
Ethan menarik tangannya. Memutuskan setiap jemari tangan yang terjalin, "Tetapi, setelah aku bertemu Anna. Akhirnya aku mengerti perbedaan cinta dan persahabatan. Kau dan aku, tidak lebih dari sahabat yang tumbuh bersama, dan Anna adalah cintaku."
Deg! jantung Emily seakan tercabut. Dia berhenti bernapas, dan sepasang matanya menyorotkan kekosongan dengan tetesan embun yang jatuh membasahi pipinya.
"Mengapa kau menyebut hal ini persahabatan? Apakah kau tau cinta itu apa? Kau bahkan mungkin tidak tau cinta itu apa."
Ethan memejamkan matanya sesaat, dan barulah menatap kepedihan gadis di sebelahnya, "Aku hanya tau cinta itu akan menyiksaku jika aku berjauhan darinya. Aku hanya tau cinta itu aku menguburkan kehidupanku, jika dia meninggalkanku."
Emily menghapus air matanya. Dia seakan mendapatkan pengakuan cintanya yang telah di tolak, sekaligus dia melihat paku dalam setiap pintu hati Ethan. Ethan tidak memberikan sedikit celah perasaannya masuk menyelinap untuk menyentuh hati pria muda itu.
Tak lama d**eg! Jantung Emily berdegup kembali, dan dengan hati yang luka, dia bertanya dengan hati-hati dengan setiap kata yang penuh kelembutan, "Bi--bisakah kau memberitahuku. Mengapa k-kau bi-bisa menyukainya? Lihatlah a-aku, kecantikan ... a--aku-pun memilikinya. Kebaikan hati, a-aku-pun memilikinya. Apalagi kekayaan. Te--tapi ..., mengapa kau malah memilih seseorang yang ber-bebeda darimu?"
Ethan menggelengkan kepalanya, "Aku tidak tahu alasannya. Bahkan, aku tidak mengetahui mengapa aku selalu bersikeras untuk memilikinya. Aku bahkan tidak bisa mengekang diriku untuk terus melangkah, dan mengejarnya. Bahkan ingin merobohkan setiap tembok perbedaan di antara kami."
Emily menelan isaknya. Dia memberikan dirinya tersedu-sedu begitu lama. Tetapi, Ethan masih bersikap dingin padanya. Bahkan tangisnya, tidak bisa membuat pria itu luluh untuk sekedar memeluknya sesaat.
"Ethan, kau hanya sedang penasaran. Kau hanya seorang pria yang menyukai tantangan. Aku akan setiap menunggu bosan terhadap gadis itu. Aku akan setia menunggu kau berbalik kepadaku."
Ethan terlihat menarik napasnya dalam. Lalu, kepalanya bersandar malas pada kepala kursi mobilnya. Namun, sepasang matanya terlihat jauh memikirkan sesuatu yang tertanam yang menyeret seluruh hati dan perhatiannya pada Anna. Seakan jantungnya memiliki setiap indera, yang hanya tertuju pada Anna.
"Aku tidak bisa berbalik kepada gadis lain. Aku merasa cintaku hanya seperti meteor jatuh. Perlu ribuan tahun lagi, untuk jatuh cinta kembali."
Emily terkekeh bercampur isak, "Aku setia menunggu. Walau, rambutku harus putih. Menunggu cintamu pupus padanya."
Ethan bergeming, menelan sesuatu yang terasa menanggal di dadanya, dan dia hanya berkata lirik mendesis tanpa memberi pandangannya pada Emily, "Bersikeras hanya akan membawa kesia-siaan!"
"Lalu, mengapa kau bersikeras padanya?" protes Emily dengan suara tingginya.
__ADS_1
Ethan mencengkram lebih ketat kemudinya, "Seperti yang kau rasakan. Apa akhir dari hubungan kita. Kau bersikeras mendorong perasaanmu padaku. Aku bersikeras mendorong perasaanku pada Anna. Kau dan aku sama mengerti siklus lingkaran ini. Siapa yang menyia-nyiakan hidup akan cinta yang belum tentu kau gapai. Jadi berhentilah mendorong perasaanmu padaku!"
Plak! Telapak tengan Emily meninggalkan jejak jemari merah pada pipi Ethan.
"Siklus lingkaran itu akan berhenti! jika aku bersikeras memotong setiap langkah milikmu. Setiap satu langkahmu maju mendekatinya. Maka aku akan berjalan dua langkah untuk menghadang mu! Karena aku dan dirimu sama. Tidak akan pernah berhenti pada satu titik, yang bukan titik yang aku harapkan!"
Klek! setelah berkata hal demikian, Emily membuka pintu mobil. Menerobos lalu lalang lintas mobil di depannya. Dia tidak perduli banyak klakson mobil yang meneriaki kenekatan Emily berjalan menerobos lalu lintas mobil hanya untuk menyeberang jalan, yang bukan untuk pejalan kaki.
Titt... Titttttt... Titt.....
