
Gita mengerutkan keningnya, tidak setuju akan perintah Susan. Dia segera berkomentar.
"Aku akan membawanya ke tempat yang sepi. Kita belum membuka pakaian seragamnya, disana pasti lebih banyak tanda ditinggalkan oleh Tuan muda Ruan."
Giliran Anna mengerutkan keningnya. Seakan baru mengerti satu hal.
Banyak tanda ditinggalkan Tuan muda Ruan.
Anna segera terkesiap bangun dari pikirannya. Banyak tanda. Maksud kata itu. Anna segera menggelengkan kepalanya, menepis pikiran kotornya.
"Aku tidak melakukan apapun dengan Tuan muda Ruan! Kalian jangan menciptakan rumor." Anna membuka mulutnya. Mengelak semua tuduhan.
Susan mendorong pipi Anna dengan satu telunjuknya, ke arah samping. Hampir saja wajah Anna mengenai tembok, karena dorongan telunjuknya.
"Siapa yang mau percaya padamu," ketus Susan dengan keangkuhannya.
"Dasar murahan!" timpal Gita Wen, sebelum dia benar-benar melepaskan tangan Anna.
"Kita seret saja ke rumah kosong itu," usul Gita.
Gita memberi isyarat kepada temannya, Yuri untuk menangkap Anna kembali.
"Di rumah kosong itu, semua akan terlihat jelas. Kami datang untuk melucuti seluruh pakaian milikmu!" seret Gita.
"Lepaskan aku!" Anna histeris. Namun, jalan masih sangat sepi. Kekuatan seorang dirinya, tidak mampu mengalahkan tiga gadis ini sekaligus. Dia pasrah di seret menuju rumah kosong.
Brak! Terdengar suara pintu di hempaskan ke belakang menabrak dinding rumah yang terlihat tidak terawat, dan tanpa penghuni.
Pintu terbuka lebar.
Gita mendorong Anna masuk lebih dulu ke dalam rumah yang terlihat kosong, yang hanya memberikan rasa suram dan rasa dingin yang menusuk-nusuk tulang punggungnya.
"Kita mengambil gambar!" Gita maju masuk ke dalam rumah , di ikuti dua temanya, terlihat bersiap merobek apa yang di kenakan Anna.
Anna mundur beberapa langkah, namun belakang punggungnya malah menemui kebuntuan. Dia terjebak pada dinding.
"Aku akan berteriak!Aku akan mengadu dengan ibuku, jika kalian berani melecehkanku."
"Tidak ada yang mendengarmu, di sini!" — Gita terbahak sesaat— "Mengadu? pada ibumu ... Apa kau ingin mengaku, telah melewati satu malam dengan seorang pria kaya. Aku yakin ibumu malah akan menampar wajahmu."
Anna terdiam sesaat. Mencerna setiap perkataan Gita. Mengapa dirinya malah terlihat seperti di fitnah. Tidur semalam dengan seorang pria kaya. Hal itu terdengar sangat konyol.
__ADS_1
"Kalian ingin membuat rumor omong kosong. Aku dan Tuan muda Ruan, tidak pernah melewati malam yang seperti kalian maksud. Aku masih memiliki kesucianku ...," lirih Anna berusaha membersihkan namanya.
Susan tampak panas dan dingin selanjutnya, ketika satu kalimat terakhir Anna, menabur garam di atas lukanya. Kesucian. Dia tidak memiliki lagi. Sudah di rampas oleh pria sialan itu.
Tetapi aku tidak lagi suci, Anna. Seharusnya malam itu, kau lah yang tidur bersama pria itu. Kau membuatku menderita sepanjang malamku.
Ekspresi Susan terlihat suram bercampur rasa kecewa yang sangat dalam.
Brak! Susan menghempaskan kembali pintu menyatu dengan kusennya.
Gita dan Yuri menoleh ke arah Susan. Seakan mereka mengetahui penyebab amarah Susan. Tentu saja, hal ini menyangkut dengan kalimat terakhir Anna.
Aku masih memiliki kesucianku.
Tetapi Susan tidak memiliki hal itu lagi. Tentu saja semua gadis muda akan merasa kehilangan harga diri, jika telah di regut paksa. Gita menjadi lebih marah dan marah, diapun segera tersulut. Di bantu dengan Yuri yang menahan pergerakan tubuh Anna. Gita maju, dengan tangan yang menggenggam setiap kancing seragam Anna. Sekali menarik, maka semua kancing seragam itu, akan jatuh ke lantai.
