
Anna lebih berkaca, kala Nana mulai menebak-nebak acak.
"Kau dan Tuan muda Ruan saling mengenal?" tebak Nana mencubit dagu Anna lebih keras, dan membuat sepasang mata yang berembun itu menggulingkan tetesan embun segera menyusuri pipi merahnya.
"Kau dan dia saling mengenal?" Guncang Nana pada bahu Anna yang akan merosot lunglai ke belakang. Tubuh Anna bergetar, dan sepasang matanya kosong linglung.
Apa yang harus ku katakan? Anna mengehela napas. Dadanya sesak akan setiap tebakan Nana, ibunya.
"Sudah ku duga! Kalian saling mengenal ...." Nana mundur, hatinya terguncang akan fakta yang baru dia ketahui. Bahunya bergindik setiap mengingat betapa instannya hirup ha sebagai asisten rumah tangga Ruan, dan mendapatkan setiap pembelaan. Apakah karena Anna?
"Kau ... anak kurang ajar!" tuding Anna perih dan sakit bersamaan. Sepasang kakinya berjalan menghampiri Anna kembali, lutut dan bergentar menyentuh lantai,dan tangannya mengacung ke udara tinggi, Plakkk!
"Apa kau menjual tubuhmu? Apakah dia mencampakkanmu? Apa kau membelanya?"
Anna membisu. Hanya sepasang mata menjatuhkan butir kristal yang telah berembun. Akhirnya menjatuhkan hujan deras menjadi jawaban bagi Nana.
"Kau melindunginya?"
Anna menggelengkan kepalanya.
"Kau dan dia ...." Nana bergetar menahan dadanya sakit. Bagaimana bisa buah itu jatuh di dekat kaki pohonnya. Kau memiliki karma akan diriku sendiri.
"A-apa kau ha-hamil?" tanya Nana dengan telunjuk bergetar menunjuk perut puterinya.
Anna mengecap air matanya sesaat, dan menggelengkan kepalanya.
"A-aku tidak percaya!" Nana bangkit berdiri, menarik pergelangan tangan Anna berdiri bersamanya. "A-aku akan memeriksanya sendiri, bersamamu!"
Anna terkesiap bergetar, dan hanya pasrah mengikuti langkah terburu-buru Nana yang menyeretnya keluar garis pintu.
"Bu, a-aku a-kan menje-las-kan ...."
__ADS_1
Anna terisak akan bersiap menejelaskan. Namun,seluruh wajah Nana terlihat sangat dingin ,dan telinganya telah menjadi tuli akan setiap rengekan Anna. Dia mencengkram pergelangan tangan itu erat dan menyeret setiap langkah seakan pergi mendorong ke neraka lebih awal.
Berhenti di pinggir jalan. Nana mengulurkan tangannya mengentikan satu taxi. Tidak lama, Taxi berhenti, dan pintu di buka tergesa oleh tangan gemetar Nana, Klek!
"Masuk!" perintah Nana. Anna linglung hanya menunduk menatap sepasang kaki miliknya dan sepasang kaki Nana. Terlihat polos dan telanjang.
"Ibu, ini ... haruskah kita pergi tanpa alas kaki?" rengek Anna dengan napas yang mengepul keluar membentuk asap bola-bola hangat di udara.
Nana terkekeh dan mengejek dengan sepasang matanya yang menyipit dan memindai setiap penampilan yang mereka kenakan.
"Kau masih mengingat penampilanmu. Ketika, harga dirimu telah di jual dan di injak."
Anna membisu, dan hanya pasrah tubuhnya di dorong masuk ke dalam mobil. Di ikuti dengan tubuh Nana yang duduk bersisian dengan dirinya.
"Ke Klinik kandungan A*******," pinta Nana.
Lalu, Taxi menginjak pedal gasnya dan melaju dengan kecepatan sedang menembus malas yang terlihat masih sangat ramai.
Nana menoleh menatap Anna, hanya menunjukkan bibirnya telah mencibir puterinya sendiri, "Mulai hari ini kau telah kehilangan kepercayaan besar dari ibumu. Bagaimana bisa aku membesarkan Puteri dengan kasih sayang besar. Namun, kau malah membuang harga diri mu."
"Aku tidak melakukan apapun dengan Ethan! Cukup! Aku masih memiliki harga diriku!"
Nana menyipitkan matanya, dan tertawa meledak dengan hati tertusuk, "Kau bahkan memanggilnya dengan begitu akrab dan manis terdengar."
