
Sayup-sayup Nana merasakan isak puterinya di sisi telinganya, dan tangan halus meraba setiap sudut wajahnya. Dengan tangan lemah dia menepis halus tangan puterinya.
"Ti-tidak per-lu khawatir."
"Siapa yang melakukan ini semua?"
Nana mengelengkan kepala atas ketidaktahuan siapa yang telah menganiaya dirinya sepulang dia bekerja dari kediaman keluarga Ruan.
"Siapa yang melakukannya?"
Suara Anna terdengar melengking sesaat, namun suara isak segera menyusul di belakang akhir kalimatnya.
Nana hanya menghela napasnya terdengar sangat berat, sehingga dia sulit berkata-kata.
"I-ibu ...," pekik Anna meminta Nana untuk menjawab pertanyaannya.
"Tidurlah! Aku tidak memiliki banyak tenaga, untuk menjawab semua pertanyaan bodohmu."
Nana membuka matanya. Sepasang matanya terlihat melotot akan keluar dari tempurungnya, mengisyaratkan bahwa dia murka jika terus mendengar Anna merengek di sisinya. Dia tidak memiliki satu katapun tentang pelaku yang menyerangnya. Dia benar sungguh tidak tahu, mengapa segerombol menyeretnya ke ruang sangat gelap,dan menghajarnya tanpa ampun.
"Sudahlah! Jika kitapun tahu orangnya, kita tidak sanggup membalasnya juga."
Nana menjawab dengan suara rendah dan terdengar basah, seakan ada tangis yang terendam di sana.
"Bisakah kau tidak bertanya lagi. Aku mohon. Aku terlalu lelah ...," lirih Nana memohon.
Anna mengedipkan matanya sesaat. Menggoyangkan bulu mata indahnya menjatuhkan tumpukan air mata yang tertampung dalam kelopak mata bawahnya. Dia segera menghapus air matanya dengan ujung lengan mantelnya.
"A-aku a-kan ti--tidur, se-setelah membersihkan wajahmu dan mengganti pakaianmu."
"Iya."
Anna segera mengambil kotak P3K, mengambil waslap serta air hangat, lalu sepasang pakaian ganti untuk Nana.
"Berganti pakaian lebih dahulu," pinta Anna.
__ADS_1
Nana menganggukan kepalanya. Baru saja dia akan duduk, dia kembali merebahkan dirinya ke kasur. Semua terasa sangat gelap dan berputar-putar ketika dia mencoba membuka matanya dan duduk untuk bangun.
"Kepalaku sangat sakit. Bantu aku menggantinya," pinta Nana dengan sepasang mata yang terkatup rapat. Perasaannya saat ini, hanya ingin tidur dan untuk tidur.
Anna melepas mantel Nana dengan cepat. Lalu, melepas setiap kancing kemeja ibunya. Kembali, sepasang matanya terlihat akan melompat. Jejak biru ungu akibat pukulan itu terlihat sangat jelas di atas kulit perut Nana.
"Apakah ini sangat sakit?" tanya Anna, dengan ujung telunjuknya menyentuh setiap warna ungu dan biru, yang terlihat sangat kontras di atas kulit perut putih Nana.
Tangan Anna bergetar karena ketakutan dan rasa khawatirnya. Dia takut sesuatu yang buruk terjadi pada organ dalam tubuh Nana. Panik. Anna benar-benar jatuh dalam kepanikannya.
"Apakah ini sangat sakit?"
Nana menggelengkan kepalanya.
"Kita harus ke rumah sakit sekarang!"
Nana menggelengkan kepalanya lebih keras.
"Kau terluka begitu banyak!"
"Untuk apa kita ke rumah sakit, jika kita banyak obat di rumah!"gerutu Nana, yang tiba berusaha bangun, namun kembali jatuh ke atas kasurnya. Segala sesuatu masih terlihat berputar, dan sangat gelap.
Anna histeris dalam setiap katanya, dia terdengar seperti kehabisan nas untuk hidup melihat setiap lembab pada tubuh Nana.
"Sudahlah, jangan berisik. Jika aku mati, aku memiliki asuransi kematian. Kau bisa hidup dari itu!"
"Ibu!a-aku tidak ingin k-kau mati! A--ku ingin kau hidup untuk--ku." Anna menangis lebih keras.
"Jika kau ingin aku hdiup, oleh itu jangan merengek lagi!" pitam Nana dengan suara serak yang dia paksakan melengking tinggi. Setelah itu napasnya terdengar putus-putus, seakan dia telah kehilangan sisa tenaganya yang terakhir.
