Kekasih Tuan Muda Ruan

Kekasih Tuan Muda Ruan
Kesetian Itu Bodoh


__ADS_3

Emily bergetar memegang payung hitam miliknya. Semilir angin malam tidak membuat dirinya jatuh kedinginan. Hatinya penuh amarah. Setiap amarah melahap rasa beku tubuhnya. Dia menatap ibunya yang masih duduk berjongkok di bawah setiap rinai hujan. Sedikitpun sosok wanita paruh baya itu tidak ingin meninggalkan halaman rumah miliknya, yang bukan miliknya lagi.


Emily mengulurkan tangan. Berusaha membantu ibunya untuk bangkit berdiri.


"Aku ingin tetap tinggal. Ini rumahku!" Lauren menepis tangan puterinya.


"Ini bukan rumah milik kita lagi,Bu!"


"Kaulah penyebabnya!" teriak Lauren melawan suara rinai hujan yang hampir  membenam setiap katanya, tidak terdengar.


"Aku bukan penyebabnya!"


Plak! Tamparan itu datang begitu keras.


"Andai pewaris Ruan menyukaimu, dan menikahimu. Kau telah menyelamatkan ayahmu dari kematian. Menyelamatkan rumah kita. Tidak membuat diriku kedinginan, dan jatuh sakit."


Emily melepaskan payungnya. Membiarkan angin terbang meniup payungnya. Membiarkan hujan membasahi tubuhnya. Rinai hujan pun ikut menyamarkan air matanya.


"Bagaimana bisa aku memaksa Ruan menyukaiku, jika dia telah menyukai orang lain."


Lauren tertawa dan meringis kemudian. Sepasang matanya nyalang, dan tangannya menjepit dagu puterinya.


"Apakah kau tau setiap pasangan tidaklah dimulai saling jatuh cinta bersama. Banyak pasangan di luar sana, di mulai dengan cinta yang hanya bertepuk sebelah tangan. Lalu, mengapa mereka bisa bersama? Karena yang mencintai itu akan selalu bersikeras, bertahan dan menyingkirkan."


Deg! Emily menyeka air yang menggenang wajahnya, dia berdiri memeluk ibunya.


"Aku tidak mampu menyingkirkan Anna sedetikpun dari hati Ethan. Aku telah mencobanya, menghapus jejak gadis itu dalam hati Ethan. Namun, Ethan berkata sudah lama jantung itu telah tercuri, dan tidak akan mampu berdetak kembali pada orang lain."


Lauren mendorong Emily. Emily terjatuh tersungkur di atas tanah yang tergenang air.


"Karena kau gagal. Kau menghancurkan segalanya. Bagaimana kau menebusnya? Aku tidak ingin jadi gelandangan."


Selesai berkata, Lauren berjalan menuju gerbang dengan menyeret kopernya.


Emily terpaku menatap setiap genangan kotor yang menyerap membasah gaun mahal miliknya. Untuk pertama kali dalam hidupnya, dia jatuh ke tanah dengan menyedihkan seperti ini . Dia adalah seorang puteri tehormat dengan sepasang kaki emas yang tidak pernah tersandung jatuh ke tanah. Menyedihkan sekali rupanya hari ini.


"Bagaimana aku harus menolong diriku sendiri?" Emily jatuh linglung sebentar. Lalu, mengedarkan matanya mencari sosok ibunya.


Emily segera bangkit. Berlari mengejar. Kala, Lauren telah memanggil Taxi dan terlihag tidak peduli padanya.


Lauren masuk ke dalam Taxi. Pintu Taxi tertutup. Taxi bersiap berjalan.


"Ibu!"

__ADS_1


Emily berlari dan berteriak di tengah kegelapan yang menakutkannya. Namun, enggan membuat dirinya beku.


Taxi melambat. Kala, supir Taxi melihat sosok bergaun indah itu mengejar sekuat tenaga dari kaca spion tengahnya.


"Ibu, tunggu. Jangan tinggalkan aku." Emily mengejar dan mengetuk jendela Taxi setelah Taxi itu berhenti berjalan.


Lauren menahan napasnya. Menurunkan jendelanya,dan menatap puterinya.


"Jika kau ingin ikut bersama diriku. Kau harus menuruti apapun yang aku mau?"


Emily bodoh. Dia takut hidup sebatang kara. Dia menganggukkan kepalanya, menyanggupi apapun itu. Dia tidak ingin berpisah dengan ibunya, barang sedetikpun.


Lauren membuka pintu Taxi. Bergeser ke ke ujung kursi. Memberikan ruang untuk Emily masuk ke dalam Taxi.


