
"Tutup mulutmu. Kau tidak perlu menjadi guru terhadap wanita tua yang lebih dulu merasakan asinnya garam, dan manisnya gula."
Anna memegang pipinya sebentar, dan menatap seakan menyumbangkan rasa kasihannya pada Yuna.
"Lagipula, kau tidak memiliki ayah. Tau apa kau soal moral. Ibumu saja—" Yuna mengantungkan kalimatnya, dan melemparkan pandangan jijiknya memindai Anna dari ujung kakinya hingga ujung kepalanya.
"Kau ada buah dari hubungan gelap. Kau bahkan tidak mengetahui siapa ayahmu. Buah tidak akan jauh dari pohonnya."
Anna terbahak keras, sangat konyol berbicara dengan seseorang yang bersikeras dengan sakit hatinya, dan mulai menyerang kehidupan ibunya, dan memberikan peribahasa yang digunakan untuk menyindir masa depannya.
"Bibi, kau terlalu kuno mengunakan peribahasa hanya untuk menyindir masa depanku yang belum kau lihat."
"Apa yang perlu di lihat. Peribahasa itu benar. Buah tidak akan pernah jatuh dari pohonnya."
"Bibi, apa kau pernah sekolah dengan baik? Tidak mencontek?"
Bibi Yuna tersenyum miring. Di hadapannya Anna telah kehilangan setiap kata-katanya.
"Yang terpandai di kelas dengan kemampuannya menjawab yang tersulit. Jadi, jika hidupku sulit, aku hanya sedang di bentuk untuk pandai menghadap masalah. Masalah ibuku adalah buku yang aku baca.Tetapi, bukan diary milikku."
"Kita lihat saja nanti. Buah tidak akan jatuh dari pohonnya."
Anna menghela napas jengah akan peribahasa tersebut, yang terus di ulang-ulang. Mendengar peribahasa tersebut, bagaikan nasibnya telah di kutuk secara turun temurun. Miskin akan terus miskin. Hina akan terus hina.
Anna mengulas senyum dan menjawab, "Benar sekali buah tidak akan jauh dari pohonnya. Tetapi, hanya orang kuno yang selalu mengibaratkan pohon itu adalah ibu, dan buah adalah anak."
Bibi Yuna menyipitkan matanya,akan segera berkilah. Namun, Anna lebih dulu membuka bibirnya dan berkata, "Orang bijak akan menyebut pohon adalah didikan, buah adalah hasil didikan. Apa yang kau didik, itu yang kau ciptakan. Nasib ibu belum tentu segaris dengan anak. Masa lalu ibuku bukanlah masa depanku kelak. Jangan suka menebak-nebak. Nanti, kau malu sendiri."
Bibi Yuna tersenyum miring, dan membuang napas jengah, "Aku hanya membuang waktu.Tidak ada gunanya berbicara padamu. Di nasehati malah berlonjak sok bijak."
Bibi Yuna membalikkan tubuhnya, dengan tangan yang menggenggam puterinya, dia pergi meninggalkan Anna di dalam lorong rumah sakit yang terlihat sepi melompong.
Seakan tertelan kesepian dan kesunyian yang memberi rasa nyaman, Anna melepaskan tangis tanpa suaranya. Bagai ada batu yang menjanggal, jika dia tidak melepaskan air matanya. Dia menangis untuk dirinya sendiri. Peribahasa—'Buah yang jatuh dari pohonnya,'
bagai cambuk yang memukul punggungnya. Masalalu hitam bukan miliknya.Tetapi, harus menjadi batu dengan permukaan tajam yang merusak kulit telapak kakinya. Oleh itu, dia selalu berhati-hati untuk melangkah. Takutnya kutuk peribahasa tersebut, benar akan terjadi.
__ADS_1
Bisakah aku memilih untuk tidak di sia-siakan? Jika takdir akan di sia-siakan.
Anna menghapus air matanya yang jatuh setelah suara hati miliknya sendiri, setiap kalimat menerbit keraguan dan mengurangi kepercayaan dirinya, dia takut melangkah akan hubungan semu dirinya dan Ethan. Semu adalah hubungan tanpa arah dan kepastian. Di mana setiap orang hanya akan melihat bibit, bebet dan bobot. Bukan melihat hati, karakter dan cara bertahan hidup.
Memilih untuk percaya akan takdir yang indah di depan. Tetapi, buruk dan baik hari esok, bak teka-teki penuh rahasia.