Takut akan amarah Nana. Anna tunduk akan kalimat Nana yang memintanya tidak merengek lagi. Dia segera menghapus air matanya. Segera menyeka seluruh tubuh ibunya dengan waslap yang telah di basahi air hangat, mengoleskan obat, dan mengganti pakaian yang lebih nyaman untuk Nana.
"Terima kasih," ucap Nana, ketika merasa dirinya lebih nyaman. Karena, tidak ada rasa lengket oleh darah yang bercampur keringat.
Anna menganggukan kepalanya. Dia telah kehilangan seluruh kata-katanya. Dia segera merapikan kotak P3K, mengembalikan pada tempatnya, dan menyingkirkan waslap dan baskom air hangat.
__ADS_1
Merasa cukup tenang. Anna segera melepas mantelnya. Berganti pakaian tidur. Namun, ketika jejak kemerahan bercampur ungu yang berada di lehernya. Membuat Anna segera mengganti pakaian atasannya, dengan sweater yang memiliki kerah panjang, yang bisa menutupi jejak kekerasan itu.
Lalu, Anna masuk dalam selimut yang sama dengan ibunya. Menarik ujuk selimut, menutup hingga dada mereka. Dalam selimut, Anna merangkulkan tangannya memeluk ibunya dari samping. Rangkulan tangan kecil terasa ketat.
Tiba-tiba satu siku tangan Nana mendorong halus tubuh Anna, dan dia bergeser memberi jarak di antara mereka.
"Menjauhlah. Memeluk seperti ini, rasanya sangat menggelikan. Kau bahkan tidak pernah memelukku seperti ini sebelumnya."
"Mulai hari ini, aku akan memelukmu setiap hari seperti ini."
Nana tersenyum mendapatkan setiap kata dengan kasih sayang yang terasa menghangatkan seluruh hatinya.
"Jangan memeluk terlalu, kau bisa menyakiti semua tulang ibumu!" tegur Nana, menyembunyikan rasa hangatnya dapat perlakuan manis puterinya..
Anna mendekati ibunya, dan memeluknya lebih longgar. Dalam hitungan menit, terdengar suara dengkur halus dari Nana yang telah terlelap begitu cepat.
Anna membuka matanya secara perlahan. Dia tetap terjaga sedari tadi, walau kelopak matanya tertutup rapat. Teringat akan bekas cekikkan di lehernya. Anna segera duduk. Dia diam untuk sesaat. Setelah yakin, Nana telah tertidur dengan pulas. Dia segera bangkit berdiri.
Anna Mengambil kotak P3K. Membukanya, dan mengambil salep untuk luka memar. Lalu, dia pergi becermin. Menurunkan kerah panjang sweaternya. Dia tidak langsung mengoles salep. Dia mencermati dengan baik, setiap bekas yang menjerat di lehernya. Jejak-jejak tangan merah terlihat samar, besok pagi bekas itu akan hilang sendiri, namun warna ungu di batang lehernya terlihat sebesar jempol tangan di sisi kiri dan kanannya, terlihat membutuhkan beberapa hari, agar tersamar.
Anna menghela napasnya, seakan otaknya mengirim rekaman gambar dan rasa sakit cekikkan itu lagi. Rasanya sangat mengerikan, pria itu memang berniat mematahkan lehernya dan membuat dirinya kehilangan napasnya.
Kemudian, Anna tersenyum pada dirinya sendiri yang terbingkai dalam cermin. Seakan, dia bersyukur memiliki kehidupan yang masih berlanjut. Perlahan, dia mengoles salep di batang lehernya.
Selesai mengoles. Anna segera menarik kerah, menyelimuti batang lehernya. Di saat itu pula, dia merasa menyesal telah memanggil Ethan untuk menemuinya. Disaat yang bersamaan dia teringat perkataan Hans. Tentang Joe.
'Berikan milikmu, maka Anna milikmu seseorang. Jangan lupa, berikan besok dan besoknya lagi. Jika kau berhenti, maka Anna akan menjadi milik kita bersama. Karena Joe sudah sangat lama tidak pernah memberi upeti bagi kami, aku dengar kehidupannya sudah mendekati kematian.'
......................
Bersambung ....
Jangan lupa like,coment, dan vote bagi yang berkenan. Terima kasih banyak telah setia membaca. Semoga bagian ini menghibur kalian semua.
Jangan lupa rate 🌟5 bagi yang baru mampir yah :)
__ADS_1
www.citrayangmenyilaukanku.com
(Jangan lupa kunjungi website kita)