
"Terkadang seseorang yang menanti itu bukan pengecut. Aku hanya menunggu waktu yang tepat, dan membiarkan Tuhan menyelesaikan segalanya. Jika dia bukan untukku. Aku hanya bertepuk tangan di pinggir arena akan pertarungan yang berakhir bahagia. Anna bukan milikku. Aku turut bahagia jika dia bahagia."
Bibi Yuna menyeka air mata Joe, "Kau boleh memiliki seseorang di sini."— Bibi Yuna meletakkan telunjuk di dadanya— "Kau boleh berhenti sebentar, dan berjuang di saat yang tepat. Terkadang, kita harus menunggu lawanmu lelah dengan hatinya sendiri. Hanya untuk meraih tujuanmu, dan menginjak yang lain. Kau lah pemenang yang cerdik"
"...."
"Apakah kau menyetujuiku?"
"Dulu aku berpikir yang terbaik adalah pemikiran milikku. Namun, itu salah. Yang terbaik adalah membiarkan dirimu memilih sesuai kehendak. Karena pengaturan seseorang itu akan menjadi dilema kelak. Biarlah kau memilih berjuang ataupun berhenti, karena hatimu."
Joe menarik napas panjang, "Semua itu kembali kepada Anna. Apakah dia menyukaiku?"
"Bertanyalah."
"Untuk saat ini. Aku ragu. Dia pasti sangat menyukai Ethan."
Bibi Yuna tertawa. Dia membelai wajah puteranya, "Aku tahu kau sangat menyukainya. Oleh itu, belajar lah dari ibumu. Berhentilah sebentar, dan berjuanglah di saat dia sedang membutuhkan seseorang. Kau hanya menunggu waktu yang tepat saat itu."
Joe mengerutkan dahinya.
"Karena seorang gadis sekuat apapun dia akan jatuh pada bahu seseorang yang mampu menghiburnya."
"...."
...꧁❤•༆Anna & Ethan༆•❤꧂...
Anna menyusuri koridor rumah sakit. Sepulang sekolah dia baru mengetahui, jika Joe Han telah di pindahkan ke ruang perawatan,dan boleh di besuk.
Drrt! Ponsel Anna bergetar. Anna merogoh segera dari saku blazer seragam sekolahnya.
Wo ai Ethan. Nama yang tercetak di layar ponsel Anna. Beberapa waktu yang lalu, Ethan lah yang mengganti nama kontaknya sendiri pada ponsel dari Anna, dari Tuan sombong menjadi Wo ai Ethan.
"Mengapa kau baru menghubungiku?"
"Kau sakit?"
"Aku pikir kau akan menemuiku setelah batal pertunangan."
" ...." Hanya suara napas berat yang terdengar dari seberang.
"Kau sungguh sakit, Ethan?"
"Tidak. Aku tidak sakit," jawab Ethan di seberang.
"Hmm, syukurlah."
"Tetapi ...."
Anna gugup. Deg! Dia berhenti melangkah. Dia menggenggam kuat ponselnya, seakan berharap bukan berita buruk yang akan dia dengar selanjutnya.
"Emily sedang sakit."
"Mantan Tunanganmu sakit!" Anna terdengar ketus dalam penyebutannya.
Seharusnya kau tidak perduli padanya, Ethan. Jika kau sudah memilih diriku, kau tidak boleh simpatik sedikitpun pada gadis lain. Kau membuatku kesal, gerutu Anna dalam hatinya.
__ADS_1
"Ayah Emily meninggal dunia pada hari pembatalan petunangan. Saat ini dia jatuh sakit. Dia tidak mengijinkanku pergi sedikitpun dari sisinya!" Suara Ethan terdengar sangat serak.
Anna membuang napasnya. Membentuk bola asap di udara. Tidak ingin membalas dengan kata-kata. Anna mengakhiri panggilan segera.
"Kau berkata seperti itu, seakan sudah memilih putus dariku, dan memilih menjalin hubungan dengan mantan tunanganmu yang terlihat mendadak malang."
Anna menggelengkan kepalanya. Rasa pahit berkecamuk di dadanya. Membuat dia lupa akan tujuannya sebentar. Dia berjongkok untuk menenangkan napasnya.
Apakah Ethan sudah gila? Apakah mereka akan kembali bertunangan hanya karena satu tragedi?
Anna menarik napas panjang. Berpikir keras. Mengambil ponselnya kembali dan mengirim pesan pada Ethan.
Rawatlah dia sebentar. Tetapi, jangan lupa jantungmu adalah milikku.
Setelah mengirim pesan. Anna gugup menunggu balasan pesan. Dia duduk lama berjongkok, dan barulah bunyi beep terdengar.
Apa kau tidak cemburu?
Anna menautkan alisnya. Tiba-tiba dia berdiri dan seraya mengetik balasan segera.