Ethan memukul kemudinya. Keluar dari mobil. Menyusul langkah Emily yang berjalan tanpa ada rasa takut menyelinap setiap mobil dan sepeda motor yang melaju melintas.
"Kau keras kepala!" pekik Ethan, segera menyert langkah membawa gadis itu segera menepi ke jalan dengan langkah cepat.
"Jika kau ingin mati. Maka mati saja. Jangan menyeretku dalam rasa khawatir!" peringat Ethan. Emily tersenyum dan terkekeh di detik selanjutnya.
"Emily!" potong Ethan dengan nada tinggi. Emily memeluk Ethan, dan mendengus di dada bidang pria tersebut, mengancam dengan keseriusan di dalam matanya, "Jika kau berani lari dari malam pertunangan kita. Maka hanya mayatku yang akan menghias media esok hari."
"Emily!" Ethan mendorong Emily dan memberi jarak, "Kau jangan berani mengancamku!"
"Aku hanya tidak ingin berpisah. Jika ingin berpisah, kau pastikan bahwa kau hanya bisa menerbangkan abuku." Emily meraih tangan Ethan, ingin menjeratnya dalam genggaman tangannya. Setiap napasnya bagai mengirim doa permohonan.
Sudilah kau bersamaku.
Ethan menepis tangan gadis itu, dan dengan iris mata tajam miliknya berhadapan dengan sepasang mata nanar penuh harapan, "Ini alasanku tidak pernah bisa menyukaimu. Kau mudah putus asa, dan egois. Kau tidak pernah merelakan apa yang harus kau dapatkan!"
Ethan berbalik, memberikan punggungnya bersiap akan menyeberang kembali ke mobilnya.
__ADS_1
Emily menatap nanar punggung itu, "Apakah mencintai itu harus merelakan? Apakah cinta itu tidak egois? Jika rasa yang kau inginkan, tidak ada keegoisan di dalamnya. Maka, kupastikan itu bukan cinta. Kau hanya simpatik!"
Tanpa berbalik, Ethan menjawab, "Bertanyalah pada dirimu sendiri, Emily! Egois itu hanya milik setiap orang yang mudah mendapatkan segala sesuatu. Karena kita kaya raya. Lalu, bagaimana dengan setiap orang yang tidak pernah memiliki apapun. Bagaimana dia memperlakukan cintanya pada orang lain? Terkadang dia harus memberikan cintanya sendiri pada orang lain, dan membiarkan dirinya tidak memiliki apapun. Kau mengejarku, hanya untuk tidak merasa hidupmu hampa."
Emily meraih pinggang Ethan, merangkulnya dengan ketat. Kepalanya miring bersandar di punggung Ethan. Air matanya jatuh membasahi pakaian Ethan.
"Aku hampa tanpamu!"
"Aku hampa tanpa dia!" sahut Ethan dengan sepasang mata tak bergeming.
"Jangan bersikeras lagi."
"Aku tidak bisa."
"Kau melarangku egois. Namun, kaupun egois. Kau ingin memilikinya!"
"Hmmm ..., karena dia berani melepaskanku. Maka, aku makin takut kehilangannya. Bagiku, tidak ada seseorang pun yang berani meninggalkanku. Hanya dia yang berani meninggalkanku, dengan menyebut bahwa ada yang lebih pantas untukku," sahut Ethan menurunkan tangan Emily.
Emily merangkul lebih erat, menolak melepas, dan sayup-sayup dia menjawab bagai rintihan memohon, "A-aku-lah yang pan-pantas i-itu!"
"Aku tahu. Tetapi, hatiku sudah jatuh hati pada setiap perbedaan besar yang kami milikki. Bahkan, rasa di hati bisa meleburkan perbedaan itu menjadi warna yang indah di mataku. Aku tahu itu sulit. Tetapi, aku telah terlanjur terperangkap, dan tidak ingin keluar lagi, walau banyak orang mendorongku ke pintu keluar. Aku dengan tegas menolak!"
Ethan melepaskan tangan Emily, dan menyebrang kembali masuk ke dalam mobilnya. Tatapan Emily kosong, raganya bergetar, dan perlahan dia jatuh limbung ke belakang. Saat ini, dia hanya melihat banyaknya ujung sepatu yang melingkari mendekatinya, dan suara setiap orang terdengar sangat senyap, dan dia jatuh dalam kegelapan di hitungan detik selanjutnya.
...****************...
Bersambung ...
__ADS_1
Perbedaan itu unik. Tetapi, ini hanya novel. Dalam Real, perbedaan itu malah akan menjadi masalah dalam hubungan. Jika tidak memiliki karakter dan cara pandang yang sama dengan Ethan, sang tokoh utama. Jangan harap bisa mencintai seseorang sekaligus perbedaannya. Karena itu sangat sulit, bagai menelan perasan air pare di dalamnya. Sangat pahit, jika tidak terbiasa 💓 Pastikan terbiasa menelan gula yang manis pula, buat menetralisir pahitnya.