
Anna menutup mulutnya. Ekspresinya sangat jelas, menunjukan dirinya bersiap mual.
"Kau masuk angin?" tanya Ethan cemas.
Mendengar kecemasan Ethan, Anna segera menggelengkan kepalanya. Namun Ethan tetap terlihat beraut seperti khwatir, dia takut Anna tengah sakit juga, dia menarik Anna, lebih dekat padanya, dada Anna terhimpit masuk dalam pelukan Ethan, punggung tangan Ethan memeriksa kening Anna, "tidak panas."
Anna mendorong Ethan, hal ini terlalu dekat, dia menarik tubuhnya kembali ke posisi duduk sediakala, dan membenarkan, "aku memang tidak sakit."
"Lalu mengapa kau mual?" Ethan mengejar, seakan dia tidak puas akan jawaban Anna, matanya terlihat lebih sipit, namun sikapnya terlihat sangat merajuk seperti anak kecil.
Tidak tahan akan mata itu, Anna hanya menyeletuk, seakan dia tengah bergurau, "tidak, aku hanya teringat, kita menggunakan sumpit yang sama."
Jadi itu, alasan mual.
Wajah Ethan terlihat sangat hitam. Garis bibirnya terlihat seperti pria yang telah mengunyah amarah, hanya saja tidak ingin, dia katakan.
Sadar akan isi mulutnya, yang telah menyinggung. Anna segera menutup mulutnya sebentar, seakan dia baru sadar kesalahannya, "maaf."
Telinga Ethan sudah menangkap informasi itu cepat. dia memandang sumpit yang di gunakan bersama, wajahnya sedikit memerah.
Hal ini di sebut, ciuman tidak langsung, atau hidup lebih erat dengan menggunakan perkakas yang sama. Memikirkan hal itu dengan Anna, Ethan terlihat seperti setan kecil pemalu.
Dup-dup-dup.
Degup jantung Ethan mulai gelisah,ketika dia juga baru menyadari hal itu, dia tidak mempermasalahkan hal itu, tetapi ekspresi mual tadi, mengguncang pikiran Ethan dalam detik selanjutnya, "kau mual, karena sumpit yang sama denganku?"
Anna mengerjapkan matanya, apa dia harus menjawabnya, hal ini, maksudnya adalah...
"..."
Anna kehilangan kata-kata. Takut kejujuran akan mebawa petaka untuk dirinya sendiri. Walau, dia tau Ethan sudah pasti bisa menebak dengan benar. Anna hanya berpaling, berpura-pura tuli sebentar, dan matanya pergi menghadap lukisan yang tergantung, seakan lukisan bisa mengalihkan perhatiannya dari sederet omelan panjang Ethan yang akan keluar.
__ADS_1
Ternyata tidak,
Ethan tidak sama sekali mengomel, dia tersenyum licik mendapatkan punggung yang membelakanginya, dua tangannya langsung melingkar memeluk Anna, dagunya jatuh menabrak rambut Anna. Baunya sangat enak.
Anna menoleh ke belakang, karena tangannya ikut terkunci dalam pelukan Ethan, jadi dia hanya meneriakinya, "lepaskan aku Ethan!"
"Aku tidak akan pernah melepas, orang yang aku suka," sungguh Ethan membuat Anna terbungkam sebentar. Kalimat itu semanis madu.
"Jangan mungkir perasaanmu sendiri Anna, banyak gadis yang ingin aku peluk seperti ini, bahkan mereka sangat berharap,aku pergi mencium--"
Anna segera memotong kalimat Ethan, "cih, aku tidak seperti itu. Aku tidak tergila padamu."
Ethan mengira hal itu hanya gurauan, buktinya Anna rela menungguinya, dan diam bersama dalam satu kamar, bukankah itu artinya saling menyukai satu sama lain, dan dia merapatkan bibirnya tepat di daun telinga Anna, membisikinya pelan, "sumpit kau permasalahkan, namun ciumanku, tidak seburuk itu kan."
Anna tersodok sebentar akan satu kata-- ciumanku. Siapa yang tidak permasalahkan soal ciuman tempo hari, iapun segera menepis, "kata siapa? Aku bermasalah dengan ciumanmu yang buruk Ethan!"