Tentu saja. Aku takut kau berubah pikiran dan kembali padanya!
Anna menggelengkan kepalanya dan menggerutu dirinya sendiri, "Kita masih sangat muda, mengapa aku mengajak dia berbicara seperti ini sih?"
Beep! Pesan baru masuk kembali.
Aku tidak akan berubah. Hanya saja, aku takut dia tidak akan melepaskanku. Bagaimana menurutmu?
Anna merenggut seketika. Emily tidak akan melepaskan Ethan. Tentu saja, setiap gadis tidak akan ingin kehilagan Pewaris Ruan. Tuan pencetak uang.
Selesai mengetik pesan,Anna kembali berjalan. Tidak ada balasan pesan lagi. Anna terlihat mematung menunggu balasan pesan. Namun, tidak ada.
Kret! Anna memutuskan berhenti menunggu dan masuk ke ruang perawatan Joe Han.
Pintu ternganga lebar. Anna berdiri di garis pintu. Pria berwajah pucat dan yang terus terbaring dengan selang itu, kini mampu duduk dan melambai tangan padanya. Bibir pria itu pun mampu menyebut namanya seperti dulu.
"Anna."
Joe tampak cerah. Kulitnya terlihat merah sehat. Seakan aliran darah memuncak kala gadis pujaanya datang.
"Joe, apa kabarmu? Kau baik?"
Joe mengangkat kedua alisnya dan sorot matanya menunjuk kursi. Mempersilahkan Anna duduk di sisi ranjangnya.
"Aku baik," jawab Joe setelah Anna duduk di sisinya.
"Bagaimana keadaanmu?" umpan Joe lagi.
Anna tersenyum cerah. Ada sebutir air mata jatuh.
"Mengapa kau menangis?"
Anna menggelengkan kepala.
"Aku hanya rindu padamu! Sudah laam aku tidak mendengar suaramu."
__ADS_1
Joe menyeka air mata Anna, dan mengangkat dagu gadis itu sebentar, dan seakan berpura-pura memeriksa wajah Anna.
"Kau kurusan? Apa kau diet?"
"Tidak!" Anna menggeleng dan menjatuhkan tangan Joe di atas kasurnya.
"Anna,apa aku tidak lulus sekolah? Aku belum mamapu mengikuti ujian saat ini. Aku terlambat mengikuti ujian?"
"Akan ada gelombang khusus untukmu, sekolah akan memberi dispensasi."
"Alangkah baiknya jika kita lulus bersama, Anna."
"Tentu saja."
Aku ingin mengambil foto berdua saja dengan di wisuda nanti, untuk pertama kalinya, pikir Joe.
"Bagaimana hubunganmu dengan Ethan?" umpan Joe sengaja.
Anna malu menjawab. Namun, pipinya yang merona merah mampu menjadi jawaban yang cukup di mengerti Joe.
"Apakah kalian sudah menjadi sepasang kekasih resmi?"
Anna menggangguk. Tidak ingin merahasiakan dari Joe.
"Tepatnya menjalin hubungan rahasia."
Hati Joe getir sesaat. Jantung barunya seakan berisik protes.
Mengapa kau tidak bisa berbohong sedikit hanya untuk menyenangkan hatiku? tanya Joe dalam hatinya larut dalam kecewa.
"Mengapa rahasia?"
"Karena banyak yang tidak menyetujui!" Anna terlihat malas membahas kemudia. Dia segera mengambil apel dan memotongnya menjadi beberapa bagian.
"Sampai kapan kalian merahasiakannya?" ungkit Joe kala tangan Anna selesai memotong buah.
Anna hanya melotot menolak untuk berbicara.
"Bukankah kau selalu bercerita apapun itu?
Anna mengangkat bahunya.
"Entahlah, Joe. Hubungan ini rahasia atau akan berakhir tanpa pernah di ungkapkan."
"Apa kau yakin berjalan dengan bersembunyi?"
Anna membisu sesaat. Dia menatap ke luar jendela. Ada awan dan matahari. Cerah. Namun, setiap pertanyaan Joe. Membuat dada Anna menjadi mendung.
"Hubungan kami rumit. Bersatu terlihat seperti minyak dan air. Berpisah terlihat seperti mencongkel jantung dari raga."
"Aku juga melihat begitu." Joe merasa sangat miris. Perbedaan yang begitu banyak dan sangat rumit.
Anna, ketahuilah aku adalah sosok sederhana di hadapanmu. Namun, kau tidak pernah melihatnya. Kau hanya perlu melihat diriku, dan kita bersama tanpa banyak perbedaan yang akan kita temui. Bersatu denganku, tidak akan serumit menyatukan matahari dan bulan.
...꧁❤•༆Anna & Ethan༆•❤꧂...
__ADS_1