Kekasih Tuan Muda Ruan

Kekasih Tuan Muda Ruan
Bertahanlah Sebentar


__ADS_3

Ethan melihat pada layar ponselnya. Titik merah terlihat. Dia sudah mendekati lokasi titik penculik membawa Anna pergi. Mobil Ethan di ikut dengan beberapa mobil pengikut Erald, pamannya.


Beep! Pemberitahuan pada ponsel Ethan berbunyi seketika Ethan sampai di sebuah gudang yang berada di pinggiran kota. Kumuh. Gelap. Dan mobil Jeep sang penculik,ada terparkir dengan banyak mobil lainnya.


Ethan menahan napas. Dia bergejolak segera akan menerobos. Namun, langkahnya tertahan begitu saja. Bahunya di tahan oleh Erald yang telah hadir di belakangnya.


"Hati-hati di sini gudang mesiu. Bergerak ketahuan. Kau akan meledakkan gudang."


Ethan menahan napas. Namun, rasa khawatir makin menggebu.


"Siapa mereka paman?"


"Segerombol preman yang di bayar dengan narkoba."


"Bagaimana dengan Anna di dalam?"


Erald melambaikan tangannya meminta beberapa pengikutnya untuk merangkak perlahan dan mengepung setiap sudut gudang.


"Aku tidak bisa menunggu!"


Ethan menghempaskan tangan pamannya. Dia turun dengan hujan khwatir. Panik. Takut. Melandanya.


Brak! Pintu terbuka.


Ethan membola kejang. Suntikan tampak nyata di tusuk dalam nadi Anna.


"Apa yang kalian lakukan padanya?"


Suara itu besar mengejutkan. Namun, cairab bening itu telah masuk ke dalam intrapena Anna. Dosis yang begitu tinggi, dan reaksi begitu cepat. Membuat Anna lunglai dalam sekejap sebentar.


Pria itu berkedip saat Ethan meraih dan mencengkram tangannya. Lalu, setiap pengikutnya mulai melingkar dan mengepung Ethan. Setiap tongkat di pikul punggung mereka, dan setiap mata menyipit bergantian menatap sang gadis dan pria muda.


"Kami akan membiarkan dirimu menonton, bagaimana??"


"Tubuh kekasihmu biarkanlah kami jamah lebih dulu. Bagaimana?"


Deg! Sepasang mata Ethan berkilat marah. Dia memutar lengan pria yang merangkul Anna. Dia memutar hingga pria itu terjatuh dan tersungkur di tanah. Krak! Bunyi patah itu terdengar meremukkan tulang.


Tidak lama kemudian dua pria lainnya mencengkram tubuh Ethan. Setiap orang datang membawa pemukulnya. Sedangkan pria lain membopong tubuh Anna ke tepi. Ada yang terlihat liar dengan mata yang menembus pandang pada piyama yang di kenakan gadis muda itu.


"Kau jangan menyentuhnya!" teriak Ethan.


Bug! Sebuah tongkat mengenai punggung Ethan. Dia tersungkur dengan punggung yang terinjak dan kepala yang terinjak oleh pria lainnya.


"Sangat jarang kita memukul pria emas. Coba katakan padaku, berapa harga setiap luka di wajahmu?" Satu pria tampak mengeluarkan belatinya. Dia membuka bungkus belati. Lalu, ujung belati itu menyentuh kulit rahang wajah Ethan.


"Bagaimana jika menggores wajah emas ini? Apakah tanganku akan buntung?"


Srettt! Ujung belati itu merobek lapisan kulit Ethaan. Kulit mulus dan indah itu tersayat mempertontonkan daging merah bersama cairan merah.

__ADS_1


Diam. Tak bersuara sedikit. Hanya sepasang mata Ethan yang terus berbicara pada sosok gadis di seberang Anna. Dia menangkap setiap detil dan peluh keringat gadis itu. Dia ingin segera bangkit, dan memeluknya erat. Namun, setiap punggungnya terinjak. Kakinya terkuci. Tangannya terkunci. Kepalanya mencium tanah.


"Arggg!" ringis Anna bangun dari rasa terhuyung. Namun, seluruh raganya terasa panas membara. Dia merasa haus dan perlu air sekarang.


"Haus."


Seorang pria berbalik dan menatap Anna. Mencubit dagu Anna. Wajah Anna lunglai ke samping. Terlihat merah panas. Sepasang matanya sulit terbuka.


"Kau haus? Air tidak akan menyelesaikan dahagamu! Liur lah yang bisa menyelesaikan segalanya!"


"Tidak! Lepaskan dia!"


Anna mengerjap bangun. Tebriakan itu menembus masuk ke dalam telinganya. Suara itu tidak asing.


