
Pukul 05.00 Wib
Ethan masih belum beranjak dari tempat tidurnya. Dia masih duduk dengan selimut yang membungkus setengah badannya yang mengenakan piyama.
Sepanjang malam, Ethan menahan diri untuk tidak menghubungi Anna. Tepatnya, dia tidak ingin mengganggu gadis itu. Perkataan Tifani, ibunya pastilah menyakiti gadis itu. Membiarkan dia lega dalam tangisan, dan dia bersabar menunggu pagi datang, menunggu bulan berganti matahari. Tidak tidur dalam satu malam. Menunggu waktu yang tepat, untuk menekan dial hijau, menghubungi Anna.
Tidak sabar. Ethan, menekan angka 1 untuk panggilan cepatnya untuk Anna. Deretan angka dengan nama Anna, tercantum di layar.
Belum saja, Ethan akan menekan angka dial hijau. Panggilan dari Direktur rumah sakit, tempat Joe Han di rawat, menghubunginya.
Joe Han .... Hampir saja aku melupakan pria itu. Apa yang di bawa kabar baik atau buruk?
Ethan menerima panggilan.
"Tuan muda Ruan," sapa pria di seberang sana.
"Bagaimana?" Ethan merasa gugup sesaat. Deg! Jantung Ethan melambat, dia takut akan mendapatkan kabar buruk.
"Nyonya Yuna, setuju operasi. Jam 10 pagi, akan di lakukan transplatasi jantung. Prosesnya akan berlangsung sekitar 6 jam. Jika, semua berjalan dengan baik," lapor Direktur tersebut.
"Pastikan kondisinya labil, baru melakukan operasi. Lakukan pemeriksaan lengkap,dan berikan dokter terbaik. Jangan melakukan satu kesalahan."
"Baik, Tuan muda Ruan. Kami akan menyerahkan yang terbaik."
Ethan memutuskan panggilan. Baru saja, dia akan menghubungi kontak Anna. Kembali lagi, dia harus mengurungkan niatnya.
Kret! Pintu kamar miliknya terbuka lebar. Seorang wanita paruh baya dengan jubah tidur, berdiri di garis pintu dengan senyum lebar. Lalu, berjalan mendekati sisi ranjang, dengan secangkir susu yang mengepul panas di tangannya.
"Bangunmu pagi sekali," sapa Tifanni.
"Aku akan kembali tidur. Tolong keluarlah, Bu! Aku masih sangat mengantuk." Tepatnya, Ethan hanya ingin segera menghubungi Anna. Tanpa ada Tifani dalam kamar.
__ADS_1
Tifanni menarik napas. Sepasang matanya berkilau menyimpan rencana. Sekarang, dia menemukan kebutuan Ethan.
Dari balik pintu, dia telah mendengar semua percakapan Ethan dengan Direktur Rumah Sakit tersebut. Itulah, alasannya lebih awal pulang. Membereskan masalah Ethan terhadap putera asisten rumah tangganya, dan memotong benang merah Ethan dengan gadis kecil bernama Anna.
Dia meletakkan cangkir susu di atas nakas terdekat sisi Ethan.
"Menghangatkan perut, dengan secangkir susu. Minumlah,"tawar Tiffani berbasa-basi.
"Berkatalah pada intinya."
Tifani mengerutkan keningnya, "Kau ketus sekali. Aku ibumu, perutku adalah rumah pertama kehidupanmu. Mana boleh kau menentang ibumu!"
Ethan memejamkan matanya sesaat. Dia merasakan perubahan sikap Tifanni, yang menurutnya sangat aneh. Biasanya, ibunya hanya akan berkata dua - tiga kalimat. Tidak pernah berbasa- basi, dan hanya memberi tugas dan beban sebagai penerus Ruan.
"Apa yang kau inginkan?" Ethan menatap ibunya.
Ibunya terbahak seakan ada percakapan lucu yang dia dengar. Terbahak keras, hingga ujung matanya menyimpan air bening. Dia tertawa lepas seperti sedang berlakon drama.
"Mengapa ibu tertawa?" Ethan heran. Namun, juga merasa sangat di ejek. Tifanni, ibunya yang dia kenal, selalu terlihat serius dalam menit-menit hidupnya. Jikapun, ada yang lucu, dia hanya tersenyum sangat tipis.
"Kau tertawa mengejekku, hanya karena menyukai Anna," tebak Ethan serasa tangannya telah menyentuh bara api.
"Aku tidak mengejekmu!" Tifani menggelengkan kepala.
"Lalu? Apa alasan tertawa? Padahal sebelumnya, kau selalu menjaga dirimu terlihat elegan. Bukankah, itu ajaranmu. Orang yang sering tertawa itu, terlalu bersantai dan pemalas. Kau selalu menghindari tertawa, Bu!"
