Kekasih Tuan Muda Ruan

Kekasih Tuan Muda Ruan
Bukti yang sangat bagus


__ADS_3

Susan menarik selimut, menutup tubuh polosnya, dan menutup wajahnya, dibalik telapak tangannya, mulut kecilnya berteriak, "hentikan mengambil gambar."


Andie menutup kamera ponselnya, dan ibu jarinya membuka preview hasil bidikannya.  Wajah gadis itu terlihat jelas, cukup menjadi bukti yang kuat untuk diserahkan kepada Tuan muda Ruan.


"Apa yang kau lakukan?"


Andie mengabaikan pertanyaan yang terdengar marah padanya. Susan berdiri dengan selimut yang melingkar tubuhnya, dia bertekad merampas ponsel yang menyimpan bukti hubungan laknat semalam itu.


Melompat, dan berusaha menangkap ponsel, namun Andie jauh lebih tinggi daripada dirinya, dengan sangat apik mengacungkan ponsel di atas kepalanya, sehingga walaupun gadis itu melompat tinggi, dia tidak bisa menggapai.


"Sayang, berhentilah!" seru Andie terdengar mengejek dengan panggilan yang terdengar menjijikan bagi Susan. Susan kaku sebentar, mundur ke belakang, rambut-rambut halus tubuhnya terlihat remang dan berdiri akan ketakutan nyata yang di masa depannya, dia terguncang dan lirih bertanya, "apa yang  akan kau lakukan dengan video itu?"


Andie menyipit sebentar, memasukkan ponsel dalam celana, kemejanya terlihat berantakan, tanpa kancing di milikinya, sehingga dada atas pria itu terlihat polos dalam satu tampilan, "ada dua hal yang berguna menyimpan bukti ini."


Glek!


Susan menelan ludah. Dua hal. Hal itu membuat dirinya merinding dalam kejutan, "pemerasan apa yang kau inginkan?" teriaknya.


Andie memegang dagunya sendiri, seakan sedang menilai satu barang dengan  sepasang matanya penuh hasrat melihat jejak biru ungu yang dia tinggal, "satu hal pertama, untuk meminta jatah selanjutnya. Aku ingin kau menemaniku seperti layak wanita murahan yang menyambut tamunya."


Susan melotot, "tidak akan kuberikan. Hal menjijikan itu tidak akan terjadi."


Andie mengancam, ibu jari dan telunjuk pria itu menjepit ujung dagu gadis kecil yang meratap akan hidup malangnya, "tak memberi, maka akan tersebar. Kau pilih mana?"


'Cih....'


Susan meludah. Tetapi, tetap kehilangan seluruh kata-katanya. Ancaman pria ini menjepit kehidupannya. Dia telah lahir untuk diperah dalam kehidupan ini oleh pria tidak senonoh. Susan meruntuk kemalangannya hari ini.


Andie menghapus jejak ludah di wajahnya, dan menjilat kembali ludah masuk dalam mulutnya,  raut wajahnya datar dan puas, tanpa ada ledakan marah, dia hanya mengejek, "ludahmu sangat manis. Lain kali kita akan bertukar lebih banyak, nak."


Susan melemparkan tangannya ke udara, akan menampar, namun tangannya telah di cengkram, dan pria itu membisik di depan wajahnya, "jangan menampar seseorang yang telah menjadi pria dalam hidupmu. Sekarang harusnya kamu mengerti, nak! Karena semenjak hari ini, kita keluarga."


Jleb.


"Siapa yang... meminta mu melakukan kekejian ini? Apakah Tuan muda Ruan sombong itu?" tanya Susan sangat serak  meledak dalam satu kebencian yang terekam dalam retina yang terlihat  berkaca-kaca.


Andie berkedip sebentar, menepis dagu Susan, dan memamerkan pergelangan tangannya yang telah memakai jam Rolex,  dan tak butuh lama, dia hanya menjawab, "ini adalah sumbangsih rasa hormat terhadap sang majikan baru."


Jawaban pria itu terdengar ambigu. Hati Susan tercabik sebentar, membayangkan betapa teganya Tuan muda Ruan mengirim pria ini untuk mengotori tubuhnya.

__ADS_1


Susan memindai jam tangan itu, matanya tercekat membulat, dan menuding, "apakah kau mendapat bayaran dengan satu jam tangan itu? Apakah dia yang memerintahmu untuk melakukan hal ini? dia sangat jahat... hiks..."


Susan tersedu lagi.


Andie tersodok mengejek, dan membuka mulut, "sayang, apa bedanya dengan dirimu? bukankah kau juga membeliku untuk mengotori seseorang, apa itu di sebut kebaikan bewarna hitam, dan bukan kejahatan?"


"Tutup mulutmu!" Susan menolak mendengar, dia sangat jelas mendapati sindiran.


Andie hanya tersenyum miring, dia segera  berbalik, menuju pintu. Mendekati garis pintu, Andie melambaikan tangan tanpa menoleh ke belakang, dan berkata, "bye-bye sayangku."


"Kau sialan!" maki Susan dari belakang punggungnya.


Blam!


