
Sebuah helikopter mendarat oada halaman gudang mesiu. Baling-balinya terlihat berputar kencang dan melambat kala helikopter telah menginjak tanah.
Ethan menggendong Anna dalam pelukannya. Membawa gadis itu masuk dalam helikopter. Setelah Ethan dan Anna mencapai kabin belakang. Pilot pun kembali mengangkat tuas, dan helikopter pun melaju sesuai perintah menuju Villa Timur.
"Panas sekali!"
Ethan segera memutar pendingin ruangan agar mengurangi panas yang di rasakan Anna.
Anna mencengkram kaos Ethan, dan selalu bersikap mendesakan tubuhnya menempel pada Ethan. Dengan begitu rasa gerah itu akan berangsur hilang begitu saja.
Ethan menelan ludahnya. Gerakan Anna membuat Ethan salah tingkah. Anna mengerjap aneh, dan dia menyukai sentuhan Ethan yang merangkul pinggang ramping miliknya.
"Apa kau masih panas?"
Ethan mencubit dagu Anna, dan melihat wajah gadis itu tampak sangat merah.
"Apa yang mereka suntikan pada tubuhmu? Obat perangsang?"
Anna menggelengkan kepala. Dia hanya menelan ludah kemudian, kala sepasang bola mata indah tiba-tiba tergugah hasratnya pada setiap gerakan bibir Ethan yang melontarkan setiap kata miliknya.
Tidak tahan lagi.
Anna mendongakkan wajahnya sedikit ke atas.
"Cium aku, Ethan!"
Ethan kaku. Dia ingin meraba telinganya segera. Apakah dia salah mendengar permintaan Anna.
"Apa yang kau minta?"
"Aku ingin kau menciumiku."
"Kau tidak sedang demam."
"Aku hanya ingin. Itu saja."
Ethan memalingkan wajahnya sebentar , dan tiba-tiba saja kepala Anna jatuh lunglai pada bahu Ethan, dan bibir gadis itu terbuka lebar, dan giginya menyentuh kulit leher Ethan.
"Anna, apa yang kau lakukan?"
Anna menggelengkan kepala. Kala Ethan mendorong kepala Anna menjauh dari lehernya.
"Kau membuatku seperti pria yang ...."
Wajah polos Anna makin merah. Dia bergerak akan membuka kancingnya, dan berseru, "Ethan, ini sangat menyiksa. Dengan bersentuhan membuatku nyaman."
"Anna, kita masih belum lulus sekolah."
Anna meringis.
Ethan mengambil borgol,dan menjepit tangan Anna ke belakang punggungnya. Lalu, mengikat tubuh gadis itu pada kursi lainnya.
"Maaf, sayang. Hanya ini yang bisa ku lakukan. Jika kau terus menggodaku, aku tidak tahu apa yang akan terjadi di dalam helikopter ini."
Wajah Anna terlihat meringis merah dan dia menggigit bibirnya sendiri, dan membasahinya berkali-kali.
__ADS_1
"Ethan! Ini sangat menyiksa."
"Anna. Kau sedang di pengaruhi obat. Sebentar lagi, kita akan mencapai villa timur. Akan ada dokter menyelamatkanmu, sayang."
Anna menggelengkan kepala. Dia menangis dahaga.
Ethan mendekat. Menangkupkan kedua pipinya pada pipi bersemu merah milik Anna.
"Apakah sebuah ciuman bisa meloloskan segalanya?"
Anna mendadak salah tingkah dan malu. Tanpa sadar dia memejamkan matanya.
"Tetapi, nanti setelah obat sialan ini di netralisirkan dari tubuhmu! Okay?"
Ethan mencium kening Anna.
"Kau harus bertahan sebentar."
Ethan menjauh kemudian. Menahan napasnya. Membenamkan hasratnya. Tidak berani sedikitpun sepasang matanya beralih untuk menatap Anna.
Tiga puluh menit kemudian ....
Helikopter telah mendarat pada halaman villa timur milik Erald. Ethan segera membuka borgol, melepas ikatan Anna. Anna jatuh lunglai lemas dalam pelukan Ethan. Dosis obat yang begitu tinggi, membuat tubuhnya terbakar dan kehilangan energi.
"Bertahan sebentar."
Ethan segera membopong ke kamar tamu. Di sana seorang dokter wanita telah menunggu.
Ethan segera membaringkan Anna ke kasur. Napas Anna terlihat pendek, gelisah, wajahnya makin merah. Setiap tangannya bergerak akan membuka kancingnya.
"Mirip seperti itu," jawab Ethan.
"Baiklah keluar sebentar. Aku akan menetralisirkan."
Ethan segera keluar. Bergerak mondar-mandir di depan pintu kamar tamu tersebut.
Kret! Tidak lama kemudian pintu terbuka. Dokter tampak keluar dengan senyuman lebar.
"Tidak apa-apa. Gadis kecil milik Tuan muda Ruan sudah tertidur nyenyak."
Ethan menarik napas lega.
