
Tifani, hanya menyipitkan sebentar. Namun, rasa simpatik tidak menghinggapinya. Tetapi, mulutnya berkata lain, "Aku akan menambahkan bonus untukmu."
Bonusnya adalah pemecatan dirimu.
Pelayan itupun berdiri, dan membungkuk mengucapkan terimakasih lagi. Namun, Tiffani, segera membuang wajahnya. Suara hak yang mengetok lantai terdengar membawa langkahnya meninggalkan pelayan tersebut.
Senyum Tiffani, terlihat miring dan menilai jijik. Dia telah lama mengintip pelayan ini telah menindas Anna, sebelum Ethan datang. Dia sangat penasaran dengan Anna
Oleh itu, diam-diam dia mengikuti jejak gadis itu. Bersembunyi di balik tirai, yang membuat dia tidak terlihat. Namun, dia bisa mendengar segalanya.
Itulah kehidupan orang rendahan. Mereka hanya tahu berterimakasih, setelah mendapatkan uang. Hanya sedikit orang rendahan, yang tahu caranya menolak uang yang merendahkan harga dirinya. Orang kaya melemparkan uang ke wajah seseorang, mereka hanya sedang menguji keserakahannya. Sisanya, mereka di sebut debu yang menyakitkan mata.
Tiffani meninggalkan pelayan tersebut. Membawa setiap ketukan haknya, masuk menginjak setiap ubin lantai kediamannya. Namun, otaknya terus merekam sosok Anna yang begitu membekas di benaknya.
***
Anna baru saja mencapai rumahnya. Dia belum berani memasuki rumahnya. Dia tidak yakin akan menunjukkan sepasang mata merah pada ibunya.
Baiklah, apa alasan yang tepat untuk mata merah dengan kelopak mata yang terlihat bengkak. Ya, dia menangisi hanya untuk mengakhiri hubungannya. Andai, dari awal dia tidak menerima uluran tangan itu. Dari awal menolak dan menghindari pria kelahiran emas itu. Hanya sedikit perkataan Nyonya Ruan. Namun, perkataan itu bagai jarum yang membawa benaang merah menjahit jantung. Setiap jahitan jantung itu, memberi kejutan dan luka yang dalam. Nyeri dan terus perih.
Air mata bahkan telah terkuras habis, bagai hujan yang akan menenggelamkan bumi, tidak membuat deritanya surut. Derita itu bagai air bah yang tidak tahu kapan surut.
Adakah yang bisa mengajarkan diriku melupakannya? Melupakan seseorang yang terlihat berani menentang dan menculik kehidupan kecil seperti ini, hanya untuk di lempar ke hamparan bunga mawar yang masih membawa duri dalam tangkainya. Apakah aku mampu berbahagia, jika dunia ikut menusukku dengan duri yang menancap seluruh dagingku? Tidak ada. Jika sanggup, itu hanya awal permulaan manis yang akan menelan kepahitan selanjutnya. Aku tidak sanggup menghadap dunia.
Anna tidak kuasa menangis mendengar jeritan hatinya sendiri. Padahal, dia ingin mengakhiri tangisannya. Namun, yang ada malah terjadi sebaliknya. Dia pikir, menangis adalah cara seorang perempuan mengobati hatinya. Ternyata tidak. Dari ini, dia tahu betapa dalamnya dia terjungkal masuk ke dalam jurang perasaaan. Dimana dia berusaha merangkak dan naik keluar dari jurang itu, dan dia kembali jatuh ke dalam dasar jurang perasaaan. Dia terjebak dengan perasaan yang mencintai seseorang dengan sangat dalam. Terjebak selamanya dalam jurang itu.
Kret ....
Suara pintu terbuka. Terdengar nyaring. Mengejutkan Anna. Anna menundukkan wajahnya, berusasha menyembunyikan wajah mendungnya yang hitam.
"Anna, masuklah cepat ke dalam. Aku tidak ingin menjadi sorotan tetangga," komentar Nana yang bersembunyi di balik gorden. Seutuhnya, dia tidak menyadari kemendungan puterinya, Anna.
__ADS_1
Anna berjalan masuk dengan kepala yang tertunduk dalam.
Blam! Pintu kembali bersatu dengan kusen. Barulah, Nana berjalan melingkari Anna. Dia terlihat heran, menyadari Anna terlihat suram.
"Angkat kepalamu."
Anna tetap menunduk dalam. Dia tidak berani menunjukkan wajahnya. Bagaimana jika Nana bertanya alasan di balik tangisannya? Dia belum menemukan jawaban yang tepat.
"Angkat kepalamu!" Suara Nana lebih tinggi.
