
"Apa kalian mengerti?"
Anna mengangguk malu mendapatkan nasehat yang menegur nyata, namun juga merasakan terima kasih besar atas pengalamaan pria besar ini, yang tak sungkan berbagi dan mengkritik pengalaman muda mereka.
Ethan memilih diam sejenak, dia berkutat jelas dengan pikirannya yang berkecamuk sangat banyak, pengalamaan nyata Erald Ruan, merupakan bukti kejamnya Ruan.
"Hubungan wanita pria, bagi Ruan adalah aliansi, bukan cinta." Erald Ruan melanjutkan kalimatnya, sepasang matanya terlihat mencari telinga yang mendengar dan mengerti tujuan pembicaraanya.
"Duduklah sebentar, jika kalian ingin kembali mendengar."
Ethan menghembuskan napasnya, terlihat enggan, namun wajah Anna memintanya untuk mengikuti kata pamannya. Perlahan, tangan Ethan membawa Anna duduk bersama di sisinya, bersebrangan kursi dengan Erald yang tengah mengisap kembali cerutunya.
Asap cerutu terlihat keluar membentuk cincin di udara, abstraksi dengan teknik tertentu, yang tercipta, dan lesap kemudian. Barulah, Erald membuka mulutnya, "apa kalian telah menjalin hubungan resmi?"
"Iya, baru saja tadi!" Ethan menjawab percaya diri, seakan bangga telah meresmikan hubungannya di depan pamannya, dan dengan sengaja menunjukan cincin yang tersemat di jari manis Anna.
Erald menjulingkan matanya, seakan teringat satu adegan, "pantas..., tadi itu—"
"Jangan mengejek!" potong Ethan tidak senang, dan juga menelan malu, dan tangan Anna dalam genggaman, terasa menarik akan keluar dari cengkraman, Ethan menoleh ke samping, menatap Anna dan berkata, "tidak perlu malu, bukankan setelah menikah, mempelai akan saling berciuman di depan semua orang."
"Itu pernikahan, Ethan! hal ini dua hal berbeda," kata Anna terlihat berbisik namun wajah sangat merah karena harus menegur pria yang menjadi kekasihnya , adegan yang dimaksud paman Ethan, tentu saja maknanya sangat berbeda.
"Uhuk!" Pria di seberang terdengar menyindir dengan batuk keringnya.
Ethan mendesis dengan suara rendah, "aku tidak merasa yang kita lakukan adalah salah, kasih sayang tidak mengenal tempat dan waktu, makin tersembunyi, makin membuatku ... ingin melakukannya lebih banyak,"— Ethan menatap pamannya dan menyindir dengan suara menampar— "pengintip yang salah!"
'Ethan, aku tidak akan tertipu lagi. Ingat hal ini, aku tidak akan terbuai lagi. Memberimu tetesan madu, kau ingin buru-buru memecahkan kendi. Kau ini tak lain belang paling pelahap.' Anna menjerit kesal dalam hatinya, dan ingin segera menutup mulut pria ini dengan telapak tangan kecilnya.
"Uhuk!" Erald terbatuk lebih keras dengan sengaja, dan menyindir lagi, "kau berkata begitu, karena aku yang menangkap! Bagaimana halnya jika si tua, Wiliam Ruan yang berdiri di garis pintu, atau ayahmu, Edmund Ruan yang berdiri di garis pintu tadi."
Erald tertawa mengejek, lalu berkata, "aku jamin, kau bukan hanya kehilangan kata-kata, namun akan kehilangan adegan manis selamanya."
Ethan terdiam. Setiap kata Erald Ruan selalu bisa membuat sepasang kekasih ini, menurut dalam sikap diam.
Anna bahkan tidak berani mengangkat wajahnya. Merah dan terbakar malu dalam satu kedipan.
'Ethan ... aku akan mengomelmu nanti.' Anna terlihat menghela napasnya pelan.
"Ehem!" Erald serak, dan mengusulkan sesuatu, "kalian harus menjalani hubungan kekasih bawah tanah."
__ADS_1
'Backstreet terdengar ide bagus.' Anna setuju dalam hatinya. Ethan terlihat masih mempertimbangkan dengan hati-hati.
"jika Anna bersedia, dia harus menunggu, dan Ethan harus mengendalikan diri!"
"Berapa lama?" tanya Anna seakan mengerti satu hal. Jika mencintai seorang yang berbeda sosial, hanya ada pilihan untuk menunggu dengan sabar sampai pria itu memegang kendali akan hidupnya, atau menjadi kekasih bawah tanah.
"Dua belas tahun paling cepat, usia Ethan saat itu tiga puluh tahun , dan tujuh belas tahun paling standart, usia Ethan saat itu tiga puluh lima tahun! bisa juga sampai rambut Ethan, memutih...."
'Selama itu....' Anna menggigit hatinya, hal terburuk pastilah terjadi. Jika tidak ingin terungkap, hanya bertahan menjadi kekasih bawah tanah.
"...!" Ethan menatap akan berkata protes, namun Anna lebih dulu membuka mulutnya.
"Baik! Setuju, akan mengikuti!"
