Kekasih Tuan Muda Ruan

Kekasih Tuan Muda Ruan
Kening Ethan berdarah


__ADS_3

Merasa namanya disebutkan, dalam satu kedipan, garis bibir Anna naik mencibir,  teringat akan Ethan, dan matanya mengedar sebentar, seakan dia berdecak kagum untuk kemewahan hotel megah dan wah ini, rupanya hotel ini salah satu aset keluarga Ruan, dan mengejek dirinya terjebak dalam kekuasan Tuan muda Ruan.


Pria-pria besar di depannya, terlihat tampil mengepung gadis kecil,  selanjutnya mengubah sorot Anna, menjadi lebih waspada dan dia menoleh ke belakang sebentar dengan mata terlihat sangat tidak senang, pria itu tunduk, tanpa sadar melepaskan tangannya dari Anna, setelah tangan itu terlepas, Anna telah ancang-ancang untuk melarikan diri, "aku bukan Anna."


Bohong...


Tentu saja semua pria berbadan besar itu tidak percaya isi mulut Anna, tetapi mereka masih memiliki sikap  sangat manis, dan sang kepala terlihat membujuk, "Tn.Ethan meminta nona kem--"


Tidak menunggu selesai kalimat itu, Anna sudah membawa sepasang kakinya melarikan diri, mencoba sejauh mungkin memberikan jarak, tetapi tetap saja pria-pria besar itu memiliki otot kaki yang lebih cepat berlari. Untung saja dia telah mencapai lobby yang mendekat pintu keluar,  walau security lain datang dan pergi menghalang pintu keluar, sedikitpun dia tidak diberi jalan keluar.


Pergi ke kanan, maka semua pria-pria berbadan besar itu akan pergi ke kanan juga, ke kekiri, kembali seperti itu. Anna tertawa dalam hatinya, mengejek hidup Ethan yang berlakon gila mengepung kehidupan kecilnya. Apa dia telah kekurangan gadis yang menarik minatnya?


Praaanng!


Satu guci besar dijatuhkan. Hal ini mengubah semua mimik, berubah sangat tegang, dan terlihat jelas memohon, seakan berbicara-- tolong, jangan lakukan itu.


Tidak bisa  mengecoh pria-pria besar itu, dia hanya bisa mengamuk, dan menjadi sangat nakal, dan melemparkan benda-benda porselen yang terlihat sangat beharga, tidak ada rasa segannya, Anna mulai menjatuhkan satu demi satu, dan mengancam menghancurkan porselen lain.


Ketika satu tangannya, memegang satu yang terlihat sangat beharga. Segenap mata pria-pria besar itu membesar, dan terlihat memohon, "jangan hancurkan nona, itu sangat antik. Tolong jangan," pria setelan double breasted, memasang wajah sangat cemas.

__ADS_1


Anna melirik pada Guci kecil yang dia pegang, hanya sebesar vas bunga meja. Merasa benda pusaka yang di pegang, Anna merasa telah memeluk langit, segera memeluknya dengan erat, "jika kalian mendekat, akan kuhancurkan, beri aku jalan."


Pria-pria bertubuh besar berdiri saling melempar pandang. Memberi jalan. Karena Guci kecil, guci beharga kesayanganTuan tua keluarga Ruan, dan juga merupakan simbolisme pendirian hotel, yang memang diletakan di almari tengah lobby. Tamu lain bahkan tidak pernah mengira betapa beharganya guci kecil dan terlihat usang, dan  yang paling di abaikan, namun ternyata memiliki nilai yang sangat dihormati. Siapa sangka gadis kecil yang di jaga ketat Tuan muda Ruan ini, malah berniat menghancurkannya.


Terperanjat takut. Semua bergerak mundur, memberi jalan. Anna merasa telah di selamatkan langit, memegang erat Guci, mencapai garis pintu, suara yang sangat familier  terdengar di belakang punggungnya, "jika kau ingin pecahkan, pecahkan saja."


Anna meneguk ludah. Suara Ethan yang tiba-tiba datang, membuat kaki Anna seperti agar-agar. Sejak kapan pria bertangan emas ini, telah sedekat ini ?