Anna tetap menunduk. Tidak mengangkat kepala. Tidak menghindari Nana, dengan berlalu begitu saja. Dia tetap berdiri di posisi diam, berhadapan dengan Nana, dengan mendung yang tersembunyi.
Nana menghela napas. Jempol dan telunjuknya segera terulur, mencubit dagu Anna. Mengangkat dagu itu lebih tinggi. Sehingga, seluruh wajah dengan kemendungan itu terlihat.
"Kau menangis?"
Anna menggelengkan kepala, "Tidak, aku tidak menangis."
Nana membelotkan ludahnya. Menelannya ke dasar perut. Berbohong akan bukti nyata di depan mata. Siapa yang akan percaya hal demikian?
Anna menggelengkan kepalanya. Namun, Nana tetap mencubit dagu itu dengan ketat. Seakan dia turut sedih akan cerita di balik sepasang mata yang berkaca-kaca itu.
"Lalu, mengapa kau menangis?"
Anna diam. Dia tidak tahu harus berkata apa. Tidak ada yang ingin dia katakan. Dia hanya ingin diam, dan Nana berhenti mengungkitnya.
"Katakan padaku! Atau aku akan kembali ke keluarga Ruan, dan menghajar setiap orang di sana. Karena, jeruji besi bukanlah sesuatu yang menakutkan bagi diriku!"
Nana melepas cubitan dagu pada Anna. Dia berjalan, tepatnya seperti orang yang setengah berlari, mengambil mantel di gantung. Mengenakan mantelnya dengan buru-buru. Siapa yang berani menghajar puterinya? maka dia akan kembali meludah dan memberikan karma yang sama.
Aku tidak suka puteriku ditindas. Aku saja, tidak pernah menindasnya. Aku bahkan memperlakukan Anna seperti menghadap Tuhan. Hidupku bernapas, untuk kebahagian Anna. Siapa yang berani menghajarnya? Maka, aku akan mengembalikan hal yang sama kepadanya. Kematian adalah keuntungan, hidup hanyalah perjuangan dan pertahanan. Tidak ada hal yang di rugikan.
__ADS_1
Setelah mengenakan mantelnya. Nana berjalan tergesa menuju pintu. Pikirannya hanya ingin segera pergi ke kediaman Ruan, dan balas menginjaknya.
Nana segera mengenakan sepatunya. Barulah, Anna bangun dari rasa biru yang mengisi seluruh rongga dadanya.
"Ibu ...," sebut Anna. Menghentikan langkah wanita mengenakan sepatunya. Wanita itu, mengangkat kepalanya tinggi, menatap Anna yang baru saja berpaling menatapnya.
"I-ibu --" sebut Anna dengan jeda yang panjang, dia menciptakan kesunyian yang mencekam hati Nana. Namun, Nana menunggu dengan sabar, dan hanya memberi tatapan sabar. Sabar menunggu bibir yang bergetar itu membuka suaranya, dan menceritakan kesedihannya.
Anna menelan isaknya. Mengatur napasnya, agar setiap kata yang dia ucapkan, tidak menunjukkan kesedihannya.
"Ibu, bisakah kau memberiku waktu sehari untuk diam, dan kaupun ikut diam. Beri aku satu hari untuk menceritakan semua. Aku hanya meminta satu hari untuk berdiam."
Nana berbalik menatap rak sepatu. Membisu cukup lama. Pergi atau menanti satu hari lagi.
Satu hari. Hanya satu hari, maka akan terlihat jelas.
Nana mengangkat sepatunya, meletakan kembali sepatunya pada rak. Lalu, dia berbalik menatap Anna. Memberikan anggukan kecil pada Anna.
"Iya, aku akan menunggu satu hari lagi."
Anna tersenyum getir.
"Terimakasih."
Anna kembali memutar langkahnya, melepaskan sepatunya. Maju beberapa langkah, meletakkan sepatunya dengan tangan yang gemetar.
Dalam diam, Nana memperhatikan gerak-gerik dan kerapuhan tangan muda itu. Seakan, dia ikut rapuh bersamanya. Lalu, terbitlah isak dalam tenggorokannya, dan salah satu matanya terasa membendung air bening, menjatuhkan perlahan. Namun, punggung tangannya segera menghapusnya.
Merasakan tatapan yang tidak pernah meninggalkannya. Anna mendongakkan kepalanya, melihat sang empunya tatapan yang terlihat berkaca.
"Hanya satu hari. Maka, aku akan memberikan keputusan. Bukan hanya, sekedar bercerita. Ini adalah jawaban akhir dari semua yang aku inginkan."
__ADS_1
***
Bersambung.