
Fann memanggil Nana Su masuk, Nana Su dengan singkat menjelaskan latar belakang dan pengalaaman pekerjaan. Telinga Fann terus mendengar, namun matanya juga menilai Nana Su dari ujung kaki hingga ujung rambutnya.
'Pengalamaan hanya waiters.'
Fann mengangkat mata lagi dan menilai.
'Sangat sederhana, namun cukup memiliki kulit bersih, dan belum memiliki keriput di wajahnya. Cantik.'
Fann berpikir sebentar, mengapa wanita muda terlihat mendapat perlakuan istemewa Tuan Muda Ruan, padahal riwayat pendidikan tidak tinggi, hanya tamat sekolah menengah, pengalaman pekerjaannya pun hanya waiters.
Fann menghela napas. Tuan muda Ruan telah rekrut sendiri wanita ini, dia tidak bisa membantah atau mengganti dengan kandidat yang lebih layak.
Faan hanya tersenyum, menyembunyikan raut wajahnya, dan dengan sedikit nada enggan menjabat tangan Nana , "anda bisa bekerja mulai hari ini, di lantai tiga."
Nana dikejutkan karena dia langsung di terima bekerja. Kemudian, Fann memberitahunya beberapa hal, seperti gaji dan kebiasaan-biasaan Tuan Muda Ruan.
Setelah Nana mengerti, Fann mengambil surah kontrak, dan meminta Nana memeriksa saksama isi kontraknya.
Nana mulai memeriksa dan membaca kontrak, tidak ada hal yang membingungkan ataupun merugikan, apalagi anak majikan seumuran dengan Anna, jadi hal ini tidak perlu dia khwatirkan, mengurus orang sudah sebesar itu, tidak akan serepot mengurus anak-anak. Nana segera menandatangani dengan cepat.
Fann mengambil kembali, dan kemudian mengoreksi, "bibi Nana, kau belum mengisi hal ini, siapa yang akan menggantikan dirimu, jika kau berhalangan kerja."
Fann merasa konyol sendiri, karena item tambahan dalam kontrak itu pengecualian hanya untuk Nana Su.
Nana kembali melihat dan menulis satu nama di atas kertas, tanpa keraguan dia hanya bisa menulis nama putrinya sendiri. Anna Su.
"Siapa dia?"
"Putriku."
"..."
Rasa penasaran Fann terjawab di satu nama yang baru saja tertulis, karena aturan rumah sebelumnya, jika berhalangan kerja akan di potong gaji, tetapi untuk Nana Su, Tuan muda Ruan secara khusus meminta Fann agar mengubah isi kontrak, dan menulis agar ada orang yang menggantikan Nana jika berhalangan kerja.
Fann menghela napas.
Ternyata Tuan muda rumah Keluarga Ruan telah tumbuh dewasa dan mengincar seorang gadis, tetapi perbedaan status mereka bagai langit dan bumi, membuat Fann mengurut dada dan menahan napas. Pasti, akan banyak hal terjadi kelak, jika generasi baru ini benar-benar saling jatuh cinta.
Jangan sampai Romeo dan Juliet, di buka babak baru dalam generasi sekarang.
Fann meminta bibi Li untuk membawa Nana mengelilingi lantai tiga. Setelah dua bayangan itu hilang, Fann kembali ke kamar Tuan muda Ruan.
Tok—tok—tok.
__ADS_1
"Masuk," persila Ethan, Fann langsung masuk memberi salam dan mengantarkan surah kontrak kerja Nana. Seperti dugaan Fann, Tuan muda hanya tertarik pada satu lembar nama pengganti jika Nana tidak masuk bekerja. Mata anak muda itu terlihat memiliki tujuan, tujuan mengikat putri Nana Su.
"Anna Su." Ethan menyebut nama itu teedengar sihir yang menakuti telinga Fann.
Ethan Ruan besar di tangan nya, jadi dia sangat jelas tabiat Ethan. Anak muda ini akan terus mengejar apa yang dia sukai, dan setelah itu akan menyimpannya dengan sangat baik. Tetapi tembok status keluarga di antara mereka terlalu tinggi, alangkah baiknya Anna Su lahir di status yang sama dengan Tuan muda Ruan.
Fann hanya bisa mendoakan dalam hati, 'semoga hanya cinta bersemi satu musim.'
Fann hanya berharap Tuan muda Ruan tidak bersungguh-sungguh menyukai gadis miskin. Apalagi ibunya bekerja menjadi assisten rumah tangga. Tidak bisa dia bayangkan jika Tuan dan Nyonya Ruan mengetahui hal ini. Merah hitam wajah mereka pastinya. Hal ini akan seperti kiamat untuk Su dalam satu dekade.
"Terima kasih bibi Fann, minta bibi Nana kemari sebentar, aku ingin dia mengobati luka gigitan ini sebentar."
Stephan meledak dalam satu tawa, Fann yang ingin mundur, berhenti sebentar, dan mencuri dengar.
"Putrinya menggigit, ibunya pergi mengobati... ah, Tn.Ethan pintar sekali mendekati calon ibu mertua—"
Wajah Ethan merah. Kelopak matanya menunduk ketika terlihat Fann, pengasuhnya pergi mengintip gerak-geriknya.
