Kekasih Tuan Muda Ruan

Kekasih Tuan Muda Ruan
Seutas Tali Untuk Menjerat Leher


__ADS_3

Kelopak mata itu terbuka perlahan. Pertama, yang dia lihat adalah jam dinding. Mendekati jam sembilan  pagi. Kelopak mata itu terangkat ke atas, menunjukkan pupil mata yang terkejut.


Mengedipkan matanya berkali-kali. Tidak yakin. Dia melihat ke arah jam dinding lagi. Sekarang, tepat jam sembilan pagi.


"Aku melewati bekerja di Kediaman Ruan," pekik Anna dengan suara terdengar mengejutkan Nana yang sedang berdiri menguping pembicaraan tetangganya. Dia berdiri mengintip di balik jendela,dengan telinga yang menempel pada daun pintu.


Anna mengedarkan pupil matanya, dan  beranjak bangun, menatap Nana yang terlihat memasang raut wajah terkejut. Namun, wajah Nana terlihat banyak. Kepalanya masih terasa berat dan sangat pusing.  Baiklah, dia mulai mengingat, dia tertidur jam empat pagi. Tentu saja, dia masih merasa  mengantuk dan sangat pusing.


"Ibu, aku seharusnya bekerja menggantikanmu hari ini!"


Nana menarik diri mendengarkan pembicaraan beberapa ibu di luar rumahnya. Dia berjalan senyap meninggalkan pintu.


"Tidak perlu!Aku sudah memutuskan akan mencari pekerjaan lain. Aku masih merasa kesedihanmu berasal dari keluarga kaya raya yang memandang kehidupan kecil kita dari ujung kukunya saja."


"...."


"Mereka pikir. Nasi dan harga diri sama besar. Puteriku lebih beharga, daripada gunung emas manapun."


Anna meluruskan punggungnya, membiarkan setiap kata ibunya masuk ke telinga kanan, dan keluar dari telinga kirinya.


"Aku belum menceritakan satu katapun padamu, tentang masalahku. Namun, kau masih saja mencurigai Ruan." Anna mengeluh dan juga merasa tidak nyaman akan sikap ibunya yang terlalu menjaga kehidupannya.


Melihat Anna telah bangun dengan kalimat protes. Nana berusaha menenangkan dirinya, dia segera pergi ke dapur. Mengambil semangkok nasi, semangkok sop jagung dengan satu iris ikan, di letakkan dalam satu nampan kayu.


Nana segera menghidangkan makanan di atas meja.  Aroma makanan menyerbak ke penjuru ruangan. Baunya sangat enak. menggunggah selera Anna. Dia segera ke kamar mandi, membasuh wajahnya, dan sikat gigi. Barulah, dia duduk berhadapan dengan Nana, di meja makan.


Nana menatap Anna, prihatin akan kelopak mata Anna yang terlihat bengkak, "Menyedihkan sekali matamu!"


Anna tersedak, akan komentar prihatin Nana, diapun mendongakkan kepala, menatap wajah ibunya. Setiap sudut wajah Nana masih terlihat biru dan ungu.


"Jangan merasa prihatin padaku. Aku hanya menangis. Sedangkan, ibu telah babak belur!"


Nana terbahak. Babak belur, kata yang tepat menunjukkan nasib tragis Nana lebih buruk daripada yang di alami puterinya sendiri.

__ADS_1


"Sudahlah ambil sumpit, dan makan!"


Anna mengangkat sumpit, dan mulai makan. Nana menatap lahapnya Anna makan, lalu bercerita apa yang telah dia dapatkan dari pembicaraan ibu-ibu yang bergosip di depan rumahnya.


"Ibu-ibu di depan bergosip. Dia mengatakan ada salah satu Puteri di lingkungan rumah kita. Telah menjual kehidupan mudanya pada orang kaya!"


Deg! Anna berhenti mengunyah. Matanya terlihat bulat melotot, akan keluar dari rumahnya. Tidak ingin  Nana merasa curiga. Dia segera menunduk, dan melanjutkan makan dengan perlahan. Namun, ujung telinganya berdiri lebih tegak.


Deg! Jantung Anna melambat, kala Nana membuka mulut kembali.


"Aku curiga mereka sedang bergosip Gita Wen! Dina yang sombong itu mendapatkan karma buruk memiliki Puteri yang tinggal semalam dengan pria ke hotel! Pastilah, ibu-ibu itu mendapati Gita Wen pulang dini hari!"


