Kekasih Tuan Muda Ruan

Kekasih Tuan Muda Ruan
Hidup Kembali


__ADS_3

Erald menyusuri tangga dengan ketokan tongkat terdengar nyaring bersama setiap langkahnya menginjak anak tangga demi anak tangga, tok— tok—tok.


Lalu, Erald menyusuri koridor menuju kamar dengan teriakan-teriakan di dalamnya, "buka pintunya—buka!"


Diikuti suara benda-benda di banting ke lantai, lagi dan lagi.


Prang!


Brak!


Erald menghela napasnya, dia telah melewati masa muda, dia pernah merasakan cinta yang sama, tidak memperoleh restu dari keluarga Ruan. Saat ini, dialah orang yang paling mengerti perasaan Ethan.


Jejak-jejak kasih sayang dengan Johana pun membekas dengan luka yang ternganga setiap saat. Erald datang kembali ke kota ini, agar kehidupannya tidak terjadi pada Ethan. Setidaknya, Ethan harus bisa membiarkan Anna tetap untuk hidup. Dia hanya cukup bersabar menunggu waktu yang tepat untuk bersama.


Bertindak bodoh. Hanya akan mengakhiri kehidupan Anna dengan sangat cepat. Erald tidak ingin, kehidupan cinta  Anna dan Ethan, hanya di ombang ambing dalam pusaran yang sangat rapat, sampai akhir tidak akan pernah berlabuh pada pelabuhan cinta.


Senyap. Ruangan terdengar hening. Barulah Erald membuka mulut, "bukakan pintu!"


Ethan di dalam, membuka matanya. Menghapus jejak keringat, dan seakan membasuh wajah sedihnya— dia dan Anna belum memulai, sudah ditentang seperti hari ini. Bukankah , hal ini akan menciptakan susunan bata yang membentuk dinding-dinding pemisah yang menjulang tinggi hingga menebus langit.


Ethan menggertak hatinya sendiri, dan menjerit,'aku bukan pengecut.'


Penjaga yang masih menundukan kepala sedari tadi, segera membuka pintu untuk  Tuannya, dan mendorong pintu perlahan sebentar.


Kret!


Telinga Ethan tajam mendengar derit pintu, dia segera menabrak dirinya ke garis pintu, namun tubuh adik ayah kandungnya, telah mendorongnya kembali masuk dalam kamar, "kau masih sangat lemah!"


Ethan terjatuh ke lantai dingin. Wajahnya terlihat suram, tepatnya dia tengah menekan boom dirinya sendiri, dan menahan amarah mendapat ejekan itu, dia  masih menghargai silsilah keluarga Ruan, dan  mengingat daging dan darah ini, masihlah jati diri Ruan. Ethan memutuskan mengalah, dan berdiam diri.


"Cih, ingin menentang Ruan. Melawan orang pincang, kau terlihat kewalahan," ejek Erald serasa menampar wajah Ethan yang merah karena marah.


Blam!

__ADS_1


Erald membanting pintu. Sepasang mata pria pincang itu, terlihar mengedar untuk  melihat segala sesuatu telah menjadi sangat berantakan, jendela dan kaca cermin menjadi  sentuhan retak, dan sebagiannya telah menjadi serpihan kecil yang jatuh ke lantai berkeping-keping, perabotan-perabotan telah jatuh berserakan dengan posisi terbalik.


"Apa dengan mengamuk, bisa menyelamatkan hidup, dan menggerakkan Ruan untukmu," kritik Erald prihatin, dan menginjak telapak tangan keponakannya sendiri. Dia memutar tumit sepatunya dengan keras, dia sengaja melakukannya, agar Ethan menjerit dan berteriak, dan memohon padanya.


Tidak. Ethan tidak akan memohon. Ethan terlalu angkuh dan tidak mudah menyerah. Tepat, Ethan seperti dirinya di masa muda.


Ethan hanya menahan ringisan dalam mulutnya, tidak ingin terlihat pengecut, dan berteriak minta ampun.


"Hal ini masih sangat kecil, Ethan!" Erald memindahkan telapak kakinya, dan berjalan dua langkah lebih jauh dari pria muda itu.


Pria muda itu bangkit berdiri, dan memasang taringnya terhadap pamannya, "Erald Ruan, kau bukan hanya pincang kelak, atau...,"— Ethan menggunakan dua jari menunjuk bola mata pamannya—"kau akan kehilangan biji matamu."


Ancaman nyata, membuat pria paruh baya itu tergelak tertawa mengisi ruangan. Setelah itu, dia melempar tongkatnya, dadanya membusung dan menantang, "lakukan jika kau bisa?"


Ethan mengepalkan tinju, baginya memukul orang pincang, sangatlah mudah, namun dia masih memiliki hati untuk tidak  melukai orang, apalagi itu pamannya.


"Beruntunglah kau paman, aku masih menghargaimu." Ethan maju ke depan pintu, akan melangkah keluar, menguapkan amarahnya.


"Ethan Ruan!" seru Erald maju memanggil keras dan hampir menampar wajah Ethan, namun Erald masih bisa mengusai tangannya untuk berhenti tepat waktu, sebelum menyentuh daging wajah keponakannya.


Ethan meringis, memintal emosi yang terasa berdarah-darah dalam mulutnya, dan berkata ketus,"aku tidak perlu kau mencampuri kehidupanku. Aku bisa mengurusi diriku dan juga Anna."


"Ethan, aku memperingatimu. Kau tidak boleh mendekati Anna?"


