
Di Sekolah
Setelah pukul empat sore, pelajaran sekolah telah usai. Anna menutup bukunya.
"Berdiri," instruksi ketua kelas. Seluruh siswa dalam ruangan segera berdiri serentak.
"Memberi hormat," instruksi ketua kelas lagi. Seluruh siswa dalam ruangan membungkukkan hormat dan mengucapkan salam untuk guru. Lalu, setiap orang kembali ke tempat duduk masing-masing, merapikan peralatan tulis. Lalu, satu demi satu mereka keluar dari ruang kelas.
Anna, membiarkan dirinya lebih lama berada dalam kelas. Jik koridor sepi, maka hal itu akan lebih bagus baginya. Walau, seharian berada di sekolah, tidak ada satu rumorpun yang di ledakkan oleh Gita dan teman-temanya. Namun, Anna tetap waspada.
Anna berjalan ke luar kelas, mengintip dari celah pintu. Mendapatkan koridor terlihat sepi melompong. Dia menarik napas lega.
Syukurlah jika semua sudah pulang.
Anna berjalan keluar kelas. Baru saja, dia mencapai berbelok koridor utama, terdengar banyak suara riuh yang mengurungkan niatnya. Dia menghentikan langkahnya, mengintip dengan kepala yang sedikit menjulur melewati dinding persembunyiannya.
Stephan Lu. Terlihat siswa tersebut bagai gula yang manis, sehingga banyak kawan semut yang mengepungnya untuk berada di sisi terdekatnya, bertanya-tanya, bahkan banyak siswi datang pergi memujanya, menarik-nariknya untuk mendapatkan pelukan, dan bahkan ada yang melamarnya.
"Aku minta nomor handphone."
"Mengapa kau pindah ke sini?"
"Apakah kau memiliki kekasih di sekolah miskin ini?"
"Berfoto bersama denganku."
"Jadilah suamiku."
"Tuan muda Lu, aku sangat mencintaimu."
Anna mendongakan sepasang matanya, ketika merasa seseorang memperhatikan dengan tatapan yang kejam. Mengikuti intuisinya, Anna menatap ke arah tiga siswi yang berada di koridor yang berseberangan dengannya.
Gita bersama dua temannya terlihat saling berbisik, dan tertawa lepas kemudian, dengan telunjuk Gita yang mengarah Anna dari jauh. Sangat jelas, pembicaraan Mereka membidik Anna.
Anna segera memalingkan wajahnya. Kembali menyembunyikan dirinya di balik dinding. Akan melangkah pergi, tiba-tiba satu bayang hitam muncul di hadapannya.
"Anna, aku menunggu dari tadi."
Anna mendongakkan kepalanya. Stephan Lu telah berdiri di hadapannya. Lalu, banyak mata yang terlihat mengikuti dari belakang punggung Stephan, menatap dengan sepasang mata iri.
"Kita bisa naik bus bersama," ajak Stephan.
Anna menggaruk kepalanya yang tidak gatal, dan segera menolak, "Aku akan naik Taxi, aku akan ke rumah Ethan. Aku pergi lebih dulu, yah."
Anna meninggalkan Stephan. Stephan mematung tidak bergerak, menatap punggung yang menjauh dan makin menjauh dari pandangan matanya.
Rumah Ethan? Untuk apa kau kesana?, tanya Stephan dalam hatinya, sangat ragu untuk mengungkapnya, apalagi untuk mengikuti Anna, menuju kediaman Ruan. Hal itu tidak mungkin terjadi secara manis, karena hubungan baik Ethan dan Stephan, telah berakhir. Tepatnya sebelum Stephan memutuskan pindah sekolah, di tempat Anna berada.
__ADS_1
Dua Hari Sebelumnya ...
Stephan berdiam lama dalam ruang kelasnya. Dia melakukannya dengan sengaja. Setelah ruangan sepi, kosong melompong. Barulah, dia merapikan peralatan tulisnya.
Kret! Pintu terbuka lebar. Dua sosok pria yang terlihat selalu melangkahkan kakinya bersamanya sedari masa kanak-kanak. Terlihat, berwajah gelap ketika berjalan mendekati mejanya. Michael dan Ethan.
"Aku dengar kau ingin pindah sekolah, apakah itu benar?" tanya Michael terlihat tidak yakin dengan rumor di luar sekolah.
"Iya. Itu benar."
"Kau gila! Jika kau tidak suka sekolah ini, seharusnya kau mengajak kami pergi bersamamu. Bukankah kita selalu bersama."
Stephan mengalungkan tasnya. Sepasang matanya terlihat menyoroti Ethan yang terlihat menghindar menatap dirinya.
"Hal itu tidak akan terjadi lagi."
