
Setiap orang yang mendengar melotot tajam dan ada seorang pria berdiri membela isterinya yang terlihat meringis menangis, "Tutup mulutmu. Jika kau tidak bisa mendidik anakmu. Janganlah kau mengutuk anak orang lain yang bahkan belum kita lihat masa depannya."
Nana berdiri pula, "Aku tidak akan berkata kasar. Jika pandangan kalian tidak memberi kejijikan lebih dulu. Berpikirlah lebih rasional, apalagi kau lahir sebagai seorang pria dengan punggung yang harus memikul nasib anakmu beserta isterimu."
Pria itu terlihat berwajah merah seketika. Namun, suara seorang perawat menghentikan pertingkaian tersebut segera.
"Nona Anna boleh masuk ke ruangan lebih dulu," saran Perawat dengan segera mempersilahkan Anna dan Nana berdiri, berjalan mengikutinya.
"Mengapa dia lebih dulu masuk? Bukankah dia datang terakhir?" protes seorang ibu dengan perut bulat menghadang langkah Anna dan Nana.
Perawat menghela napas dan menjawab dengan intonasi tidak nyaman, "Nyonya ini berteman akrab dengan sang dokter."
Setiap mata yang melihat dan telinga yang mendengar tampak terkejut, dan menilai penampilan Anna dan Nana, dan bertanya-tanya dalam hati, Mereka terlihat seperti gelandangan. Tetapi, dokter terkenalpun berteman dekat dengannya.
Nana masuk menyeret Anna masuk dengan teegesa-gesa dan Blam! pintu terdengar merapat, pria berkacama tebal itu mendongakkan kepalanya menatap ke arah dua wanita beda usia tersebut, dan sorot matanya jatuh prihatin akan penampilan mereka.
"Nana Su. Lama tidak bertemu." Pria itu melepas kacamatanya, dan tersenyum lebar seakan dia baru bertemu dengan seorang teman lamanya.
"Adrick Lu. Aku tidak akan menemuimu, jika aku tidak membutuhkan bantuanmu."
Adrick menatap pada Anna, dan pandangannya jatuh pada perut Anna, "Kau datang membawa masalah anak muda rupanya?" Adrick terkekeh seakan mengingat masa lalu hitam yang selalu menjadi cermin setiap orang melihat Nana.
"Jangan berpikir picik!" Nana duduk di kursinya dengan menyembunyikan tangan mengepal di bawah meja. Ingin rasanya aku menampar pria ini. Anna, pria ini adalah paman kandungmu.
"Apakah adik lelakiku tahu hal ini?" Adrick bertanya. Namun, sepasang matanya terus tertuju lekat pada sosok Anna, " Aku merasa kau terlihat mirip dengan saudara kembarmu. Kau versi perempuannya Keluarga Lu."
__ADS_1
Brak! Nana memukul meja. Dia terlihat kesal akan hubungan keluarga yang di buka ke udara.
"Aku membutuhkan bantuanmu. Bukan untuk membuka masa lalu."
Adrick tersenyum menatap Anna, "Hai ... Aku adalan pamanmu. Sejauh dan sehebat apapun ibumu bersembunyi membawamu. Akhirnya, hubungan darah lah yang membawa kembali kepada kami."
"Tutup mulutmu!" Nana meringis akan meledak mendengar setiap kata perkenalan Adrick yang mengejutkan Anna. Anna berdiri linglung, dan seluruh raganya ingin bergetar terharu.
Bertemu dengan paman saja membuat aku menangis. Bagaimana dengan ayah? Aku memiliki saudara kembar? Apakah kami terlihat sama.
"Anna Su. Seharusnya Anna Lu. Kau tidak akan berkeliaran seperti gadis yang kehilangan mahkotanya di kepalanya. Seandainya ibumu tidak pergi menyembunyikanmu waktu itu," tutur Adrick menunjukkan bola mata kasihan dan prihatinnya pada Anna yang terlihat menjatuhkan embun pada malam hari yang membuat dirinya ikut pedih.
"Aku tidak membuatnya menderita."
Anna memejamkan matanya sesaat, merasakan hangatnya pelukan seorang pria tehormat untuk pertama kali. Namun, kala sepasang mata Anna menangkap punggung Nana yang meringkuk sedih, dia segera perlahan keluar dari pelukan tehormat tersebut.