Suara pintu terhempas menabrak dan merapat kembali ke kusen pintu dengan sangat keras. Tetapi tidak ada kejutan sama sekali di wajah pria itu, dia tampak bersiul-siul sebentar  memandangi layar ponselnya,  dan dia terlihat  menunggu jawaban seseorang di seberang sana , dia telah mengirim bukti yang sangat bagus.


Beep—beep—beep.


Suara ponsel yang rendah tetap mengejutkan Ethan yang tengah terlelap, karena telinga Ethan selalu menjadi sangat waspada akan bunyi-bunyi sekitarnya. Dia telah terlatih untuk waspada setiap saat.


Matanya mengerjap sebentar, satu tangannya meraba-raba nakas dan menyalakan saklar lampu  meja.


Meraih ponsel.


Pesan dari orang asing. Satu telunjuk Ethan menekan notifikasi pesan baru


'Nama gadis itu Susan. Temannya belum saya selidiki. Bukti ini, akan menjadi senjata agar gadis itu tidak menganggu kekasih kecil Tuan muda Ruan lagi.'


Terbuai akan rasa penasaran. Telunjuk Ethan segera menekan pesan gambar yang dikirimkan untuknya.


Terperangah sebentar. Melihat sosok gadis yang terlihat tidak asing di matanya.


"Gadis ini? cih...." Ethan kembali ke ingatanya mengenai adegan lama, pertama kali dia melihat gadis ini, dengan berani gadis itu merangkul lengannya seakan memiliki rasa akrab yang berani menyentuh dirinya, saat itu dia menepisnya, dan gadis itu dengan wajah konyol berkata, 'saya tidak sekotor itu.'


Ethan makin jijik seketika. Bergindik ngeri. Kembali pada gambar, dia melihat gadis itu dalam kepolosan, "kau sekarang benar-benar telah kotor."


Melihat slide gambar lain. Ethan teringat hal, ide dan perintah ini, bukan miliknya.


"Ini?" —Ethan terbelalak akan gambar polos— "aku tidak memintanya melakukan hal gila seperti ini."

__ADS_1


Jemari Ethan membuka video masuk selanjutnya.


'Glek!'


Ethan menelan ludahnya ke dasar, melihat adegan tangis dan seruan minta tolong, terdengar pekak dan sangat kasihan, dia segera mengecilkan volume, namun wajah Ethan terlihat datar, tidak ingin jatuh kasihan, walau rasanya adegan ini termasuk brutal di matanya, dan b*jingan.


"Untung hal ini, tidak terjadi pada Anna," syukur Ethan lega.


Anna membuka matanya pelan, rasa pusing panjang mulai menguasai dirinya, dan dia bangun perlahan, dan tanpa sengaja mengintip ke pria sebelahnya.


'Aku bersama Ethan,' pikir Anna dalam kebingungan, terakhir yang dia ingat dia hanya bertemu Gita, dan tiba-tiba saja pandangannya menjadi sangat gelap setelah Gita menawarkan minuman untuknya.


"Kau pantas mendapatkannya,"gumam Ethan sinis. Gumaman pria itu membuat Anna bangun penasaran dan mengintip kemana arah mata pria itu melihat adegan peraduan dalam ponsel.


"Ethan!" pekik Anna mengejutkan Ethan. Ethan langsung mengunci layar ponselnya, tidak mengijinkan Anna melihatnya,


Anna duduk bangun di sisi Ethan, matanya melotot, "kau menonton film de—"


Wajah Anna merah, tidak berani menyelesaikan kalimatnya. Dia tertunduk, dan Ethan terlihat salah tingkah, dan pergi mengoreksi, "aku tidak menonton seperti yang kau kira."


"Kau mesum Ethan!" sindir Anna melipat tangan kemudian, dan menegur kembali, "kau harus menghapusnya Ethan. Kau masih sekolah, Ethan!"


Glek!


Ethan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, dan hanya memberi anggukan sambil berkata, "aku akan menghapusnya!"


Ethan memperbaiki posisinya untuk duduk, "arggh...." ringisnya keram karena pergelangan tangan kirinya sulit di gerakan. Seharian tangan kirinya telah menjadi bantal untuk Anna.


"Ada apa?" Anna terlihat bodoh bertanya, padahal dia telah menyadari, jika tangan Ethan telah menjadi bantal di bawah kepalanya, diam-diam dia mengutuk dirinya, yang merasa adegan ini, sangat manis melebihi gula.


"Tangannku keram." Ethan menarik tangannya sebentar, dan menggosok-gosok agar seluruh aliran darah kembali berfungsi sedia kala.


"Maaf," ucap Anna dengan tangan yang menjulur memegang pergelangan tangan kiri Ethan, dan perlahan-lahan bergerak memijit tiap otot-otot tangan Ethan yang terasa keram.


Ethan tersenyum di dalam hatinya, dan meminta lagi dengan sangat manja, "masih sangat keram, pijit sampai sini."


...


Bersambung.

__ADS_1


Jangan lupa dukung karya ini, dengan memberikan VOTE, COMENT, dan LIKE.


__ADS_2