
"Biarkan aku pergi, paman." Ethan bangun dari lamunan panjangnya. Dia telah kehilangan setengah hidupnya mengetahui satu contoh nyata di depannya, Erald Ruan, pamannya sendiri, dan sambil terkekeh pada dirinya sendiri, dia terlihat menerima ejekan mata pamannya sendiri, yang telah berkata, 'Ethan Ruan, apa kau ingin menjadi mayat hidup?'
Erald menghela napasnya, lalu berpesan sekaligus memperingatinya, "jangan berlaku bodoh untuk saat ini, karena kau belum menjadi raja sesungguhnya. Nasibmu masih milik Ruan." — Erald memegang pundak Ethan, dan membisikinya— "aku memintamu, untuk tidak mendekati Anna lagi, jika kau belum menjadi Raja asli Ruan."
Deg!
Kelopak mata Ethan bergetar, tangannya menepis tangan besar pria yang menyentuh pundaknya, "aku akan bertanya pada Anna. Biarkan Anna yang menentukan nasibku."
'Hah!' Erald ingin meludah segera, kuasa mulut gadis kecil lebih beharga daripada dirinya yang telah jauh-jauh ke kota ini. Bersikeras Erald menyinggung lagi, "Ethan, mengapa kau tidak dewasa? Anna akan bersedia menunggu jika kau ingin bersabar. Bukan pada Anna, ini dirimu Ethan, Anna hanya akan terus mengikutimu, bagaimana jika kau menyesatkan hubungan kalian...."
'Menyesatkan hubungan kalian.'
Ethan tersindir akan kalimat terakhir, lantas dia mendorong Erald, dia keluar dari kurungan lengan pamannya. Dia hanya menyimpan gelisah sekaligus rasa khawatir dalam dadanya. Tanpa meninggalkan satu kata lagi, dia melewati pamannya begitu saja, namun Erald berteriak memperingati lagi, "jangan berulah di luar, hubunganmu dengan Anna akan terendus sangat cepat oleh Ruan."
Ethan berpura-pura tuli. Padahal dia telah di selimuti ketakutan orang-orang Ruan akan mencelakai Anna.
'Lebih baik bertemu Anna, lebih dulu.'
Erald mengunci pandangannya pada punggung yang masih berjalan yang terlihat dingin, dan enggan mendengar. Erald hanya memendam dalam hatinya.
Aku sudah menyingkirkan beberapa orang yang mengikutimu Ethan, tetapi tetap saja hari-hari keberuntunganmu tidak selamanya ada. Lebih baik kau berhati-hati.
Ethan telah gentar sampai tulangnya, membayangkan Ruan yang kejam akan terus mendikte dan mencelakai Anna, dia harus menjaga Anna, dia kembali menyusuri koridor menuju tangga penghubung ke lantai lobby Villa Timur dengan langkah panjang dengan banyak hal berkecamuk serasa mampu menggerogoti energi dan setengah hidupnya, lalu setelah mencapai anak tangga terakhir, menunda memikirkan segala hal yang sangat rumit, perlahan telah dia singkirkannya dari otaknya untuk sementara waktu, Ethan mengambil ponselnya dan menghubungi Anna.
Tut!
Panggilan hanya berakhir begitu saja, tanpa satu kalipun di angkat. Ethan meninggalkan banyak pesan suara seraya satu kakinya terus menginjak pedal gas mobilnya, lajunya membelah jalan, menyusuri kembali ke kedai cake tart.
Pelacak posisi pasangan, yang dia tanamkan dalam ponsel Anna, menunjukkan Anna hanya berada di kedai. Lokasi yang sama.
Mencapai kedai.
Mendapati ruangan itu telah kosong, wajah Ethan terlihat jatuh sebentar.Tidak mendapati Anna saha, membuat dirinya berdetak takut dan panik, dup—dup—dup.
Manajer yang baru mendapat kabar bahwa Tuan muda Ruan telah kembali datang, dia segera datang menyambut tuan emas ini, dan melapor segera, "Nona muda yang bersama Tuan, telah pergi satu jam yang lalu."
