Kekasih Tuan Muda Ruan

Kekasih Tuan Muda Ruan
Tidak memiliki suami


__ADS_3

Dalam Aula rumah tangga keluarga Ruan, yang dingin, deru tangis satu keluarga terdengar pekak dan melolong menggema mengisi ruangan besar ini.


Nana duduk berlutut dengan dua tangan terkepal di atas ujung lututnya, dengan raut wajah tegang tanpa tangisan, di satu sisi  adalah Henny, wanita paruh baya yang telah mendapatkan banyak siksaan di tubuhnya, keningnya yang terbalut perban, biru ungu di sudut mata dan bibirnya, tangan dan kakinya dipasang gips, dan sepasang tongkat tergeletak di kiri kanan kakinya.


Henny duduk berlutut membawa keluarganya, terdiri dari suaminya dan dua anak perempuannya yang masih muda dan belia, dengan wajah berurai air mata dan tangis berisik, sangat persis tengah berdemonstrasi meminta keadilan, atas perbuatan tangan Nana yang berani mencelakai Henny, peran nyata  Henny adalah asisten rumah tangga yang telah bekerja sepuluh tahun dalam keluarga Ruan, telah di hajar oleh seorang pelayan baru masuk, yang belum genap satu bulan bekerja.


Henny menertawakan dalam hati, akhir dari Nana Su, adalah hari ini. Nana Su, akan kehilangan pekerjaan, dan dia sangat yakin akan hal itu, walau Nana Su sepagi ini telah mendapatkan kebebasan dari keluarga Ruan, tentu saja hal ini untuk meredam masalah internal, agar tidak menjadi bahan lelucon dalam lingkaran, bagaimana keluarga Ruan tidak bisa mengatur orang dalamnya sendiri. Oleh itu, Henny  membawa keluarga memohon iba dan belas kasihan, agar dirinya tidak di salahkan.


Nana yang disebut pelaku yang berlakon jahat dan ganas dalam satu tembakan, tidak menyesali perbuatan tangannya, dengan mengenakan wajah dingin, dia hanya datang berlutut mengucapkan terima kasih, bukan untuk mengakui kesalahannya telah menghajar Henny, yang telah mengutuk Anna. Setelah pagi-pagi, dia dijemput mendapatkan kebebasan dari balik jeruji besi dan lantai dingin, dengan jaminan yang di berikan oleh Tuan muda  Ruan. Hal ini, cukup mengejutkan benaknya, karena jika di hitungpun, mereka banya bertemu tidak lebih dari lima kali, itupun hanya berbicara sekali, dan dia  datang untuk mengucapkan terima kasihnya karena telah memberi jaminan untuk kebebasannya.


Satu sosok bayangan hitam yang ramping masuk aula, dia terlihat baru turun di mobilnya, rahangnya masih terlihat keras, matanya masih sangat suram, tidak ada kesenangan di jejak matanya, apalagi kepalanya masih terasa sangat berdenyut pusing, bukan karena keningnya yang terluka, tepatnya dia tengah marah pada dirinya sendiri, yang terlihat tidak berdaya di hadapan seorang gadis rendahan, dari keluarga miskin, dan saat ini, ibu kandung gadis itu tengah berlutut di aula, apakah dia harus kasian pada ibu yang memiliki putri, yang berkali-kali menolaknya?


Ethan Ruan menghela napasnya, dan melangkah melewati garis pintu, masuk ke dalam aula. Sosok muda yang memiliki aura yang mencekam dari usianya yang sangat kecil, satu mulut dan satu telunjuk miliknya sudah memiliki kuasa atas orang-orang dalam rumah tangga keluarga Ruan, bahkan hingga dalam ekonomi dan pasar yang berkaitan keuangan keluarga Ruan. Semua yang berada di aula, menahan napas, tidak berani melepasnya, sebelum pria muda itu duduk di kursinya dengan menyilangkan kakinya bertumpuk, seakan-akan, dialah hakim masalah hari ini.

__ADS_1


Menyambut kedatangan hakim Ruan, Henny dan keluarga tanpa sadar memiliki gerakan yang sama, dan satu suara yang sama dengan Nana Su, mengantarkan salam hormat, "Selamat pagi, Tuan muda Ruan—"


Tidak memerlukan salam, Ethan berkata dingin, memotong kalimat, "apa masalah kalian?"


