
Anna menatap layar ponselnya lama. Dia mengamati setiap gambar rekam medik dan foto-foto Joe Han dan bibi Yuna menunggu di ruang tunggu poli jantung, dan ada gambar surat permohonan jantung batu, semenjak satu tahun lalu. Di bawah gambar, tertera pesan dari Ethan.
Aku hanya mengirimkan sebuah bukti. Tanpa aku memukulnya, jantung Joe Han akan berhenti sendiri. Itu lah buktinya. Aku tidak ingin kau menyalahkanmu. Apakah kau bisa mengerti diriku? Apakah kau bisa percaya padaku?
Hati Anna bergetar, dia merasa bahwa pesan ini menyiratkan Ethan telah banyak terpukul begitu dalam, dan pria itu terlihat di runding rasa ketakutan akan kematian Joe Han. Hati Ethan pasti lebih sakit dan perih dari siapapun. Mungkin tubuh Joe terlihat terbaring di meja operasi. Sedangkan, hati Ethan telah terbaring di atas meja operasi dengan banyak pisau tuduhan sebagai dewa kematian yang meneror setiap malamnya. Rasa takut secara Psikish terkadang lebih menyakitkan dari sakit fisik manapun.
Tanpa bukti yang kau berikan. Walupun, tidak ada penjelasan. Rasa di dalam hatiku melebihi setiap logika untuk mengerti masalah ini. Rasa di dalam hatiku, selalu mendorong diriku untuk percaya padamu. Apakah kau percaya? Meskipun, semua orang menyebut kau bintang sial. Tetapi, aku akan selalu melihat kau seperti dewa, pikir Anna dalam hatinya.
Selanjutnya, Anna hanya mematung kosong dengan sepasang mata yang terus tertuju akan setiap kata pada layar ponselnya. Deg! Jantungnya seakan hidup kembali, kala dia segera bangun dari pikirannya. Dua jemari jempolnya segera menyentuh ponsel, dan mengetik satu rangkai kalimat sebagai jawabannya.
Aku mengerti dan aku percaya padamu.
Selesai membalas pesan. Anna mematikan ponselnya. Dia menarik napas sebanyak mungkin, dan hanya mengeluarkan keluhannya dengan napasnya terdengar pendek. Dia menatap wanita paruh baya itu, yang berada di ujung kursi berbeda dengannya. Seorang anak perempuan tampak tertidur pulas di pangkuan wanita itu. Raut wanita itu terlihat sering menghela napasnya berkali-kali.
Setiap orang yang terluka, hanya akan menyalahkan orang lain. Menuduh orang lain, berdasarkan perasaannya. Tidak pernah mengutamakan logikanya. Darimanakah jejak kematian itu berasal? Fisik yang menciptakan, atau Psikish yang menciptakan. Bijaklah membenci seseorang dengan alasan yang tepat.
Lima belas menit kemudian ....
Lampu merah di atas kusen ruang operasi itu padam. Operasi selama delapan jam telah terlewati. Kret! pintu terbuka lebar. Anna dan Yuna bangkit berdiri menatap seorang dokter yang baru saja keluar. Pria paruh baya itu melepaskan masker, dan menghampiri Yuna.
Anna berjalan mendekat ke punggung dokter, dia pun ingin mencuri dengar.
"Operasi telah berjalan baik. Hanya saja, kita memerlukan beberapa pemeriksaan fisik setelah dia bangun," ujar Dokter memberi kabar.
"Kapan dia bangun?" tanya Bibi Yuna dengan raut kecemasannya.
"Paling lambat seharusnya 3x24 jam. Jika tidak bangun lebih dari itu. Kemungkinan dia berada dalam keadaan koma selanjutnya. Kita hanya bisa berdoa untuk dia segera bangun."
__ADS_1
Deg! Anna dan Yuna berdiri mematung. Bahkan penggantian jantung pun, tidak akan membuat Joe Han untuk bangun segera dari tidur panjangnya.
Pikiran Yuna dan Anna menguap seketika. Kala, bankars dengan Joe Han terbaring di atasnya, mulai di dorong oleh beberapa pria dengan jubah scrub suit.
"Joe Han akan kembali di antar ke ruang ICU, sampai dia bisa bangun," ujar Dokter sebelum dia pergi meninggalkan koridor ruang operasi.
Anna bersiap mengikuti bankars dorong. Namun, kerapuhan wanita di belakangnya. Membuat, dirinya mengurungkan niatnya. Dia kembali berbalik, dan dengan hati-hati dia memeluk Bibi Yuna, yang terdengar meredam. suara tangisnya.
"Tidak apa, bibi Joe pasti akan di beri napas dan umur yang panjang. Jangan menangis."
