Kekasih Tuan Muda Ruan

Kekasih Tuan Muda Ruan
Aku Turut Menyesal


__ADS_3

Ethan melepas helm. Membuang napasnya membentuk kepulan asap di udara. Malam ini begitu dingin. Setelah sepatunya menginjak jalan beraspal. Dia berdiri tegak sesaat. Sekedar menatap bulan dan mengutuk langit.


"Apa yang dikirimkan langit untukku? Kematian seseorang hanya karena aku mencintai Anna. Jika pertunangan itu berjalan, apakah paman akan tetap hidup?"


Sekejap ada embun terbit dalam mata Ethan. Rasa sangat menyesakkan dadanya.


Apakah ini peringatan agar aku berhenti mencintai Anna?


Hati Ethan nyilu seketika. Embun di matanya jatuh perlahan. Senyumnya getir dengan isak naik turun menyergap dadanya.


Bisakah aku menjadi pengecut?


Ethan menyeka air matanya. Langkah gontai dia paksakan berjalan hingga ke gerbang rumah duka.  Wajah yang tidak asing terlihat tersenyum cerah padanya menyambutnya di sisi pintu. Namun, sosok itu hanya terekam dalam gambar yang terpampang pada karangan bunga duka cita. Tidak akan pernah menemui wujud kehidupannya lagi.


Ethan baru saja menguatkan dirinya,dan bersiap  melewati garis pintu. Seorang gadis muda yang merupakan bekas calon tunangannya  lebih dulu menghadangnya di depan garis pintu. Gadis itu mengenakan pakaian berkabung. Rambutnya mekar berantakan Garis-garis air mata terlihat jelas membekas.


"Emily!"


"Bicaralah di halaman belakang."Gadis itu hanya melemparkan ajakan dan mendahului Ethan menuju halaman belakang.


Ethan berjalan mengikuti seraya menatap punggung dingin gadis itu. Gadis itu berjalan tertatih-tatih.  Terlihat sekali-kali gerakan tangan gadis itu menyeka air mata.


Di bawah lampu taman. Gadis itu berhenti, berpijak di atas rumput. Di saat itu, Ethan menyadari Emily berjalan tidak mengenakan alas kaki.


"Kau akan sakit jika berjalan dengan tanpa alas kaki pada malam hari," tegur Ethan memecahkan keheningan.


Emily tidak menjawab. Yang dia keluarkan hanyalah suara isak di dadanya. Setelah cukup tenang, dia berbalik. Berhadapan dengan pria muda,yang sangat dia cintai.


"Setiap katamu seperti kata-kata ayahku di masa dia hidup. Aku sengaja berjalan ke sana kemari tidak mengenakan alas kaki. Aku harap dia akan terbangun dari tidur panjangnya, untuk menegurku."


Kalimat Emily lantang dan jelas. Setelah selsai kalimat itu, barulah dia menangis lebih keras lagi.


Ethan mendidih seketika. Hatinya membara seakan mengutuk dirinya sendiri.


"Aku turut menyesal," jawab Ethan.


Emily tersenyum getir, dan meraih pergelangan tangan Ethan. Tangan Emily terasa begitu dingin menyentuh kulit tangan Ethan.


"Apakah kau ingin mendengar ceritaku?"


"...." Ethan memejamkan matanya sejenak. Seakan dia ingin mendengar bagian dosanya dari kematian yang terjadi hari ini.


"Ayahku ... ja-tuh pingsan se-te-lah mengetahui a-aku membatalkan pertunanganku. A-ku berkata padanya, aku sedang hamil anak orang lain."


Dup!Jantung Ethan seakan di ledakkan seketika.


"Ayah-ku ter-ke-jut! Dia me-nam-par wajahku. Li-hat war-na me-rah pa-da wajahku hilang tanpa jejak. Namun, tamparan itu akan mem-be-kas selamanya di hatiku."


"...." Ethan ikut mendung akan hujan yang muntah di hadapannya.

__ADS_1


"Aku turut menyesal," lanjut Ethan mendung.


"Apakah kau ingin mendengar ceritaku lagi?"


"...." Ethan hanya membisu.


"Ayah di lari-kan di ru-mah sa-kit. Na-mun, i-bu-ku me-la-rangku untuk melihatnya se-dikitpun. I-bu-ku ber-kata pa-da-ku, jika terjadi sesuatu pada ayahku. Maka dia akan membenciku seumur hidup. Dia ti-dak ingin me--li-hat wa-jah-ku lagi."


"...." Ethan menarik napasnya dalam. Dadanya ikut sesak. Malam ini, Emily terlihat begitu malang.


Emily mendongakkan wajahnya mencari tuan Langit yang dia cintai, jatuh kasihan pada ceritanya.


"Ayahku pergi. Ibuku membuangku. Apakah kau akan pergi pula?"


Deg! Ethan linglung. Pertanyaan itu menampar nalurinya. Haruskah dia jatuh kasihan.


"Keluargaku hancur hanya karena satu permintaanmu."


