
kembali meneliti ke ponselnya, bosan berjalan sepanjang koridor hotel dengan bermain game cacing besar, daripada tidak ada kerjaan, dia memilih menghubungi Michael, mungkin pria itu punya ide, agar pergi bersama ke bar.
Cukup lama, akhirnya panggilannya tersambung, dia pun langsung menodong pertanyaan, "kau di mana? mengapa sangat pelan suaramu? Ada apa denganmu?"
Michael di seberang sana, tidak menjawab lagi, dan memutuskan panggilan begitu saja.
Satu pesan masuk dari Michael.
Michael -- aku sedang di kantor polisi, mengurus jaminan ibu Anna. Hanya saja dia tetap bisa di bebaskan besok.
Membaca pesan itu, mata Stephan terkunci seakan hal ini juga membuat dia terkejut, kaki Stephan langsung kembali, akan memberitahu Anna. Baru saja, dia mencapai pintu, suara satu pesan masuk lagi, membatalkan niat Stephan untuk mengetok pintu.
Michael-- kau jangan memberitahu Anna, biarkan hal ini urusan Ethan.
Stephan hanya menangkap dua kata terakhir, yang menjadi garis batas untuk dirinya. Urusan Ethan. Jadi, hal ini bukan urusannya.dia hanya mencibir perasaanya sendiri dalam hatinya.
terima kasih Michael Liu, yang sangat berbaik hati mengingatkan Stephan Lu tidak boleh serakah.
Sadar diri, namun tetap saja hatinya digelitik prihatin, dan ingin segera mendobrak pintu, menyeret Anna pergi bersamanya, seharusnya Anna tidak bersama Ethan malam ini, hal ini membuat dia sangat cemburu.
Tetapi, dia tidak bisa melakukan apapun. Mengapa hatinya terlihat menarik ulur dirinya sendiri, ini sangat menyakitkan?
dia tidak bisa mengkhinati Ethan. Tetapi juga ingin mendekati Anna.
Setelah lama mematung di depan pintu, seakan-akan hatinya tengah berbicara banyak hal dengan pintu. Tentang Anna, Ethan dan dirinya.
Pintu tidak pernah terbuka. Anna tidak akan pernah bisa menyadari kehadirannya, jika dia tidak pernah menghancurkan tembok dan mengikis jarak.
Tembok itu Ethan. Mengapa harus Ethan?
Menyerah, dia menyerah lagi.
Baru saja, Stephan masuk mobilnya, dia kembali kuatir, hatinya menggelitik bertanya, apakah Anna telah makan malam?
Pasti. Anna belum makan. Tebaknya.
__ADS_1
dia turun lagi dari mobil, dan berlari kembali ke hotel. Nafasnya naik turun hanya karena hal ini. Raut wajahnya sangat panik.
Tetapi Ethan adalah tembok yang terlihat menjulang tinggi, melompat melewatinya, pastilah harus sangat berdarah-darah. Akhirnya kakinya kali ini, menahan diri hanya sampai meja resepsionis. dia menekan dirinya untuk tidak maju. Hari ini sudah sangat cukup, cukup jelas, dia telah menyukai orang yang sama dengan Ethan.
dia meninggalkan pesan pada resepsionis, untuk mengantarkan sederet makanan istemewa untuk makan malam Anna.
Setelah mengatakan hal itu, dia benar pergi, dan langsung memesan penerbangan pulang ke kota S******. Hal ini,ingin dia bicarakan pada ibunya, biarkan ibunya membantunya mengambil keputusan. Anna atau Ethan, yang harus dia pilih.
Dalam 30 menit,
Makanan yang tersaji segera di antar ke kamar tamu V.I.P.
Anna memang belum bisa tidur, selain dia menahan lapar, dia juga tetap senantiasa memeriksa suhu tubuh Ethan itu.
Tok-tok-tok.
Suara ketukan panjang, mengusiknya bangun dari sisi Ethan, dia pergi membuka pintu.
Merasa tidak memesan sesuatu, Anna menolak, "maaf, saya tidak ada memesan."
Mendengar nama Tuan muda Lu, Anna hanya bisa ber-ooh dalam hatinya, dan tidak memiliki kuasa menolak kebaikan tangan emas Tuan muda Lu.
Anna segera mengiyakan, dirinya lah yang bernama Anna. Iapun mempersilahkan pelayan membawa masuk gerobak saji makanan, dan meninggalkanya.
