
Ethan hanya berdiri lama di depan pintu rumah Anna. Tanpa berniat mengetok daun pintu, tepatnya dia hanya menunggu pintu itu apakah akan terbuka sendiri suatu saat?
Ethan berniat pergi, setelah sudah lama dia menunggu seperti ini.
"Anna..." sapanya pada daun pintu, dengan suara lembut dan rendah.
Kret!
Pintu terbuka. Dari awal Anna telah mengintip sosok yang terasa datang menginjak teras rumahnya. Tetapi dia hanya bersandar di daun pintu, dan suara rendah pria muda itu terdengar putus asa, dan langjah kaki yang terasa bergerak menjauh, membuat Anna segera membuka pintu, bibirnya terbuka mempersilahkan Ethan, "masuklah..."
Ethan tersenyum canggung. Anna terlihat kikuk.
Blam!
Ethan mendorong pintu di belakangnya, dan mereka saling bertukar pandang, layaknya serat-serat perasaan tergambar dalam retina indah itu. Rindu bercampur perasaan aneh.
Mata Anna sedikit sembab, sedari tadi dia telah menangis, mengira Ethan tidak akan pernah muncul lagi. Tetapi Ethan mengira, mata penuh awan itu, karena Joe telah di lukainya. Kepala rasanya tersiram cuka asam lagi.
"Ada apa?" tanya Anna lembut, dengan jemari tangan yang saling melintir di belakang punggung tangannya, untuk pertama kalinya, Anna menatap pria muda ini sebanyak mungkin, dan jantungnya terpanah, dan berisik, dup-dup-dup!
Ethan mendekat, menyisakan satu langkah di antara mereka. Dia terlihat enggan menjawab, bahunya sedikit bungkuk, dan tiba saja tangannya meraup pinggang Anna, dan lingkaran penuh mengetat di pinggang Anna, dagunya bertumpu tepat di atas bahu Anna, di antara helaian anak rambut Anna yang jatuh wangi terendus pria ini.
Anna seakan tersihir sebentar, sejak kapan dirinya menyukai pelukan Ethan? dari hari ini. Jangan sampai pesona Ethan, menghancurkan benteng tingginya. Tidak, Anna berusaha keluar segera, tetapi Ethan malah berbisik padanya, "pinjam dirimu sebentar lagi...."
Anna tidak berkutik, di antara aroma Ethan yang terendus sangat dekat dengan hidungnya, parfum yang terasa dingin dan lembut di hidung. Mint.
"Anna, apa kau dan Joe sudah menjadi sepasang kekasih?"
Anna tercekat sebentar. Pikiranya langsung pada adegan Yuna menjemput Yuri, dengan air mata.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan pada Joe?"
"Aku—" Ethan mengehentikan kalimatnya sendiri, melepaskan pelukannya, matanya menyipit tidak senang, "jawab pertanyaanku lebih dulu!"
"Aku dan Joe hanya teman! Apa yang kau pikir—" Anna menangkap sinar suram Ethan terkikis perlahan, dan pria itu kembali memeluknya, dan mendesis, "aku menghajarnya, karena dia mengatakan kau dan dia telah—"
"Ethan!" potong Anna mendorong Ethan menjauh, "kau memukul Joe lagi?"
Ethan tidak mengelak, bersandar di dinding dan menjawab, "karena aku sepertinya cemburu...."
Anna memintal rasa aneh dalam mulutnya, mendapatkan pengakuan rasa cuka asam dalam diri Ethan, "Ethan bisakah kau bertanya dulu, sebelum marah? Kau memukul, itu kesalahan... Aku— aku tidak menyukai hal itu!"
Ethan menarik satu tangan Anna, hingga Anna di tarik, hendak dalam pelukannya kembali, tetapi dua tangan Anna bertumpu meregangkan tangannya panjang, dan mendesis, "Tuan muda Ruan pulanglah!"
"Kenapa kau memintaku pulang?"
"Tuan muda Ruan, lihatlah Joe, dan tundukkan kepalamu dan minta maaf," pinta Anna hati-hati.
Anna terhenyak sebentar, ternyata sifat asli seorang Pangeran emas itu berbeda jauh dengan dongeng, mutlak seperti kata Nana— ibunya, tidak ada kelembutan, tidak ada kebaikan dalam hatinya, keji dan jahat. Itulah Ethan. Anna menyerah, dan bertanya, "mengapa kau menyukaiku Ethan?"
Ethan tidak bergeming sebentar. Teringat akan tembok status keluarga di antara mereka, dan hanya menjawab, "saya menyukaimu, tanpa harus memiliki alasan yang bagus."
