Kekasih Tuan Muda Ruan

Kekasih Tuan Muda Ruan
Membeli Restu


__ADS_3

Anna mengeluarkan isi dompetnya, dan mengambil beberapa lembar uang kecil miliknya, dan uang keping logam di tempat tersembunyipun di rogohnya. Dia telah mengeluarkan seluruh kas dalam dompetntya.


Gugup. Anna merasa bodoh dan malu. Tetapi,  seseorang pria yang terlihat bemartabat itu menawarkan uang, tetapi dia tumbuh tidak untuk menjual harga diri, termasuk hatinya. Dia memberanikan  diri, mengapa dia tidak mencoba membelinya? membeli restu. Tanpa sadar, karena rasa gugup yang mencuat begitu besar, membuat tangannya bergetar dan menjatuhkan uang-uangnya ke lantai.


Ting... ting!


Beberapa  keping uang logam jatuh berserakan ke lantai,  dan bergelinding di lantai, Anna segera membungkuk ke lantai,  mencari, mendapatkan dan pungut kembali yang telah hilang tadi. Dia menggenggamnya dalam dada, seakan hal ini lah yang dia punya, kas miliknya. Tidak menghitungnya lagi, dan  menampung dalam dua telapak tangan kecilnya yang terbuka perlahan, dan dia menyodorkan pada Erald dengan tangannya bergetar, raut wajahnya tidak bisa menyembunyikan rasa takut dan sekaligus malunya, "bagaimana jika aku membeli restumu, Tuan besar?"


Glek!


Anna merasakan tenggorokannya telah menelan harga dirinya hidup-hidup, berani sekali membeli restu, dengan uang yang tidak ada nilainya bagi pria bermatabat dalam keluarga Ruan. Membeli dan menawar harga Tuan muda Ruan. Anna merasa semua orang akan muncul, mengutuk sekaligus mengejek dirinya.


Nasi sudah menjadi bubur, sudah menelan harga diri, tidak boleh mundur, dengan lantang dia melanjutkan kalimatnya lagi, "restui aku dan Ethan."


Erald menatap sinis dan mencibir, "beraninya kau menawar harga Tuan muda Ruan kami, dengan nilai terkecil yang pernah aku lihat."


Anna ingin menangis meledak, serasa duri-duri telah di lemparkan ke wajahnya, mau bagaimana lagi, tetapi hal ini adalah faktanya.


Anna memejamkan matanya, menahan malu dan kelancangan dirinya, telah berani menawar harga Tuan muda Ruan dengan uang kecil yang terlihat tidak beharga. Anna tidak bisa membayangkan, bagaimana suatu saat Ethan akan mengetahui hal ini?


Perlahan Anna sangat yakin dengan pilihannya, Anna perlahan membuka matanya, menatap lurus kembali dengan menunjukkan dia memiliki kepercayaan diri, bibirnya berkata menyiratkan hatinya, "Tuan besar, seberapa banyak yang kau tawarkan, aku tidak akan mengambil. Tetapi, jika kau meminta uang milikku, aku telah memberikan milikku yang miskin ini.... hiks..."


Anna menelan isaknya, "aku tidak bisa seperti kalian, tiap detiknya akan memberikan sembarang uang...."


Erald setuju.


Anna menatap tulus ke pria besar yang merupakan bagian dalam keluarga Ruan ini, "tetapi tiap detikku, aku memastikan akan memberi ketulusan untuk Tuan muda Ruan kalian."


Erald ingin tersedak. Ketulusan tidak akan bisa membeli dunia, diapun menguji lagi, "seberapa besar, kau menyukai Ethan Ruan?"

__ADS_1


Anna menggosok wajahnya, membuang air mata yang terbendung akan mengalir di kedua belah pipinya yang merah, menahan kesedihannya, perlahan dia berkata lagi, "aku menyukai Ethan sebesar—"


Anna menggigit ujung lidahnya, teringat akan pesan Nana Su setiap saat untuknya,' jangan pernah menyukai lelaki, melebihi segenggam tangan.'


Anna menahan perihnya sendiri, bagaimana dia telah melanggar peringatan ibunya untuk pertama kalinya, dan meloloskan kalimatnya, "aku hanya menyukai Ethan sebesar ini."


Anna menunjukan kepalan satu tangannya pada Erald. Erald memincungkan mata, dan tergelak ingin tertawa mengetahui makna di balik satu genggaman tangan itu. Pura-pura bodoh, Erald menyindir Anna, "apa arti tangam kecil itu?"