"...." Ethan terlihat kesal. Merasa dirinya terlambat, dan pikirannya buntu.
Satu jam yang lalu.
Kening Ethan berkerut, mengira pelacaknya salah memberi informasi. Memeriksa kembali sekitar, Anna tidak berada di manapun.
Mengapa dia mengabaikan telepon dan pesanku. Apa kau marah?
Ethan berjalan keluar, seraya melakukan berkali- kali panggilan. Raut wajahnya terlihat gelisah, dia baru saja akan pergi, memindai kembali layar posisi pasangan, posisinya tetap sama—kedai cake tart.
__ADS_1
Ethan merasa heran, dan menduga susuatu, kakinya panjang melangkah cepat ke kedai. Tepat, manajerpun kembali datang menyambut di depan pintu, "Tuan muda, ponsel nona tertinggal. Tadi baru saya temukan."
Ethan mengambil ponsel. Dia terlihat geram dalam satu tangkapan tangan,"mengapa kau tak katakan dari tadi?"
Gemetar, takut di salahkan. Bayangan mangkok nasi telah pecah. Manajer segera berlutut, dan berterus terang, "maaf, Tuan muda. Pelayan ini baru menemukan tadi, dan terlambat memberitahu."
"Kau di...," Ethan menghentikan kalimatnya, dan mengurungkan niatnya memecat pria ini. Jika, dia terus memiliki kebiasan selalu menggunakan kuasa Ruan dalam mulutnya, seumur hidupnya tidak akan pernah memiliki kemerdekaan. Dia harus menguasai diri, tanpa Ruan dalam isi mulutnya.
Jadi, Ethan hanya mendorong tangannya melambai meminta manajer itu pergi. Mendapatkan pengampunan, manajer segera membungkuk hormat, dan mundur diri dengan sekujur tubuh yang masih gemetar ketakutan membayangkan mangkok nasi pecah.
Ethan kembali ke mobilnya memeriksa setiap pesan dan panggilan yang masuk ke ponsel Anna.
Ethan mengutuk. Pantas saja, Anna tidak menerima panggilannya yang telah mencapai 101 panggilan tak terjawab dan tidak membalas pesan suaranya yang telah mencapai 99 pesan. Gadis itu meninggalkan ponselnya.
Dasar gadis bodoh, ponselmu malah kau tinggal. Bagaimana aku mencarimu?
Ethan menginjak pedal gas, menjalankan mobil dengan perlahan, sepasang matanya memeriksa sesama semua pejalan kaki di pinggir jalan, dia hanya menduga-duga, Anna belum jauh.
Mengitari jalan dengan sangat pelan, telah menghabiskan waktunya tiga puluh menit.
Tak lama, ketika sepasang matanya teetuju pada sebuah motel. Pandangan Ethan menjadi gelap dan suram.
Dritttttt!
Ethan menginjak pedal rem, sepasang matanya mendapati sosok yang terlihat mirip Anna, bersama seorang pria asing. Mobilnya berhenti seketika, memberi kejutan mobil lain yang kemudian protes dengan suara klakson panjang dan teriakan memaki.
"Apa kau bodoh berhenti di tengah jalan?"
"Apa jalan ini milik nenek moyangmu?"
"Mobilmu bagus, tetapi kau hanya si kaya bodoh!"
Ethan turun mobil. Dia terlihat acuh dan tidak acuh terhadap semua makian yang datang untuknya. Setelah dia memarkirkan mobilnya ke pinggir jalan. Kaki panjangnya melangkah menuju motel, dan langsung menangkap bahu pria asing itu dari belakang.
"Hei!" seru Ethan, dan matanya jatuh memindai pada sosok gadis yang terlihat tidak sadarkan diri dalam lengan pria muda sekitar usia tiga puluh tahun.
"Anna." Tatapan Ethan suram dan terbakar karena siraman cuka, dan meneriakinya, "lepaskan tangan kotormu."
Pria muda itu terlihat mencibir dengan matanya yang terjuling dan menjawab sinis, "kau siapa? Gadis ini kekasihku."
