
Ethan menatap layar ponselnya, dia membuka kotak masuk dan mengirim pesan untuk nama yang tercetak di layar Wo Ai Anna. Hari ini adalah Senin, hari pertama Anna mengikuti ujian kelulusan.
Semangat mengikuti Ujian. Jika sudah lulus. Aku akan mengajakmu menikah.
Menunggu sebentar. Tidak ada balasan. Layar ponsel kembali menghitam. Ethan pun kembali pada meja makan. Pandangan sosok gadis di seberang terlihat muram. Ada cemburu yang tersampaikan pada Ethan. Namun, Ethan hanya mampu bersikap acuh dan tidak acuh. Emily adalah mantan tunangannya, sedangkan Anna ibarat adalah calon isterinya di masa depan. Walau belum jelas. Suatu saat dia akan memperjelas status itu.
Ethan menghela napas. Keheningan meja makan begitu terasa. Tidak ada satupun yang memulai mengangkat sendok garpu di hadapannya.
Meja makan itu terlihat besar dan kosong melompong sekali. Hanya ada Emily berhadapan dengan Ethan. Namun, aneka makanan tersaji begitu banyak. Emily begitu berusaha membangunkan koki dan meminta segala hal. Setiap makanan terlihat menguap hangat karena baru datang dari di dapur.
"Makanlah." Akhirnya Ethan membuka mulut.
Emily masih tampak pucat. Entah mengapa tangannya masih terlihat bergetar kala mengangkat sendok dan garpu. Dia terlihat akan berkata sesuatu, Di hadapanku kau masih memikirkan Anna. Kau menyebalkan sekali, Ethan Ruan.
"Ada apa denganmu? Kau masih sakit?"
Emily meletakkan sendok dan garpu kembali ke sisi piring miliknya.
"Bantu aku untuk makan,Ethan."
Makan di suap lagi. Gadis ini ingin mamfaatkan aku lagi. Lebih dari sepekan, Ethan mengeluh dalam hatinya. Ini bukanlah dirinya.
Ethan membuka kelopak matanya tinggi, dia mengunyah dulu makanannya. Dia terlihat tidak perduli dengan permintaan Emily pagi ini dan dia hanya membiarkan Emily menonton sampau selesai dia menghabiskan sarapan.
Emily tersenyum tipis. Seakan ada pelangi di dalam matanya. Dia sangat menyukai detail Ethan makan berhadapan dengannya.
Aku berharap kita akan selalu berada di satu meja yang sama. Makan bersama. Tidur bersama. Bangun bersama. Tidak akan susah untuk itu Ethan. Hanya perlu kau yang menetap di sini.
"Aku sudah selesai makan."
"Oh. Aku belum makan. Bantu aku."
Jangan bermanja! ketus Ethan dalam hatinya tanpa mampu dia lontarkan.
Ethan menyeka sekitar mulutnya dengan tisue. Dia mengangkat pandangannya pada Emily, dan dia melihat Emily masih duduk hanya menatap dirinya.
"Menatapku tidak akan membuatmu kenyang, Emily."
"Tetapi, aku menyukainya. Kau sangat berarti di antara meja besar ini."—Emily menunjuk satu kursi di ujung— "Dulu di sana ada ayah yang duduk makan"— Emily menunjuk kursi di seberang lainnya— "Dan di situ ibu yang duduk untuk makan."
__ADS_1
Emily tertunduk. Wajahnya merah. Menangis kemudian. Terisak dan dia berseru terbata, "Se-ka-rang ayahku di sur-ga. I-bu-ku mengurung di-ri di-ka-mar."
Ethan membelotkan lidah dalam mulutnya. Dia seakan di penjara oleh situasi.
"Kau mulai lagi?" Ethan risih akan setiap mulut kenangan yang di lontarkan Emily. Gadis di depannya terlihat pandai merobek jantung Ethan dengan kematian ayahnya, Tuan Eduard.
Emily mengangkat pupilnya.
"Itu kenyataan! Kau menghancurkan segalanya!"
Deg! Jantung Ethan berdegup. Ada rasa bersalah. Namun, juga sangat marah.
"Kau harus bersamaku. Hanya dirimulah tersisa untukku."
"Emily."
"Ya, sayang!"
Panggilan sayang. Ethan, menarik napas. Sepasang bola mata Emily kembali cerah dengan pipi merah tomat, dia terlihat sedikit malu untuk memulai bersikap mesra lebih awal.