"Ibu ....." Anna kehilangan setiap kata penjelasannya.
"Biarkan dokter yang berkata. Jika hal itu terbukti. Maka aku pastikan aku akan mengubur dirimu dan anakmu," ancam Nana dengan banyak perasaan kecewa yang menimpanya.
"I-ibu ...," rengek Anna memanggil dan menangis.
"Aku kejam! Karena setiap kasih sayangku melebihi duniaku sendiri. Aku akan menjadi sangat kejam untuk membalas setiap kebohongan dan kebodohan yang kau lakukan."
__ADS_1
"I- ibu!"
"Berhenti merengek! Karena kau tidak akan pernah bisa melampaui apa yang telah ku lewati di masa laluku. Maka aku akan mengijinkan tanganku menjerat lehermu. Pergi lebih awal ke neraka, hal itu lebih menyenangkan hatiku!" Nana marah dan berteriak keras dengan air mata yang jatuh sama banyaknya dengan badai hujan. Tidak memperdulikan bagaimana supir Taxi mulai mewaspadai setiap gerakan ibu dan anak ini pada kaca spion tengahnya.
"Ibu, bisakah kau tenang ...," bujuk Anna dan meraih telapak tangan ibunya, dan mencium punggung tangan Nana, dan membasuh tangan kurus itu dengan air matanya.
"Aku akan tenang jika kau tidak berdosa seperti apa yang telah aku lakukan di masalalu."
Anna meringis dan mencium punggung tangan Nana lebih dalam, "Kau mengajariku dengan cinta dan kasih sayang. Bagaimana aku bisa tega mengkhianatimu? Masalalu ataupun dosamu bukan lah menjadi bayang-bayang yang bisa menyakitiku. Aku mengerti, kau kecewa dengan apa yang terjadi dengan dirimu. Tetapi, bisakah kau percaya bahwa di generasi ini hidupku bukan di cetak sama persis dengan dirimu. Jika aku mencintai Ethan. Belum tentu Ethan akan tercetak sama dengan pria yang meninggalkanmu."
"Tutup mulutmu. Kau pandai membela!" Nana gusar membuang pandangan wajahnya ke luar jendela. Dia menarik tangannya dan menyeka air matanya diam-diam.
Kau tidak akan pernah tahu betapa sulitnya menjadi seorang wanita dengan aib mengikutinya.
Hanya kesenyapan menyapa setiap orang di dalam mobil. Hening yang terasa sangat pilu dan memaku jantung dua wanita berbeda usia ini.
Bahkan, waktu terdengar ikut menjerit dan memberikan penyiksaan di setiap detiknya. Suara isak saling silih berganti menjadi melodi yang menyedihkan selama perjalanan menuju klinik. Terasa sangat mencekam dan menangkap semua jantung di dalam mobil.
"Sudah sampai tujuan," aba-aba sang supir memecah keheningan. Kemudian, taxi menepi ke pinggir. Lalu, perlahan sang sopir Taxi turun membuka pintu untuk dua wanita berbeda usia.
Nana turun lebih awal. Mengeluarkan beberapa lembar uang dari saku jaketnya, dan memberikannya pada sang sopir Taxi yang terlihat tersenyum kaku pada pelanggannya. Kemudian, Nana hanya meninggalkan ekspresi suram dan gelap. Lalu dengan tangan yang mencengkram pergelangan tangan Anna, dia kembali berburu langkah dengan puterinya masuk klinik kandungan.
Nana mengambil nomor pendaftaran dan membawa Anna duduk bersamanya di kursi panjang. Setiap pengunjung tampak prihatin akan penampilan mereka. Apalagi setiap orang terlihat menangis dan terisak. Pikiran curiga dan liar setiap pengunjung, membuat mereka saling berbisik dan menduga-duga. Bahkan ada yang terkekeh mencibir karena bisikan menatap Anna yang terlihat begitu belia dan sial di usia mudanya.
Nana terkekeh, dan melempar pandangannya ke setiap orang yang terlihat berbisik dan meremehkannya. Nana tersenyum sinis dan menatap setiap perut besar yang terlihat berbincang menyebut Anna.
"Jangan pandai menyebut dan berbisik mengenai puteri orang lain. Karena kalian belum persis mengetahui, apakah kalian akan melahirkan dan membesarkan seorang manusia atau hanya sekedar melahirkan membesarkan binatang," ejek Nana dengan tatapan sinis dan tanpa rasa takut menyinggung setiap orang yang berada di dalam klinik.
......................
Bersambung ....
__ADS_1