Kekasih Tuan Muda Ruan

Kekasih Tuan Muda Ruan
Debu Yang Menyakitkan Mata


__ADS_3

Anna masih tidak bergeming. Dia masih menatap biru akan pria yang bersikap arogan, dan telah  menuduhnya sebagai pencuri. kini, pria itu telah berlutut dengan penyesalan yang sangat dalam. Berlutut, membenturkan kepala.


Tak lama, kening pria muda tampak berusia tiga puluh tahun itu, tampak sangat merah, dan lecet yang merembeskan darah segar.


"Berhenti berlutut!" teriak Anna, tangannya segera menjulur mencegah   pelayan itu untuk terus berlutut. Namun, pelayan itu mengindahkan uluran tangan tersebut.


Ethan menyipitkan matanya. Kilatan matanya terlihat tidak senang. Kala, tangan Anna di tepis kasar oleh sang pelayan, yang nyata telah terlibat menindasnya tadi.


"Kau terluka." Anna berjongkok membantu. Sekali lagi, pelayan itu menepis uluran tangan itu. Baginya, tangan emas pria itulah yang harus turun terulur, membantunya kembali berdiri. Dengan begitu, dia akan lebih berani mengangkat kepalanya.


"Biarkan! Walaupun kepalanya terbagi dua di hadapanku. Aku tidak akan pernah memaafkannya."


Baru saja, Anna akan protes. Suara wanita paruh baya yang terdengar tajam menyapa dalam satu kalimat teguran, "Ruan memang berdarah dingin. Tetapi, siapa sangka yang di bela, sama rendahnya dengan yang membenturkan kepala ke tanah."


"Ibu!" Ethan menaikkan suaranya menyebut nyonya besar yang melangkah elegan menemui dirinya dan Anna. Tentu saja, Ethan tidak menyukai ibunya menyebut Anna, adalah seorang rendahan.


"Ada apa Ethan? Apa aku salah berbicara? Apakah kau tidak ingat etiket Ruan?  Ruan membawa sepatunya, bukan untuk mengurus hal kecil. Sepatunya berhadapan dengan orang besar. Mengapa kau singgah mengurus hal kecil? Gadis ini ...."  Tiffani, Nyonya Ruan menilai Anna. Kali ini, adalah kedua kalinya dia menilai gadis itu. Pertama di lift. Kini, di halaman rumah kediaman Ruan.


"Dia terlihat, seperti debu di mataku. Sakit sekali mataku, melihatnya."


"Ibu!"  Ethan marah. Anna menunduk malu.


"Penjaga keluarkan dia segera!" usir Tiffani dengan telunjuk yang menunjuk hidung Anna.

__ADS_1


Berani sekali, mendekati puteraku. kau pikir kau seorang Cinderella. Mengharapkan sepatu kaca. Yang ada, aku akan menusukkan serpihan kaca pada setiap nadi di telapak kakimu. Mendekati puteraku, hanya memberi kematian yang datang perlahan-lahan.


Tidak perlu menunggu lama. Dua pria dengan seragam Security, segera datang. Namun, satupun tidak berani menyentuh Anna. Tatapan Ethan, lebih dulu mengirimkan pukulan yang menciutkan nyali mereka.


Tiffani menjulingkan matanya ke atas sesaat melihat betapa puteranya menentangnya, dan berteriak lebih keras pada kedua penjaga, "Usir dia, atau lucuti seragam kalian ke tanah!"


Seragam di lucuti. Di pecat.


Kedua penjaga saling bertukar pandang. Kuasa Tiffani, sebagai permaisuri Tuan William Ruan, ayah dari Ethan Ruan. Seharusnya lebih di takuti. Namun, mata melotot Tuan muda Ruan terlihat mampu menelenajangi mereka dalam satu tembakkan.


Mendapatkan pertukaran keraguan di antara dua penjaga. Anna segera memutar kepalanya, dan berkata, "Tidak perlu di usir. Tidak perlu di antar. Aku masih memiliki sepasang kaki, dan tahu jalan pulang."


Anna mundur selangkah, menjauh punggung dingin pria kelahiran emas itu, dan menepis tangan emas yang berusaha menggenggam tangan kecil gadis itu.


"Anna."


Tersisa Ethan.  Bertukar mata dengan ibunya, Tiffani.


Tatapan sinis terlihat jelas di mata puteranya.


"Jangan memandang diriku seperti itu. Aku tidak sedang merampas kebahagiaanmu. Namun, aku telah menyelamatkan dirimu, sebagai jantung Ruan, kau harus besar di depan semua orang! Pasangan yang tidak layak, tinggalkan!" jelas Tiffani.


