Kekasih Tuan Muda Ruan

Kekasih Tuan Muda Ruan
Membatalkan Pertunangan


__ADS_3

Emily menatap pantulan dirinya pada cermin meja rias miliknya. Sepasang matanya merah. Dia telah menangis semalaman. Air matanya bak air  danau yang belum habis terkuras. Dia terus menangis sepanjang hari.


"Pertunangan ku batal hanya karena sebuah benda sialan ini!" teriaknya kencang dan ingin muntah segera. Emily menggenggam benda biru dengan dua garis merah itu. Dia membola kesal dan marah.


"Bagaimana dia bisa mengetahui rahasia yang aku sembunyikan. Padahal aku telah menutup rapat hal ini."


Emily menjilat bibirnya yang basah karena air matanya. Hampir saja dia sekali-kali ingin menggigit lidahnya dan minta mati segera.


Apakah Ethan selalu mengikutiku? Bagaimana dia bisa mengetahui rahasia yang bahkan tidak satupun orang tahu kehamilan yang tidak aku inginkan ini.


Emily lunglai di atas meja rias. Wajahnya pucat. Rambutnya berantakan. Rencananya pun ikut berantakkan. Jam 7 malam adalah gelar acara pertunangannya dengan Ethan. Namun,dia belum mengumumkan pembatalan kepada keluarganya. Dia hanya mengunci diri pada kamarnya.


Ethan, apakah kau tidak ingin mendengar ceritaku? Aku tidak ingin menjebakmu dalam pertuanangan yang semu. Aku menyukaimu melebihi apa yang ada dalam perutku saat ini. Aku bersiap membuangnya untuk memiliki kepercayaanmu. Namun, bagaimana kau tidak ingin melihatku dan menyebutku menjebakmu!


Emily mengerjapkan matanya. Dan menyesali kehadirannya pada sebuah night club untuk menghadiri sebuah pesta ulangtahun sepupunya. Dia mabuk pada pesta itu, dan tidur dengan orang asing. Orang asing itu bahkan tidak pernah dia ketahui wajahnya. Dalam sebulan kemudian, dia hanya mengetahui, dia tidak mengalami menstruasi,dan gejala hamil mengejutkannya, dan dia memeriksa sendiri dengan batang biru. Batang biru itu mengejutkannya. Garis dua yang menghancurkan dunianya seketika.


Tok!Tok!Tok! Ketokan pintu itu keras dan pekak.


"Emily biarkan perias masuk merias wajahmu. Waktu sudah mendekati acara pertuanganmu."


Emily mulai mengangkat kepalanya berdiri tegak, mendengar suara ibunya membujuknya. Namun, setiap raut wajahnya terlihat mengerikan. Hanya kesedihan yang dalam, tertuang di sana. Dia meraba wajahnya. Indah terlihat. Namun, menjadi sangat kotor hanya karena perbuatan yang tidak sengaja dia perbuat. Mabuk pesta dan di tiduri pria asing.


"Emily! jangan memalukan diriku! Buka pintu!" Suara ayah Emily terdengar marah.


Emily menggelengkan kepalanya. Dia bingung seketika. Bagaimana bisa dia menghancurkan pertunangan yang telah lama dia harapkan? Bagaimana dia harus menghancurkan hati sepasang orangtuanya karena dia harus berkata membatalkan pertunangan?


Tidak adakah sedikit hatimu, Ethan. Hanya untuk mendengar ceritaku dan memaafkan aku. Apakah aib itu harus berada di atas cintaku? Ah, kau pastilah tidak mencintaiku. Sedikitpun tidak ada hati untuk mencintaiku, ya kan?


Emily menelan isaknya. Tersenyum aneh dan getir.


Sebesar apapun cintamu, Ethan. Tidak akan pernah bisa menyentuh matahari yang tidak menginginkanmu. Aku hanya bisa pasrah Matahari hanya menyukai bulannya, tidak pernah bisa bertemu. Namun, berusaha menyatu. Beruntung sekali kau, Anna.


Emily tertawa renyah. Renyah yang menyakitkan hatinya. Dia memukul dadanya sebentar. Seakan meminta seluruh Isak di dalam dada segera turun.


"Emily!" Suara ayah Emily benar-benar marah.

__ADS_1


Drrreeet! Emily mendorong kursi. Dia berdiri dan melangkah menuju pintu. Rasanya sangat berat. Seakan berjalan menuju pintu neraka. Neraka yang akan menghancurkan seluruh surga untuk orangtuanya. Pertunangan Ethan dan Emily, adalah harapan besar dari dua keluarga besar untuk menuju pernikahan akbar dua keluarga besar tersebut. Bagaimana harus batal hanya karena sebuah benda biru dengan dua garis merah itu.


