
Anna berdiri ragu di depan pintu. Haruskah dia kembali ke rumah dan bertengkar dengan ibunya? Dia akan bersiap mengetok. Namun, mengurungkan niatnya. Dia berdiri begitu lama dengan semilir angin yang sepoi-sepoi menerbangkan rambut panjangnya.
Anna terlihat mematung dengan banyak keraguan. Lalu, bunyi Kreet! Suara pintu terbuka itu mengejutkannya. Anna mendongakkan kepalanya. Sepasang matanya membingkai wajah penuh air mata ibunya.
"Anna ...," lirih Nana menyebut nama puterinya.
Anna menelan ludahnya. Sepasang tangan kecilnya mengepal tinju. Ada kebencian yang tergenggam atas ketidakpercayaan ibunya untuk hari ini?
Aku merasa kita begitu jauh dan sangat jauh.
"Maaf ...." Nana berjalan selangkah. Anna memilih mundur selangkah menjauh.
"Kau masih marah padaku?" tanya Nana dengan tangan bergetar di udara akan meraih pundak gadis kecil miliknya.
Anna menggelengkan kepala. Namun, hatinya mengiyakan hal itu. Bagaimana aku tidak marah padamu? kau melukaiku atas segala sesuatu yang harus kamu selidiki.
"Anna, lupakan semuanya."
"Hmm." Anna maju melewati raga Nana. Dia segera masuk melewati garis pintu, dan meninggalkan komentarnya, "Tidak semudah itu untuk lupa. Namun, aku akan memaafkanmu."
Deg! Nana tertohok sesaat. Dia segera berbalik dan hanya mendapati punggung dingin dengan langkah rentan itu berjalan keluar mandi. Dia terhenyak akan setiap kaki Anna yang berjalan dengan banyak butiran pasir menempel pada telapak kakinya.
Bagaimana aku bisa lupa? bahkan aku membiarkan dia berjalan dengan tanpa alas kaki. Aku ibu yang bodoh.
Nana segera mengikuti masuk ke dalam. Menutup pintu pelan. Blam! pintu tertutup rapat. Sementara Anna telah selesai dari kamar mandi. Gadis itu mengenakan piyamanya Berjalan dengan melewatinya begitu saja. Masuk ke dalam selimut, dan membenamkan dirinya hingga kepalanya.
Nana menarik napas dalam. Dia menggenggam erat tangannya sendiri. Dia menyeka air matanya sendiri. Barulah bergabung di dalam selimut yang sama dengan Anna. Namun, Anna menarik selimut itu darinya. Sangat jelas, Anna tidak ingin berbagi. Gadis kecil itu masih sangat marah padanya.
"Sampai kapan kau berhenti marah?"
"Apa perlu bertanya?" umpan Anna ketus.
"Tentu." Nana mengelus punggung puterinya.
"Aku akan berhenti marah. Jika aku telah lupa. Saat ini aku belum lupa."
__ADS_1
"Apakah itu lama?" Nana merasa bodoh untuk bertanya.
"Tentu saja. Di sakiti oleh orang terdekatmu. Itu sangat menyakitkan! Dia serumah denganmu. Berbagi selimut denganmu. Bahkan menggunakan piring sendok yang sama setiap harinya, dan orang itu tidak memper—"
"Maaf!" potong Nana menyesal.
"Bisakah kau menjauh sebentar? Aku tahu kau ibuku. Aku tahu aku tidak boleh mengusirmu. Tetapi a—"
"Aku akan menuruti kehendakmu. Kau memintaku pergi. Aku akan pergi. Lalu, aku akan datang kapan saja jika kau memintaku datang." Nanan beranjak bangun.
Tidak lama hanya terdengar suara Kret! Suara pintu di tarik, dan Blam! Suara pintu terhempas.
Anna memejamkan matanya. Hatinya meringis sakit mengusir Nana, ibunya. Dia bangun duduk dan memukul dadanya berkali-kali dengan tangan kecilnya. Seakan, dia mencoba menghancurkan batu di dalam dadanya. Rasanya ganjal dan sangat sesak.
"Berdiam diri bu-kan-lah ak-hir men-yelesai-kan ma-sa-lah. Ter-ka-dang kita harus ma-rah, agar mereka menyesal dengan a-pa yang te-lah ka-mu la-ku-kan, bu."
Setelah selsai mengucapkan kalimatnya. Anna kembali menjatuhkan kepalanya ke bantal, dan terus merekatkan kelopak matanya, seakan memaksa dirinya untuk Melikan masalahnya dengan segera tidur.