"Karma akan mengikuti kalian. Aku tidak pernah melukai kalian, kenapa kalian malah melukaiku?"— Anna menatap nyalang setiap lawannya, dan jatuh menatap Susan dengan sangat lekat— "Aku tidak mengenalmu. Kita baru bertemu dua kali, tetapi kau sudah ingin mencelakai kehidupanku, dua kali!"
Susan terbahak sebentar. 'Kau memang tidak melukaiku secara langsung. Namun, orang yang di sekitarmu telah mencelakai kehidupanku dan keluargaku. Tuan muda Ruan dan ibu jala*gmu itu memiliki dosa yang tidak akan terampuni, dan .... Dirimu adalah tumbal dosa mereka!'
Menatap wajah polos Anna. Susan menepuk bahu Gita, dan membisikinya, "Lepaskan dia!"
Gita menggelengkan kepalanya keras.
"Tidak! Aku akan membalaskan apa yang terjadi padamu, aku ingin mengirimkan dirinya segera ke neraka."
"Jangan lakukan itu!" cegah Susan, setelah dia mempertimbangkan kekuasaan Tuan muda Ruan.
"Mengapa? Kita tidak perlu takut padanya," sergah Gita.
"Kau tidak mengerti juga. Aku tidak takut pada Anna. Hanya saja, hal ini bisa menyeret kita berdiam di belakang jeruji besi, dan tidur di lantai yang dingin."
Gita ingin meludah sektika. Tidak percaya hal itu akan terjadi.
"Hal itu tidak akan terjadi. Aku mengenal Anna. Kemiskinan adalah pakaiannya, ketidakberdayaan adalah sandalnya. Bagaimana dia bisa menyerang kita!" Gita terlihat berang. Untuk pertama kalinya, dia tidak setuju dengan Susan.
"Benar sekali! Gadis ini, tidak akan mampu menciptakan lumpur hitam untuk kita," timpal Yuri yang terus memborgol pergerakan tubuh Anna pada dinding.
"Dia memang tidak mampu," — Susan mencubit dagu Anna, lalu melemparnya ke kiri— "Tetapi jangan lupa. Dia memiliki kasih sayang Tuan muda Ruan. Jika kita tidak menyingkirkan kasih sayang pria itu dulu. Maka kita hanya akan seperti tiga nyamuk bodoh yang mati dalam satu tepukan. Apa kalian mengerti?"
Gita dan Yuri saling bertukar pandang. Awalnya mereka menolak percaya akan argumen Susan. Namun, akhirnya mereka sependapat. Lebih baik, menyingkirkan kasih sayang Tuan muda Ruan, baru mencelakai Anna.
__ADS_1
"Kau beruntung, menjual diri pada seorang pria kaya!" puji Gita namun terdengar sangat iri dan panas dalam tiap katanya.
"Aku tidak pernah menjual diri," bantah Anna.
Gita tersenyum miring, "Bukankah terlihat sama murahannya. Kau telah menyerahkan dirimu. Bedanya, harganya kau berikan gratis."
Anna menggigit bibirnya. Berteriak mengatakan hal yang benarpun, tetap saja mereka lebih percaya dugaan mereka sendiri.
"Lalu, apa yang harus kita lakukan?" tanya Yuri melonggarkan kekuatannya pada tubuh Anna.
Susan terbahak. "Tentu saja membiarkan kehidupan kotornya naik ke udara. Membiarkan angin menyebarkannya dengan luas."
"Netizen?"
Susan menganggukan kepalanya. Barulah, tiga siswi itu terbahak bersama akan rencana jahat mereka.
Anna berhenti bernapas sebentar, dan berteriak, "Apa kalian gila?"
"Memang!" jawab Susan.
Aku datang untuk meminta pertanggungjawaban Tuan muda Ruan, untukku. Aku akan menyingkirkanmu, Anna.
Gita maju mendekati Anna yang terlihat membisu, wajahnya terlihat putih dengan bibir yang terlihat bergetar.
"Bersiaplah ke sekolah, kami akan membuat berita besar untukmu," bisik Gita terdengar menakutkan.
"Jangan berbuat seperti itu!" cegah Anna, menahan tangan Anna. Jika hal ini terjadi, bukankah petaka.
"Tenang saja, kami tidak akan menyebut nama Tuan muda Ruan, kami hanya akan menyebutnya bahwa itu bukan pertama kalimu ...."
......................
Bersambung ....
Jangan lupa like,coment, dan vote bagi yang berkenan. Terima kasih banyak telah setia membaca. Semoga bagian ini menghibur kalian semua.
Jangan lupa rate 🌟5 bagi yang baru mampir yah :)
www.Citrakebanyakan.com
(Jangan lupa kunjungi website kita yah!)
__ADS_1