Ah... Ethan mengapa tidak ada sedikit cinta hanya untuk terus melanjutkan pertunangan. Mengapa kau  harus mendorongku ke neraka panas lebih awal. Kau buta akan cinta pada sosok yang tidak akan pernah bisa berdiri sama tinggi dengan dirimu.


Emily tidak melanjutkan langkahnya. Dia menatap pintu sebentar. Seakan dia mampu melihat bagaiaman seorang hakim yang akan meminta dirinya untuk memotong kepalanya segera.


"Emily! Buka pintunya!"


Tok!Tok!Tok! Gedoran pintu itu menakutkan.


Emily menggenggam benda biru dalam tangannya. Kubu tangannya terlihat bergetar dingin.


"Ak..ku ha... rus mengakhirinya ...," lirih Emily pada dirinya sendiri. Dia pun menapaki telapak kakinya pada ubin selanjutnya. Berjalan mendekati pintu. Pintu neraka untuknya.


Klek! Kunci terbuka setelah sandi dia tekan. Emily mundur tiga langkah.  Dia ciut untuk membuka pintu neraka itu.


Kret! Pintu segera terdorong terbuka. Eduard, Ayah Emily menatap heran, kala pintu ternganga lebar, dan wajah puterinya terlihat  mengerikan. Sepasang mata merah, kelopak mata bengkak, wajah pucat dan rambut berantakan.


"Ada apa denganmu Emily?"


Lauren,ibu Emily lebih dulu bergerak. Memungut benda biru itu. Ada sinar keterkejutan dalam matanya.


"Siapa yang hamil?" tanya Lauren menyimpan rasa takutnya.


"A-aku!"


Eduard menyipit. Mencoba merangkai apa yang terjadi. Benda biru, wajah penuh air mata dan pertunangan.


"Anak Ethan?" harap Lauren. "Tidak masalah jika itu anak Ethan."


Emily tersenyum getir. Kepalanya ingin mengangguk setuju. Namun, nalurinya menentangnya. Ethan akan berkali-kali membencinya.


"Bukan milik Ethan!"


Eduard kaku. Tidak mampu berkata satu katapun. Hanya langkah kaki berat yang mendekati Emily, dan plak! Pipi puterinya merah seketika setelah tangan besar itu mendarat panas.

__ADS_1


"Batalkan pertunangan!" Pinta Eduard pada Lauren. Pria tua itu melangkah pergi. Di garis pintu dia berhenti sebentar, hanya untuk menyeka air matanya. Setelah air mata itu terseka. Dia berjalan dengan punggung yang terlihat berat akan gendongan di pundaknya.


Lauren getir sebentar.


"Tidak seharusnya batal. Jika Ethan tidak mengetahuinya!" Lauren optimis akan pertunangan. "Ethan belum mengetahuinya kan?"


"Sayangnya, dia telah mengetahuinya lebih dulu."


Lauren menelan ludahnya. Ada riak tiba-tiba naik ke dalam dadanya. Bagaimana bisa dia jatuh ke dari angan-angannya? Memiliki menantu penerus Ruan, adalah impiannya selama ini.


"Kau menghancurkan impianku!" Lauren kesal dan melempar benda garis biru pada wajah Emily. Benda biru itu jatuh ke lantai. Menghancurkan segalanya.


"Maaf!" lirih Emily menunduk dalam. Sepasang sendal tidurnya jatuh menerima air matanya.


"Perkataan maaf tidak akan bisa menghapus apa yang telah terjadi. Berpikirlah sebelum kau bertindak. Lalu siapa pria itu?"


Emily bisu. Dia bahkan tidak mengenali pria itu. Diaabuk dalam pesta saat itu.


"Siapa pria itu?" selidik Lauren sedih.


"Aku tidak mengingatnya. Saat itu, dia pergi lebih dulu. Aku hanya terbangun di sebuah hotel."


"Lalu, apa yang kau akan lakukan dengan bayimu? Aborsi?"


Emily menggelengkan kepalanya.


"Aku tidak berani melakukannya, ibu."


"Kau bodoh! Aborsi adalah cara terbaik  menyelematkan masa depanmu."


"Ibu, aku takut karma itu akan berlanjut!"


"Tetapi, lebih menakutkan lagi membesarkan anak tanpa seorang pria di sampingmu. Apa kau mengerti? Semua telinga yang mengetahui akan membuka mulut untuk mencibirmu. Apa kau bisa mengangkat kepalamu?"


...꧁❤•༆Anna&Ethan༆•❤꧂...

__ADS_1


Jangan lupa mampir ke cerita : Hantu istriku balas dendam yah 💞💞


__ADS_2