"Tuan muda Ruan. Biar aku membantumu merawat luka wajah dan kepala. Apakah itu tidak menyakitkan?"
"Ahh!" Rasa nyeri di kepala tiba-tiba naik mengejutkan Ethan. Seakan dia baru menyadari jika dirinyapun telah terluka.
Ethan duduk di sofa dengan dokter wanita itu segera membersihkan luka pada tubuh. Belakang kepala. Rahang wajah.
"Sepertinya goresan belati ini akan membekas?"
Ethan menahan napasnya. Dia teringat bagaimana tajamnya ujung belati itu merobek lapisan kulit wajahnya.
"Apa kau berniat operasi plastik ?"
Ethan menyentuh kasa yang membalut luka pada rahangnya.
__ADS_1
"Tidak perlu. Biarkan hal ini menjadi kenangan."
Dokter tersenyum, "Cinta muda-mudi memang sangat manis. Semoga kau dan Anna, berjodoh."
"Terimakasih dokter Lim."
Lalu, setelah melakukan perawatan luka pada Ethan. Dokter Lim berpamitan pergi. Ethanpun mengantar Dokter untuk keluar pintu. Setelah melambai pada mobil sang dokter yang bergerak menjauh. Ethan segera berlari menuju kamar Tamu. Dia berlari secepat mungkin, dan brak! Dia hampir terjatuh pada anak tangga. Lalu, dia segera bangkit kemudian.
Kret! Ethan perlahan membuka pintu. Dia berjalan mengendap ke sisi ranjang. Dia tersenyum kemudian. Anna terlihat pulas. Dia perlahan merangkak naik ke ranjang, bergerak dengan hati-hati dan tidak ingin menimbulkan suara.
Setelah berada di sisi Anna. Tatapan Ethan hanya jatuh pada gadis yang tertidur nyenyak itu. Sekali-kali jemari Ethan terlihat bermain dengan setiap anak rambut Anna yang berantakan menghias kening Anna.
"Kau cantik sekali,"puji Ethan dan mencium kening gadis yang di sebutkan sebagai miliknya untuk selamanya.
Perlahan kemudian, Ethan merengkuh kembali Anna dalam lengannya, dan membiarkan tubuh Anna berlabuh tidur mendekap dalam dadanya.
"Selamat tidur sayang," bisik Ethan.
Rasa tenang dan nyaman menghampiri Ethan kemudian. Tanpa sadar dia pun ikut terlelap begitu cepat dan berbaring di sisi Anna hingga fajar menyingsing.
...꧁❤•༆Anna & Ethan༆•❤꧂...
Sinar matahari menerobos masuk ke dalam celah-celah ventilasi. Menciptakan bayang-bayang kotak pada dinding.
Anna mengendus aroma mint yang nyaman dalam hidungnya. Aroma tubuh yang sangat familiar. Perlahan, Anna membuka matanya dan menemukan dirinya berada di dalam dekapan pria dengan aroma mint dalam tubuhnya.
"Ethan, aku merindukanmu!" Anna menahan napasnya. Dalam satu pekan dia telah kehilangan pria ini, seakan telah mengambil seluruh dunia. Dia hanya jatuh murung setiap usai menyelesaikan ujiannya. Rindu itu mengguncang dirinya perlahan.
"Ethan. Aku merindukanmu," bisik Anna kemudian.
Bisikan itu seakan mantera yang menyenangkan masuk ke dalam telinga Ethan, dan membangunkannya. Dia pun membuka matanya perlahan, dan menemukan bola mata indah Anna menatapnya.
"Kau menatapku? Atau ingin menciumku?"
Anna kikuk. Dia menunduk malu kemudian. Dia teringat akan dirinya yang terpengaruh aprodisiak. Dia hampir saja berlaku memberikan tubuhnya pada Ethan.
"Aku di pengaruhi obat! Jangan mengejekku."
Ethan tersenyum mendekatkan wajahnya pada Anna yang masih berbaring miring di sisinya.
"Di saat ini, kau tidak di pengaruhi obat. Apakah kau tidak akan menciumku? Sebagai bonus telah menyelamatkanmu."
Anna terpaku. Seakan baru menyadari kain kasa pada rahang Ethan. Tangannya pun segera menyentuh kain kasa tersebut, dan berbisik mendekat pada hidung Ethan, "Terima kasih sudah menyelamatkanku.".
Cup! Sekilas kemudian kecupan itu datang secepat kilatnya menyentuh bibir dingin Ethan.
"Berikan sekali lagi, aku mohon."
Anna menggelengkan kepala. Segera bangkit dari tempat tidurnya dan berkomentar, "Aku harus segera pulang. Ibuku pasti sangat khawatir."
"Aku akan mengantarmu," jawab Ethan yang kemudian menarik kembali Anna dalam pangkuannya, dan Ethan pun berbisik padanya, "Aku tidak akan melepaskanmu."
Cup! Anna mencium sekali lagi.
"Akupun tidak ingin lepas darimu."
__ADS_1
...꧁❤•༆Anna & Ethan༆•❤꧂...