"Jangan berisik!" potong Ethan melempar bantal tepat di wajah Stephan, dia kembali menghadap Fann, wajahnya memerah malu terhadap pengasuhnya, dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal, dan dengan sedikit malu dia membisiki Fann, "bibi, tolong jangan ceritakan pada siapapun, termasuk bibi Nana, aku—"
Ethan terdengar malu untuk menyelesaikan kalimatnya, tetapi Fann sudsh sangat mengerti maksudnya, hanya segera tersenyum dan menjawab, "baik, bibi ini akan menjaga rahasia besar Tuan muda Ruan."
Ethan terlihat senang dalam satu gigitan, kemudian segera menambahkan, "jangan beritahu ayah ibuku juga yah bi."
Fann sedikit ragu awalnya, namun dia tidak tega membuat anak asuhnya menjadi kecewa, dan hanya memberi anggukan setuju kemudian.
***
'Ibu pergi ke mana ? Perut Anna sudah sangat lapar.' Anna mengeluh seraya menatap isi kulkas.
Kebetulan sekali, isi kulkas habis, dia tidak bisa memasak satupun, beras juga sudah tidak ada. Dia lapar.
Tok—tok—tok.
Anna bangun dari rasa termanggunya di depan kulkas, dan menutup pintu kulkas, terdengar ada seorang yang mengetok keras. Tetapi, ini pasti bukan ibunya, karena ibunya memiliki kunci rumah sendiri.
Anna berdiri ragu di depan pintu, dia bertanya dulu, "siapa itu?"
"Aku Joe, mengantar pesan ibumu."
Mengenal suara yang tidak asing, Anna segera membuka pintu, namun Joe segera lari kemudian ketika Anna membuka pintu. Sosok lain di belakang Joe, yang tengah mengenakan topi dan masker maju begitu saja, dan masuk rumah Anna tanpa mengatakan permisi.
Melepas maakernya.
__ADS_1
"Kau tinggal di kandang?" komentar pertama yang terdengar merendahkan sekali. Melihat sepatu nike edisi terbatas yang menginjak lantai, dalam satu tampilan Anna mengetahui sosok pria dengan mulut beracun, angkuh dan sombong ini, pastilah Tuan Muda Ruan.
Anna segera berbalik melangkah menghadapi Tuan muda Ruan.
"Tuan Ethan, ini rumahku, bukan kandang." Anna protes, namun tetap membiarkan pria ini masuk, dan hanya mengutuk Joe yang hanya pergi setelah menitip Pangeran Emas ini di rumahnya.
Ethan berkeliling dan dia jatuh prihatin, "bagaimana kalian bisa hidup seperti ini?"
Anna ingin meludahi pria kaya raya ini. Konyol sekali sikapnya, dan dia hanya menjawab sopan, "pantas untuk kami, tidak pantas untuk Tuan yang besar."
Ethan merasa tidak enak hati, menyesal akan kata-katanya, dan hanya beekta, "kau hebat berkata-kaymta, membuat diriku tidak nyaman."
Anna terlihat malas.
"Kau datang ingin mengambil ponsel—" terka Anna maksud kedatangan pangeran emas ini.
"Tidak." Ethan memotong langsung, satu tangannya menunjukan satu kotak makanan siap saji. Terlihat sangat menggoda perut Anna. Tetapi, mengapa pria ini, malah datang memberi dia makan?
"Mau makan? tetapi...di mana ruang makannya, mana kursinya? sofa, kau tak memilikinya? kamar tak punya? " Ethan menjadi sangat prihatin akan rumah Anna. Tampaknya dapur kamar menjadi satu ruangan, hanya kamar mandi yang memiliki dinding pemisah.
Ethan sedikit ragu untuk duduk, namun kemudian melepas sepatunya, duduk di lantai, berusaha setenang mungkin, karena hatinya mendadak sangat prihatin, bagaimana bisa Anna tinggal di tempat seperti ini. Sangat jelek, apalagi jalan menuju kemari. Sebuah mobilpun tidak bisa masuk.
"Anna, ini pertama kali, aku duduk di lantai seperti ini," utara Ethan acuh dan tidak acuh, meletakkan makanan di atas meja bundar.
Melihat wajah jijik Tuan muda penghambur uang ini, membuat Anna menjadi kesal.
"Jika tidak memiliki keperluan, Tuan muda Ruan, silakan pulang." Anna terdengar mengusir, namun lagi-lagi Ethan tidak peduli atas kalimat itu, dia sudah telanjur duduk, maka dia hanya akan meminta Anna makan malam bersamanya— demi hal ini, dia juga menunda makan malam, agar bisa makan malam bersama Anna. Walau tempat ini, terlihat tidak layak untuk dirinya. Tetapi, karena ini rumah Anna, dia hanya pergi maklum.
"Kau ingin ponsel—"
Anna tidak menyelesaikan kalimatnya, karena pria kaya ini terlihat mengabaikan apapun yang dia ucapkan, dia kembali mengambil tasnya, mengeluarkan ponsel, dan segera meyodorkan ponsel Ethan pada tangan emas tersebut.
Cincin berlian yang masih tersemat di kelingking Ethan, menarik perhatian Anna sebentar.
'Mengapa pria ini masih mengenakan cincin?'
Ingat tembakan tadi pagi, diam-diam Anna menjadi sedikit berdebar, apalagi pria ini malah pergi menatap, dan terlihat seperti menilai dirinya, karena mereka duduk dengan jarak yang sangat dekat, "kau imut sekali...."
"...."
Pujian Ethan, membuat Anna terpaku dan hanya membalas dalam hatinya, 'dia berani menggodaku lagi.'
***
__ADS_1
Ns.
Jangan lupa vote dan coment yah .