Kekasih Tuan Muda Ruan

Kekasih Tuan Muda Ruan
Bersikeras, Bertahan, dan Menyingkirkan


__ADS_3

Tok! Tok! Tok!


Pintu kamar hotel di ketuk keras. Emily yang masih tampak kuyup bersandar di pintu, terbangun dari tidur ayamnya. Dia segera berdiri,dan mengintip dari lubang ventilasi. Ternyata, Lauren lah yang mengetok pintu tengah malam seperti ini.


Baiklah, dia telah tertidur setelah melihat sosok ayah kandungnya.


"Emily, buka pintunya!" seru Lauren.


Emily menyeka wajahnya, menepuk pipinya. Mengusir kantuknya. Dia segera membuka pintu, Klek! anak kunci berputar, dan kret! Lauren mendorong pintu, dan masuk dengan senyum cerah dan wajah sangat berseri.


"Mengapa kau masih basah?"


Emily menatap dirinya. Lalu, mengangkat pandangannya, "Aku tertidur."


"Cepat ganti pakaian. Nanti, kau sakit!"


Emily  mengangguk kepala. Namun, tiba-tiba Lauren menahannya.


"Aku berubah pikiran!" Lauren menatap Emily.


"Ya,Bu."


"Berendamlah air dingin. Buatlah dirimu sakit."


Emily mengerutkan kening dalam.


"Ayahmu akan menyingkirkan Anna. Jadi, kau lah bergerak mendekat pada Ethan. Jadilah menyedihkan untuk mendapatkan rasa kasihan."


"...."


"Rasa kasihan. Sering bertemu. Sering mengisi satu sama lain. Perlahan dia akan melupakan Anna, dan mencintaimu, Emily."


Emily ambigu. Dia termanggu linglung. Hingga ibunya mendorongnya ke kamar mandi. Membuka keran air dan mengisi penuh bak. Melepas semua pakaian milik Emily, dan menuntunnya melompat masuk ke dalam bak mandi.


"Menempelah padanya dengan banyak mengeluh?"


Brrrttt! Tubuh Emily gemetar. Air sangat dingin. Bibir Emily tampak pucat dan terlihat putih kemudian.


"Ibu, Ethan tidak akan jatuh kasihan padaku. Aku mengenalnya."


"Tutup mulutmu! Kau tidak mengenal pria. Aku hidup puluhan tahun, berganti-ganti pria dan bergaul dengan mereka di belakang ayah tirimu ataupun ayah kandungmu."


Emily nelangsa. Biru. Seorang ibu yang dia kenal dengan setiap tutur kata yang mengutamakan kesetiaan pada rumah tangganya, adalah palsu


"Sejak kapan kau mengkhianati ayah?" Emily menahan tangan ibunya.


"Sejak dia tidak punya uang!" Lauren menepis tangan Emily kemudian. Dia terlihat melotot tidak senang akan pertanyaan puterinya.


"Ibu, apakah kau tidak mencintai ayah?"

__ADS_1


"Seseorang yang telah berkhianat, tidak akan pernah mengenal cinta dan setia. Seorang pergi, dia akan pergi berganti. Itulah aku."


"Tetapi, ayah begitu mencintai dan setia padamu. Bagaimana kau tega mengkhianatinya?"


Lauren duduk berjongkok di sisi bak mandi. Dia mengambil air dingin dengan tangannya, dan membasuh wajah Emily yang penuh air mata.


"Tidak semua orang baik akan berjodoh dengan orang baik. Aku mendapatkan kesetiaannya. Aku memiliki kebanggaan sendiri. Andai dia meninggalkanku, mungkin ayahmu di surga lebih bahagia daripada hari ini, Emily."


Emily meringis. Giginya gemeretak akan setiap kata Lauren. Ingin rasanya, dia menjambak ibunya segera. Namun, hanya Lauren lah wanita paruh baya yang dia miliki saat ini. Keluarga satu-satunya yang dia kenal.


"Oleh itu, kau harus menemukan pria yang tepat untukmu. Karena, walau darah yang mengalir dalam tubuhmu bukanlah milik Eduard. Namun, daging, tulang, isi otakmu adalah hasil pemberiannya. Oleh itu, kau harus mendapatkan Ethan dalam hidup. Itulah caramu berbahagia mulai hari ini."


Lauren tersenyum tipis. Emily merengkuh lututnya . Membenamkan kepala di atas setiap lutut yang bergetar dingin.  Dia tidak ingin melihat Lauren saat ini. Samar dia mendengar langkah Lauren menjauh. Dia pun segera menoleh ke pintu kala Lauren telah melewati garis pintu.


Emily menahan napas dalam dan berendam dalam bak mandi. Air yang begitu dingin, seakan menembus tulangnya.  Entah apa yang dia pikirkan saat ini. Setiap inderanya sekejap kehilangan fungsinya. Pandangannya gelap. Tubuhnya merosot perlahan ke dalam bak mandi. Byurrr! Dia tenggelam sesaat. Hingga air tiba masuk ke dalam hidungnya, dan membangunkan dirinya. Mengejutkannya. Dia segera keluar dari bak mandi. Mengenakan handuk.