Anna terkesiap kala di dengarnya suara langkah panjang memecah kesunyian koridor yang panjang. Anna mendongakan kepalanya, dan menatap kehadiran Stephan, yang telah lama berdiri dan bersembunyi mendengar dan melihat semuanya. Awalnya dia hanya ingin terus berdiam diri. Tetapi, kerapuhan gadis yang dia rekam dalam setiap netranya, membuat hatinya pecah dan rapuh pula.
"Jangan menangis."
Anna malu dan menghapus air mata dengan punggung tangannya.
"Orangtua yang baik, lengkap, bahkan kaya raya tidak menjamin anaknya memiliki kehidupan yang baik. Mengapa kau harus peduli dengan omongan orang lain?"
Anna tertegun. Mendongakkan kepala menatap pria di depannya. Menghela napas akan banyak hal yang telah dia curi dengar.
"A-aku telah menutup telingaku, kok."
Stephan mengulas senyum, dan perlahan kedua tangannya menutup kiri kanan telinga Anna, dan dia berkata kembali, "Terkadang kita harus butuh tangan orang lain, untuk menutup telinga kita. Kala, tangan kita telah lelah."
"Apakah kau butuh seorang ayah?"
Anna menggelengkan kepalanya. Dia tidak pernah mengenal ayahnya. Bagaimana dia menyebut dirinya butuh seorang ayah?
"Apakah kau ingin mencari seorang ayah?"
Anna menggelengkan kepala. Dia tidak ingin mencari orang yang telah meninggalkannya.
"Apakah kau ingin rindu sosok ayah?"
Anna terkatup. Tidak menggelengkan kepala. Namun, tidak menganggukan kepala pula. Dia ragu akan kerinduannya sendiri. Rindu? bagaimana dia bisa rindu akan sosok yang meninggalkannya dan yang tidak pernah terlihat.
"Apakah dengan ayah di belakangku. Semua orang akan berhenti mencemoohku?" tanya Anna pada Stephan.
Stephan memindahkan tangannya, dan tangannya turun menetap pada bahu Anna, dan dia mengulas senyum.
__ADS_1
"Sebenarnya, tanpa ayah dan ibumu di belakangmu. Kau tidak akan mendengar cemoohan lagi."
Anna mendongakan bola matanya yang berembun, Bagaimana caranya?
"Kau hanya perlu bergaul dengan setiap orang yang menerimamu, dan menghindar dari setiap orang yang melihat kekuranganmu. Cemoohan datang dari lingkungan. Keluarlah dari lingkungan itu."
Deg! Jawaban Stephan membuat Anna tertegun memikirkan, dan hatinya mulai mereka-reka siapa saja yang akan menerimanya.
"Apakah orang itu ada?"
Stephan membisu sesaat, dan perlahan dia menonjolkan dirinya ke permukaan, seakan dia ingin menenggelamkan Ethan ke dasar yang paling dalam. Ethan menerima Anna. Tetapi, lingkungannya menolak Anna.
"Aku dan lingkunganku menerimamu."
Anna mengedipkan matanya yang berembun. Jatuh berlinang, seakan dia baru saja menemukan keluarga yang hilang. Tetapi, dia tertawa kecil seakan mengolok dirinya. Bagaimana bisa kehidupan Lu di atas langit menerima kehidupanku seperti ini. Bahkan Han saja menolakku.
"Kau hanya sedang bercanda."
Stephan menggelengkan kepala. Dia menatap lurus sepasang mata Anna, dengan mata teduh menyiratkan keseriusannya. Dia tidak ingin bersembunyi dengan banyak rasa suka yang mengikutinya.
"Kau sangat konyol." Anna menepis turun tangan Stephan. Memilih menghindar dan meninggalkan topik pembicaraannya. Dia berjalan melewati raga Stephan yang belum bergeming. Baru tiga langkah dia berjalan, Stephan terdengar menarik napas.
"Anna."
Anna menghentikan langkahnya. Berbalik hanya untuk menatap punggung dingin sang empunya suara yang memanggil namanya.
"A-aku ...." Stephan kelu dengan lidahnya yang terbata. Bukan betapa sulitnya dia mengakui perasaannya. Tetapi, betapa sulitnya dia harus menghancurkan persahabatannya dengan Ethan, hanya karena menyukai satu orang yang sama.
Seakan dengan penuh pertimbangan, Stephan pun memutuskan menjawab, "Karena, aku sangat menyukaimu. Bahkan mengubah lingkunganku untuk menyukaimu pula."
......................
Bersambung ...
Silahkan mampir ke karya pernikahan di atas kertas mewah. Terimakasih sudah membaca kekasih Tuan Muda Ruan sampai episode ini.
__ADS_1