"Ethan," lirih Anna kemudian. Napasnya berat dan dia ingin merobek seluruh pakaian saat ini. Panas dan seperti api sedang melahap seluruh tubuhnya.


"Ethan, panas!"


"Tentu, kami akan membuatmu dingin!"


Ethan menarik napas. Memberontak. Seluruh sisa energi yang dia miliki dia muntahkan segera. Pria yang menginjaknya terpental begitu saja ke belakang. Ethan meraih tongkat dan mengambil beberapa pukulan untuk memukul lawannya. Dia adalah petarung yang profesional, dengan banyak latihan yang telah dia peroleh dari usia kanak-kanak. Baginya menghadap para preman kecil, bukanlah sesuatu yang sangat sulit.


Jatuh. Satu demi satu jatuh lawannnya dengan mudah, dan hanya menyisakan sosok yang masih menonton dengan amarah karena pengikutnya banyak di kalahkan.


Duaaaarrrr! Ledakan di luar mengejutkan.


"Boss, mobil kita di jarah dan di ledakkan di luar!"


"Kau meledakkan mobilku?"


"Sekarang aku akan meledakkan dirimu!"


Pria berkumis tebal merogoh pistol dari belakang pinggangnya.


"Meledak? Ini adalah gudang mesiu. Jika kau bergerak. Kita akan mati bersama."


Ethan menahan napas. Dia berjalan mendekat kepada sang boss yang terlihat mengancam dengan menjadikan Anna tamengnya.


"Jangan bergerak. Atau aku akan menekan pelatuk. Membiarkan peluru ini masuk ke dalam rongga dadamu,dan isi kepala kekasihmu ini."


Ethan menghentikan langkahnya.


"Apa yang kau inginkan? Kau ingin uang? Aku akan memberikannya."


"Boss. Gudang kita telah di kepung orang-orangnya!"


Sang boss berkedip makin tidak senang. Dia meraih tubuh Anna, dan mendekap di dalam dadanya, dan dia meletakan ujung pistolnya pada kepala Anna.


"Jangan lakukan itu. Aku bisa memberikan segalanya."

__ADS_1


"Apa kau berjanji akan melepaskanku?"


Ethan menganggukkan kepala.


"Lihat ini! Ethan melepas kalungnya. Dengan menggunakan kalungku kau bisa bebas ke negara manapun, tanpa harus membayar. Ini adalah tanda pewaris. Mari kita bertukar! Berikan Anna padaku."


"Kau tidak memperdayaiku kan?"


Ethan menggeleng.


"Lemparkan kalung itu."


Ethan melepaskan kalung itu dan di saat kalung itu terbang melayang di udara. Dan pria itu berusaha menangkapnya.


Duar! Sebuah peluru telah mengenai pergelangan tangan pria itu. Melubanginya. Psitol di tangannya jatuh ke tanah. Dia segera bangkit akan rasa terkejutnya.


Bug! Sebuah lutut telah mengenai dagu pria itu. Menghantam keras. Hingga air dan darah keluar bersamaan dari mulutnya.


Bug! Pukulan datang kembali. Ketika setiap tangan besi Ethan meremas rambutnya dan mengenakan ke tanah.


"Kau harus mati!"


"Ethan jangan lakukan itu!"


Suara itu mencegah Ethan.


"Kita masih membutuhkannya. Kita belum mengetahui siapa pelakunya?"


Ethan mundur dari tubuh pria itu. Dia segera mengedarkan matanya. Menemukan sosok yang dia cari. Anna. Anna tampak ringsut berjongkok memeluk lututnya. Suara tembakan berhasil membuat dia ketakutan panjang.


"Anna?" Kau tidak apa?"


Anna mendongakkan kepalanya. Bibirnya tampak pucat. Rona merah tampak menjalar dari ujung telinga hingga kedua belah pipinya.


"Apa yang kau rasakan?"


"Sangat panas." Anna menelan ludahnya. Ada rasa gairah besar yang menantangnya saat dirinya menatap Ethan. Tangannya ringkih menyeka darah yang masih mengalir sepanjang rahang Ethan.


Tangan Anna menyentuh dingin. Bergetar


"Paman, apa kau membawa seorang dokter."


"Tentu saja tidak! Ada apa?"


"Dia telah menyuntik Anna dengan sesuatu."


"Cepat bawa dia pergi? Temui dokter segera. Kau bisa menumpang helikopter bantuan segera."


"Panas!" Anna meringis mencengkram dalam dada Ethan.

__ADS_1


"Bertahanlah sebentar." Ethan menggendong dalam pelukannya.


...꧁❤•༆Anna &Ethan༆•❤꧂...


__ADS_2