Ujung mata Ethan melirik pada Michael Liu, sebenarnya dia tidak mengetahui satu halpun sepagi ini, otaknya hanya terisi Anna dan Anna, yang telah menghubunginya sebelum dia mencapai aula. Pria berkacamata itu menjelaskan jika Ibu Anna bertengkar dengan salah satu pelayan lama, tidak diketahui penyebabnya dengan jelas. Tentu saja Ethan, diliput rasa penasaran.


Henny menunjukan wajah lebih dulu, agar Tuan muda Ruan melihat dengan jelas, siapa yang berlakon penjahat, dan siapa berlakon korban, dua putrinya mulai menangis keras, namun juga pandai mengintip sosok Tuan muda Ruan, yang terlihat menyegarkan mata dalam satu penampilan, suami Henny hanya menunduk, sebagai identitas kepala keluarga yang terlihat paling bisa menguasai diri, Heny  tersedu dalam kalimatnya, "pelayan ini— tidak memiliki banyak hal, hanya saja— pelayan baru mudah tersinggung, dan d—dia begitu agresif ..."


Hu... hu...hu.... Tangisnya melolong di akhir kalimat yang  terdengar menggantung di udara.


Ethan masih menatap Nana dengan penuh selidik, apa yang membuat Nana begitu abnormal dari penampilannya yang terlihat dari luar sebagai wanita yang lembut, ternyata memiliki tangan besi, pandai menghajar orang, "lalu,  apa yang ingin kau katakan?"


Mendapatkan pertanyaan itu, Nana hanya menyentuhkan kepalanya ke lantai membungkuk sangat dalam, dan suara datar Nana terdengar, "pertama, saya mengucapkan terima kasih, karena telah memberikan jaminan, saya akan menghabiskan waktu untuk mencari uang, mengembalikan utang jaminan pada Tuan muda Ruan—"

__ADS_1


Nana berhenti di kalimatnya, seakan napasnya dihentakkan dengan banyak uang yang harus dia ganti, sementara Ethan  mulai menyesap teh dari cangkirnya, dan menarik dingin hatinya , ibu dan anak, sama persis, keras kepala dan tidak suka meminta, sudut hatinya berkedut, tidak tahan menyindir, 'Nana Su, kau membesarkan puteri dengan sangat baik!'


"Walaupun sa—ya, harus membayarnya seumur hidup!" lanjut Nana, yang menjadi lelucon bagi semua yang mendengar, apakah dia buta, dan melempar uang Tuan muda Ruan kembali, semua orang berlomba-lomba mematuk uang, dan menangis darah memohon, karena tidak mampu mengganti uang keluarga Ruan. Semua yang memiliki telinga, menyebut munafik, kecuali Ethan Ruan dan Michael Liu, yang diam-diam menarik karakter anak lahir dari darah Nana Su.


"Yang kedua,"— Nana melirik pada Henny— "saya tidak menyesal telah menghajar Henny! saya tidak akan minta maap untuk mulut yang menghina puteriku!"


Ethan melepaskan cangkir ke meja, untung saja, dia masih bisa menguasai hatinya kali ini, jadi cangkir hanya bergetar sebentar ketika diletakkan. Pertengkaran ini, apakah berhubungan dengan Anna? Sungguh mencuri segenap hati dan panca indera Ethan, "apa yang dia katakan?"


Nada Ethan begitu datar. Henny masih di atas angin, pergi memulai kalimat sebelum Nana berkata, "Pelayan ini mengaku salah, sudah menyebut hal tidak berguna, tetapi pelayan ini hanya menanggapi kisah Yuna, dan mulut pelayan hanya teringat pepatah—buah tidak pernah jatuh dari pohonnya."


Mendengar itu Ethan hanya lari mengamati gerak-gerik Nana yang terlihat menggeram marah, dan hujan kebencian ada pada matanya, Ethanpun lebih sangat penasaran, kalimat apa yang bisa melolongkan hati seorang harimau betina, yang telah menyinggung anak harimau, "katakan lebih jelasnya, bibi Nana, apa yang dia sebutkan untukmu!"


Nana menahan napasnya panjang dalam satu kali tarikan, dan pergi memejam mata sebentar, dan mengutip kembali kalimat Henny, yang menjadi sumber celaka, dengan suara datar, Nana menjawab, "dia berkata—aku rasa putrinya akan mengikuti jejak ibunya, hamil di luar nikah, dan kelak tidak memiliki suami."

__ADS_1


...


Ns.Selalu dukung yah


__ADS_2