"Itu terlalu lama, Anna!" — Ethan mendekatkan bibirnya di telinga Anna, dan membisikkan, "aku tidak akan pernah memikirkan membuat dirimu sebagai cadangan."
Anna tersenyum, matanya berkata cerah, "aku bersedia menjadi apapun, asal di sisimu ... aku akan menunggu, aku akan setia, sampai hari itu datang, walau rambutku dan rambutmu—" Anna menunduk mendapatkan tangkapan dalam mata Ethan yang terlihat cerah dan bahagia dari sepasang iris matanya
'Putih.' Ethan terlihat bangga mendapatkan siraman satu kalimat Anna. 'Aku makin mencintaimu, Anna.'
Ethan menaikan alisnya, dan mengalihkan pandangan kembali pada pamannya.
Ethan menggelengkan kepalanya, "aku akan menyingkat waktu dengan cepat, tidak akan membiarkan hari itu terlalu lama."
"Untuk hal ini!" Erald membuka kakinya, melepas cerutunya, tanganya terlipat dalam genggaman, berharap Ethan akan setuju akan ide selanjutnya.
"...."
'Apalagi sih idemu paman? Sepertinya terlihat sangat buruk, jika buruk, aku tidak akan menurutimu!'
"Berjalanlah menjadi kekasih bawah tanah, dan carikan pria sebagai kekasih pengganti untuk Anna sebagai tameng hubungan kalian!"
'Kekasih pengganti. Pria manapun yang melihat Anna dari jauh saja, bisa membuatku cemburu, bagaimana bisa ada kekasih pura-pura untuk Anna. Aku tidak setuju.'
"Kau gila paman!" Ethan menolak ide yang membakar hatinya, panasnya membuat dadanya bergemuruh dan membentak lagi, "aku tidak akan menjalani ide gila seperti itu!"
Erald melebarkan tangannya bersandar di punggung kursi, "kalau begitu, kau tak akan bisa melelebarkan sayap siapapun. Apa kau ingin curang? hanya membiarkan, gadis pilihan Ruan berdiri di sisimu setiap saat?"
Ethan menyipitkan matanya, ingatanya kembali pada Emily, gadis pilihan Ruan. Belum saja, dia akan berkata, Erald sudah memberikan saran lagi, "saling berbagi keuntungan. Carilah pria yang tepat...."
__ADS_1
Erald mengangkat bahunya, dan seakan mengejek, "bisa saja kau mengkhianati Anna duluan, lalu bagaimana Anna bersandar?seseorang perlu ...."
"Cukup! aku dan Anna tidak akan saling mengkhianati."
Ethan memasang wajah mimik kesal. Erald kembali menyimpan senyum dalam mulutnya, dan mengungkap pendapat ketika Ethan telah membawa Anna berdiri kembali bersamanya, "menjalani hubungan harus terlihat kekasih bawah tanah, dan berlakonlah seakan kalian bukanlah kekasih, jika tidak ingin terendus."
"Aku tau apa yang harus aku lakukan."
"Jika kau mengerti berjalanlah layak hubungan backstreet yang sempurna."
Ethan memiringkan pandangannya, seakan matanya menatap dinding, padahal pikirannya telah jatuh tersesat, memikirkan mencari seorang pria palsu untuk Anna.
'Aku tidak mau, aku tidak ingin mendidih setiap saat.'
Anna menahan napasnya, ketika sepasang mata Ethan terlihat sangat terbakar.
'Kau sangat pencemburu, Ethan Ruan. Lihat, sepasang matamu terlihat akan menguliti pria manapun.'
Anna tidak bisa berkata hal apapun, dia teringat akan pertemuan pertama Ethan dan Nick. Di hari pertama mereka bertemu, Nick telah mendapatkan perawatan rumah sakit, lalu dengan Joe, bahkan harus ganti jantung karena pria ini.
Anna tidak bisa membayangkan dan menerka nasib pria pengganti itu di dalam hatinya.
'Aku rasa pria itu akan mendapatkan papan nisan namanya lebih cepat. Paman idemu buruk sekali, kau hanya akan membuat Ethan menjadi....'
Anna menatap Ethan, dan Ethan menariknya dalam pelukkan, dia mendekap Anna dan berkata manis, "tidak akan ku ijinkan satu lalat jantan mendekatimu, apalagi seorang pria berdiri di sisimu."
Erald berdiri, bibirnya mencibir sebentar, berbalik arah dan sebelum berjalan, dia berkata satu hal, "Anna, Ethan Ruan melaksanakan acara pertunangan resmi dengan Emily. Aku rasa kau harus menyiapkan jantungmu, jika Ethan mencium gadis itu di depan semua tamu undangan."
'Tunangan?' Wajah Anna gelap akan satu kata status hubungan itu.
Tanpa sengaja, Ethan menggigit ujung lidahnya sendiri. Dia hampir lupa telah memiliki tunangan.
Sepasang mata Anna membesar, seakan mampu keluar dari perumahannya, jantungnya saat ini sudah mendapatkan kejutan yang membuat dirinya syok dalam kebingungan, dan bertanya, "apa kau sudah memiliki tunangan?"
"...." Ethan mengeratkan kalungan tangannya, namun seluruh mimiknya terlihat tidak tenang.
'Anna, jangan marah padaku.... '
...
__ADS_1