Emily segera keluar dari kamar mandi. Sejuk pendingin ruangan. Menyapa kulitnya. Dia bergindik. Serasa berada di kutub es. Dia hanya  berdiri nelangsa pada ubin keramik kamarnya yang mengantarkan rasa beku hingga tulang.


Hatcimmm! Emily bersin. Dia mengedarkan bola matanya menelisik ke setiap sudut ruangan. Lalu, dia menghela napas lega. Lauren telah pergi dari kamarnya. Entah mengapa, untuk pertama kalinya, Emily merasakan ketakutan untuk tinggal bersama Lauren.


"Apa yang akan di lakukan ibu?"


Emily merasa bersalah seketika.


"Bagaimana jika sesuatu terjadi pada Anna?"


Mencintai itu bersikeras, bertahan dan menyingkirkan.


Emily berjalan lunglai. Mengambil salah satu kimono miliknya. Untuk pertama kalinya, dia linglung bingung akan dua kata. Mencintai dan menyingkirkan.


"Apakah aku harus membiarkan Anna tersingkir dari arena? Atau aku yang menyingkirkan diriku. Ah, cinta itu rumit, jatuhnya menderita jika tidak mampu melupakan."


Emily berjalan menuju nakas. Meraih ponselnya. Lalu, menekan dial hijau pada daftar kontaknya. Ethan- Tunanganku.


Emilly memanggil Ethan.


Tuts! Panggilan itu terputus begitu saja. Ethan mengabaikannya.


Hatcimmm!Hatcimmmm!


Emily bersin lagi dan lagi.


"Apakah aku harus mengikuti saran ibu?"


Emily pun membuka papan ketik ponselnya, dan mengirim pesan pada Ethan.


Ethan, aku sedang sakit. Bisakah kau mengunjungiku?


Lalu, Emily mengirimkan titik lokasi tempat dirnya berada.

__ADS_1


Beep! Tampak dua pesan masuk. Ethan masih mengabaikannya. Dia tampak berkecamuk di depan layar ponsel milik Anna. Sudah tujuh hari, dia tidak menemukan jejak Anna. Gadis itu tidak membalasnya dan tidak menghubunginya. Rumahnya di tinggalkan. Dia hanya menemukan ponsel Anna di dalam rumah. Ponsel itu tampak di tinggal dengan sengaja.


"Apa yang kau pikirkan, Anna? Meninggalkan tanpa satu katapun."


Deg! Ethan menggulung perasaannya sebentar. Dia telah duduk dengan banyak pikiran mencari gadis yang mencuri jantungnya. Tidak menemukannya. Seakan napasnya akan segera habis.


Tuk! Tuk! Tuk! Suara sepatu terdengar mengetuk lantai. Ethan mendongakkan kepalanya. Tiffani, ibunya datang dengan secangkir kopi hangat di tangannya.


"Ku dengar kau insomia?"


Ethan enggan menjawab. Dia berpura-pura kembali menatap buku di tangannya.


Tiffani meletakkan cangkir kopi di atas meja. Dia terkekeh dalam hatinya. Buku yang di pegang Ethan, jelas terbalik.


"Kau memikirkan seseorang?"


Ethan merasa berisik. Dia menurunkan buku, dan menatap ibunya. Ethan akan berkata sesuatu. Namun, tangan ibunya tiba-tiba mengeluarkan secarik foto dari dalam saku blazernya.


"Dia cantik. Namanya Angel Kim. Dia akan menjadi pengganti pertunangan."


"...." Ethan mengerutkan keningnya dalam.


"Kali ini, aku telah menyelidiki dengan hati-hati. Orangtuanya tidak memiliki utang. Hmm! Setidaknya aku dan ayahmu tidka terkecoh lagi dengan penampilan Emily dan Tuan Eduard. Gadis bernama Angel Kim, tidak akan menipu kita."


"Kau datang tengah malam. Hanya untuk menjodohkan puteramu?"


Tiffani mengangkat alisnya. Tubuhnya condong mendekati Ethan, dan berbisik, "Karena kau adalah pewaris tunggal Ruan."


"Berhentilah menjodohkanmu, ibu. Aku telah memilih seseorang di sini."—Ethan menunjuk dadanya sendiri — "Dia di sini. Bagaimana kau bisa menoreh nama gadis lain. Jika aku tidak mengijinkanmu."


Tiffani tersenyum. Dia mundur. Terlihat malas berdebat saat ini.


"Ibu! Tunggu."


Tiffani berpaling pada Ethan di garis pintu.


"Hilangnya Anna, apakah ada hubungannya denganmu?"


Tiffani menggelengkan kepala, "Aku belum melakukan apapun pada kekasih bawah standart itu!"


Blam! Tiffani membanting pintu.


Ethan menjatuhkan kepalanya bertumpu pada kepala kursi. Tatapannya menatap titik lampu. 


"Apakah ada secercah cahaya untuk hubunganku denganmu, Anna?"


...꧁❤•༆Anna & Ethan༆•❤꧂...


..."Mencintai itu bersikeras, bertahan dan menyingkirkan."...

__ADS_1


__ADS_2