Di sela matanya terpejam. Air mata Anna jatuh mengalir pelan dan membasahi bantalnya. Larut dalam kesedihannya yang begitu lama, dan akhirnya rasa kantuknya menyerang dan terlelap kemudian.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Rumah kecil itu terasa sangat dingin. Hanya punggung dingin yang saling membelakangi, dengan ekor mata yang saling melirik kala jarak di antara mereka terbentang menjauh.
Nana menghela napasnya
Tidak lama terdengar suara pintu rumah itu terkatup perlahan. Blam! Anna telah pergi meninggalkan rumah, untuk sekolah. Puteri kecilnya itu hanya berdiam diri di rumah selama tiga hari. Selama perang dingin terjadi, Anna tidak pernah pergi dari rumah, dan hari ini adalah pertama kalinya Puteri kecilnya itu berpikir pergi ke sekolah.
Nana segera berlari ke jendela. Mengintip dari balik gorden. Dia melihat punggung kecil puterinya menjauh perlahan dan hilang. Nana menghela napas. Tangannya bergetar menggengam ponsel. Tak lama, dia membuka genggaman tangannya. Di layar tertulis pengirim pesan Dina Wen.
Sepasang mata Nana mendadak nanar akan gambar di layar ponsel. Gambar itu adalah gambar gadis kecil miliknya. Biru lebam terlihat jelas di leher gadis kecilnya. Namun, pesan teks di bawahnya membuat dia ingin segera mencekik sang pengirim pesan.
Lihatlah bukti ini, puterimu yang polos yang baru duduk di sekolah menengah, berani menyerahkan dirinya, hanya untuk mendapatkan kedudukan. Lihatlah puterimu memamerkan leher bekas percintaannya.
Nana menghela napas. Tangisnya meledak, dan dia melempar ponsel ke dinding, Pletak!
__ADS_1
"Anna tidak menjual diri!" Nana berdiri dengan kegeraman yang menyelimutinya. Kret! Pintu terbuka lebar. Dia telah menunggu saat ini. Dia menunggu kepergian Anna dari rumah. Dengan begini dia bisa melangkah masuk ke rumah Wen.
"Jangan menghina anakku. Jika rupanya anakmu, tidak jauh dari setiap kalimat yang kau lontarkan pada anakku." Sepasang mata Nana berkilau jijik dan ingatannya lari akan banyak kejadian mengenai Gita Wen yang sering dia pergoki masuk ke dalam hotel bersama Nick, seorang siswa yang pernah mengejar Anna. Bahkan, sehari yang lalu, Nana dengan sengaja menguntit anak gadis dalam keluarga Wen itu. Gadis Wen itu telah menghabiskan satu hari penuhnya bersama Nick dalam sebuah kamar hotel.
Apa yang di lakukan puterimu? kata-kata itu kembali padamu, Nyonya Wen. Nana tersenyum sinis. Dia akan membongkar rahasia gadis kecil Wen yang terlihat polos itu.
Tok! Tok!Tok! Nana mengetok pintu. Tepatnya dia menggedor-gedor pintu rumah keluarga Wen.
Kret! Pintu terbuka tampak Gita Wen berdiri membuka pintu.
"Selamat pagi, bibi ...," sapa Gita berusaha sangat ramah. Walau dia merasa sangat aneh akan tatapan Nana yang terlihat menelisik dirinya. Terutama batang lehernya.
"Gadis kecil. Ibumu mana?" Nana menyibakkan rambut yang tergerai milik Gita ke belakang. Terlihat jelas tanda biru kecil berada pada batang leher gadis itu telah di sembunyikan dengan sengaja, di tutupi dengan banyak helaian anak rambut.
Gita menelan ludahnya. Seakan dia mengerti akan tindakan Nana.
"Ibu se-dang me-ma-sak." Gita gugup
Nana menghadang pintu. Tidak mengijinkan Gita melewati garis pintu.
"A-aku ingin per-gi se-ko-lah ...," gugup Gita makin bingung dengan sosok Nana yang terlihat tidak akan mengijinkan dirinya pergi.
"Apa kau dan Nick makin mesra saja?"
Deg! Pertanyaan itu membuat Gita ingin jatuh pingsan segera.
Apakah bibi Nana menyindirku dengan sengaja. Apakah dia telah mengetahui hubunganku dengan Nick.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung ....
Terima kasih sudah mengikuti cerita ini sampai dengan episode ini. Besar harapannya author sih, readers terus mengikuti dan membaca, dan jangan lupa berikan hadiah 🎁, Vote 🎫, Like 👍, dan Coment setelah membaca yah .
Besar dukungan kalian sangat di harapkan Lo
__ADS_1