
Anna mundur ke belakang, dan bersembunyi bak siput kembali ke dalam cangkangnya. Kata 'kasur' membuat dirinya bergindik malu bercampur takut di sisi Ethan.
"Aku tidak akan seperti itu, Anna." —Ethan berbalik mendapati Anna, dua tangannya jatuh mendarat ke bahu Anna—"aku tidak akan melempar dirimu ke kasur."
Tekanan Ethan pada satu kata terakhir, membuat Anna lebih salah tingkah, dan rona wajah berubah malu dalam satu detik. Apalagi dia telah memergoki Ethan yang telah menonton satu adegan dua orang dalam satu kasur. Hal ini, membuat Anna memandang Ethan terlihat pria pemakan madu, 'kau tidak ijinkan memecahkan kendi madu.'
Ethan membalas tatapan itu, dengan matanya, dia menyiratkan dirinya, 'Anna, aku bukan pria seperti itu. Jika itupun terjadi, aku akan bertanggung jawab.'
Erald menggosok ujung pelipisnya, dan mendapati pandangan di depan matanya, ialah dua sorot mata yang saling bertukar dalam tatapan. Manis sekali. Mengingatkan masa mudanya yang telah lewat.
"Uhuk!" dehem Erald dalam suara batuk yang di buatnya, dan menyindir kemudian, "tak ada kucing menolak ikan."
Deg!
Anna jatuh dalam rasa rendah dirinya yang lebih dalam lagi, ketika idiom itu di lempar padanya, dialah si ikan. Anna menggigit bibirnya, seakan Erald Ruan, paman Ethan menyindir kendi madu telah tumpah, dan Anna telah menuangkan dalam mulut Ethan.
"Aku bukan kucing dan Anna bukan ikan!" Ethan meledak bodoh, tangannya terkepal erat, ingin memberi tinju akan mulut yang tajam dan beracun, namun juga sangat tepat.
'Tak ada kucing menolak ikan.' Ethan terdiam dalam situasinya sendiri, mencerna satu kalimat itu lagi.
"Seorang gadis yang baik, akan tau kapan waktu tepat memberi kunci membuka gemboknya. Satu pencuri masuk, maka akan hilang semua," sindir Erald sengaja, dan sebelum berbalik, dia kembali mengetok lantai tiga kali dengan sangat keras, tok—tok—tok. Seakan menjadi palu keputusan dalam hidup seseorang.
Mendengar kalimat sindiran itu, raut wajah Ethan berubah kesal dan membatah dalam hatinya, 'aku bukan pencuri, paman! aku hanya meminta sedikit, bukan mencuri segala hal. Lagipula hal itu pantas terjadi, aku masih bisa bertanggung jawab.'
Sosok bayangan hitam paruh baya itu meninggalkan garis pintu. Namun, aura pria itu tertinggal jelas menegur jantung dan tulang-tulang Anna seakan berderak takut, dan meluyutkan dirinya, dia bahkan takut keluar menunjukkan hidungnya pada pria paruh baya itu lagi. Dipergoki dan ditegur, rasanya lebih buruk daripada dosa manapun.
"Jangan pikirkan!" tepis Ethan menggenggan tangan Anna erat, dan membawa sepasang kaki Anna melangkah mengikuti dirinya menuju pria bermatabat itu yang telah menunggu mereka dengan sepasang alis berkerut dalam. Entah, memikirkan apa, Ethan tidak bisa menebaknya.
__ADS_1
Mereka menyusuri anak tangga, demi anak tangga menuju lobby villa timur, menuju ke ruang tengah lobby, di sana pria bemartabat dalam satu tampilan dengan kaki yang menumpuk, dan raut wajah dingin yang terlihat biasa meremehkan setiap orang yang berdiri di hadapannya, kina terlihat memandang sangat rendah tampilan pasangan muda ini.
Erald memberi pandangan pada Ethan, dan mendecakkan ludah dalam mulutnya, karena dalam satu kedipan, dia telah mengetahui karakter dan hati Ethan. 'Tidak mampu menahan diri.'
Erald beralih pandang, memberi pandangan pada Anna, dengan sengaja menatap Anna dengan mata seorang pria menatap gadis muda.
Ethan mengerutkan keningnya, satu alisnya terangkat menunjukkan ketidak senangannya.
"Paman, jangan melihat Anna lagi." Ethan menegur dalam keseriusannya, seakan sepasang matanya telah melontarkan ancaman pada pamannya, 'kau memandangi lagi, maka aku mengeluarkan biji matamu.'
"Santailah Ethan, Anna gadis merdeka, siapapun boleh melihat dan mengulurkan tangan."
Deg!
Seakan ujung pisau berada di depan hidungnya, turun menyusuri dada kirinya. Ethan meludah api melalui matanya, dan satu tangannya mengesampingkan Anna segera bersembunyi dalam punggungnya kembali, "apa maksudmu, paman? kau menyukai Anna. Anna milikku!"