Ethan yang mendung tak tertahan. Tanpa sengaja dia menjatuhkan air matanya. Dia segera menyeka air matanya.


"Kau me-minta-ku mem-ba-talkannya dan mereka ter-ke-jut!"


"A-ku tu-rut menyesal," sesal Ethan dalam.


Emily memeluk Ethan erat.


"Apakah kau ingin mendengar ceritaku lagi?"


"Di saat itu a-aku menghadiri sebuah pesta ulang-tahun se-pu-pu-ku. A-ku mabuk. Jatuh pada pria asing. A-ku ti-dak mengenalinya. Dan di sa-at itu aku di ke-jut-kan dengan ke-ha-mil-an i-ini."


Hening yang panjang. Suara semilir angin terdengar menyapa. Membuat setiap tekuk di bawah lampu taman itu bergindik takut. Eratan tangan Emily makin mengencang,dan perlahan air matanya yang jatuh merembes ke dalam kemeja Ethan. Sentuhan basah itu menyetuh kulit dada pria muda itu.


"Apakah k-au ti-dak a-kan pergi?"


Emily mendongakkan kepalanya menunggu kepala pria itu jatuh menatapnya.


"A-aku hanya meminta, a-gar ayah-ku senang di sur-ga. I-bu-ku kembali men-cin-tai-ku. A-aku hanya meminta."


Ethan linglung seketika. Seakan segala kesadarannya telah di regut akan peristiwa hari ini.


"A-aku hanya ingin kau ber-tang-gung ja-wab pa-da-ku!"


Ethan menghela napasnya panjang.


"Kau bersedia kan, Ethan?"


"...."


"Ayahku di surga begitu menyukaimu."

__ADS_1


"...."


"Ibuku akan memaafkanku."


"...."


Ethan kaku akan waktu yang begitu lama.Dia kosong seketika. Bahkan suara tangis Emily tidak terdengar lagi.


"Ethan,sudikah kau menolongku?"


Pertanyaan Emily masuk menghantam gendang telinganya. Ethan berharap menjadi tuli seketika. Tidak ingin menyetujui permintaan itu.


"Ethan, ayahku di sorga menyukaimu. Ibuku pun mengharapkanmu."


"...."


Ethan mengulurkan tangannya ke belakang punggungnya,dan melepas perlahan erat tangan Emily dari dirinya.


"Ethan!" rengek Emily.


"Aku akan memikirkannya."


"Kau menghancurkannya kau harus bertanggung jawab."


Bug! Bug! Bug!


Emily terus memukul dada Ethan. Berkali-kali dia terus memukul,dan tidak ingin berhenti. Lalu, tangannya lelah dan berhenti memukul. Pandangannya menjadi kabur, berangsur-angsur menjadi gelap. Tubuhnya ringan dan jatuh ke belakang.


"Emily!"


Ethan merangkul tubuh Emily lebih dulu sebelum jatuh mendarat pada tanah berumput itu.


Ethan segera membopong tubuh Emily kembali ke rumah duka, dan membaringkan tubuh ramping gadis itu pada kamar peristirahatan yang di sediakan khusus untuk keluarga yang sedang berduka.


Ethan duduk di sisi pembaringan. Tangan Emily bahkan terus menggenggam erat lengan pria itu. Gadis itu jelas tidur. Namun, tangannya tidak ingin melepaskan lengan Ethan. Tangan gadis itu terus mencengkram kuat. Seakan Ethan lah benda berharga miliknya.


Ethan linglung. Pikirannya bagaikan ombak laut yang terus berkecamuk dan mengamuk-ngamuk. Dia pergi menatap bulan. Pandangannya jatuh menunduk kemudian, dia teringat Anna. Namun, tangan Emily yang malang, membuat dirinya jatuh akan rasa bersalah yang dalam.


"Apa yang harus aku lakukan Anna? Haruskah aku bertanggung jawab untuk Emily, dan melepas dirimu!"


Ethan memejamkan matanya. Kesedihan tidak larut. Bagai ombak yang terus berkejaran dan mengamuk.


"Aku tidak bisa meninggalkanmu. Apakah cinta tidak harus memiliki, jika aku harus pergi menjaga Emily?"


Ethan mendung. Awan hitam menghias tebal pada kedua matanya. Isaknya terdengar dan tidak lama air matanya jatuh menetes ke tangan Emily.


Ethan menatap bulan kembali. Nyilu sekali hatinya. Cinta itu membuat dirinya sengsara.


Mengapa begitu sulit? Hanya jatuh cinta dan bersama. Andai begini, bisakah Tuhan hanya menciptakan kita berdua. Hanya Ethan. Hanya Anna. Tidak ada Joe Han yang mencintai Anna. Tidak ada Emily yang mencintai Ethan.

__ADS_1


...꧁❤•༆Anna & Ethan༆•❤꧂...


Jangan Lupa mampir ke cerita author: Pelet Janda Penggoda dan Hantu Istriku balas dendam.


__ADS_2