Ethan kesal dengan mulut tipuan orang rendahan ini. Pria ini terlihat memiliki sepasang mata keranjang, dia pasti telah memperdaya Anna dalam satu tangkapan, dan membuat Anna jatuh pingsan, dan akan membawanya masuk ke dalam motel murahan.
Ethan ingin memukul dan mencabik pria ini, namun dia menguasai diri, jangan sampai dia menghancurkan kehidupan pria ini, apalagi sepak terjangnya harus selalu menggunakan Ruan menyelesaikan bisnisnya karena telah menghajar orang-orang kotor seperti ini, makin dia berulah, Ruan akan makin memperketat dirinya. Hubungannya dengan Anna, akan segera terendus ke udara.
Untuk pertama kalinya, demi Anna, Ethan meredam amarah, menekan egonya, dan berseru meminta, "lepaskan dia!"
__ADS_1
Pria itu terlihat enggan melepas mangsa cantik yang telah dia tangkap.
"Aku bersedia membelinya." Ethan merendah dengan merendam amarahnya, mendorong emosi ke titik nol, walau sebenarnya, dia telah mendidih.
Pria itu terlihat menilai Ethan, matanya melompat menjadi hijau, melihat setiap detail brand ternama melekat dalam satu tampilan yang sangat membakar uang. Apalagi cincin berlian merah yang tersemat di jari kelingking pria itu, menarik minatnya. Dia ingin segera memiliki isi dompet dan berlian merah.
Bertemu dengan bank berjalan....
Pria itu membuka rahasia, hanya untuk mendapatkan lebih banyak dari bank kekayaan ini, "sebenarnya ada seseorang di belakangku yang memintaku mengerjai gadis ini."
Deg!
Raut wajah Ethan terlihat putih karena rasa terkejutnya, bangun kembali ke nyata, dia memintal lidahnya dan hampir menggigit ujung lidahnya sendiri karena ada seseorang yang berani mengerjai Anna miliknya.
'Siapa yang berani? Ruan... tidak mungkin menggunakan orang rendahan terlahir bodoh.'
"Berikan Anna untukku." Ethan menyodorkan jam tangan rolex miliknya.
"Apakah ini asli?" remehnya sengaja menyerahkan Anna padan Ethan, dan dia mulai memeriksa keaslian rolex dalam genggamanya.
"Apa kau buta? aku bukan orang rendahan seperti dirimu."
"Aku percaya." Pria itu mengenakan jam ke pergelangan tangannya.
"Katakan padaku... siapa orang itu?"
Pria itu mengelus dagunya, matanya terlihat mengintip keindahan cincin berlian yang terlihat sangat manis.
"Berikan cincinmu... maka aku akan membuka rahasia."
Ethan ingin meludah amarah, cincin ini di sematkan Anna untuknya. Namun sekali lagi, dia hanya bisa mengumpat dalam hatinya.
'Kau meminta cincin pernikahanku... kau ingin mati.'
Peia itu terlihat meringis sebentar, dan merengek meminta lagi, "berikan!"
Ethan terpikir sesuatu, dan berpura-pura mengancam, "tidak perlu berkata, aku lebih baik mengirim seseorang untuk menghancurkan gigi dan tulangmu."
Ethan meninggalkan peringatan lagi sebelum berlalu, "jaga baik-baik dirimu."
Pria itu berdiri getar ketakutan, siapa yang tidak akan takut, orang yang mempunyai banyak uang akan mengejar gigi dan tulangnya.
Selesai melontarkan ancaman. Ethan berpura-pura melangkah cepat kembali ke mobilnya. Sementara pria itu telah jatuh kedinginan karena ketakutan, luyut sebentar, dia mengejar ke mobil Ethan, dia terpaku ketika mengetahui mobil keluaran edisi terbatas.
'Sangat kaya namun juga bisa membunuh dalam satu kedipan.' Komentar pria itu dalam hati. Takut namun juga sangat ingin meminta dengan rakus.
__ADS_1
...