"Tidak! dalam hatiku, hanya ada Juliana." seru Erald keras membatah, matanya terlihat merah, "gadis muda manapun tidak pernah menggeser nama Juliana di hati Erald Ruan. Walau Juliana telah tiada, saya masih mencintai dalam diam. Apa kau bisa Ethan? tetap jatuh hati setiap hari, kepada yang tak bisa kau lihat, kau rasakan, dan kau sentuh. Apa kau mampu?"
"Lalu matamu tadi?" tanya Ethan panas menepis pandangan, mengejek, mengabaikan kesopanan dalam cara memanggil Erald Ruan,pamanya.
Erald mengabaikan pandangan Ethan, mengintip ke gadis yang tengah bersembunyi di antara rasa malu dan rasa takutnya. Erald merendahkan suaranya, berkata, "duduk dan bicaralah Anna, dalam segala hal, kau lebih dewasa dari keponakanku sendiri, kau pastilah memiliki telinga untuk orangtua ini."
Deg!
Anna masih bersembunyi memukul dadanya pelan, seakan mengusir kegugupannya, menenangkan degup jantung, seakan dia telah bertemu binatang buas yang mengancamnya. Panik dalam satu dekapan, dia belum berani menunjukkan hidungnya. Kini, dia sangat ketakutan akan aura Erald Ruan. Setiap kata pria itu memiliki makna yang serat akan kehidupan yang membuka mata semua orang yang kurang memiliki pengetahuan.
Anna ragu melangkah sebentar, akan melangkah keluar dari persembunyiannya. Namun, suara Ethan meludahi pamannya lagi, "aku juga memiliki sepasang telinga, tetapi aku belajar mendengar hatiku daripada kau."
__ADS_1
"Ayo kita pulang, Anna!"— Ethan memutar pandangan, pada pria paruh baya itu yang terlihat megah dalam kursinya— "aku lebih percaya hati nuraniku, tidak akan ada singa yang menelan anaknya. Ayah ibuku, pasti memberi restu. Aku yakin akan hatiku, aku hanya cukup keras kepala dan memegang niatku pada Anna."
Erald terkekeh sebentar, kakinya bergoyang, tangannya membawa cerutu masuk dalam mulutnya, meludah asap panjang, barulah dia menyindir, "suara hatimu menyesatkanmu, nak!"
"Cih!" Ethan melempar pandangan, dan mencoba membawa tangan Anna pergi, namun Anna tetap bertahan tetap di ubin yang sama. Ethan berbalik menatap Anna, mata gadis itu terlihat berkaca menatap pria paruh baya itu dan bibir gadis itu bergetar terbuka bertanya, "la-lalu a-apa yang harus k-kami laku-kan, paman?"
Ethan memintal lidahnya. Jika bukan Anna yang berkata, mungkin Ethan tidak akan bersikap tenang, dan mundur menarik amarahnya, "katakan paman? apa idemu?"
Erald terkekeh, dan membalik hal pada Ethan, "apa rencanamu, Ethan? apa idemu, Ethan? apa isi hatimu, Ethan?"
Ethan diam. Seakan Erald Ruan telah mendapatkan semua kartu dalam tangannya. Sindirian ide selanjutnya datang, "biarlah aku menebak apa yang akan kau lakukan,Ethan Ruan."
"...." Ethan menahan napasnya. Tangan Anna serasa dingin dalam genggamannya. Dia mencoba menyalurkan kehangatan dalam genggamanya.
"Kau berencana melempar Anna ke kasur, membawa benih Ruan dalam perut Anna, agar di terima Ruan."
Plak!
Bagai tamparan keras bagi Anna maupun Ethan. Anna menunduk malu, bahkan dia terpikir hal itu akan masuk akal, agar di terima dalam Ruan, dan Ethan bahkan mengiyakan hal itu, "jika iya, apa aku salah, paman?"
Anna menelan cemas dan paniknya, dan ingin menangis sekarang, 'ibu, kini aku mengerti, bahwa nasehatmu ada benarnya, mencintai orang yang berbeda sosial, adalah satu kesalahan.'
Erald melempar punggungnya ke sofa, dan matanya terputar ke atas, seakan kilas baliknya kembali, "suara hatimu menyesatkan,nak! Ruan tidak akan pernah menerima janin yang tidak di setujui. Janin bukan pilihan. Janin itu akan dilenyapkan. Aku dan Juliana, bukti nyata akan hal tersesat di masa lalu. Aku membuat Juliana tersesat dalam kehidupannya, cucu Ruan dalam perut Juliana, tidak di ijinkan melihat dunia. Apa kau mengerti?"
"Jika kau menghormati, Anna! Singkirkan ide buruk, buatlah dia layaknya gadis merdeka setiap saat, agar dia tetap hidup...." Erald menutup mulutnya setelah selesai satu kalimat, membiarkan Anna dan Ethan mencerna dengan baik maksud setiap kata yang dia lontarkan.
(...)
__ADS_1
Notes:
Jangan lupa, Vote (poin/koin), Coment dan share ke teman lainnya. Support yah!