
Susan menarik senyum miring di hadapan Anna, dengan satu tangan mengelus ufuk kepala gadis itu, "Kau kasihan sekali."
Jika kau kasihan, mengapa menindasku, sih?
Anna menepis tangan Susan. Ingin tersedak menangis. Namun, sangat malu harus menangis di depan orang-orang yang sedang menindasnya.
"Sebut saja, dia telah bersama dengan Joe beberapa kali sebelumnya, dan aku adalah saksi hubungan gelap kalian. Setelah Tuan muda Ruan, akan mencampakkanmu, setelah mengetahui kau juga memiliki hubungan lain dengan pria lain!"
Selesai melontarkan idenya. Gita dan Yuri terbahak. Seakan berita yang mereka ciptakan, akan menjadi hal yang melucuti masa depan Anna.
"Kau pintar," puji Susan pada Gita.
"Ini namanya menyelam sambil minum air, aku akan selalu mendukungmu, untuk mendapatkan Tuan muda Ruan," timpal Gita.
"Benar sekali. Membuka aibnya, menyingkirkannya, dan selanjutnya aku menjadi kekasihnya." Susan tersenyum sinis membayangkan rencananya, yang akan menuai kesuksesan, seperti yang dia inginkan. Mendekati dan menjadi kekasih seorang pria yang terlahir kaya, adalah impiannya.
"Jangan melupakanku, jika sudah kaya raya, yah."
"Tentu tidak," jawab Susan berbangga akan dirinya sendiri. Dia hanya tinggal menunggu waktu yang tepat, mendekati dan menjadi bagian dalam hidup Tuan muda Ruan.
"Anna, karma itu sekarang akan mengikutimu, bukan mengikutimu lagi," cam Susan.
Anna tersudut sesaat. Benar. Dia ingin menangis sekarang. Joe sedang sekarat. Mengapa mereka begitu tega? Membawa nama Joe dalam lumpur hitam yang sama dengan dirinya.
"Tolong! jangan lakukan hal itu. Aku mohon. Joe tidak mengetahui apapun."
"Walaupun kau menangis mengeluarkan darah dari biji matamu, kami akan bersikap tuli setiap saat."
"...."
Anna menarik tangan Gita. mencengkramnya dengan kuat, dan berjinjit mengancam Gita.
"Aku akan melapor pada ibumu, bibi Dina. Jika kau berlaku keji padaku."
Gita mendorong Anna, kembali menabrak dinding.
"Ketahuilah, ide ini berasal dari ibuku. Ibuku memintaku, untuk mencoreng nama Su. Karena ibu jala*gmu, berani melirik ayah—"
Plak!
Anna mengangkat tangannya, dan menampar keras Gita. Dia tidak pernah mengijinkan seseorang untuk menghina Nana, bersamanya.
"Kau boleh menghinaku, tetapi kau tidak boleh menghina ibuku!"
Gita memegang pipinya. Belum saja dia akan membalasnya, Susan segera bertindak, dan mendorong tubuh Anna dengan keras. Jatuh ke lantai dingin, dan barulah dia meludah ke tanah, dekat ujung sepatu Anna.
Cih!
"Kau dan ibumu, sama persis. Lihatlah, kelahiranmu .... Apakah kau mengenal ayahmu?"— Susan menatap dengan jijik — "Akulah peludah pertamamu!"
__ADS_1
Susan berdiri dengan tangan terlipat, dan sepasang matanya yang mendongak turun merendahkan lawannya. Lalu dia melintas pergi, sambil berjalan ke luar rumah, dia berpesan.
"Jangan sakiti dia lagi! Pelajaran hari ini sudah cukup!"
Gita dan Yuri tersisa dalam ruangan.
Cih!
Gita mengikuti sikap Susan, dia meludah dekat ujung sepatu Anna pula.
"Aku peludah kedua. Meludahi kehidupanmu, adalah tujuanku dari awal ...."
Setelah itu Gita meninggalkan rumah, tersisa satu siswi yang mengenakan seragam yang sama dengan Susan. Yuri. Dia terlihat memasang wajah merasa sangat kasihan. Tiba-tiba dia mengulurkan tangannya, seakan memberikan bantuan agar Anna bisa berdiri kembali.
Anna mengambil tangan itu. Baru saja dia berdiri. Tiba-tiba Yuri mendorongnya kembali ke lantai dengan sangat keras, dan menginjak jemari Anna dengan ujung sepatunya.
"Awww!" Anna meringis. Yuri mengangkat tumit sepatunya.
Yuri terbahak, dan berjongkok dengan wajah polosnya yang perlahan berubah menjadi lebih licik dan kejam.
"Aku menolongmu, hanya untuk mendorongmu lebih keras, dan menginjak jemari tanganmu!"
Anna mengatupkan antar gigi dengan keras. Dia mengepalkan tangannya erat, namun sinar matanya terlihat menyinarkan kepedihan yang dalam. Seakan dirinya membawa kuk kutuk di balik punggungnya, semua orang mengejarnya dan membencinya.