Setelah pelayan itu pergi, Anna perlahan menutup pintu. Perutnya sudah sangat berbunyi-bunyi, membuka tudung, aroma makanan kelas bintang lima ini, sudah mengejutkan indera penciuman Anna, belum saja dia mencicipi, dia sudah yakin makanan ini sangat enak.
Selesai makan satu mangkuk nasi, ketika dia menambah satu lagi, dia teringat akan Ethan, apakah Ethan sudah makan? Pasti belum.
Anna tidak ingin terlihat seperti **** rakus yang gila makan untuk pertama kalinya.
dia menekan bibirnya sendiri, alisnya terlihat saling bertaut sebentar, seakan dia tengah mempertanyakan dirinya, haruskah dia membangunkan Ethan untuk makan.
"Harus..."mendapat jawaban dari dirinya sendiri, Anna kembali duduk di sisi ranjang Ethan, mendudukan pria yang tengah tertidur itu menjadi setengah posisi duduk.
Sedikit oleng, terpaksa Anna mengulurkan tangannya mencapai bahu Ethan, dan pergelangannya menahan punggung Pangeran emas yang terlihat sangat sulit di bangunkan.
__ADS_1
Agak ragu, karena ini pertamakalinya dia pergi membangunkan seorang pria. Pelan-pelan Anna memanggil Ethan, dengan satu tangan menepuk lembut pipi Ethan.
"Ethan, bangun... Ethan mari makan, Ethan... ayolah bangun,"
Ethan hanya bergeliat, dan tidak menjawab, dia hanya samar merasakan sosok Anna begitu dekat, jadi dia hanya pergi melingkarkan tangannya pada perut Anna yang ramping, dan satu dagunya menempel jatuh tepat di bahu Anna.
Melihat Ethan telah sedikit mulai bisa dibangunkan, Anna lebih berisik membangunkan, Pangeran emas ini harus mengisi lambungnya, merasa tepukan pipi tidak berhasil, dia mengguncang tubuh Ethan, dan memanggil lagi, "Ethan, bangun."
Samar suara Anna masuk ke gendang telinga Ethan, dan menuntut dirinya membuka mata, yang dia lihat pertamankali terlihat sangat berbayang, namun perlahan-lahan menjadi sangat jelas, iapun lirih memanggil, "A,a,Anna..."
Anna memposisikan tubuh Ethan agar bersandar di kepala ranjang, punggung tangannya naik meraba kening Ethan. Memeriksa. Suhunya sudah sangat turun.
"Ethan," panggil Anna, karena merasa terlalu intim, Anna kembali mengoreksi pengucapannya, "Tuan muda Ruan, kau harus makan sesuatu."
Suara itu sangat merdu dan enak di dengar.
"Tuan muda Ruan, ayo makan sesuatu--"
Ethan yang masih sangat lemah, terpancing bergairah untuk segera bangun, kali ini dia memilih bersikap manja, dia menahan Anna di sisinya, tidak boleh bergerak, dan malu-malu berkata, "bantu aku untuk makan."
"tetapi..." Anna terdengar tepat ingin menolak, tetapi memikirkan kembali, sangat wajar orang sakit, sangat kesulitan makan, jadi dia hanya memberikan anggukan kepala setuju.
Kemudian, Ethan melepaskan Anna, dan satu mangkuk nasi dengan lauk pauknya berada di depan matanya.
Sumpit naik ke udara, dan satu demi satu suap masuk ke dalam mulut Ethan. Karena, Anna yang membantunya makan, Ethan lebih bersemangat, dan kembali meminta menambah mangkuk untuk dirinya.
Setelah tiga mangkuk,
Ethan berhenti makan, dia sudah terlampau kenyang, dan Anna berhenti kuatir, ketika dia akan lanjut makan, untuk mengisi perutnya, memasukkan nasi dalam mulutnya, dia tiba-tiba sadar sesuatu, jika dirinya dan Ethan menggunakan sumpit yang sama, dia kembali meletakkan sumpit, dan berhenti makan.
Sangat konyol, menggunakan sumpit yang sama, bukankah itu artinya ciuman yang tidak langsung.
Mual. Anna merasa mual.
Ethan yang tengah minum, kemudian meletakan gelasnya, matanya menatap kuatir, karena Anna terlihat mual, "apa kau sakit juga?"
__ADS_1
***