Bibi Yuna mendongakkan kepalanya, menatap Anna dengan mata merah dan mendorong tubuh Anna menjauh darinya, "Katamu manis sekali terdengar. Tetapi, jangan lupa kaulah kekasih pembunuh itu."
Anna mengepal tangannya erat, dan rasa kesalnya menguap terlontar dari mulutnya, "Bibi Yuna,bisakah kau berhenti melebih-lebihkan masalahmu."
Bibi Yuna berhenti melangkah, tangannya bergetar menggenggam tangan puterinya, dia berbalik dengan sepasang mata nanar dan menuduh kembali, "Aku tidak melebih-lebihkan. Aku berbicara fakta, kau hanyalah kekasih pembunuh."
Fakta? berbicara fakta atau menyembunyikan fakta dengan sebuah kebohongan yang di rekayasa menjadi kesedihan luar biasa untuk menuduh orang lain. Anna menguap kesal.
"Kau lebih tahu dari semua ini. Kau bahkan tahu, Joe Han seharusnya sudah mendapatkan jadwal operasi jantung sejak setahun lalu. Andai, Jantung Joe Han berhenti berdetak di saat kehidupannya tidak mendapatkan pukulan dari Ethan. Apakah kau akan menyebut Ethan pembunuh, dan aku adalah kekasih pembunuh?"
Bibi Yuna mengeraskan wajah dan rahangnya terlihat meruncing mendapatkan pertanyaan yang tidak mampu dia jawab. Dia bersiap akan membela diri. Namun, setiap jawaban seakan tidak mampu mendukung alibinya.
"Bisakah kau menyadari kematian karena lemah fisik dan bukan."
"Anakku belum mati!" Bibi Yuna marah.
"Bersyukurlah, dia belum mati dan mendapatkan jantung baru hari ini. Apakah kau sudah menghitung harimu setelah hari ini. Sudah kah kau membayangkan hidupmu untuk membayar rumah sakit? Mungkin, pihak rumah sakit akan kembali merobek daging Joe Han dan mengambil jantung baru itu kembali, karena kemiskinanmu!"
__ADS_1
Bibi Yuna kehilangan kata-katanya. Dia menelan ludah akan kemiskanan dan harga dirinya. Dia seakan tersadar dengan banyak kemewahan dan fasilitas rumah sakit ini. Dia melihat sekelingnya, menatap setiap dinding megah rumah sakit. Sesaat dia baru menyadari, bahwa dia telah terhanyut dan lupa bahwa dia tidak mampu membayarnya.
Di sini tidak gratis, hati kecil Yuna menjawab.
Anna maju beberapa langkah dan menyisakan sedikit jarak di antara dirinya dan bibi Yuna, "Bisakah kau membuka tangan setelah orang menagih uang denganmu. Dengan siapakah kau meminta?"
"...."
Anna mendekatkan bibirnya dan berbisik di telinga bibi Yuna, "Kau hanya bisa meminta pada orang yang kau sebut pembunuh anakmu!"
Bibi Yuna menggelengkan kepalanya perlahan, dan ingin rasanya dia mendesiskan isi hatinya saat ini, Lebih baik aku mati daripada meminta uang dengan Tuan muda Ruan.
"Jangan mengutamakan harga diri, dan lebih memilih menebusnya dengan kematian bersama. Jika kau terus begitu, bukankah bersikap egois. Lihat, wajah Puterimu lebih dulu, sebelum kau mengikat lehermu. Dia belum tumbuh dewasa, dan dia belum menikah."
"Anna!" Bibi Yuna bergetar, dia terus menggelengkan kepalanya. Dia tidak ingin mendengar setiap kata Anna yang terdengar mengerikan dan menyelinap menusuk dadanya berkali-kali. Mulut Anna bagaikan pisau operasi yang membelah daging, dan merobek memeras jantungnya.
"Kau mati tidak akan mendapatkan penghormatan sedikitpun. Di media, berita kemiskinanmu akan di gaungkan di halaman terdepan. Kau bunuh diri, karena tidak mampu membayar. Ethan, tetap hanya akan di atas. Beritanya tentang menganiaya anakmu, akan tenggelam begitu saja. Jangan lupa uang dan emas mereka, bukan hanya mampu membangkitkan kematian. Namun juga, mengubur berita miring kehidupan mereka."
Plakkk! Yuna melayangkan tangannya pada pipi Anna. Jemari merah itu membekas sempurna. Tamparan yang sangat keras.
......................
Bersambung ...
Semoga pembaca bisa mengambil pesan moral dari bacaan ini. Walaupun tidak ada cerita + +
Oh iya jangan lupa mampir ke cerita di bawah ini yah, jika ingin genre romance indonesia.
__ADS_1