"Seharusnya Tuan jijik menyentuh barang kotor. Lagipula Ibuku, tidak mendidik ku menjadi murah. Dia membawaku hanya karena tidak mempercayaiku. Masa depan yang indah dan bertahtapun tidak akan ku pilih. Aku lebih menyukai kemiskinan yang kumiliki, asalkan aku memiliki ibuku."
Adrick tersenyum, dan menyematkan rambut Anna kembali ke belakang telinganya. Sepasang tangannya yang besar bertengger di bahu Anna, dengan erat. Sepasang mata coklatnya terlihat menunjukan kerinduannya yang datang, "Keluarga Lu akan terbuka setiap saat untukmu. Namun, tidak ada tempat untuk isteri bemarga Su. Karena bibi lain telah mengisinya."
Anna mundur, mengindahkan tangan besar yang bertengger di bahunya. Dia merapat berdiri di sisi Nana, "Jika kalian membuang ibuku. Maka setiap anaknya itu telah ikut terbuang bersamanya. Bagaimana. kalian bisa memisahkan kehidupan seorang anak yang kehidupan pertamanya berasal dari perutnya."
Adrick tersenyum lagi dan lagi. Dia merasa konyol telah mendapatkan jawaban yang luar biasa dari seorang gadis belasan tahun, yang menolak sesuatu yang mewah di depan matanya. Dia menatap Nana sebentar, dan memberi kekaguman di dalam hatinya, Aku harus mengakuimu dalam hatiku saja. Kau pantas menjadi ibu yang luar biasa dalam kemiskinan, kau tetap memberikan karakter kuat agar dia menjadi sosok yang tidak tamak. Tetapi, bukankah tamak dan egois itu perlu untuk berada di atas orang lain. Itulah kebodohan yang kau miliki dari awal, Nana Su. Kau terlalu pamrih dan iklash akan apa yang terjadi padamu. Seandainya ketekunan kalian di imbangi dengan ketamakan. Maka tidak akan ada yang menginjak kepala kalian.
Nana berdiri mendorong kursinya, memberi celah kakinya berjalan mengitari kursi dan berdiri membelakangi Anna, dan tangannya meraih tangan Anna, menggengam tangan puterinya dengan ketat, dan tanpa berpaling dia mengomentari Adrich, "Kau sudah mendengar. Jika benih ini berada di perut adik laki-lakimu dari awal. Bukan aku yang mengandungnya. Mungkin aku tidak membawa apapun bersamaku kala aku meninggalkan keluarga Lu ...Lu yang hanya bisa meludahi kehidupan seseorang."
__ADS_1
"Meludahi kehidupan seseorang?" Sepasang alis Aldrich terlihat tegang, dia menghela napas jengah,dan berkomentar, "Kakek Tua Lu sudah tiada. Aku harap kebencianmu ikut memudar."
"Kebencian setinggi gunung. Dengan apakah kau merobohkannya?"
Adrich menelan ludahnya, dia menatap Anna sesaat. Ada rasa kasihan dan kasih sayang akan gadis itu tersurat karena hubungan darah yang sama. "Bagaimanapun kau mengelak hubungan Anna dengan ayahnya. Tetap saja, Anna adalah keponakan yang akan aku jaga."
"Sekarang tidak di butuhkan." Nana bergetar bersiap menyeret tangan Anna pergi bersamanya meninggalkan pria berkacamata yang mulai menebak-nebak kehadiran Anna dengan sesuatu dalam perut Anna.
Tidak tahu masalah apa tentang anak muda. Yang pastinya aku akan memenuhi permintaan mereka.
"Apa yang kalian inginkan? Apakah aborsi ? Aku akan menyanggupinya!"
Nana menahan diri dan menelan isaknya. Satu kata tebakan yang meluncur dari mulut Aldrich, bagai pisau yang menyayat hatinya.
Aborsi? Tidak cukup. Keluarga Lu harus menampar Keluarga Ruan untuk Anna.
Anna menggelengkan kepala, dan pergi menatap pria paruh baya itu, "Aku tidak hamil, Tuan."
Aldrich menyipitkan matanya, dan menatap perut Anna yang masih terlihat rata. Tidak hamil? Lalu, mengapa Nana terlihat terbakar hatinya.
"Jika kau yang tidak hamil. Apakah ibumu yang hamil?"
......................
Bersambung ....
__ADS_1