Emily lega. Dia menatap Lauren yang masih bersikap dingin padanya.


"Kita akan pergi kemana?"


"Menemui temanku, dan kita menyingkirkan Anna."


Deg! Emily membola terkejut.


"Menyingkirkan?


Lauren meraih tangan Emily. Menggosok hangat.


"Aku percaya kau adalah gadis yang hebat. Kau hanya perlu sedikit jahat, menggoda lebih banyak lagi, dan menjerumuskan Ruan dalam genggamanmu. Itulah cara seorang gadis mendapatkan berlian ataupun emas pada setiap jemari tangan, pergelangan tangan dan lehernya."


Emily menahan napasnya. Dia hanya menunduk menatap tangannya yang telah tergosok hangat.


Lauren tersenyum seakan dia telah mendapatkan persetujuan Emily.


Satu Jam Kemudian ....


Lauren turun lebih awal dari Taxi, di ikuti dengan Emily kemudian. Dua sosok hitam yang tersamar dalam kegelapan itu berjalan ke sebuah hotel yang tampak ternama dan megah di kota. De Paris Hotel.


Seorang roomboy tiba di garis pintu lobby. Bersiap akan mencegah kehadiran dua sosok yang tampak basah kuyup dan terlihat gelandangan. Namun, potongan pakaian yang mereka kenakan, terlihat mewah dan indah. Pelayan hotel itupun ragu. Apalagi tatapan aristokrat Lauren berhasil menghapus keraguannya.


Lauren berjalan ke meja resepsionis. Dengan hanya menyebutkan satu nama pria. Sang respsionis pun meyerahkan dua kartu kamar presiden' untuk Lauren.


Emily mengedipkan matanya. Dia hanyut kebingungan. Ternyata ibunya masih memiliki seseorang yang mampu mendukungnya.


"Emily."

__ADS_1


Emily maju mendekati ibunya. Langkahnya terlihat sangat ragu. Takut. Bergetar.


"Kartu kamar milikmu."


Lauren berjalan lebih dulu menuju lift.


"Kita tidur terpisah?" tanya Emily setelah berdiri sejajar dengan ibunya dalam lift.


"Tentu. Malam ini aku harus menemani seseorang. Untuk segera bangun dari kegagalan."


Emily hampa dan sakit seketika mendengar jawaban itu, "Bu, ayah baru saja telah meninggal? Bagaimana mungkin, kau menghianati secepat itu?"


Lauren berpaling. Memberikan tatapan sinis. Sedih. Miris.


"Jangan bodoh. Orang mati tidak akan bisa bangkit dan cemburu."


"...."


"Karena kesetiaan pada orang mati. Tidak akan menyelamatkan kehidupan saat ini. Lagipula dia itu teman kencanku sejak lama, dan dia adalah ayah kandung aslimu."


Dug! Guntur seakan membelah langit. Mengejutkan. Bagaimana fakta itu membuat langit-langit hati Emily robek, berdarah tidak terlihat. Namun, hampir membuat napasnya berhenti.


"Kau berbohong ibu?"


Lauren tersenyum sinis, "Aku katakan padamu. Tidak semua wanita yang berada di atas adalah sosok polos, lugu, dan bodoh. Kaupun harus begitu."


Ting! Lift terbuka.


Emily berjalan mengikuti ibunya sepanjang lorong. Emily berhenti di belakang ibunya.


"Kamarmu berbeda dengan diriku."


Emily menahan napas melihat angka kamar miliknya.


Blam! Pintu kamar tertutup begitu saja, dan terdengar bunyi Klek!


Emily kosong sejenak. Dia lunglai berjalan menuju kamarnya. Kamarnya berada di ujung lorong. Namun, dia masih mampu mengintip dari lubang kunci untuk melihat kamar ibunya.


Emily membiarkan dirinya basah. Dia tidak berniat berganti. Dia tidak merasa kedinginan sedikitpun. Dia terus berdiri dengan mata yang terus menempel pada lubang ventilasi pintu. Yang dia ingin lihat adalah? Siapa sosok pria itu, ayah kandungnya.


Tidak lama kemudian. Yang Emily tunggu, telah datang. Pria itu terlihat tinggi besar dengan potongan blazer bewarna abu-abu, dan celana pensil senada. Pria itu terlihat mengetok pintu kamar ibunya. Tidak lama ibunya datang membuka pintu, dan mempersilahkan pria itu masuk ke dalam kamar.


Setelah itu pintupun tertutup. Koridorpun terlihat sepi melompong. Hening. Menyedihkan.

__ADS_1


...꧁❤•༆Anna &Ethan༆•❤꧂...


__ADS_2