Stephan melangkah, dia berjalan melewati dua temannya setelah mengucapkan satu kalimat yang terdengar ironis.
"Bisakah kau mengatakan alasannya?" tanya Ethan tiba-tiba, dan menghentikan langkah Stephan, tepat berdiri di hadapan Ethan.
"Bukankah sudah jelas. Aku di keluarkan. Bukan pindah. Aku memukul seorang anak direktur, yang kekayaan di atas ayahku. Oleh itu, aku tidak pantas di sini."
"Kau sengaja melakukannya, kan! Kau sengaja ingin di keluarkan. Tetapi Direktur itu, tidak sebanding dengan Ruan. Jika kau ingin tetap di sini, maka Ruan akan menolongmu." Michael geram menatap punggung Stephan.
Stephan terbahak dan meludah dalam hatinya, Yang akan aku lakukan adalah menghajar Ethan Ruan. Bagaimana bisa aku menjadi seseorang yang menerima uluran tangannya lagi?
"Tidak perlu. Lagipula, aku sudah mendapat sekolah baru."
Stephan terdiam sesaat. Menatap gelang persahabatan yang masih di kenakan Ethan. Lalu, matanya jatuh menatap pergelangan tangannya, yang terlihat kosong.
Tidak lagi. Aku bukan teman baik kalian lagi, jawab Stephan dalam hatinya.
"Stephan, jawab pertanyaan!" seru Ethan sekali lagi, terdengar dingin bertanya.
"Aku sudah menjawabnya."
"Aku tidak menemukan alasan yang tepat."
"..." Stephan menyipitkan matanya.
Lalu, sepasang mata Ethan terlihat lurus dengan sorot yang terlihat tajam.
"Mengapa kau pindah ke sekolah Anna? Mengapa harus di sana?"
Stephan terlihat berhenti bernapas untuk sedetik. Lalu, menarik udara di sekitarnya dengan cepat, dan mendenguskan kalimat dengan penuh banyak tekanan pada setiap kata.
"Karena, aku menyukai Anna."
__ADS_1
Ethan terkejut akan jawaban tegas pria itu, tanpa satu keraguan dalam setiap katanya.
Bug!
Satu tinju Ethan langsung menabrak sudut bibir yang berani berkata menyukai wanita miliknya.
"Kau tahu dia milikku."
Stephan menghapus jejak darah di sudut bibirnya. Dia sengaja memang menerima pukulan tersebut. Lalu, tersenyum puas telah mendapatkan pukulan itu.
Michael menelan ludahnya, menatap dua teman baiknya itu bergantian.
"Jangan bertengkar, hanya karena seorang wanita yang belum pasti di takdirkan untuk kalian," celetuk Michael, berusaha memadamkan api suasana.
"Dia adalah takdirku, aku akan memperjuangkannya ...," sahut Ethan.
Stephan terbahak, "Cinta itu bukan isi mulut yang kau lontarkan dengan mudah. Aku akan menunggu di samping, tidak akan pernah di depan seperti dirimu. Lihatlah dirimu, kau menyebut Anna takdirmu, apakah keluargamu menyetujuinya?"
"Kau!"
"Sebelum menyebut seseorang takdir, kalahkan dulu keluargamu. Apa kau mampu?"
"...."
"Selama kau belum mampu, aku akan selalu mencuri lebih dulu. Karena keluargaku, tidak memiliki aturan ketat seperti Ruan!"
"Lebih baik kau pergi! Sebelum aku kehilangan kesabaran ku lagi," reda Ethan pada dirinya sendiri, dengan tatapan menunduk menatap gelang yang melingkar ketat pada pergelangan tangannya.
"Hmm ...," gumam Stephan, dan berkata suara rendah kembali, sambil ujung telunjuknya menyapu luka pada sudut bibirnya.
"Aku anggap, yang ini hanyalah yang muka atas apa yang akan ku rebut kelak. Ethan Ruan,jangan segan-segan memukulku lagi. Karena, aku bukan teman. Tetapi, aku adalah musuhmu."
Ethan menarik kerah Stephan dan mendenguskan amarahnya,"Aku tidak akan pernah mencekik lawan dengan longgar."
"Lakukan. Aku menunggu dirimu mencekikku dengan ketat. Jika kau mampu. Karena, aku masih memiliki jantung yang kuat. Tidak akan mudah terbaring mati, hanya karena menyinggung Tuan muda Ruan."
"...."
......................
Bersambung ...
Jangan lupa like,coment, dan vote bagi yang berkenan. Terima kasih banyak telah setia membaca. Semoga bagian ini menghibur kalian semua.
Oleskan Citra yah 👍
Jangan lupa rate 🌟5 bagi yang baru mampir yah :)
__ADS_1
www.Koerebutkamudaridia.com
(Jangan lupa kunjungi website kita yah!)