Deg! Jantung Anna berhenti berdetak. Dia merasa ingin segera mengubur dirinya dalam mangkok nasi.


Andai ibu tahu, yang di gosipkan itu adalah aku.


Nana menghela napas. Seakan dia membayangkan satu hal yang telah di lakukan Anna. Namun, dia segera menepis pikirannya. Anna adalah gadis polos. Bahkan, satu pria pun tidak akan pernah di ijinkan untuk berdiam di sisi puterinya. Dia ingin Anna menyelesaikan sekolahnya, dan masuk universitas lebih dahulu.


"Oleh itu jangan bergaul dengan pria. Mereka hanya manis di mulut. Mengambil madu, dan memberi racun ketika sang gadis terlihat memiliki perut yang maju ke depan." Nana bergurau kemudian dengan tingkahnya, dengan sengaja menonjolkan perutnya, menciptakan perut besar seperti wanita yang tengah berbadan dua.


"Jika perut maju ke depan itu terjadi padamu, dan pemuda itu lari. Maka, aku Nana Su akan mengambil seutas tali untuk menjerat lehermu. Lalu, seutas tali untuk menjerat leherku!"


Seutas tali untuk menjerat leher.


Saat ini, Anna ingin segera mendorong dirinya ke jurang, mendapati pemikiran Nana Su, sangatlah mengerikan. Bunuh diri bersama. Bukankah itu sangat konyol.


"Ibu, mengapa kau berpikir seperti sumbu pendek ketika hal seperti itu terjadi. Bukankah, kau biasanya berpikir luas. Mengapa kau ingin mati bersama?" Anna terdengar tidak protes dan suara sedih. Dia tidak bisa menimalisir suaranya yang tiba-tiba terdengar serak di ujung kalimatnya.


Nana mengeryitkan dahinya, matanya makin terlihat sipit. Dia tampak menyelidik raut wajah Anna. Lalu, memindai perut Anna. Anna protes, dia mulai merasa was-was, dia mulai mencurigai Anna.


"Apakah ada sesuatu dalam perut?"


Anna meniup napasnya, "Tentu saja ada."

__ADS_1


Tubuh Nana bergindik merespon. Seakan kepalanya telah dipukul kenyataan yang pahit.


"Hah?" Nana terkejut, mulutnya terbuka lebar, seakan sesak di dadanya telah mendapati pengakuan Anna. Ada sesuatu dalam perut Anna.


Anna menyadari mimik Nana yang terlihat berubah sangat putih dengan tatapan kosong karena kesalahpahaman kata yang sengaja dia lontarkan, dia segera mengoreksinya.


"Tentu saja ada. Isinya nasi, lauk pauk dan sup jagung, yang baru aku makan," koreksi Anna segera.


Nana yang terlihat tegang, terlihat menurunkan rasa curiganya, dan meningkatkan rasa kepercayaan pada Anna. Tidak mungkin, Anna melakukan hal demikian.


"Sungguh?"


Anna menghela napas. Tampak berpikir sesaat, dan menyakinkan ibunya kembali.


"Jika hal itu terjadi. Tanpa kau menjeratku dengan tali. Aku akan--"


"Akan apa?"


Anna tampak berpikir keras.


"Mengapa kau menyuruhku mati? Jika hal itu terjadi." Anna sengaja melemparkan pertanyaan, untuk mengetahui pemikiran Nana.


Nana menelan ludahnya. Membuang napasnya jauh-jauh.


"Karena hal itu memalukan! semua orang akan membicarakanmu."


"Bukankah kita memilik tangan untuk menutup telinga kita!"


Nana meniup-niup napas, dengan telapak tangan yang mengipas dirinya. kedua tangan tidak akan mampu menutup telinga dari setiap mulut yang pandaj berteriak di sisi telinga.


"Ketika kau menutup telinga. Setiap orang telah menarik Toa, dan mulai berteriak hingga menembus masuk melalui celah-celah tanganmu. Gosip akan membunuh hatimu perlahan. Jika hal itu terjadi padaku, mungkin aku akan kuat. Tetapi, jika itu terjadi padamu ..., aku tidak akan sanggup!"


......................

__ADS_1


Bersambung ....


Bagi Pembaca Anna Ethan , janga. lupa baca karya Author yang lain, berjudul : Pernikahan di atas kertas mewah.


__ADS_2