Anna tersedak dan menyesal sebentar teringat akan pesan-pesan Nana, tetapi mau bagaimana lagi lautan perasaannya malah menuntut bibirnya berkata, "aku menyukai Ethan Ruan, melebihi duniaku."


Erald bangkit dari kursinya. Melepas tongkatnya, dia berdiri dengan kokoh, dan memberikan tepuk tangannya, plok—plok—plok.


Erald benar-benar ingin melompat riang dan menghujat, "kau yakin ingin berada dalam tanah secepat mungkin?"


Anna menggigit bibirnya sendiri. Makna sangat jelas, pria itu mengatakan bahwa kematian akan segera datang. Anna segera membuang isak yang berasal dari hidungnya, Anna menjawab, "aku akan hidup, walau semua orang menginjakku seperti rumput liar yang tidak dianggap."


Plok—plok—plok.


Erald  tidak bergeming, masih terpaku akan uang kecil di tangan gadis itu, uang terkecil yang pernah dia lihat, namun diam-diam hatinya sangat melunak dan tersentuh, semua orang pernah mengantar semua uang banyak dan beharga, namun itu bukanlah uang terakhir dalam dompet mereka. Tepat, gadis ini telah memberikan ketulusannya.


Anna menunduk malu, dan terisak lebih banyak lagi, "maaf, jika aku menyinggung Tuan besar."


Tersentuh, mulai melunak, seakan dirinya tidak mampu mendengar gadis ini putus asa, dengan cepat Erald mengambil uang kecil itu, dan berkata pelan, "selamat, uangmu berhasil membeli restuku."


Glek!


Anna menelan isaknya, apakah dia harus bersyukur? baru saja dia mendongakkan kepalanya sedikit ke atas, Erald melanjutkan kalimat lagi, "aku bisa di beli olehmu, tetapi yang lain, tidak akan bisa kau beli."


Pria paruh baya dengan kaki pincang itu berbalik, seperti hembusan dingin, melangkah keluar melewati garis pintu, tanpa menoleh ke belakang lagi. Sekarang, dia diam-diam merasa lega akan pilihan Ethan, mendapatkan gadis kecil yang tepat, oleh itu dia datang lebih awal hanya berniat untuk melindungi hubungan dua  sosok anak muda ini, dengan status berbeda ini, karena diapun pernah mengalami kejamnya perpisahan, bukan hanya merobek jantung, jiwa raga telah mati semenjak hari itu, Ruan telah menciptakan kematian untuk kekasihnya, Juliana Ho.

__ADS_1


Deg—deg—deg.


Berdebar. Erald memegang dadanya sendiri, tidak pernah dia merasakan jantungnya hidup kembali.


Juliana terlihat hidup kembali dalam Anna. Mengejutkan seluruh jiwa raganya, dia merasakan Anna Ethan, serasa dirinya telah kembali muda, kilas balik dirinya terpantri akan sosok wanita terindahnya, perlahan sepasang mata Erald mulai merah dan berkaca, memandang langit biru dan berbisik, 'Juliana, jika nama kita tidak pernah tersemat. Apakah kau bersedia membantu Anna Etha dari surga?'


Teringat akan Juliana, dan akhir hidup wanita itu. Membuat dada Erald serasa kembali memegang ganggang pisau yang sudah tertancap begitu lama oleh Ruan, dan tidak akan pernah ada  yang berniat  mencabut pisau itu. Karena Ruan tidak akan membiarkan dirinya mati, mereka lebih menyukai Erald hidup megenang sakitnya.


Tik!


Merasakan air mata akan menetes, Erald segera menggosok matanya, menghela napasnya, dan mengatur ritma dadanya.


"Lukas!" seru Erald  setelah dia merasa tenang, dia memanggil anak buah yang mengikutinya masuk dalam mobil yang sama.


"Ya... Tuan," sahutnya.


"Gadis itu terlihat serasi dengan Ethan, Ethan terlampau keras, dia lembut, Ethan penuh emosional, dia masih sangat pintar mengambil hati,"  — Erald menghela napasnya lagi — "kita harus melindungi mereka berdua."


"Baik, Tuan."


"Pergi ke VillaTimur."


Dalam tiga puluh menit, mobil Erald mencapai Villa Timur.


Brak!


Prang!


Suara gaduh langsung terdengar di lantai atas. Tuan muda Ruan pastilah telah menghancurkan segalanya.

__ADS_1


...


__ADS_2