengkraman Anna pada Ethan.


"Dia yang melukai aku lebih dulu. Aku tidak melakukan apapun padanya."

__ADS_1


Iris mata Ethan yang tajam terlihat berkilat dan meludah rasa tidak percaya, "Dia tidak akan pernah mencelakai orang lebih dulu."


Emily merosotkan punggungnya bersandar pada kursi mobil. Dia menghindar tatapan Ethan. Tepatnya, Emily merasa kecewa akan sosok suami masa depannya, yang telah menempatkan seseorang dalam hatinya, dan perasaan itu bagai jurang yang sangat dalam, dan Ethan telah jatuh ke dasar, dan tidak satu orangpun yang mampu menjulurkan tali untuk menariknya kembali.


Dup! dup! dup! Jantung Emily melompat menerobos pertahanan emosionalnya. Dia marah dan terbakar cemburu akan kehadiran sosok gadis yang berada jauh di bawah telapak kakinya. Seharusnya, dirinya lah yang mendapatkan banyak pemujaan dari calon suami masa depannya. Tetapi mengapa harus gadis lain? Hal ini menyakitkan hatinya.


Emily berbalik posisi, membalas menatap Ethan, dengan setiap iris mata yang terlihat tajam dengan sorot luka yang dalam. Dia sengaja tidak menyembunyikan setiap embun di dalam matanya.


"Dia menipumu! Dia pura-pura polos! Dia licik! Dia hampir saja mengambil cincin dan anting berlian merah milikku. Dia serakah! Dia tidak mencintaimu, Ethan. Dia hanya penipu kecil yang terlihat lugu," beber Emily dengan nada tinggi, dan sepasang mata meludah jijik akan cinta Ethan pada seseorang yang menurutnya hanyalah merupakan gadis serakah.


"Dia tidak seperti yang kau sebutkan," hardik Ethan menginterupsi kalimat Emily. Emily terpaku sesat mendengar setiap kata penuh hardikan itu di tujukan padanya. Tangannya mengulur, menyentuh punggung tangan Ethan yang terlihat mengepal erat mencengkram kemudi.


"Kita memang akan baru bertunangan. Tetapi, aku dan dirimu, bukanlah orang asing yang baru saling mengenal. Kau dan aku bahkan saling mengenal semenjak kulit kita masih terlihat merah, dan di dalam gendongan tangan setiap pengasuh kita. Lalu, mengapa kau mempercayai orang yang datang di belakangku?" Emily meraih tangan Ethan, menggenggam dalam dekapan tangannya yang dingin. Seakan memohon sedikit perhatian pria muda ini padanya.


Berpalinglah padaku, Ethan. Lihatlah, aku!


Ethan menatap nanar sesaat akan tangan mereka yang terjalin, dan lirih berujar, "Dulu aku sangat merasa kau adalah wanita terdekat denganku, kau setara dengan diriku, kita banyak memiliki persamaan, setiap saat kita berbagi kisah, bahkan kita memiliki paham yang sama dari setiap ideologi yang di cetuskan sebagai pewaris. Dulu, aku merasakan persamaan itu membuat diriku nyaman bersamamu."


......................

__ADS_1


Bersambung ...


Sebagian orang menyebutkan cinta itu berasal dari rasa nyaman yang begitu banyak, jika kehilangan rasa nyamannya, maka dia akan berpindah hati. Tetapi sebagian kecil untuk orang yang sulit jatuh cinta, akan menyebutkan cinta itu adalah fase di saat berjuang untuk bertahan dari setiap sakit yang datang (Susah move on). Kamu karakter yang mana? Mudah jatuh cinta atau sulit jatuh cinta ....


__ADS_2