Anna berbalik, dan tepat berdiri di hadapan Tuan muda Ruan, yang tidak memberi jalan. Satu tangan Ethan mengangkat dagu Anna, tatapan marah dia tujukkan, bibir dinginnya berdesis, "aku tidak akan pernah melepaskanmu, pilihanmu hanya ada dua, kembali dengan sikap baik, atau kembali dengan aku yang memaksamu."


Anna tercekat akan kalimat itu. Setan terlahir kaya ini, memang dibesarkan untuk menjadi pria berempedu hitam, tidak ada kebebasan untuk berdiri di sampingnya. Hanya tuntutan, jika dia bosan, dia akan membuang. Untuk pertama kalinya nasihat Nana, terdengar sangat tepat di benak Anna.


Dalam satu adegan, hanya tatapan yang saling melempar satu sama lain. Anna terlihat berkaca-kaca, minta kebebasan. Ethan terlihat mengebu-ngebu, mengikat kebebasan.


manajer hotel berdiri di sisi dengan sangat was-was, dan terus mulai berkeringat dingin, bagaimanapun guci itu beharga. Tuan muda Ruan memang tidak takut, tetapi dirinya, telah dipojokan ingin mati, memohon dan memohon , "jangan pecahkan guci yang tidak bersalah."


Jeda sebentar. Namun tidak satupun terlihat mendengarkannya, seakan mereka telah kehilangan lidah, dan telah tuli, hanya mata yang saling berkomunikasi, melihat ini, pria paruh baya itu berusaha mencairkan hati, "pasangan muda-mudi jangan bertengkar, bicaralah kembali di kamar, ranjang begitu besar, lebih baik tidur melewati malam."


Ethan tersenyum, seakan esnya sedikit mencair, dan menyahut, "sangat setuju."

__ADS_1


Anna terbakar, mual dan ingin muntah, seperti telah ditiup lagi, siapa yang ingin kembali satu kamar lagi dengan setan yang bisa merampok tubuhnya, "Tuan muda Ruan jangan berlakon ingin menyentuh sembarangan, kau masih sekolah, seharusnya lebih banyak belajar, jangan berlakon gila sebelum waktunya. Lebih baik, Tuan muda Ruan menemukan mainan yang tepat," sindir Anna terdengar berusaha lantang, namun malah terdengar sangat serak, tangannya telah mencengkram kuat guci di dalam tangannya, seakan dia telah menyiapkan guci sebagai perlindungan dirinya.


"Aku tidak pernah mengejar mainan, dan tidak pernah berlakon mencium mainan," tembak Ethan terdengar ironis akan kalimat Anna. Kemudian, dia  memiringkan dagunya sendiri, wajahnya mendekat dan sekali lagi dia ingin membuktikan bahwa Tuan muda Ruan, hanya jatuh menyukai bibir manis Anna Su. dia tidak akan pernah sembarangan menyentuh orang, apalagi berciuman. dia hanya menyukai Anna dalam kehidupan sekarang.


Dup-dup-dup.


Situasi seperti ini, Anna tidak ingin terulang, lagi dan lagi, dia segera membuang wajahnya, sehingga bibir dingin Ethan hanya menyentuh pipi halusnya. Tetapi Ethan, hanya memaksakan kehendak dan kehendaknya lagi, "jika kau tak suka, aku bersumpah membuatmu menyukaiku."


Anna terkekeh seakan meledek, "bermimpilah, Tuan muda Ruan. Hal itu tidak akan pernah terjadi."


Gemerutuk gigi Ethan terdengar mengatup keras, dia telah menggigit amarah, dan dia terpaksa membuat hal tercela di depan semua orang yang melihat, harus tertunduk malu, dan membalikan badan.


Ethan menarik Anna menabrak dada bidangnya, satu tangan kiri menahan tekuk Anna,  dan satu tangan Ethan mencengkram maju pinggang Anna, dia  mencium lagi, ciuman berlendir dan kasar. Tangan Anna mengepal amarah, isaknya sudah tak bisa dia bendung, amarahnya telah melewati garis batas, sangat emosi,  dia hanya mengayunkan guci, tepat di kening Ethan.


Prang!


Bunyi Guci jatuh, memekakan telinga.


(....)

__ADS_1


__ADS_2