Tifani menyipitkan matanya. Apa yang dikatakan Ethan? Sangat benar. Dia selalu menghindar tertawa. Selain menghindar keriput, orang tertawa itu baginya hanya pemalas. Orang yang memegang dunia, selalu terlihat serius di manapun dia berada. Beban di punggungnya, membaut dia sulit tertawa.
"Apakah mengejekku, dan itu terlihat sangat lucu? Kau tidak pernah jatuh cinta, Bu. Makanya hatimu terbuat dari batu. Bahkan ketika kau tertawa, tidak ada kebahagia di sana," ejek Ethan. Dia turun menyibakkan selimutnya.
Melihat Ethan berdiri membelakanginya. Tiffani memilih menjatuhkan dirinya duduk di atas kasur.
__ADS_1
"Aku tertawa. Karena ingin mencoba tertawa seperti dia."
Dia? Ethan mengerutkan keningnya. Dia bahkan tidak pernah melihat ayahnya tertawa. Mimik ayahnya hanya satu. Datar. Jadi yang di maksudkan Tiffani? Pastilah bukan ayahnya.
"Dia. Tentu saja, dia bukan ayahmu! Dia adalah orang yang pernah aku tinggalkan. Aku tinggalkan dia, agar dia menemukan wanita yang tepat untuknya. Karena bersama diriku, jika tidak bertahan, maka dia hanya akan mendapat luka. Melawan dunia itu, sangat sulit. Terutama untuk seorang wanita. Kami adalah wanita yang selalu mengutamakan perasaan daripada logikanya. Hal sakit bukanlah di injak. Tetapi, melihat dirinya di injak bersamamu. Pernahkah kau memikirkan masa depan seseorang. Kau melepasnya untuk tidak membelenggu dan menjeratnya," papar Tifanni dengan sepasang mata memandang terbitnya sinar matahari.
Ethan diam sejenak.
"Coba lihatlah matahari terbit di sana," pinta Tiffani pada Ethan dengan telunjuknya mengacung pada matahari yang baru saja terbit.
Mata Ethan mengikuti.
"Cinta itu bagaikan matahari terbit di timur, dan pada saat waktunya, dia akan tenggelam di barat. Kau hanya perlu waktu untuk sembuh dan melupakan. Lalu, terbitlah kembali pada seseorang yang tepat. Jangan fokus, pada satu orang. Karena kau hanya perlu tau, cinta itu bisa pupus. Tetapi, uang tidak boleh habis."
Ethan tertawa kecil. Senyumnya terlihat silau, seakan dia melihat sosok yang lain di cakrawala biru.
"Ibu, kau mengibaratkan perasaanmu seperti siklus terbit di timur dan tenggelam di barat. Tetapi, itu bukan aku."
Ethan menghela napasnya,tersenyum getir, dan melanjutkan kalimatnya, "Aku tidak mengenal perasaanku sendiri. Yang aku tahu sosok Anna adalah cahaya terang. Di siang hari, dia terlihat seperti matahari. Di malam hari, dia terlihat seperti bulan. Tanpa dia, aku merasa duniaku gelap. Aku hanya akan terlihat menjadi buta selamanya."
Tifanni mendongakkan dagunya. Dia menolehkan kepalanya ke samping, manyelidiki wajah puteranya. Ethan terlihat teguh dengan setiap kata yang dia ucapkan. Matahari dan bulan.
Tifanni tertawa kecil lagi, dan telapak tangannya menyentuh bahu Ethan, dan sambil berkata, "Jika duniamu terasa gelap. Maka, ingatlah Ruan akan berjalan di depanmu, bersedia menjadi biji matamu. Kau tidak melihat. Namun, Ruan akan menuntunmu. Bahkan gunung terjalpun, Ruan akan ajarkan mendakinya. Terjatuh, maka kau harus bangun."
"Ibu!" Ethan melengkingkan penyebutan itu. Kalimat itu jelaslah pertentangan atas hubungannya dengan Anna.
Tifanni menarik tangannya dari bahu Ethan. Berbalik, berjalan menuju pintu. Punggung wanita itu dingin dan mencekam hati Ethan.
Lalu, dia berhenti di garis pintu, hanya untuk melemparkan ancaman, "Kau mementingkan gadis itu ... atau memilih nyawa seseorang yang sedang berjuang di pintu kematian, yang telah kau buka lebih awal."
Joe Han! Jantung Ethan melambat. Deg! Bagaimana dia bisa memilih? Jika dia ingin, dia ingin memilih bersama Anna. Namun, Joe tetap harus hidup.
__ADS_1
......................
Bersambung ....