Ethan menatap langit sejenak, menatap potret keluarga Emily yang tergantung besar. Lalu, pandangan itu berlabuh terakhir pada sosok Emily yang menatapnya dengan banyak cerita yang pulu. Gadis di depannya sangat agresif dan posesif untuk menjadikan Ethan sebagai tawanan seumur hidup.
"Aku tahu kau bukan Tuhan. Kau juga bukan ahli nujum. Kau tidak akan bisa menghidupkan ayahku lagi. Oleh itu, kau harus di sisiku."
"...." Ethan terlihat kehabisan kata-kata kembali. Kematian Tuan Eduard menjadi senjata yang terus di tembakkan pada Ethan.
"Tetapi, aku tidak bisa di sisimu juga."
"Ha ... ha ... ha!" Emily terbahak. Namun, sudut matanya menerbitkan air yang jatuh menyusuri pipi hangat miliknya.
Ethan menunggu Emily berhenti terbahak. Tiga detik kemudian. Gadis berwajah pucat itu berhenti tertawa. Lalu, menatap garang padanya.
"Kau berani tidak bayar utang padaku?"
Utang!
Ethan mengepalkan tinju segera. Dia berdiri, dan menatap Emily.
"Jika kau menyebut diriku adalah penyebab Kematian. Pergilah ke kantor polisi. Penjarakan aku. Bukan memenjarakan jantungku. Itu tidak akan berhasil."
__ADS_1
Emily membola bingung. Dia terkejut. Mematung lama. Kala, dia terbangun pria yang dia sukai itu telah melewati garis pintu. Emily segera bangkit dari tempat duduknya, memeluk raga yang melewati garis pintu.
"Jangan pergi. Aku minta maaf. Aku tidak akan membuatmu marah lagi."
Ethan menarik napas panjang.
"Jika setiap apa yang terjadi dalam rumahmu. Penjarakan aku di balik jeruji besi dingin itu. Bukan meletakkan di sini. Bagaimanapun aku mencoba untuk menemanimu, aku tetap merindukan Anna."
Emily memejamkan matanya. Kalimat terakhir Ethan membuat jantungnya di iris silet. Tidak terlihat berdarah. Namun, sangat sakit.
"Mengapa harus Anna? Bukankah kau mengenalku lebih dulu? Aku mengetahui segala hal tentang dirimu, yang tidak di ketahui Anna. Aku bahkan bisa mengingat segala detail tentang dirimu, aku menghafalnya. Aku adalah orang yang lebih dulu mengenal dirimu, Ethan."
"Dia datang setelahmu. Namun, dia begitu membekas. Jejak itu selalu ada dan tidak bisa terhapus. Bagaimana aku bisa melupakannya? Akupun tidak tahu caranya."
Emily mengeluh dengan napasnya. Dadanya sesak akan jawaban itu. Perlahan tangan kecil miliknya longgar melepas. Melepaskan Ethan pergi dan hilang kemudian.
Duduk tersungkur di teras. Emily hanya duduk melamun dengan tatapan kosong. Hidupnya kosong. Bagai karma yang datang tanpa dia tidak tahu apa yang telah dia perbuat. Dia terkekeh, seakan mulai menyalahkan nasib kehidupan sebelumnya.
Apakah di kehidupan sebelumnya, aku terlalu jahat? Hinga di kehidupan ini aku mendapatkan karmanya.
Emily meringis dan menangis dengan membenamkan kepalanya di atas lutut. Kala, dia merasa ada bayang hitam yang membelakangi matahari. Secercah harapan seakan kembali padanya.
"Ethan, kau kem—"
Kalimat itu tidak di selesaikan Emily. Bukan Ethan yang kembali. Namun, beberapa pria berseragam datang, dan tersenyum menyapanya.
"Maaf, rumah milik kalian di sita."
Kejutan!
"Ha ... Ha ... Ha!" Emily tertawa kemudian. Rumah besar peninggalan ayahnya di sita. Setelah kematian ayahnya, satu demi satu utang di atas kertas itu datang dan menyurat ibunya. Ibunya hanya berdiam di kamar. Mematikan setiap panggilan yang datang, dan menolak setiap orang yang datang.
"Dalam 2x24 jam. Kalian harus meninggalkan rumah."
"Lalu, kami tinggal di mana?"
"...." Sang petugas yang berhadapan dengan Emili hanya mengangkat bahunya. Sedangkan, petugas lain mulai menempel stiker penyitaan di depan pintu, perabot, dan mulai memberitahukan pada setiap pelayan di dalam rumah untuk meninggalkan rumah.
...꧁❤•༆Anna & Ethan༆•❤꧂...
__ADS_1