Ethan memutar langkahnya, mengitari ibunya sebentar. Lalu, membiarkan punggung mereka saling bertolak belakang, dan kilat matanya terlihat nyalang, sebelum dia melontarkan kalimatnya.

__ADS_1


"Karena kau tidak pernah jatuh cinta. Oleh itu, kau tidak akan pernah tahu ... bahwa, standar pasangan layak itu akan hilang, ketika kau jatuh cinta."


Ethan lalu mengangkat kakinya masuk dalam kediaman Ruan. Meninggalkan kebisuan, dan hanya melirik sebentar pada pelayan yang masih meletakkan keningnya di atas tanah. Tidak ada sedikitpun, rasa kasihan terbit di matanya.


Sedangkan Tiffani nampak terdiam. Dia menyimpan jawabannya dalam hatinya. Ketika, dia dipertanyakan, apakah dia pernah jatuh cinta?


Aku pernah jatuh cinta, pada pemuda yang pernah aku anggap debu. Aku meninggalkannya. Karena, aku menyadari sejak dalam kandungan, aku telah di rancang menjadi emas yang berkilau. Emas bertemu debu, hanya akan kehilangan kilauannya. Oleh itu, aku singkirkan debu. Awal mulanya, terasa sangat menyakitkan. Namun, setelah aku bertemu ayahmu. Kini, aku mengerti bahwa berjalan dengan seseorang yang sama tingginya, akan membuat dirimu terasa mampu membeli seluruh dunia. Dunia itu milikmu, Ethan Ruan. Lalu, pria yang aku cintai itu ....


Tiffani terdiam sejenak. Ingatannya lari pada sosok pria, yang pernah menjadi cinta pertamanya. Pria itu ... kini hanya memiliki swalayan kecil di pinggiran kota. Dia memiliki seorang istri yang cantik dengan penampilannya sangat sederhana. Lalu, memiliki satu orang Puteri yang terlihat mengambil wajah ayahnya. Saat itu, mereka terlihat nampak makan dalam satu meja makan. Mereka mengangkat sumpit, seraya bertukar kebahagian. Suara tertawa mereka terdengar sampai keluar.


Malam itu, Tiffani tidak berani melangkahkan kakinya untuk mengintip lebih jauh. Dia hanya sekedar ingin tahu, bagaimana keadaan cinta pertamanya yang pernah dia tinggalkan? Terlihat bahagia. Sangat bahagia. Karena meja makan keluarga Ruan, selalu senyap, hanya suara sendok garpu terdengar bersentuhan piring, itupun sangat senyap.


Tiffani meneteskan satu bukir air matanya. Dia segera menghapusnya dengan punggung tangannya.


Uang dapat membeli dunia. Namun, tidak pernah membeli tawa seseorang. Walaupun tertawa itu gratis terdengar. Namun, bagi kami tertawa itu sangat sulit. Oleh itu, aku ikut berbahagia karena orang yang pernah aku cintai, bisa tertawa bersama orang yang sejajar dengannya. Jika, dia terus melangkah saat itu. Mungkin, hanya kepahitan, cemoohan dan jalan buntu. Buat apa mempertahankan hubungan .... Jika, kita hanya akan menuai makian, karena garis yang tidak sama panjang, tembok yang tidak sama tinggi, dan isi mangkok yang berbeda. Oleh itu, lepaskan siapapun yang paling kau cintai, agar dia berbahagia tanpa harus tertekan. Cinta adalah memberikan kebebasan untuk bernapas, bukan menjerat napasnya.


Tiffani menghapus kembali air matanya. Setelah, yakin dia tidak meninggalkan jejak. Dia memutar tubuhnya. Dia berjalan dengan hak yang mengetuk lantai dengan keras, dan kakinya berhenti tepat di depan pelayan yang masih dalam posisi berlutut, keningnya masih menyentuh tanah.


"Bangunlah, dan ambil uang dengan kepala pengurus untuk mengobati lukamu," tegur Tiffani lembut.


"Terimakasih atas kebaikanmu, Nyonya." Setelah mengucapkan terimakasih, pria itu baru berani mendongakkan kepalanya, dengan sengaja memamerkan keningnya yang telah terluka.


"Apakah aku bisa mendapatkan uang untuk pengobatan yang lebih bagus? Aku takut lama membenturkan kepala, aku telah mengalami gegar otak." Pelayan itu terdengar memelas meminta jumlah yang banyak.

__ADS_1


....


Bersambung ....


__ADS_2