"Benar sekali Ethan! Aku tidak ada yang bagus, berasal dari rendahan, lalu mengapa kau tetap menyukaiku? apa kau sedang bermain-main?" tanya Anna mundur, dan mendapat dinding sebagai sandarannya.
"Anna, apakah kau percaya? Jika aku tidak memililiki alasan tepat untuk menyukaimu, aku hanya tau memiliki dorongan lebih besar untuk menyukaimu lebih banyak, dan hal itu tidak bisa aku kendalikan..." jawab Ethan di seberang dinding dari Anna, tatapannya lurus menangkap sosok Anna yang belum mengangkat kelopak matanya, dan Ethan kembali meminta alasannya, "Anna, mengapa kau tak menyukaiku?"
Anna mengangkat kelopak matanya, dan menjawab, seakan jawaban ini sudah dia simpan sejak lama, "Bisakah aku memanggil namamu saja, dengan bebas memanggilmu Ethan? apakah bisa?"
Ethan Ruan adalah pewaris Ruan, dia bukan orang biasa. Seorang rendahan, tidak akan bebas memanggil namanya. Ethan. Ethan, hanya orang yang sederajat dirinya, bisa bebas memanggilnya.
__ADS_1
Ethan maju beberapa langkah, seakan hal ini adalah tembok yang mudah dia hancurkan, dan satu telapak tangannya menyematkan kembali helaian rambut Anna yang menghalau pandangan Ethan medapatkan sepasang mata Anna berkaca-kaca, "jika aku menyukaimu, maka kau kuijinkan memanggil seperti itu. Panggil aku Ethan, bukan Tuan muda Ruan."
Anna terkekeh akan dirinya sendiri, keangkuhan Ethan sebagai Tuan muda Ruan, sangat jelas, "mendapatkan ijinmu, belum tentu mendapatkan Ruan. Bisakah hanya menjadi— Anna dan Ethan, tanpa Ruan mengikutimu?"
Ethan terdiam. Ruan darah dagingnya, dia adalah pewaris Ruan, bagaimana dia bisa melepasnya, dia menginginkan dua hal itu. Anna dan Ruan, adalah bagian hidupnya.
"Minggirlah Tuan muda Ruan, kau tidak akan pernah bisa menundukkan kepalamu, kau sudah terbiasa mengangkat kepalamu dengan sangat tinggi!" tambah Anna, mendorong Ethan, dan kreettt... membuka pintu, "pulanglah..."
Ethan memintal lidahnya dalam mulutnya, dan bertanya, "mengapa kau tidak mencoba masuk dalam Ruan? aku akan menjadi orang yang selalu berdiri di sisimu?"
"Tuan muda Ruan, lebih baik kau mencari nona muda. Jalanmu bukan hanya akan berkerikil, namun setiap telapak kakimu, bisa saja menginjak bara api, jika memilihku, kau hanya akan tau rasa terbakar itu, sangat menyakitkan!"
"Sial! Kau meremehkannku! Aku bisa menjadi batu kerikil, aku bisa melewati api, apapun itu, tidak ada yang tidak bisa di lakukan oleh seorang Tuan muda Ruan!" Ethan gelisah dan nada marah berada di dalam kata-katanya.
"Jika kau bisa, tundukan lah kepalamu pada Joe? Jika tidak bisa, kau jangan menemuiku lagi!"
"Hah?" Ethan terjungkal ketika di sebut harus menundukkan kepala, "aku tidak bersalah! Joe Han sangat jelas lahir menjadi gila, ingin memanasiku.. Lahir rendahan dan ingin mengirim empedu... itu konyol!"
Anna terdiam. Diapun lahir rendahan, apakah Ethan lupa, atau Ethan pura-pura menutup matanya hanya untuk sesaat.
Ethan berbalik sebentar, terlihat menimang sesuatu, dan dengan lembut bertutur kembali dengan suara rendahnya, "apapun yang kau inginkan, akan kuberikan, akan kudapatkan, akan kuhadiahkan, tanpa harus menundukkan kepala, aku adalah—"
"Tuan muda Ruan!" sambung Anna, jarak dan tembok di antara mereka. Sangat jelas.
Ethan menelan pahitnya, Ruan adalah darah dagingnya, untuk pertama kalinya, dia menyadari bahwa Joe Han berkata dengan sangat benar, Ethan tidak akan pernah meninggalkan nama Ruan. Dia sudah terbiasa, membawa kekuasaan Ruan kemanapun melangkah.
Blam!
Ethan membanting pintu dan keluar.
__ADS_1
***