Mendengar hal itu, sedikitpun Ethan tidak marah, lagipula mereka hanya berdua di sini. Diam-diam dia sangat berterimakasih atas ide ini, dia terpancing menggoda Anna,"Seingatku, tidak buruk, rasanya sangat sweet, dan kau bilang milikku rasanya mint. Apa aku perlu mengingatkanya lagi?"
Bola mata Anna bergerak-gerak, dan terasa sangat besar, ketika Ethan telah ******* bibirnya, dan jantung Anna menjadi sangat keras, melompat-lompat ingin menabrak daging kulit, marah dan merasa aneh sekaligus. Ini pertama kalinya, ciuman mereka terasa begitu ketat dan berlendir. Merasa bodoh, Anna memberontak, dan memukul perut Ethan dengan sikunya.
Sia-sia, tenaga Anna tidak sekuat Ethan yang tengah sakit.
Merasa rakus dan Anna tidak mengijinkannya. Ethan melonggarkan pelukannya.
Anna sontak menginjak tanah, sekujur tubuhnya bergetar marah. dia berbalik menatap Ethan, dengan sorot mata yang meludah api, dan ...
Plak!
Satu tamparan yang mengejutkan dinding hati keangkuhan Ethan, untuk pertamakalinya, seorang gadis pergi menampar wajahnya. Dulu di gigit, kini di tampar. Ternyata, masih ada satu gadis yang bisa menolaknya seperti ini.
"Kamu... aku tidak ingin melihatmu!" pekik Anna marah, dan keluar membanting pintu.
__ADS_1
Brak!
Hempasan pintu, mengejutkan pupil Ethan, yang awalnya terlihat sangat ingin memakan, kini jatuh kosong. dia pikir, Anna menginap bersamanya di sini, telah bersepakat satu hal, memiliki hubungan sekadar di atas teman, jauh benak Ethan mempertanyakan mengapa Anna terlihat sangat marah padanya?
Tidak menunggu lama, Ethan mengutuk inisiatif yang tak bisa dia tahan, mengampil telepon di sampingnya, dan berbicara memerintah, "tahan seorang nona muda, yang baru keluar, jangan biarkan dia keluar selangkahpun dari pintu. dia mengenakan kemeja merah muda, rambutnya panjang, dia baru saja turun."
"tetapi, jangan sampai kalian melukainya, aku akan segera turun," lanjut Ethan penuh peringatan, dengan satu tangannya menarik lepas infusnya, tarikan kasar itu membuat kulit tangan yang ditembus jarum itu, terbentuk sayatan panjang, dan mengeluarkan banyak darah.
dia tidak peduli, akan hal itu.
"Tahan dia, jangan sampai keluar," teriak Ethan marah, dan hanya telepon terbanting jatuh ke bawah.
manajer hotel berdiri gemetar, telah mendapat telepon dari kamar Tuan muda Ruan, langsung meneruskan pangggilan untuk seluruh security untuk menahan seorang gadis kecil dengan ciri-ciri yang terlihat di kamera pengawas.
Didalam Lift,
Sepanjang angka berubah terus turun ke bawah, Anna terus mengumpat Ethan, dia menyesal telah membangunkan pria itu untuk makan, ternyata selesai kenyang, setan terlahir kaya itu pergi memakan bibirnya. Sangat keterlaluan.
"Aku tidak akan pergi melihatnya lagi, dan aku akan mengadu pada ibu," keluh Anna yang bingung sebentar, secara tanpa sengaja dia melihat jarum jam yang bergulir, terasa begitu sangat cepat, sudah sangat larut malam, di mana dia bisa mendapatkan bus.
Ting.
Satu suara peringatan pendek, yang memberitahukan, Anna telah mencapai lantai tujuannya,lantai dasar.
Pintu lift terbuka.
Terlihat enam orang berpakaian security, dan satu mengenakan setelan double breasted, berdiri di tepat di depan pintu lift.
Tidak merasa curiga, kaki Anna keluar dari garis pintu lift, tiba saja pria yang menggunakan setelan double breasted, menyapanya, dan menahan lengannya, tetapi tidak dengan kekuatan, "nona Anna,"
***
__ADS_1