Ethan berbalik,"mengapa kalian harus mencampuri hal itu? apakah aku boneka? seenak hati kalian mengatur diriku dengan boneka lain." — Ethan menahan napas, menunjuk dada kirinya dengan telunjuk— "jangan lupa aku memiliki ini. Aku akan pergi, kepada siapapun yang membuatku berdetak."


Erald mengatur napasnya.


Setelah kalimat itu, Ethan diam sesaat, dia mengerut seakan telah beribu kali dia berpikir hal ini, dia pahit memilih dan berkata lirih, "aku dulu menyukai Ruan yang selalu menjadikanku di kursi teratas. Aku terlihat seperti Raja di atas kehidupan oranglain,"— Ethan menampar dadanya sendiri—" tetapi, kini... Anna adalah jantungku, digulingkan mencium tanah, akupun bersedia."


"Kau tidak akan pernah digulingkan. Hanya dipisahkan dengan tragis!" peringat Erald keras. Tragis.


Deg!

__ADS_1


"Aku tau hal itu, aku juga pernah mengatakan hal yang sama pada kakekmu, aku katakan...,"— Erald menutup matanya seakan tengah mengalami kehidupan kilas baliknya, dia berteriak lantang— " aku berkata, 'ayah, aku hanya melihat Johana. Di mataku tidak ada gadis lain. Jantungku hanya untuk Johana'— kakekmu tertawa mengejek saat itu."


Erald membuka matanya perlahan, air matanya jatuh bersamaan. Sangat perih, jika dia harus membuka masa lalu sendiri, bayang penolakkan menampar wajahnya lagi, "lalu, kakekmu berkata padaku, 'pernikahan adalah aliansi, bukan soal mata dan jantung. Jika matamu bersalah, aku akan mencongkel matamu, jika jantungmu berdetak, maka aku akan merampas jantung gadis itu.' —Kakekmu masih hidup sampai saat ini."


Ethan terdiam. Perkataan Wiliam Ruan, memang sangat mengerikan. Bahkan, dalam kehidupannya Ethan hanya bisa menemui kakek Ruan, jika dia telah mencapai prestasi gemilang. Bukan hanya sekadar prestasi akademik, dari umur sangat kecil, pewaris Ruan bukan untuk belajar, namun telah di didik untuk bekerja menghasilkan uang. Di usianya mulai sembilan tahun, kehidupan masa kanak-kanak, telah berubah menjadi kehidupan layak seorang dewasa, dia telah didik menguasai segala hal sebelum waktunya, termasuk masa sekolah telah di habiskan dalam waktu yang singkat, dia tampil di sekolah, hanya sekadar menunjukan dirinya dalam lingkaran. Untuk belajar, dia tidak memerlukan lagi.


Ethan bersikeras seakan Ruan bisa dibujuknya, "paman itu kehidupanmu yang terlalu pengecut dan lari. Aku tidak akan pernah takut akan kematian."


Erald mendorong Ethan ke dinding dengan keras, dan mendengus, "akupun tidak takut kematian Ethan. Dalam sejarah, Ruan tidak pernah melahirkan pengecut."


Ethan menunjukkan taringnya dan menghempas tangan yang menghimpit ke dinding.


"Aku memiliki caraku sendiri, kau tidak perlu mendikte dengan pengalamaan paman yang gagal."


Erald menatap miris, "Ethan, aku katakan padamu, kematian bukanlah hal yang menyakitkan. Bukan akhir kisah Romeo Juliet."


"Kematian bukan menyakitkan! Romeo akan terus hidup. Hidup mengenang Juliet," teriaknya tegas.


Erald mundur melepas blazer, lalu membuka kancing kemejanya, merasa terlalu lambat, diapun merobeknya, kancing-kancing berserak jatuh ke lantai, dan melepas kemeja, dan membuang sembarang, dan mendengus kembali, "yang paling menyakitkan adalah... di hidupkan kembali."


Dihidupkan kembali.


Ethan terperangah, sepasang matanya menyaksikan setiap telunjuk Erald yang menekan-nekan setiap bekas jahitan dari dada hingga perutnya, dan dia berkata nyaring, "aku dihidupkan kembali. Aku telah mati berkali-kali, namun kembali bangun dan hidup. Jantungku. Ginjal. Hati. Semua bukan milikku, a—aku..."— Erald tertawa meringis— " aku tidak lebih dari mayat yang bangkit kembali."


"Aku lebih menggenaskan dari manusia ataupun dari hantu. Ruan tidak akan melepasmu."


Erald menarik kerah keponakannya dan dengan lantang memberitahu fakta, "Ruan adalah Tuhanmu di dunia. Apa kau mengerti? merekapun tidak mengijinkan Johana untuk bernapas."


Erald melepas cengkramannya, dan menangis jatuh dan dia segera menghapusnya dan membasuhnya dengan tangan kasarnya, "katakan padaku, apa kau ingin seperti itu."


"Johanaku hanya satu. Apakah Anna milikmu ada dua?"


Ethan kehilangan isi mulutnya, dan hanya melirih dalam hatinya, 'Anna hanya satu.'

__ADS_1


Ethan tercekat dalam sanubarinya, dia linglung, mematung tidak percaya. Jiwa raganya kosong, seakan ruhnya telah terangkat ke atas. Bagaimana dia bisa menghadapi kenyataan, jika sesuatu terburuk terjadi pada Anna, dari awal dia tidak peduli nyawanya sendiri, tetapi Anna hanya satu di dunia. Kisah Erald Ruan, tidak pernah dia ketahui, sekelam ini, yang dia tahu pamannya hidup terlihat baik-baik dengan pasangannya, dan ternyata kehidupan rumah tangga itu, hanyalah rumah tangga boneka Ruan.


...


__ADS_2