"Kau bodoh sekali, sih! Tidak pernah ada yang namanya musuh akan mengulurkan tangannya untuk membantumu. Belajar dari itu yah!" Setelah berkata demikian, Yuri meninggalkan rumah tua tersebut.
Blam!
Anna bangkit berdiri, menghapus jejak debu dan kotoran yang mengenai seragamnya. Dia menatap ke luar jendela. Entah, dia takut untuk berangkat menuju sekolah. Takut akan berita yang di lemparkan seperti kotoran depan wajahnya.
Bimbang akan pilihannya. Pergi ke sekolah atau pergi ke tempat lain. Tetapi ... tempat lain, dimana? Anna tidak memiliki tempat tujuan, selain ingin pulang ke rumah. Namun, Nana berada dalam rumah. Mengurungkan niatnya kembali ke rumah. Anna melangkah keluar dari rumah tua tersebut, menuju halte.
Menunggu bus yang lewat. Tidak menunggu lama, bus sekolah tiba. Anna naik ke bus, duduk di kursi terbelakang. Tanpa menyadari, seorang siswa dengan seragam sekolah yang sama dengannya, berada di kursi bersebelahan dengannya.
Bersikap acuh. Sampai ketika, siswa itu menyapanya.
"Hai, Anna."
Anna masih menundukkan kepalanya.
"Anna," sapa siswa itu lebih keras, dan satu tangannya menepuk Anna. Mengejutkan Anna dari lamunannya.
Anna menoleh ke sosok yang memanggil namanya. Menatap seperkian detik, tersenyum, dan menyapa kembali, "Hai, Stephan. Mengapa kau berada dalam bus?"
Anna menatap seragam baru yang di kenakan Stephan, terlihat jelas tag nama sekolah yang sama dengan Anna. Hal ini terlihat mustahil. Namun, sangat nyata.
"Kau pindah ke sekolahku?"
Stephan tersenyum, "Aku pindah di sekolah yang ada dirimu."
__ADS_1
"Mengapa?"
"Aku dikeluarkan dari sekolah lamaku, karena memukul seorang siswa. Yang baru, aku ketahui, ternyata dia adalah putera direktur sekolah."
"...." Anna tampak antusias mendengarkan penuturan Stephan, dan bertanya-tanya dalam hatinya.
Apakah Ethan sudah mengetahui tentang Stephan pindah sekolah yang sama denganku?
"Lalu, kau dikeluarkan karena memukul siswa kaya raya dan sombong, yang pandai mengadu pada orangtuanya."
Stephan menganggukan kepalanya dengan bersemangat. Namun, menyembunyikan sinar kebohongan dalam matanya.
Maaf, jika mulai hari ini, aku akan terus berbohong. Hanya untuk mendekatimu, guman Stephan dalam benaknya.
"Apakah dia sangat terluka parah?" tanya Anna.
"Yang aku tahu, dia patah tulang tangan dan patah kaki pula. Mungkin dia harus menggunakan kursi roda untuk sementara waktu," jawab Stephan.
"Kau juga sangat menakutkan seperti, Ethan. Ethan pun telah melakukan hal yang sama pada tiga pria pemeras uang," tutur Anna bersemangat.
Stephan mengatupkan rahangnya sebentar. Memaksakan dirinya tersenyum. Namun, hatinya sangat terbakar ketika nama Ethan Ruan lolos begitu saja dari mulut seorang gadis yang sangat dia sukai.
Aku tidak akan mengalah lagi, Anna. Aku akan mengejarmu, menjadi bagian dalam hidupku.
Termasuk harus berbohong dan menyingkirkan seorang teman baik sekaligus rival beratku. Ethan Ruan, aku akan meyingkirkanmu.
"...." Anna menatap seragam Stephan yang sama dengan dirinya, dan berkata lagi, "Aku tidak menyangka. Kau mau merendahkan dirimu, masuk sekolah miskin seperti kami."
Tujuanku adalah lulus sekolah bersama denganmu, Anna. Aku tidak perlu ijasah ternama, pikir Stephan.
"Apa yang kau pikirkan?"
Anna menggelengkan kepala. Namun, terljbag sangat jelas rasa cemas bercampur khawatir.
"Kau terlihat, banyak yang kau pikirkan? Apakah hal itu terlalu rumit?"
Anna menggelengkan kepalanya, "Tidak ada, yang aku pikirkan."
Stephan tersenyum kembali, "Mohon bantuannya di sekolah baru, nanti."
Anna mengedipkan matanya, detik selanjutnya menganggukan kepalanya. Menyimpan rasa herannya dalam hatinya, Mengapa Stephan pindah sekolah kemari?
......................
Bersambung ....
Jangan lupa like,coment, dan vote bagi yang berkenan. Terima kasih banyak telah setia membaca. Semoga bagian ini menghibur kalian semua.
Jangan lupa rate 🌟5 bagi yang baru mampir yah :)
__ADS_1
www.gudnitevery1.com
(Jangan lupa kunjungi website kita yah!)